Foto:Prolog Art Building ( @prologbuilding )

Makassar yang merupakan salah satu kota industri terbesar di Indonesia, diyakini dalam 10 hingga 20 tahun lagi akan memiliki dinamika permasalahan kemacetan dan tekanan kota yang bertambah. Perkembangan tersebut sulit diprediksi lagi setiap tahun, bahkan untuk penduduknya menginginkan suasana kota yang nyaman ditinggali.Tingkatan stress dalam pekerjaan, suasana jalanan yang tidak lagi aman dilalui, sampai pada hal-hal yang tabu disebutkan di sini menjadi bahan olahan media massa untuk dijadikan bahan debat kusir setiap hari.

Tetapi–hidup selalu punya tetapi, kata seorang novelis ternama–setidaknya untuk saat ini, Makassar  masih memiliki penyeimbang dalam pergerakan roda-roda permasalahan dalam kehidupan ekonomi dan sosial penduduknya. Salah satunya dengan kegiatan berkesenian secara langsung dengan menghadirkan banyak ruang-ruang kreatif dari individu untuk masyarakat luas maupun secara tidak langsung yaitu melalui pendekatan dari bidang pendidikan dan pementasan seni lokal dari jenjang pendidikan dasar sampai menengah atas.

Melihat momentum perkembangan kota yang semakin maju dalam infrastruktur, banyak komunitas yang digerakkan oleh penggiat seni kreatif bergiat untuk memunculkan ‘manufaktur’ berupa ruang-ruang alternatif kreatif di kota Makassar agar tetap berjejaring, berkegiatan dan terbuka untuk siapa saja di kota ini. Ini merupakan upaya agar bisa tetap berproduksi serta memamerkan karya kepada publik untuk mensiasati minimnya ruang alternatif untuk publik dan acara yang berbiaya mahal/tinggi. Salah satu organisasi kesenian tersebut bernama Prolog.

Prolog baru saja didirikan pada tahun 2015 oleh sekelompok seniman di Makassar. Sebagai organisasi yang bergiat mendorong kemajuan gagasan seni dalam konteks urban dan lingkup luas kebudayaan melalui pameran, festival, film, musik, lokakarya, penelitian, serta penerbitan buku, majalah, dan jurnal. Prolog memiliki Art Building, sebuah program proyek seni yang melakukan kolaborasi kreatif atas permasalahan urban dan media.

Prolog Art Building telah membuka sebuah gallery dan rooftop yang akan menjadi ruang kolaborasi bagi seniman individual maupun kelompok lintas disiplin. Vonis Media dan Timur Pictures adalah kelompok seni yang bergabung dalam program Prolog Art Building yang secara khusus mendukung perkembangan seni musik dan film. Selain itu, sebagai divisi pendukung, didirikan pula sebuah food unit & merchandise shop, yaitu Fragmen Store dan Kantin Bokca.

Suasana nyaman Kantin Bokca untuk menghadirkan ide-ide kreatifmu.

Suasana nyaman Kantin Bokca untuk menghadirkan ide-ide kreatifmu.

Fragmen Store yang berlokasi di lantai 2 Prolog Art Building.

Fragmen Store yang berlokasi di lantai 2 Prolog Art Building.

Juang Manyala di ruang galeri Prolog Art Building.

Juang Manyala di ruang galeri Prolog Art Building.

Gallery juga dilengkapi ruang baca mini yang buku-bukunya berasal dari perpustakaan mini Katakerja. Kolaborasi yang apik!

Gallery juga dilengkapi ruang baca mini yang buku-bukunya berasal dari perpustakaan mini Katakerja. Kolaborasi yang apik!

Lantai 3 Prolog Art Building ditempati oleh kantor Vonis Media dan Timur Pictures serta jalan menuju Rooftop.

Lantai 3 Prolog Art Building ditempati oleh kantor Vonis Media dan Timur Pictures serta jalan menuju Rooftop.

Dalam rangka peresmian Prolog Art Building, Prolog pun mempersembahkan program pertamanya dengan tajuk Terbuka Untuk Umum yang diselenggarakan pada Minggu 28 Juni 2015 di Prolog Art Building, Jl. Taman Makam Pahlawan Kompleks Ruko No. 1G. Sesuai dengan tajuk acara, program ini terbuka bagi siapa saja baik individu maupun komunitas. Terbuka Untuk Umum edisi pertama ini diisi dengan photo exhibitions, movie screening dan music performance.

Wildhorse dan Tabasco adalah band indie lokal yang didaulat memeriahkan music performance dalam Terbuka Untuk Umum Edisi 1 yang berlangsung mulai pukul 16.00 hingga waktu berbuka puasa di area Rooftop, lantai 4 Prolog Building. Tabasco yang tampil cukup spartan menjelang berbuka puasa dengan membawakan 7 lagu sore itu. Menutup dengan “Yellow Fragile Heart”, penampilan Tabasco semakin pas dengan nuansa matahari terbenam di ufuk timur.

Karena waktu berbuka puasa telah masuk, penampilan selanjutnya Wildhorse pun ditunda setelah Maghrib selesai. Walaupun performa Remi Setiawan cs. tidak dengan line-up lengkap sore itu, penampilan mereka cukup beringas ketika membawakan “Tiger Eyes” yang berduet dengan musisi multitalent, Saiful Irawan a.k.a Bangs yang menggebuk drum dengan penuh tenaga dan percaya diri.

3bd7adb1fae2714d7ec8c53d3fde3f3a

Menyimak musik ketika matahari yang terbenam perlahan-lahan di belakangnya merupakan pemandangan langka bagi saya ketika hadir dalam Terbuka Untuk Umum di rooftop Prolog Art Building.

Tabasco ketika tampil di Terbuka Untuk Umum #1

Tabasco ketika tampil di Terbuka Untuk Umum #1

Kemudian pada jam 9 malam, acara dilanjutkan dengan movie screening, yang akan berlangsung di tempat yang sama, di rooftop Prolog Art Building. Film yang akan diputar adalah Wan An karya sutradara Yandi Laurens dan film Lembusura karya Wregas Bhatuneja. Film-film tersebut adalah film pendek yang telah beberapa masuk dalam festival film dunia, seperti Berlin Film Fest, XXI Film Festival , Tokyo Film Festival, dan lainnya. Sedangkan photo exhibition berlangsung di area Gallery lantai 2 Prolog Building dengan memamerkan foto-foto dari fotografer panggung musik Makassar yaitu Farid Wajdi, Agus Prayudi, Ifan Adhitya dan Raih Tahtariaja.

mengikuti movie screening yang juga dilakukan di atas Rooftop Prolog Art Building tentunya punya sensasi berbeda dibanding menonton film di tempat lainnya/

Mengikuti movie screening yang juga dilakukan di atas Rooftop Prolog Art Building tentunya punya sensasi berbeda dibanding menonton film di tempat lainnya/

Program Prolog Art Building termasuk Terbuka Untuk Umum ini bakal bergulir pada edisi selanjutnya dengan menghadirkan para penggiat seni kota Makassar dan sekitarnya yang mau menampilkan karyanya dalam memberikan kritik dalam perkembangan kota Makassar. Karena menurut ketiga pendiri Prolog yaitu Juang Manyala, Andi Burhamzah dan Arif Fitriawan, Prolog adalah wadah bertemu untuk siapa saja. “Prolog untuk semua,” ketika Juang menutup kata sambutannya setelah movie screening digelar.

Ruang-ruang kreatif yang dijalankan oleh Prolog ini yang merupakan para pemuda asli Makassar tentunya diharapkan untuk memajukan kota dan menepis stigma bahwa sejak dulu titik episentrum kreatifitas hanya ada di pulau Jawa dan sekitarnya. Namun bagi kawan-kawan yang bergelut di ruang ekonomi kreatif seperti Prolog ini semoga saja tahan banting dari berputus asa jika sisi kreatifnya mengalami stagnasi alias jalan di tempat. Sering-seringlah membuat suasana menyenangkan dengan berinovasi maupun berkolaborasi dalam banyak hal. Sehingga saat iklim dalam komunitas teman-teman sedang tensi tinggi, penuh tekanan, stress dan sebagainya bisa diantisipasi dengan mengevaluasi permasalahan internal yang terjadi. Ewako, Prolog Art Building! []

Prolog Art Building
Jl. Taman Makam Pahlawan Kompleks Ruko No. 1G, Makassar

Baca artikel lainnya dari Achmad Nirwan

Tabuhan Penutup Bunyi-Bunyian di Halaman

Merayakan Usia Ke-dua dengan Cinta dan Kasih Sayang

Panggung Memukau milik Musisi Indie

Panen Hasil Bumi, Panen Kolaborasi

Menuju Kegelapan

“Konsisten Plus Nekat!”

“Musik Kontemporer itu Seperti Virus”

Membisingkan Ide dan Musik dalam Garasi

Berjuang Membangun Halusinasi Secara Nyata

Momen Istimewa untuk Rilisan Musisi Makassar

Rilisan Album Musisi Makassar untuk Record Store Day 2015

Membuka Jejak Semesta dan Rupa Pesona

Bersiasat dengan Bisnis Musik di Era Digital

Pesta dan Ska Sehari Penuh Sukacita!

Mengarungi Semesta Musik Alif Naaba

Hanya Ada Satu Kata untuk Korupsi: Lawan!

Vakansi Akhir Pekan untuk Pelestarian Hutan

Menyatukan Musik Pop dengan Bebunyian Loop

Melewati Masa Orientasi Mahasiswa Baru

Gaung Nuansa Skiffle dari Timur

“Siapkan Mental dalam Bermusik!”

Penghormatan Penuh Loyalitas untuk Oasis

Memotret Indonesia dalam Lukisan

5 “Rukun” Wajib untuk Musisi

Nada Gerilya untuk Pandang Raya

10 Pahlawan Musik Rock Alternatif

Bikin Film tentang Anti-Korupsi, Kenapa Tidak?

Playlist Ngabuburit Anti-Klise