Foto: M. Ifan Adhitya (@ifandfun)

Pure Saturday akhirnya bisa tampil kembali di Makassar. Mereka diundang tampil di Makassar dalam pentas seni siswa-siswi SMAN 11 Makassar pada 7 Februari 2015 lalu. Ini seperti salah satu do’a yang terkabul, setelah saya terakhir kali bisa menyaksikan mereka dengan mata kepala sendiri di tahun 2010.

Untuk pertama kalinya pula Pure Saturday yang digawangi Satria “Iyo” Nurbambang (vokal dan gitar akustik), Arief Hamdani (gitar) dan Ade Purnama (bass) yang akrab dipanggil Ade Muir, tampil tanpa kehadiran Adhitya “Adhi” Ardinugraha (gitar) dan Yudhistira “Udhi” Ardinugraha (drum) di atas panggung, yang memutuskan untuk mundur dari Pure Saturday pada 25 Januari 2015 lalu karena ingin mendalami agama. Saya sempat mewawancarai Ade Muir dan Iyo dari Pure Saturday perihal tersebut dan rencana mereka ke depannya, selepas tampil memukau tanpa beban di panggung pentas seni “The Greatest Day” Revolution of Smanses 2015.

Saya mungkin termasuk beberapa penikmat musik Pure Saturday yang sudah lama menunggu kedatangan kalian untuk tampil langsung di sini. Lalu, sempat mendengar kabar Adhi dan Udhi mundur, apakah ini bisa jadi saat-saat tersulit untuk Pure Saturday? 

Ade Muir: Yang mau saya klarifikasi, tolong jangan anggap ini sebagai musibah. Tolong, saya pengen teman-teman tidak menganggap ini sebagai duka. Adhi dan Udhi memutuskan keluar karena mengganggap hal tersebut lebih baik dan kita ke sini juga pengen mendapat sesuatu yang baik. Kita gak ada ribut, keluarnya juga baik-baik. Malah di Path, Adhi sempat berkomentar (soal manggung di Makassar) sukses ya, sing lancar!  Jadi, ya, jangan anggap seperti ini atau itulah. Buktinya, malam ini kita (Pure Saturday) senang-senang saja. Gig malam ini juga juga ramai kok.

Selepas Adhi dan Udhi meninggalkan Pure Saturday, apa rencana ke depannya?

Ade Muir: Kalau rencana ke depannya, terus terang saja kita belum tau, ini lagi masa transisi nih. Cuma yang pasti, Pure Saturday tetap ada. Itu sudah tekad bulat saya, Arief sama Iyo dibantu sama Budi (manager Pure Saturday) dengan teman-teman yang kerja bareng Pure Saturday. Dibantu lagi dukungan sama teman-teman musisi di Bandung, Jakarta, terus fans juga support penuh.  Pokoknya Pure Saturday sudah pasti masih ada.

Apakah mungkin ada personil baru?

Ade Muir: Kalau personil baru sih, kita belum tau. Rencananya kita akan tetap jalan bertiga. Mungkin kita belum berpikir untuk mencari pengganti Adhi dan Udhi dalam jangka waktu pendek. Pemain drum sama pemain gitar kita cari additional aja dulu deh. Kebetulan yang main gitar tadi itu kan, Ocim, teknisi gitar Pure Saturday. Dia udah lumayan menguasai lagu-lagu Pure Saturday. Nah, tinggal pemain drum aja nih yang agak sulit. Yang main tadi itu Papay (drummernya Sarasvati). Karena dia juga mungkin sibuk bareng Saravasti, kami cari pemain drum yang lain. Nanti, mudah-mudahan sih kita akan bikin press conference soal kejadiannya. Hal ini mungkin untuk mempermudah informasi karena teman-teman di Jakarta atau Bandung ada yang susah untuk hadir. Yah, kita pasti akan update lah tentang hal itu.

"Rencananya kita akan tetap jalan bertiga. Mungkin kita belum berpikir untuk mencari pengganti Adi dan Udi dalam jangka waktu pendek." tutur Ade Muir soal rencana Pure Saturday ke depannya.

“Rencananya kita akan tetap jalan bertiga. Mungkin kita belum berpikir untuk mencari pengganti Adi dan Udi dalam jangka waktu pendek.” tutur Ade Muir soal rencana Pure Saturday ke depannya.

Nah, misalnya Adhi dan Udhi berubah pikiran untuk kembali bersama Pure Saturday dalam jangka waktu tertentu, bagaimana  menurut kalian?

Ade Muir: Kalau kita sih sekarang sudah sepakat untuk menjalankan Pure Saturday seperti ini. Jadi kita juga gak memikirkan suatu saat Adi dan Udi akan kembali. Dan (keputusan) ini mungkin akan bertahan dalam waktu yang cukup lama. Karena, melihat kondisinya sih mungkin kita akan tetap jalan bertiga.

Di album berikutnya ini apakah persiapannya memang hanya bertiga saja ataukah harus ada personil baru, lalu menggarap albumnya?

Ade Muir: Ya, Pure Saturday sekarang tinggal tiga orang. Tapi kan pada saat sesi rekamannya, kita butuh bantuan teman-teman lain. Seperti di album kemarin itu ada Rekti (Rekti Yoewono,gitaris/vokalis The S.I.G.I.T), Ramdhan (Ramdhan Agustiana, sound engineer di album Grey).  Nah, penggarapan materinya kemungkinan tetap bertiga sebelum masuk studio rekaman nanti.

Pure Saturday sudah hampir berusia seperempat abad. Apa persiapan paling matang dari kalian?

Iyo: Mengalir aja sih sebenarnya. Kita juga belum ada rencana yang betul-betul pasti, semuanya dibiarkan mengalir saja dulu. Dengan kita manggung malam ini juga kita merasa senang banget bisa puas lewatin malam ini. Jadi ke depannya, bikin sesuatu yang baru aja.

Saya sempat merasakan vibe teman-teman yang menonton Pure Saturday tadi, termasuk saya yang ikut menyanyi ketika beberapa tembang lawas Pure Saturday dilantunkan. Bagaimana kalian melihatnya dari atas panggung tadi?

Iyo: Wah, luar biasa! Kita juga gak sangka bakal seseru itu.

Ade Muir: Yang paling bikin saya merinding itu pas “Utopian Dream”. Soalnya lagu itu belum pernah dibawa di panggung untuk pensi seperti ini. Kita hanya pernah bawain lagu itu waktu konser sendiri (Pure Saturday Grey Concert, 15 Mei 2012), karena ada Rekti sama pas konser bareng The S.I.G.IT, ya karena ada Rekti juga. Makanya sempat kepikiran, cobain deh bawa lagu ini. Sebenarnya lagu ini juga kita bawain untuk cooling down juga, karena Papay (additional drummer) masih belum terlalu hafal semua lagunya PS. Tapi ternyata pas dibawain, jadinya ngeri bin merinding juga he he he.

IMG_1371

“Karena mereka juga mendadak bilangnya, jadinya kita kasih respon yang sangat cepat juga,” ujar Iyo terkait pengunduran diri Adi dan Udi dari Pure Saturday, 25 Januari lalu.

Bagaimana kelanjutan dari semboyan “Zero Tolerance for Violence”  terkait kasus pemukulan Iyo oleh aparat tahun lalu?

Iyo: Sebenarnya “Zero Tolerance for Violence” itu semboyan kita dari album kedua di tahun 1999. Jadi kita ambil lagi semangatnya kebetulan tepat momennya. Kalau kasusnya sendiri, gak sama sekali saya kasuskan, karena..ya, kita taulah kita berhadapan dengan siapa. KPK aja kewalahan menghadapi kepolisian, apalagi orang sekecil saya. Kalau itu keputusan yang tepat untuk tidak mengkasuskan. Tapi setelah itu kan, saya bikin pameran seni tentang semboyan itu. Pameran itu buat saya udah cukup. Tapi kata dari pihak mereka selalu bilang, setelah persoalan itu, ada beberapa orang yang terlibat dipindahkan (jabatannya).

Bagaimana sih pandangan kalian soal pelarangan gig yang pernah ada di Bandung atau adanya jam malam sekarang, karena jika dirunut juga banyak kota lain termasuk Makassar yang mengalami hal yang sama?

Iyo: Kalau di Bandung, saya taunya si Walikota Bandung yang sekarang, sebisa mungkin memfasilitasi kegiatan kreatif anak muda di Bandung. Cuman yah, ketentuan adalah ketentuan. Dan saya harap sih tidak membatasi kreatifitas. Kalau sampai sekarang sih, anak Bandung fine-fine aja. Cuman yah, secara sistem legalitas perizinan dari kepolisian yang rumit sekarang. Tidak semudah yang saya lihat perizinan di Jogja, atau di Surabaya.

Bagaimana menurut Iyo, jika di sepanjang perjalanan bersama Pure Saturday masih menemui banyak fans Pure Saturday yang merasa vokalis dari Pure Saturday itu Suar, apakah itu cukup mengganggu Iyo sejauh ini? Ya, selain panggung – panggung di kota lain, seperti di Bandung yang mana Pure Saturday sering sekali tampil, mungkin sempat bertemu dengan fans garis keras-nya Suar. He he he

Iyo: Ha ha ha. Ya itu sempat juga bertemu dengan Eric (deathrockstar.info), dia sempat bilang perasaan juga masih baru aja buat dia(melihat Pure Saturday tampil dengan Suar). Saya pun membalas, eh, Ric, lu sadar gak gua udah dari tahun berapa? Terus lu bakal sampe kapan lu bakal mikir begitu terus? He he he. Ini sebenarnya hal yang unik ya buat saya di Pure Saturday. Itu memang sudah terpotret seperti itu, jadi ya gak masalah (buat saya). Kalau memang masih merindukan Suar, ya dengerin saja lagu-lagu yang Suar nyanyikan. Saya gak bisa maksa apapun tentang itu. Dan tentang kejadian yang sekarang pula.

Bagaimana menurut Iyo tentang kejadian pengunduran diri Adi dan Udi tersebut?

Iyo: Kalau yang itu (keputusan) kita ambil solusinya sangat cepat. Karena mereka (Adi dan Udi) juga mendadak bilangnya, jadinya kita kasih respon yang sangat cepat. Terus terang mereka sebenarnya masih mau main di sini. Cuman yah ini bukan keputusan yang main-main. Ini keputusan yang levelnya tinggi (untuk Pure Saturday sendiri). Ini tentang apa yang mereka percayai dan kita percayai juga. Jadi yah, mari kita hadapi. Begini ya, karena ini bukan masalah toleransi. Mereka juga tidak ada toleransi untuk pergi dari Pure Saturday, kan. Betul juga yang mereka lakukan, karena masalah kepercayaan, jadi tidak ada toleransi untuk melanjutkan. Jadi gimana lah, kalau di panggung itu kan, chemistry . Nah, kalau itu sudah keputusan yang harus kita hadapi.

Arif dari Pure Saturday tampil bersama Iyo dan Ade Muir untuk pertama kalinya tanpa kehadiran Adi dan Udi pada malam itu. Saya tidak sempat mewawancarainya, namun percaya saja dia mengamini hal yang sama saat mewawancarai Iyo dan Ade Muir.

Arief dari Pure Saturday tampil bersama Iyo dan Ade Muir untuk pertama kalinya tanpa kehadiran Adi dan Udi pada malam itu. Saya tidak sempat mewawancarainya, namun percaya saja dia mengamini hal yang sama saat mewawancarai Iyo dan Ade Muir.

Beberapa hari setelah mendengar kejadian itu, kemarin Bobhy dari Kedai Buku Jenny menulis tentang permintaan sepelenya untuk Pure Saturday di Makassar nanti. Saya pun sebagai Pure People mengharapkan kalian tampil lengkap di Makassar. Bagaimana menurut kalian tentang permintaan tersebut?

Iyo: Surat yang ditulis Bobhy itu buat saya itu bukan hal yang sepele. Surat yang berpengaruh sekali malah. Itu juga pengaruhnya untuk mereka, kita dan semua yang lain, pengaruhnya besar. Menurut saya, suratnya Bobhy itu usaha yang sangat bagus untuk kita bareng lagi. Cuman itu lagi, mari hadapi kenyataan ini. Yah, mau bagaimana lagi.

Sejauh ini fase yang kalian alami sekarang apakah bakal berlanjut dengan formasi bertiga saja atau bagaimana rencananya?

Iyo: Ya, sejauh ini cukup bertiga saja. Band berumur 20 tahun lebih, itu gak segampang itu kita cepat beradaptasi, kita mulai lagi sesuatu yang baru. Yah bakal dibikin lancar-lancar saja, gak bakal dibikin susah.

Kalian sudah pernah berkolaborasi dengan Yockie Suryoprayogo atau Rekti. Pernah kepikiran untuk berkolaborasi dengan musisi Makassar?

Iyo: Kenapa gak! Seperti Theory Of Discoustic itu bagus. Pokoknya kita gak bakal menutup kemungkinan untuk eksplorasi. Bakal kita coba, cumin kita belum tahu (berkolaborasi) dengan siapa.

Selain The Cure, apa inspirasi kalian selanjutnya yang bakal kalian hadirkan di album berikutnya? Apakah masuk ke ranah prog-rock? Karena saya sempat menonton kalian membawakan lagu dari Marillion “Wide Boys” pas tahun 2010 itu.

Iyo: Pengen sih, soalnya itu memang referensi Pure Saturday sejak jaman SMA. Mereka sudah dengerin Marillion, Genesis. Jadi bisa kebayang kalau mereka dengar itu sekitar 1993 atau 1994, jadi sampai sekarang itu masih nempel. (Musik prog-rock) itu juga jadi formula musiknya Pure Saturday. Lihat nantilah bagaimana jadinya (untuk album berikutnya).

Musisi indie Indonesia yang kalian favoritkan untuk saat ini siapa saja? Terkait rilisan album dari band-band indie Indonesia yang cukup banyak tahun lalu.

Iyo: Kalau dari scene hardcore ya Taring, lumayan fresh ya. Bukan karena kebetulan saya managernya (Taring), tapi objektif aja itu gitu, ada sesuatu hal yang baru. Berharap saja bakal muncul terus band-band keren tahun ini dan selanjutnya.

Bagaimana menurut kalian peran media alternatif untuk band seperti Pure Saturday?

Iyo: Saya ngarepin banget sih, media-media alternatif muncul lagi. Termasuk itu PR buat saya juga sebenarnya. Dulu saya bikin majalah Ripple. Ya, semoga setiap daerah punya media alternative yang kuat. Pesan saya, bikin media alternative yang low budget, tapi continue. Itu kuncinya menurut saya. Yang penting semua teman-teman band terfasilitasi (dengan adanya media alternatif). Sebenarnya, medianya bisa apa saja. Karena sekarang ada media digital, ada yang fisik, tetap menurut yang fisik lebih berharga.

Berkah tersendiri bisa diberi kesempatan mewawancarai Pure Saturday di pentas seni "The Greatest Day" Revolution of Smanses 2015.

Berkah tersendiri bisa diberi kesempatan mewawancarai Pure Saturday di pentas seni “The Greatest Day” Revolution of Smanses 2015.

Apakah pernah merasakan titik jenuh dalam bermusik bersama Pure Saturday?

Iyo: Beberapa waktu yang lalu, terus terang sih iya. Nih album kok gak jadi-jadi ya. Tapi sekarang, kita semangat lagi(untuk mengerjakan album). Tunggu aja lah.

Ekspektasi Pure Saturday untuk tahun ini?

Iyo: Harus keluar album baru. Plus, tunggu kejutan-kejutan kita berikutnya. He he he.

Pesan untuk pembaca Revius?

Iyo: Itu tadi yang saya bilang, peran media alternative sangat, sangat membantu pergerakan kreatif di daerahnya sendiri dan Indonesia, jadi jangan berhenti memberi dukungannya. Untuk Revius sendiri, Pintar-pintarlah menghadirkan ulasan yang bermutu dan jangan cepat patah semangat! []