Sumber Foto: aadc2.com

“Yang Riri dan Mira lakukan ke penyair itu jahat.” – Penyaksi Ada Apa Dengan Cinta

Bagi yang pernah menyaksikan Ada Apa dengan Cinta, sosok Rangga adalah revolusioner introvert yang ditikam kesunyian panjang. Murung-kesepian-murung-kesepian. Pola hidup yang tidak bisa dimaafkan.

Perjumpaan saya dengan Rangga terjadi di layar televisi, kala menghabiskan tahun awal di sekolah menengah pertama. Bagi penghuni pesantren di pelosok jauh, bioskop waktu itu adalah ayam goreng yang disajikan di dapur umum: sekali dalam setahun. Levelnya mendekati mustahil.

Rekaman seragam putih abu-abu yang digunakan Rangga membekas di benak. “Saya ingin segera memakainya.” Demikian pendambaan terselubung yang saya pendam. Paduan guru Bahasa Indonesia dan buku yang digenggamnya, mengantar saya berkenalan dengan puisi, toko buku, dan cinta (terlebih adegan skumet di bandara).

Jumat pagi, libur yang sebentar, saya meninggalkan pesantren menggunakan angkutan lintas daerah. Satu jam perjalanan yang menelan ketakutan dan kecurigaan. Bayangan mall di dalam benak saya adalah sesuatu yang jauh, maju, dan terkutuk.

“Hanya mau beli buku, tapi harus terjebak kerumunan benda dan barang asing.” Kurang lebih seperti itu umpatan yang terselip di bibir saya. Setelah membayar di kasir, buku Aku Ini Binatang Jalang milik Chairil Anwar saya masukkan ke dalam tas. L-e-g-a.

Mau-ma ke mana ini mama?

Rangga yang bajingan memperkenalkan satu dunia baru: puisi. Saya kagum dan jatuh cinta. Sosoknya yang tegas, kaku, dan menjijikkan itu juga membuat Cinta menderita dan harus menghabiskan masa-masa remaja dalam kondisi dumba-dumba kalajengking.

14 tahun kemudian, batas masa kuliah saya di Fakultas Sastra tinggal 4 semester, Ada Apa dengan Cinta? 2 hadir kembali. Kali ini, Riri Riza dan Mira Lesmana, menjadikan Rangga sebagai sosok yang lebih misterius dan jiwa kepenyairan yang semakin terasa–bahkan dia sedang mengerjakan sebuah buku puisi.

Tapi lelaki yang menjadi perantara saya dan Chairil Anwar itu kini berubah menjadi apa yang lalu dia benci. Mari melipir ke luar studio dan mencermati setiap tingkah lakunya yang talekang sejak dalam pikiran.

Lelaki dengan kenekatan macam apa yang rela memutuskan cewek seperti Cinta, dengan jarak sejauh Jakarta dan New York, melalui surat, dan tanpa penjelasan? Bahkan setelah bertahun-tahun, ketika terjebak di kota yang sama, tapir itu tetap percaya diri mengajak Cinta bertemu dan berkeliling Jogja berdua. Hanya Rangga, Tuhan, hanya Rangga seorang yang sanggup menjalankan hidup seabstrak itu. Yassalam.

Uraian di atas, bagi yang akrab dengan sinisnya jalanan, kerasnya tanah, beratnya pikulan hidup, tentu tidak masuk akal. Sama sekali tidak bisa diterima. Kisah yang diantarkan ke kita ini tentang sepasang pemuda lanjut usia dari kalangan kelas menangah atas dan ke atasnya lagi yang berupaya menyelesaikan masa lalu mereka.

Secara sadar, sutradara filmnya tentu telah memilih, mengapa kisahnya seperti itu dan mengapa kita sebaiknya tidak memulutkan benci, sinis, dan cemburu tidak jelas–apa lagi kalau belum nonton filmnya dan seenak jidat berkomentar dari luar studio. Toh, yang bikin filmnya dia kok.

Rangga memang endemik aneh yang entah dari belahan planet mana. Bukan hanya urusannya dengan Cinta yang rumit. Perhatikan kehidupannya, sebagai penyair, jika dia mumet di hadapan puisi, pilihannya adalah menutup laptop dan memilih berjalan pada subuh hari, sendiri dan sendirian.

Pada adegan lain, Rangga dimunculkan sebagai lelaki penenteng kamera, pejalan kaki yang menghayati kesunyian, dan pendiam yang ambigu. Seandainya Rangga tidak berjumpa (yang memang secara kebetulan) dengan Cinta di Jogja? Maka semua hal yang dilakukannya selama di sana, pasti sendiri dan sendirian. Dahsyatnya anak papi itu.

Selain meja makan dan kedai kopi, dengan durasi waktu yang sebentar, Rangga nyaris tidak memiliki interaksi sosial. Seolah dia tidak punya teman dan hidupnya terisolir oleh masa lalu. Apakah penyair yang senang berfoto itu memang anti sosial? Apakah memang kehidupan penyair menyedihkan, kesepian, dan kesunyian seperti itu? Kenapa Mas Riri? Kenapa Mba Mira?

Apakah penyair macam Rangga, yang hidupnya terlempar jauh, terkesan anti sosial, akan diundang ke MIWF? Tentu saja dia diundang dan memang telah diundang. Dia datang sendiri tanpa sponsor, dia bekerja demi seimbangnya acara, dia menghadiri banyak diskusi, berjumpa dan dijumpai banyak orang, dan bahkan bertanya kalau memang ada yang tidak dipahami. Menikmati setiap pertunjukan yang disuguhkan, menulis apa yang dia temukan selama festival berlangsung. Dan paling penting, menabung semua ide yang akan ditulisnya lebih serius dan mendalam.

Mengapa Rangga melakukan itu semua? Karena meski hidupnya muram dan buram, seperti kebanyakan dari kita, dia mencintai buku, dia mencintai pengetahuan, dan dia mencintai cinta.

Satu pesan pada film itu, kepulangan Rangga kembali ke Indonesia, didahului dengan kedatangan Dimi (siapakah lagi namanya itu si adik) ke Amerika. Setelah mempertimbangkan, ajakan pulang itu bukan sekadar untuk menjenguk ibu dan masa lalunya, tapi untuk memaafkan dirinya sendiri. Untuk memaafkan dirinya sendiri. Sebab buku, meski juga dicintai oleh pembunuh, selalu memberikan ruang kepada siapapun untuk berpikir tentang arti penting menghargai dan memaafkan. []


Baca tulisan lainnya

Ada Apa dengan Rangga?

Tentang Aan dan Kata-kata untuk Cinta

Selamat Hari Film Nasional

Saya Seniman yang Ingin Bersenang-senang

Ketika Seorang Penyair Berlakon dengan Puisi