Oleh: Nasrullah Mappatang*

Hersri Setiawan dan Ita Fatia Nadia, pasangan ayah dan anak ini melakukan perjalanan ke Pulau Buru. Sebuah perjalanan dalam bentuk ziarah. Hersri bersama putrinya kembali ke sebuah pulau yang pernah menjadi tempat pembuangannya selama kurang lebih dua puluh tahun. Dia adalah salah satu korban dari peristiwa 65. Dituduh berafiliasi dengan PKI (Partai Komunis Indonesia) lantaran tergabung dengan Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat).

Peristiwa 1965 adalah awal di mana Hersri dan kawan-kawannya dijadikan Tahanan Politik rezim militer Soeharto. Selama puluhan tahun, Hersri bertahan hidup di Pulau Buru sebagai tahanan politik. Banyak kisah yang me-memori di sana. Banyak cerita yang tak hendak dilupakan di Pulau Buru ini. Mungkin itulah maksud dari ziarah Hersri bersama anaknya Ita ini.

Mengapa ziarah dilakukan?

Rememoration of memory adalah sebuah argumen yang mungkin bisa menjadi pengantar kita memahami pentingnya sebuah ziarah (pilgrimage). Apa yang hendak diingat dan hendak dilupakan adalah afirmasi Pierre Nora (1997)[1] tentang memori ini. Realm of Memory – kealaman sebuah memory – hanya dapat dikisahkan oleh mereka yang (pernah) mengalaminya. Meski kata kadang tak mampu mewadahi makna dalam cerita dan kisah dari sebuah memori, tapi penutur yang mengalami langsung jauh lebih sahih ketimbang pencerita yang tak pernah mengalami. Karena jika hanya dari pencerita, potensi reduksi makna dari sebuah kisah tak dapat dihindari. Di sini pulalah letak perbedaan antara memory dan history menurut Nora. History (Sejarah) adalah sesuatu yang dilekatkan (embeeded), sementara memory adalah sesuatu yang menubuh (ombodied). Begitu kiranya perihal memory dan history yang diulas oleh Budiawan (2012)[2] yang juga merujuk pada Nora ini.

Ann Rigney, seorang Kritikus Sastra dan Pengkaji “Cultural Memory” mengatakan peran karya sastra sebagai Literature as “Portable Monument” of Memory (Rigney, 2004). Di mana dalam karya ini ditandai dengan puisi Pantai Sanleko dan Puisi Ziarah yang dibacakan Hersri dalam film ini. Kedua puisi tersebut membangun sebuah monumen ingatan yang dengan mudah terbawa.

Seperti Hersri dengan puisinya, Pramoedya Ananta Toer yang karyanya begitu monumental di negeri ini adalah sebuah situs – situs ingatan yang menjadi sebuah monumen ingatan yang begitu sulit untuk dipaksa mengakui tempelan dan praktik representasi sejarah Orde baru yang pernah mengekangnya. Ingatan akan kekejaman penguasa rezim militer Soeharto dan kekuatan mereka yang dianggap kalah untuk bertahan dan kemudian bangkit adalah pesan kuat yang sepertinya hendak disampaikan dari “ziarah” yang difilmkan ini. Pram misalnya, tak hanya melawan narasi kolonial, akan tetapi turut membangun apa yang disebut sebagai redefining nation and character building. Itu kenapa pasca 65, melalui perjanjian kebudayaan Indonesia-Belanda, karya–karya Pram yang berbau nasionalisme dan menguliti habis kolonialisme Belanda turut dilarang. Belum lagi buah perang dingin yang mencondongkan Soeharto ke blok AS menjadikan pembenaran dugaan afiliasi PKI dengan LEKRA untuk menangkapi dan membuang Pram ke Pulau Buru.

Untuk menandai sebuah ingatan yang hendak ditanamkan, Sites of Memory (Nora, 1997) (Budiawan, 2013) adalah terma yang bisa dijadikan rujukan. Situs-situs ingatan yang menjadi kenangan-manis dan pahit. Pada film ini, hal tersebut ditandai dengan keberadaan Monumen Komandan Militer penjaga Pulau Buru di masa penahanan tapol, Art Hall yang telah direnovasi, makam Heru Santoso (teman Hersri Setiawan), serta sawah seluas ribuan hektar yang dulunya diadakan oleh para tapol.

Situs-situs memori/ingatan inilah yang oleh rezim Orde Baru sampai sekarang tetap dijaga kemapanan narasinya, tetap tak mampu menggantikan suara dari kisah Hersri dkk yang pernah mengalami langsung. Suara Hersri dan para eks tapol adalah “realms”, sementara suara penguasa hanyalah representasi dari “reality”. Realms and memory vis a vis reality and history. Keduanya hadir ketika melihat bagaimana peristiwa 65 dan pengaruh yang ditimbulkannya coba untuk dihadirkan.

Arti kehadiran film dokumenter Pulau Buru Tanah Air Beta

Menolak lupa, menolak patuh, menolak menyerah mungkin kata yang memungkinkan untuk menggambarkan beberapa alasan mengapa film ini hadir. Rituals to rememorize (ritual untuk mengingat) dengan harapan agar ingatan hasil ciptaan peguasa tidak menjadi kebenaran tunggal dan menggantikan kisah dan ingatan yang sebenarnya. Jadi, korban yang mampu berbicara dalam film ini adalah sebuah upaya menghalau kebenaran ingatan yang coba dibangun rezim kekuasaan.

Lantas kenapa kehadiran film dokumenter seperti ini menimbulkan reaksi dari kelompok yang merasa terusik?

Pertama karena terjadi perebutan ruang hegemoni “pewarisan ingatan”. Kedua, karena Sejarah adalah pelekatan ingatan oleh penguasa, maka sastra, film, dianggap berpotensi merobohkan bangunan ingatan yang telah lama dibangun dan dijaga oleh sejarah (history) yang ditulis penguasa. Singkatnya, Film dokumenter juga karya seni yang lain menjadi monumen baru untuk sebuah ingatan yang hendak diingat dan hendak dilupakan. Olehnya, yang berkepentingan pasti berusaha membangunnya dan yang terusik bukan tidak mungkin berusaha menghalanginya. Bisa jadi seperti itulah perebutan ingatan bekerja sampai hari ini.[]

*Ditulis untuk diskusi film Pulau Buru Tanah Air Beta di Pelataran Baruga AP Pettarani Unhas, 3 Mei 2016 oleh Kedai Buku Jenny, Katakerja, dan BEM FISIP Unhas. Penulis merupakan Anggota LAW Unhas dan Institute of Social Change Studies ISCS. Sumber gambar diambil dari cuplikan film Pulau Buru Tanah Air Beta di akun milik Whisnu Yonar.

[1] Pierre Nora, The Realm of Memory.

[2] Budiawan (ed.) (2013) Sejarah dan Memori: Titik Simpang dan Titik Temu. Budiawan juga adalah penulis Buku Mematahkan Pewarisan Ingatan (2004) dan Sejarah Sebagai Humaniora (2014).


Baca tulisan lainnya

Bergerak dalam Nyanyi Sunyi Pram

Telinga sang Sastrawan Besar

Anarkisme dalam Relasi Pengetahuan dan Perjuangan Anti Kolonial

Darah di Atas Salju

Hati-hati, Negara bisa Melumpuhkan Alat Vitalmu!

Bukan Hanya Dendam, Rindu pun Harus Dibayar dengan Tuntas

Fiksi Otobiografi Seorang Anak PKI