Ilustrasi: Aisyah Azalya ( @syhzly )

Rental PS menjadi salah satu daftar tujuan utama saat sedang keluar dengan teman-teman SMA saya untuk bertanding game sepak bola. Sadar atau tidak sadar, walau sedang dalam proses bermain game dan memikirkan strategi untuk menang (ehem, saya pernah berstatus unbeaten), kami masih bisa bercerita tentang banyak hal. Kehidupan perkuliahan, pekerjaan, cinta, berita, dan banyak hal lagi. Dan sesuai dengan yang diungkapkan oleh Soerjono Soekamto bahwa interaksi sosial merupakan dasar proses sosial yang terjadi karena adanya hubungan-hubungan sosial yang dinamis mencakup hubungan antarindividu, antarkelompok, atau antara individu dan kelompok. Maka bisa disimpulkan dengan bermain game berbasis konsol (mungkin juga PC) baik online ataupun offline bisa mengasah kemampuan otak sekaligus ada juga proses interaksi yang terjadi di dalamnya.

Namun ada kekurangan pada saat bermain game berbasis konsol. Tubuh kita menjadi pasif, kurang bergerak. Adapun kegiatan motorik yang dilakukan hanya sekitaran jari-jari tangan saja. Tidak jauh beda dengan kegiatan memuaskan diri dengan tangan kiri yang pastinya kurang menyehatkan bagi tubuh. Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), ketidakaktifan fisik adalah kebiasaan buruk yang terkadang kita lakukan tanpa menyadarinya. Bayangkan bila dalam sehari berapa waktu yang kita habiskan untuk sekadar menonton TV, duduk di depan komputer, atau bahkan bermain gadget atau game. Hal ini bisa menimbulkan masalah kesehatan maupun psikologis. Seperti pengeroposan tulang, resiko obesitas, gangguan emosi (stress, depresi, dan lain-lain) bahkan dalam tingkat tertentu bisa terjadi pelemahan fungsi jantung. Bayangkan saja bila ini sudah dilakukan dari usia anak-anak.

Dilakukan atau tidak (mungkin mereka tidak peduli selama untung dari segi penjualan), inilah potongan kecil yang hilang yang sedang dicari-cari oleh para pengembang permainan. Menemukan formula tepat sehingga mesin game yang bisa mengintegrasikan otak manusia, aktifitas fisik dan sosial bisa terwujud.

Sebenarnya, beberapa tahun lalu pengembang Nintendo melalui Nintendo Wii Fit Plus bisa dikatakan berhasil melakukan gebrakan dengan memadukan game dengan aktifitas fisik. Di mana penggunanya betul-betul melakukan gerakan sesuai dengan game yang mereka mainkan seperti tenis atau tinju. Jadi ada aktifitas fisik yang dilakukan. Beberapa artikel tentang konsol ini meliput Wii Fit Plus berguna dalam menurunkan kadar glukosa dan sebagainya. Namun, hal ini masih sebuah ketidaksempurnaan lainnya. Aktifitas fisik yang dilakukan hanya dalam rumah pasti efeknya berbeda dengan aktifitas fisik yang dilakukan di luar rumah. Entah bagaimana menjelaskannya namun berjalan kaki dari Jalan Nuri sampai Losari sambil menghirup udara pagi, melihat pemandangan, bertemu orang yang juga sedang olahraga pasti lebih baik dibandingkan seakan bermain tenis di rumah. Ini ibarat menginap di hotel apartemen yang menjual slogan “Membuatmu seperti di rumah.” Pasti tidak senyaman rumah sebenarnya.

Dalam proses mencari potongan yang hilang itu, game terus berkembang mulai dari kualitas gambar 24 bit sampai HD, 2 dimensi ke virtual reality, konsol hingga handheld, mulai dari format kaset, data hingga aplikasi. Lalu pada tahun ini melalui pengembang Nintendo melalui aplikasi smartphone, dengan game Pokémon GO  yang langsung melejit. Sekali lagi mengusung konsep “exergames” atau video game yang melibatkan aktivitas fisik. Yang membuatnya lebih menarik, Pokémon GO menggunakan teknologi augmented reality.

Menurut salah satu artikel yang saya baca, augmented reality adalah konsep game Pokémon GO yang membedakan game Pokémon ini berbeda dengan semua game Pokemon yang muncul sebelumnya. Jika pada game konsol kita mencari Pokémon hanya dengan menggerakkan jari-jari sambil duduk atau tidur-tiduran. Pada Pokémon GO, kita diharuskan untuk bertualang ke berbagai lokasi di dunia nyata untuk mendapatkan Pokémon favorit. Dan penampakan dari Pokémon yang kita miliki hanya akan dapat dilihat melalui layar smartphone. Dengan konsep itu maka GPS dan (sekali lagi) koneksi internet adalah kebutuhan utama.

Banyak yang menyambut baik konsep dari game ini. Dalam berbagai situs juga banyak memuji bagaimana Pokémon GO bisa meningkatkan kesehatan penggunanya. Penggunanya juga meningkat pesat dalam seminggu setelah dirilis. Dilansir dari Similar Web jumlah pengguna aktif harian (daily active users) di Amerika Serikat dari game berbasis augmented reality tersebut mencapai 60 % dan dapat dikatakan sudah mendekati layanan populer Twitter di platform Android. Di Indonesia sendiri penggunanya cukup ramai. Tidak mesti mencari data untuk melihatnya, cukup dengan melihat fakta bahwa banyaknya orang yang memainkan game ini walau sebenarnya Pokémon GO belum rilis secara resmi di Indonesia. Dapat dikatakan ilegal, tapi sudahlah. Toh, kecurangan apa yang tidak bisa diperbuat di Indonesia?

Beragam cerita unik pun bermunculan seiring dirilisnya game ini. Mulai dari masuk markas militer, ditembak, ditabrak hingga cerita dari salah satu teman saya saat bermain Pokémon GO di Anjungan Pantai Losari. Di tengah permainan daya baterai smartphone-nya habis, terpaksa dia harus mengakhiri perburuannya. Betapa terkejutnya dia saat melihat keadaan sekelilingnya. Semua orang melakukan hal yang sama. Menunduk menatap terus ke layar smartphone mereka. Sama dengan dia sebelum baterai smarpthone-nya habis.

Setelah membaca artikel di media-media online dan mendengarkan cerita teman tersebut, saya bisa menyimpulkan bahwa di tengah inovasi yang dilakukan Nintendo dan usaha mereka untuk menyelaraskan game dengan aktifitas fisik, Pokémon GO bisa dikatakan belum sempurna. Kali ini letaknya pada poin interaksi yang terbangun. Walaupun ada, intensitasnya masih kurang. Orang lebih cenderung fokus mengumpulkan koleksinya, sehingga fenomena seperti yang diceritakan teman saya terjadi. Kewaspadaan dan perhatian akan keadaan sekitar menjadi menurun. Belum lagi bila sudah sampai ke level kecanduan sehingga menjadi lalai dengan kehidupan nyata karena sudah terlalu dalam terlibat dalam permainan tersebut. Seperti yang saya lihat saat berkunjung ke kampus saya dulu, di lapangan olahraga orang ramai mencari Pokémon. Mungkin mereka lupa, untuk lulus mereka harus cari tanda tangan pembimbing. Bukan Pokémon.

Atau mungkin selama ini sebenarnya tidak ada potongan yang hilang. Mungkin begitulah adanya bahwa dalam beberapa hal benar-benar tidak bisa dipenuhi oleh mesin. Sebaik-baiknya aktivitas fisik adalah aktivitas di luar rumah saat kita menghirup udara bebas, kulit kita terkena sinar matahari. Sebaik-baiknya interaksi adalah interaksi secara langsung saling menatap mata, merasakan emosi dan tertawa lepas. Bukan sekadar digambarkan dengan titik dua lalu tutup kurung dua kali. Dan sebaik-baiknya permainan belum tentu permainan canggih yang digunakan secara besar-besaran, namun dilakukan dengan semangat individu. Bisa saja itu berasal dari permainan sederhana yang bisa membuat kita melakukan semua interaksi, aktifitas fisik, dan berstrategi kolektif. Sebut saja enggo-enggo’, lojo-lojo’, main gebo’, bola, kelereng, layang-layang, lompat tali dan sebagainya.

N.B. Bukan membanding-bandingkan generasi hanya memaparkan kenyataan. Gambar muka artikel di ilustrasi diambil dari Similar Web.


Baca tulisan lainnya

Hari Pertama Sekolah dan Lamunan Warung Coto

YouTube dan Televisi: Sebuah Dikotomi yang Tidak Perlu

Tenang, Hanya Vaksin Palsu

Balada TV Kabel: Ditinggal Saat Lagi Sayang-sayangnya

Investigasi Serba Kebetulan

Komunitas yang Mengundang Kebingungan

Komunitas, Jangan Asal Kumpul-kumpul

Tamparan dari Tulisan Spotlight

Menteri yang Lucu

The Power Syndrome

Zaskia Gotik dan Rasa Syukur yang Kupetik

Yang Mengkhawatirkan dari Muda-Mudi Kekinian