Acap kali saya membaca buku puisi, saya merasa sedang belajar mengenakan baju pada seorang gadis dewasa yang pingsan. Tubuhnya yang sintal dan payudara yang besar adalah tantangannya. Hal tersial adalah ketika terbawa nafsu dan gagal menilai kecantikan perempuan tersebut secara menyeluruh.

Buku puisi terakhir yang saya baca adalah Baju Bulan dari Joko Pinurbo. Bukan buku baru, saya telah membacanya beberapa kali. Tapi entah mengapa sudah seminggu buku itu saya simpan di ransel dan di waktu yang kurang sibuk, saya akan membacanya.

Pada suatu kesempatan, saya sementara membaca buku itu dan seorang teman bertanya iseng, “seandainya kamu menulis puisi menggunakan dialek lokal, kira-kira puisi itu akan seperti apa?”. Saya hanya menjawab singkat, “puisinya tidak akan apa-apa”. Teman saya menantang untuk melakukan itu. tapi saya tidak menggubrisnya lalu kembali membaca.

Setiba di rumah, saya kembali belajar menulis puisi. Saya coba memahami penggunaan imbuhan untuk menguatkan kata dalam puisi. Tapi tantangan teman saya untuk menulis puisi dan menggunakan imbuhan lokal mengganggu pikiran saya.

Saya kemudian mencoba untuk menyalin satu puisi Joko Pinurbo dan mengubahnya ke dalam bentuk lokal–saya mengganti setiap imbuhan aslinya menjadi imbuhan Makassar. Saya memilih puisi Pacarkecilku. Hasilnya tak begitu buruk tapi saya jadi sedih melihat nasib puisi tersebut. Niat saya untuk memahami penggunaan imbuhan dalam puisi malah terganggu. Sial!

Lekas saya hapus salinan itu dan mencoba memahami bagaimana pentingnya imbuhan–terlebih dalam bahasa Makassar.

Jika dilihat di Kamus Besar Bahasa Indonesia, imbuhan diartikan sebagai bunyi yang ditambahkan pada sebuah kata–entah di awal, di akhir, di tengah, atau gabungan dari antara tiga itu–untuk membentuk kata baru yang artinya berhubungan dengan kata yang pertama.

Imbuhan sendiri terbagi empat; awalan, sisipan, akhiran, dan konfiks. Untuk memudakan memahami, kita mengambil contoh imbuhan lokal, misalnya awalan, ta’-bentur, akhiran, pergi-ki, konfiks, ri-atas-ki. Namun dalam bahasa Makassar, sisipan sepertinya tidak dikenal. Hampir semalaman saya mencari contoh kata bersisipan dalam bahasa Makassar, namun tidak menemukan. Dalam bahasa Indonesia, contoh sisipan sendiri adalah karya menjadi kinarya atau berarti dikerjakan.

***

Pertanyaan teman saya yang hanya iseng itu kemudian membawa manfaat. Saya merasa berdosa. Selama hidup, saya tidak pernah tekun mempelajari bagaimana imbuhan dalam bahasa lokal kita. Sebagai mahasiswa Sastra, saya bahkan sempat berpikir untuk tidak mempelajari bahasa lokal. Apa pentingnya? Itulah pertanyaan yang terbersit di benak saya.

Namun serial anime Jepang, One Piece mengajarkan saya untuk tidak meremehkan bahasa. Tokoh Nico Robin – arkeolog, mampu menerjemahkan tulisan kuno Poneglyph. Dalam kisahnya, saat berada di kerajaan Alabasta, terdapat sebuah tulisan Poneglyph. Semua penduduk Alabasata, termasuk raja tidak mampu membaca tulisan kuno tersebut. Beruntung Nico Robin mampu menerjemahkan tulisan tersebut.

Kisah serupa lainnya, saat Nico Robin dan kru Bajak Laut Topi Jerami yang dipimpin Monkey D. Luffi berhasil sampai di Skypiea, pulau yang terletak di atas langit lautan Grand Line. Di pulau tersebut tersembunyi lonceng raksasa yang terbuat dari emas. Di lonceng itu, ada sebuah prasasti yang menggunakan tulisan Poneglyph dan dilindungi oleh penduduk pribumi. Tapi semua penduduk Skypiea tidak ada yang mampu menerjemahkan. Lagi-lagi, Nico Robin mampu melakukannya.

Kisah di atas hanya rekaan, tapi bagaimanapun Nico Robin telah mengajarkan kita bagaimana pentingnya bahasa. Apalagi jika bahasa itu telah punah.

Saya membayangkan, entah di tahun berapa, saat tidak ada lagi yang mampu memahami bahasa lokal kita. Ada orang asing yang mampu menerjemahkan bahasa kita. Saya kemudian mengingat saat diskusi, seorang teman marah-marah karena sure’ Lagaligo tersimpan di Belanda. Saya kemudian bertanya, apakah jika sure’ itu ada di rumahmu, kamu mampu menjaga dan membaca tulisannya? Teman saya kemudian senyum kecut dan membalas, itu tidak penting, pokoknya sure’ itu adalah warisan untuk kita semua dan harus kita yang menyimpannya.

Saya hanya diam dan memuji semangat teman saya. Semoga itu mendorongnya untuk belajar menerjemahkan naskah lontara.

***

Bagaimanapun, bahasa lokal tidak sekadar ditemukan, tapi diciptakan dari pengetahuan. Pengalaman saya merusak puisi Pacarkecilku milik Joko Pinurbo dengan mengganti imbuhannya menjadi imbuhan Makassar adalah kesalahan yang membawa manfaat. Pengalaman itu membuat saya mengerti bahwa bahasa bukan vibrator yang dapat dimainkan dengan mudah kemudian memberi kepuasan tapi bahasa lokal memiliki permata sendiri yang tidak bisa disamakan dengan permata lain. Bahkan dengan harta apapun.

Sementara kisah Nico Robin membuat saya lebih semangat untuk mempelajari bahasa lokal. Nico Robin menitipkan kepada kita bahwa salah satu pengertian bahasa adalah waktu. Karena yang tidak dipelihara itu akan dilupakan dan punah.

Sketsa: Mirushka


Baca tulisan lainnya

Rangga adalah Sastrawan Sosialita Kita

Tiada Cinta yang Kekal dan Percuma

Tiga Puisi yang Paling Berpengaruh dalam Hidup Saya

Tujuh Istilah Cinta yang Harus Kamu Ketahui Sebelum Patah Hati

Belajar Jatuh Cinta dari Vicky Prasetyo

Luffi dan Feodalisme Bahasa

Kita Butuh Berita Kepada Kawan, Bukan Lawan

Pesantren, Senyum Enigmatik Monalisa dan Pinokio