Teks: Nurhady Sirimorok | Ilustrasi: Herman Pawellangi

Tahu kan lagu ‘Kali Kedua’ yang dilantunkan Raisa? Dalam sejumlah diskusi akhir-akhir ini saya sering mengajak para peserta menelaah liriknya.

Lagu tersebut bisa kita lihat sebagai contoh tipikal dari banyak lagu pop arus utama mutakhir yang sayangnya nyaris seratus persen bicara soal, tidak lain dan tidak bukan, asmara. Lirik Kali Kedua menyampaikan kepada pendengar bagaimana seseorang tengah gundah karena ditinggal kekasih dan meradang ingin kembali. Klise? Iya. Tapi kita tak bisa mengabaikannya hanya karena itu, atau karena oleh sebagian kalangan menganggapnya bermutu ‘rendah’. Lagu-lagu semacam ini layak dianalisis sebab mereka populer, punya sangat banyak penggemar (Raisa berada di urutan ketiga sebagai penyanyi perempuan paling sering didengar tahun lalu di Spotify), sehingga bisa kita anggap sebagai salah satu arus dominan dalam produksi budaya kita saat ini.

Bila yang menyanyikan lagu ini seorang Raisa bisa kita asumsikan mewakili suara seorang perempuan, mengisahkan tentang perasaan sang Aku terhadap mantan kekasih yang ia inginkan kembali menjadi kekasihnya. Kita pun bisa berasumsi, berdasarkan pendengar yang menjadi sasaran utama lagu ini bahwa sang kekasih adalah seorang lelaki.

Di sepanjang lagu, sang perempuan hanya menyampaikan perasaannya, terhadap sang kekasih dengan memanfaatkan berderet majas hiperbolik: dimulai dengan bagaimana sang kekasih bisa memindahkan dunia dan mengubah jalan hidup sang perempuan; bahkan bisa mencuri detak jantung dan menyapu seluruh hati-nya. Sang perempuan juga mengungkap betapa ia ‘tersiksa’ ketika mereka berpisah, dan bahwa sang kekasih ‘tak terganti’. Akhirnya, masih dalam khayalannya, di puncak lagu, ia mengajukan harapan kepada sang mantan:

Pegang tanganku/bersama jatuh cinta//Kali kedua/pada yang sama

Ada beberapa soal yang segera terlihat di sini. Pertama, seluruh tubuh lirik lagu ini cuma berisi khayalan yang dibentuk oleh situasi perasaan sang perempuan pada satu titik dalam hubungannya dengan sang kekasih. Dalam kenyataan, kita bisa membayangkan ia diam, mungkin berbaring, seraya membiarkan dirinya dibawa oleh perasaan. Ya, terbawa perasaan, baper.

Kedua, mungkin karena ini tentang perasaan, lagu ini tidak menampilkan sedikit pun konteks, baik dalam bentuk penanda waktu, cuaca, tempat, atau lainnya. Kita, misalnya, tidak mendapat informasi apakah sang perempuan mengungkapkan perasaan saat malam, hujan, gelap, atau dalam situasi apapun. Di lagu ini tak ada Januari di Kota Dili (Rita Effendi) atau macet di jalanan ibukota (Naif), apalagi Gang Kelinci (Lilis Suryani)—di sini saya mengambil contoh dari lagu-lagu pop arus utama, dan betapa sulitnya mencari contoh serupa dari masa kini.

Baris demi baris lirik, kita tak menemukan nama orang, flora, satwa, apalagi lembaga. Lirik ini murni tentang khayalan yang diciptakan perasaan—bukan pikiran. Tak ada tanda-tanda sang aku sedang atau akan memikirkan perasaannya, dan mengambil keputusan dari pemikiran tersebut. Ia tak sedang menggunakan salah satu karunia umat manusia: pikiran.

Ketiga, di Kali Kedua nyaris tak ada gerak tubuh. Bila sang aku membiarkan diri terbawa perasaan, tentu ia tak sedang berjalan, berlari, berusaha menyibukkan diri, baik dalam usaha untuk move on maupun balikan. Ia tak melakukan apa-apa. Ia pasif. Ciri semacam itu juga bisa kita temukan dalam banyak lagu sejenis.

Akhirnya, bila kita berpraduga bahwa lagu ini menampilkan suara perempuan, maka tingkat pasifikasi atas perempuan dalam lagu ini mencapai puncaknya pada refrain lagu: satu-satunya bagian yang menghayalkan adanya gerak tubuh.

Pegang tanganku/bersama jatuh cinta

Dalam lagu ini, sang perempuan digambarkan tidak melakukan apa-apa, menunggu pasrah sambil baper, dan tidak bisa move on. Ia tidak ke mana-mana, tidak bersama siapa pun kecuali khayalannya. Dan dalam khayalannya, ia cuma bisa mengharapkan orang lain melakukan sesuatu terhadap dirinya (memegang tangannya), agar ia dapat kembali bahagia.

*

DARI analisis sederhana tentang lirik lagu tersebut, bisakah kita meraba struktur sosial apa yang sedang bekerja menjalankan kuasa? Demikian biasanya saya mengajak para peserta berdiskusi. Biasanya di titik itu saya telah menjelaskan bahwa struktur sosial itu merupakan pola interaksi sosial yang sudah mapan dan telah bertahan lama. Bangunan semacam itu terbangun oleh ‘institusi’: aturan main seperti norma atau regulasi, serta nilai-nilai pembentuknya. Juga organisasi atau kelompok masyarakat yang menjalankan aturan-aturan tersebut: pasar, negara, sekolah, kerabat, keluarga, dan berbagai bentuk kelompok sosial.

Semua hal tersebut menghasilkan tindakan-tindakan sosial individu. Individu tidak melakukan tindakan dengan bebas, melainkan dibatasi oleh struktur sosial. Kita memilih baju untuk keluar rumah, memilih pasangan, menghadapi persoalan asmara, kita tidak melakukannya secara acak. Ada berbagai macam aturan sosial yang akan kita rujuk, secara sadar atau tidak. Ada bangunan sosial yang menuntun tindakan kita. Pasif dan bapernya seorang perempuan, sebagaimana dikampanyekan lagu Raisa, tidak terbentuk secara mana suka.

Di dalam bagunan sosial selalu ada pihak yang lebih kuasa dibandingkan yang lain. Ada relasi kuasa yang timpang. Pihak-pihak berkuasa inilah yang lebih dominan membentuk praktik, aturan, dan nilai-nilai penyokongnya yang tampak maupun samar. Mereka yang diuntungkan oleh semua itu akan cenderung mempertahankannya, merawat status quo. Perempuan yang pasrah menunggu, menahan diri untuk tidak bicara atau bertindak, cenderung lebih menggunakan perasaan ketimbang pikiran, merupakan norma-norma lazim yang disokong oleh nilai-nilai patriarkis. Fakta bahwa lagu ini disukai banyak orang dan tidak memantik resistensi atau kontroversi, sangat mungkin menunjukkan betapa nilai-nilai ini masih sangat dominan—baik bagi laki-laki maupun perempuan.

Lantas siapa yang diuntungkan oleh struktur sosial semacam ini? Saya kira tidak sulit menjawabnya.

Baiklah, ini cuma salah satu cara menilai Kali Kedua, dengan hanya menelaah liriknya. Anda dapat melanjutkan sendiri telaah ini lebih jauh, bisa dengan menautkan lirik dengan musik dan official video clip-nya, bahkan dengan struktur pasar dan produksi musik Indonesia—atau struktur lainnya.

Sedikit wanti-wanti dari saya: saat ini saya sulit melepaskan melodi lagu ini di kepala setelah harus mendengarnya entah berapa puluh kali.