Oleh: Muh. Shany Kasysyaf ( @shanykasysyaf ) | Ilustrasi: Aisyah Azalya ( @syhzly )

Saya akan sepakat bila merokok dilarang. Selama puasa tentu saja. Sebagai hamba yang manja, saya tidak akan bertahan lama dengan godaan ingin turut mengepulkan asap dengan nikmat dan khidmat. Karena orang yang merokok di tengah-tengah hamba yang sedang berpuasa, sama hukumnya dengan warung makan yang menolak tutup siang selama Ramadan. Kira-kira mirip dengan setan yang gagal masuk kurungan dan layak disalahkan sebagai godaan.

Dan, perayaan Hari Tanpa Tembakau yang sudah lewat beberapa minggu lalu, sungguh dirayakan dengan begitu apriori. Dalam perayaan tersebut dimintalah para perokok menukarkan rokok yang kebetulan sedang dikantongi atau sedang dinikmati, untuk ditukarkan dengan empat bungkus permen yang konon kandungan gizinya setara dengan segelas susu. Kebetulan waktu perayaan Hari Tanpa Tembakau tersebut, saya sedang berada di kota yang sejatinya tidak akan hidup secara ekonomi  jika bukan karena tembakau: Jember.

Dari semua yang ditawari, saya salah satu yang menolak penawaran yang tidak mengedapankan prinsip adil-setara tersebut. Persoalannya, jelas tidak relevan menukarkan empat bungkus permen seharga empat ribu rupiah, dengan sebungkus kretek seharga dua puluh ribu rupiah. Bahkan untuk mengikhlaskan kerugian, masih sangat sulit menerima keuntungan yang nilai gunanya di bawah seperempat dari barang yang kita belanjakan. Mungkin, jika penawarannya diganti dengan kontak personal dede-dede gemes yang menawan hati, atau susu beruang kemasan gold yang harganya nyaris setengah dari harga sebungkus kretek yang sedang saya nikmati, penawaran tersebut akan saya pikirkan kembali.

Tulisan ini sendiri diinspirasi oleh seorang kawan diskusi yang menduga sedang salah pilih istri dan berniat kawin lagi. Pasalnya, setelah merasa dihabisi dalam sudut pandang ekonomi, sang suami dimusuhi oleh istrinya karena dituduh jadi biang kanker dan hipertensi. Bukan berarti saya menyangkal bahaya tembakau sepenuhnya bagi kesehatan manusia, hanya saja, menghakimi tembakau sebagai satu-satunya biang penyakit, sudah terang adalah bagian kesesatan cara berpikir  yang over-generalisasi.

Kebetulan waktu itu, istri kawan saya baru saja pulang dari acara seminar kesehatan soal bahaya rokok dalam peringatan hari biadab tersebut. Menurut kawan saya, kalau toh dalam mengkampanyekan pengendalian tembakau, cara yang dianggap terbaik adalah dengan menuduhnya sebagai biang kanker dan hipertensi, Tentu adil juga dalam menyatakan gaya hidup sosialita (maksudnya istri kawan saya) yang sebenarnya terlibat dalam rangkaian sebab penyakit kronis yang diperangi.

Menuduh tembakau sebagai satu-satunya biang penyakit, tapi menyembunyikan soal gaya hidup sendiri sebagai biang keladi yang lain. Jelas cara berpikir yang impoten. Mirip ahli ibadah yang jago merapal dalil Tuhan, memusuhi maksiat dan segala bentuk tindak amoral. Tapi nol besar dalam hubungan pada sesama.

Apa gunanya memerangi penyakit yang dibawa tembakau, sementara masih mengudap makanan mahal demi gengsi sosial linimasa dan menghabisi suami dari sudut pandang ekonomi?

Kemudian setelah mengidap penyakit kronis karena makanan yang dikonsumsi, orang terdekat macam suami akan jadi pihak yang paling dimusuhi karena tembakau yang dinikmati. Atau tidak usah jauh-jauh, di waktu yang seperti sekarang, silakan tengok diri sendiri saat menyantap hidangan berbuka, sudahkah kita lebih pandai menahan diri dalam bersantap sebagaimana pesan utama dari anjuran berpuasa untuk tidak berlebih-lebihan?

Apa artinya juga memerangi penyakit yang dibawa tembakau, sementara masih mengupayakan kesempurnaan penampilan yang akhirnya menyiksa diri sendiri. Mengenakan pakaian sempit yang mendestruksi ruang napas jelas tidak sehat, apalagi semata-mata demi alasan yang sedikit baratisme: merampingkan bentuk tubuh.

Ilmu dasar panjang umur, yah kuncinya cuma satu, jangan lupa bahagia. Sedangkan setiap usaha untuk tampil sempurna di depan orang-orang, hanya akan menjadi depresi bila gagal diupayakan. Tidak percaya? silakan berkunjung ke pelosok desa, tempat yang dihuni empu-empu penikmat tembakau garis keras.

Desa yang tontonan penduduknya tidak pernah jauh-jauh dari dangdut dan kasidah. Desa yang aroma penduduknya tidak pernah lepas dari bau lumpur dan keringat. Jangan harap ada dari mereka yang mengenali wangi pengharum khas pusat perbelanjaan sekelas Gucci, Versace, atau Giorgio Armani. Apalagi sampai paham dengan harga komoditas tekstil barat yang harganya barangkali setara harga sehektar tanah. Berapa banyak dari mereka yang menghuni desa dengan model konsumsi gizi seadanya berumur lebih pendek dari manusia kota yang model konsumsi gizinya dipenuhi pertimbangan?

Maka sekali lagi, berbahagialah! Mengejar umur panjang, tidak pernah cukup dengan menyalahkan tembakau saja.[]

*Penulis adalah penyuka kretek produksi kudus, dan penikmat segala jenis kretek. Mengkonsumsi kretek lintingan sendiri, adalah aktivitas favoritnya. Belakangan lebih menikmati menulis puisi, ketimbang menulis skripsi.


Baca tulisan lainnya

Marhaban Yaa Ramadhan

Tips Berpuasa di Bulan Ramadhan

Selamat Menyenangkan Ibadah Ramadan!

Merayakan Kekalahan

Oh, The Masjid You’ll Go!