Semenjak digelar 9 tahun lalu, perayaan Record Store Day (RSD) menjadi sebuah hajat yang penting untuk dirayakan para pemilik record store, label rekaman, musisi dan fans, serta penikmat musik di seluruh dunia. Antusiasme masyarakat berburu rekaman fisik terus meningkat karena pengaruh RSD, membuat band maupun solois akhirnya merilis album baru, juga rilis ulang album lama dalam kemasan fisik (terutama versi kaset dan piringan hitam) untuk menarik minat beberapa penikmat musik maupun kolektor datang membelinya.

Gegap gempita RSD alih-alih juga menimbulkan dilema. Dari berbagai sumber informasi yang saya baca, Record Store Day mengalami pergeseran prinsipnya dari tahun ke tahun. Nosa Normanda dan Pry S. dalam artikelnya di JakartaBeat menjelaskan bahwa RSD yang tadinya dibuat untuk merayakan eksistensi record store dan label independen di tengah gempuran revolusi mp3 dan layanan music streaming, kini dibajak oleh label komersil bermodal besar dan hipster wannabe yang menyebalkan.

Terlepas dari pergulatan David vs. Goliath tersebut, perayaan RSD tetap semangat digelar. Bahkan pada tahun ini digelar lebih awal dari tahun-tahun sebelumnya, tepatnya 16 April 2016 di seluruh dunia. Di Indonesia sendiri, RSD semakin marak dengan 20 kota yang menggelar Record Store Day menurut data yang dihimpun Rollingstone.com. Ke-20 kota tersebut yaitu Yogyakarta, Surabaya, Semarang, Pontianak, Pekanbaru, Palu, Palembang, Palangkaraya, Medan, Malang, Jakarta, Kalimantan Timur (Samarinda, Balikpapan, Tenggarong, Sangatta, Bontang), Banjarmasin, Bandung, Bali, Padang, Solo, Batam, Makassar dan Purwokerto.

Terkhusus untuk kota Makassar, perayaan RSD 2016 digelar di Gedung Kesenian Makassar pada 23 April, mulai pukul 11.00 hingga 23.00 WITA. Walau telat sepekan dari jadwal secara global, perayaan untuk tahun ini terbilang istimewa untuk Makassar. RSD 2016 Makassar digelar secara bersama untuk pertama kalinya oleh 22 pemilik record store independen yang ada di Makassar yaitu MMC, Chambers, Musick Bus, Grindhouse, Bunker Rock Records, Lo-ving, Kedai Buku Jenny, Caveman, Tuna Nada, Membangkang, Delusi Stockroom, M Dee, Lapak Audio, Kenzie_Club, Lucky Bastard, SvmberxRedjeki, Venemous, Makassar Secondhand, Deadpolish, Terali Besi, Milisi, dan 13Merchxmks. RSD 2016 tahun ini juga terbilang spesial karena diorganisir oleh Rock In Celebes.

Saya baru menyempatkan untuk hadir di RSD 2016 Makassar menjelang pukul enam sore. Itu pun setelah melihat postingan seorang rekan di media sosial yang memberitahukan bahwa banyak rilisan langka yang diperjualbelikan, bahkan diobral dengan harga normal. Walau cukup menggiurkan, saya harus mengurungkan niat untuk membeli disebabkan isi kantong menipis di akhir bulan. Walhasil, saya memilih sekadar melihat-lihat (sampai pusing mengingat nama setiap rilisan) saat bertualang di beberapa lapak RSD  2016 Makassar berikut ini.

MMC

Record Store Day 2016_Makassar7

MMC menjadi tempat pertama untuk melihat berbagai rekaman fisik yang dipajang oleh pemiliknya, Sofyan. Berbagai rilisan fisik yang dijajakan MMC didominasi oleh band-band metal nasional dan mancanegara. Namun, ada juga rilisan langka band-band indie cult Indonesia yang lahir di era 90-an dan awal 2000-an. Seperti saat saya harus tabah ketika melihat album pertama Goodnight Electric bertajuk Love and Turbo Action dalam bentuk cakram padat yang dihargai 500 ribu Rupiah. Walau harganya tidak masuk akal, Sofyan berani mematok harganya begitu karena rekaman ini langka dan sudah tidak dirilis ulang lagi. Berbagai macam kaset pita pun dijual dalam bentuk paket mulai dari harga 100 ribu. Mungkin di lain kesempatan bila ingin membeli, saya ingin berkunjung langsung ke tokonya. Jika anda juga berminat, silakan menghubungi Sofyan di Instagram:@sofyanmks_mmcshop atau mampir langsung ke tokonya di Jl. Tinumbu no. 383 di Makassar atau  Emmy Saelan no. 28 di Toraja Utara.

Terali Besi

Sumber Foto: @rockincelebes

Sumber Foto: @rockincelebes

Di sebelah MMC, ada lapakan dari Terali Besi. Lapakan ini tidak membawa banyak rekaman fisik di RSD 2016. Namun, ada beberapa rilisan zine serta kaset pita dari berbagai band punk rock dan thrashcore dijajakan bersama merchandise yang dikeluarkan sendiri oleh Terali Besi. Silakan menghubungi Bojes jika ingin berkunjung langsung ke Gerobak Terali Besi di Jalan Mallombassang (Depan Rumah Sakit Haji), Makassar.

Caveman

Record Store Day 2016_Makassar10

Diskon 10%-15% khusus RSD 2016 untuk piringan hitam di lapak Caveman juga cukup membuat saya ngiler, walau tak sanggup membelinya satu pun. Rata-rata piringan hitam yang dijual merupakan band-band beraliran heavy metal, psychedelic rock hingga indie pop. Selain piringan hitam yang dijajakan, CD dan kaset pita dari band mancanegara yang jarang dirilis di Indonesia juga menjadi barang jualan salah satu online record store dari Gowa ini. Caveman yang dijalankan oleh kolektor Nurmaulana Sjahrir ini juga membuka kesempatan wish list bagi para pemesan yang ingin membeli rekaman fisik yang susah didapatkan di Indonesia. Informasi lebih lengkap bisa berkunjung ke media sosial Caveman di Instagram, @caveman_recordstore.

Chambers

Record Store Day 2016_Makassar_Chmbrs_Revius

Kehadiran vinyl player dengan gaya old-school menjadi salah satu objek menarik yang ada di booth milik Chambers ini. Selain itu rilisan musisi indie Indonesia maupun musisi mancanegara juga lumayan banyak dan didominasi rilisan langka awal tahun 2000-an. Saya hanya bisa geleng-geleng kepala melihat berbagai macam rekaman fisik incaran sejak lama ada di sini, salah satunya album The Boy Who Couldn’t Stop Dreaming milik Club 8, duo musisi Swedia dalam bentuk cakram padat. Untuk melihat rilisan lainnya, silakan berkunjung langsung ke Chambers, Jl. Boulevard, Ruko Ruby 1 No.3, Panakkukang Mas atau melalui akun media sosialnya, @chmbrs.

SvmberxRedjeki

Record Store Day 2016_Makassar_Revius

Dengan pemilihan nama a la rumah makan atau toko bahan bangunan, SvmberxRedjeki menjadi lapak berikutnya yang saya singgahi. Betul saja, lapak ini memang sumber rejeki karena bisa melihat rilisan fisik lainnya milik HoneybeaT yang dijual. Online record store ini menjual berbagai merchandise seperti workshirt serta CD dan kaset pita yang dulunya merupakan koleksi pribadi dari sang pemiliknya, Awan. Yang menggembirakan, SvmberxRedjeki juga menawarkan diskon bagi yang berani menawar dengan harga yang super miring. Silakan berkunjung di akun Instagramnya, @svmberxredjeki .

Kedai Buku Jenny

RSD 2016_KBJ_Revius

Walau namanya berkaitan dengan buku, Kedai Buku Jenny (KBJ) merupakan salah satu partisipan lapakan RSD 2016 Makassar yang juga membaurkan record store sebagai penggerak usahanya. Rilisan fisik yang tersedia di KBJ ini didominasi dengan rilisan terbaru dalam bentuk CD dari band-band yang tergabung dalam indie label Indonesia termasuk Makassar. Kedai buku yang terinspirasi dari nama ben-benan bernama Jenny ini juga seringkali membuat event-event yang bertema musik seperti KBJamming sejak tahun 2013. Bila berminat mengetahui lebih banyak tentang KBJ, silakan berkunjung ke media sosial mereka di @KedaiBukuJenny atau datang langsung ke tempatnya di Kompleks Wesabbe C/17 Tamalanrea, Makassar.

Venomous Merch

Record Store Day 2016_Makassar3

Venomous Merch menjadi persinggahan saya berikutnya di lapak-lapak RSD 2016 Makassar. Toko merchandise dan distribution outlet yang datang dari Wonomulyo, Sulawesi Barat ini menjajakan rilisan fisik band-band dari tanah Sulawesi berupa kaset pita seperti Thanks Zine Compilation Vol. 1 maupun EP terbaru milik Sombaside dari Gowa. Selain menjual berbagai rilisan fisik, Venomous juga baru saja merilis kompilasi Celebes Extreme Musick Compilation pada akhir tahun lalu. Hal ini diungkapkan sang pemilik Venomous, Nchoz saat berbincang dengannya tentang kompilasi yang memuat 30 band cadas dari tanah Sulawesi tersebut. Pergerakan yang dilakukan Venomous melalui kompilasinya ini sangat perlu diapresiasi. Jika berminat membeli album kompilasi atau merchandise lainnya, silakan  menghubungi Venomous Merch di @venomousdistro atau berkunjung langsung ke tokonya,  Jl.Kemakmuran 18 Wonomulyo, Sulawesi Barat.

Musick Bus

Record Store Day 2016_Makassar5

Rilisan fisik yang dijual oleh Musick Bus di RSD 2016 didominasi oleh rilisan terbaru dari musisi lokal, nasional, dan mancanegara. Sebagai toko musik berjalan di Makassar milik Rilo Mappangaja, Musick Bus juga membuka record store yang berlokasi di Jl. A.P. Pettarani, Ruko Center Blok B No. 19. Di luar perayaan bersama RSD 2016 ini, Musick Bus telah siap menggelar Physical Record Fest pada 30 April 2016 nanti. Untuk informasi lebih lengkap tentang Musick Bus, silakan melihat akun media sosial mereka, @MUSICK_BUS atau @musickbusstore.

13MerchxMks

Record Store Day 2016_Makassar_13MerchxMks_Revius

Bersampingan dengan lapak Musick Bus, 13MerchxMks terlihat memajang lebih banyak t-shirt di lapakannya.  Walau begitu, beberapa rilisan album Pas Band yang langka juga terpajang di rak rilisan fisiknya. Album pertama Pas Band, 4 Through the Sap pasti merupakan koleksi pribadi sang pemilik.  Selain itu, online music store asal Makassar ini juga menjual rilisan fisik  (ada yang baru serta second hand) dan berkisar pada band-band beraliran cadas Indonesia.  Bila berminat untuk membeli, silakan kunjungi 13MerchxMks di media sosial mereka, @13Merchxmks.

Lo-ving

Record Store Day 2016_Makassar_Loving_Revius

Sumber Foto: @rockincelebes

Lo-ving merupakan salah satu distribution outlet di Makassar yang juga menjual rilisan fisik. Beberapa rilisan indie label terpajang bersama bermacam band t-shirt ketika Lo-ving membuka lapak di RSD 2016. Terlihat dari album milik Life Cicla hingga Max Havelaar terpajang mantap di atas meja. Harga tiap rilisan tentu saja masih harga normal karena masih rilisan terbaru. Di luar RSD 2016, anda bisa mengunjungi distribution outlet milik Ardy Siji ini di  Jl. Monginsidi, No. 38, Makassar atau berselancar ke media sosialnya, @lo_ving.

Tuna Nada

Record Store Day 2016_Makassar4

Rak piringan hitam yang memuat album seperti Goodnight Electric Love and Turbo Action serta Vakansi dari White Shoes & The Couples Company terpajang di lapak ini. Setelah diperlihatkan harganya, saya kembali hanya bisa geleng-geleng kepala melihat angka yang mencapai jutaan rupiah.  Tuna Nada juga merupakan salah satu online record store di RSD 2016 yang beranjak dari kolektor. Walau saat RSD 2016 tidak sempat bertemu Michael Charles, sang pemilik Tuna Nada (malah bertemu di screening dokumenter WSATCC keesokan harinya). Untuk melihat rilisan lainnya, silakan cek Tuna Nada di Instagram: @tunanada_recordstore.

Delusi Stockroom

Record Store Day 2016_Makassar_Delusi Stockroom_Revius

Keriuhan kembali muncul dari dalam kepala saya saat melihat lapakan Delusi Stockroom di RSD 2016. Mulai dari cakram padat yang didominasi oleh rilisan Grimloc Records, tumpukan kaset pita Toilet Sounds serta jejeran piringan hitam dari Milisi Kecoa, Homicide hingga Discharge. Berbagai ‘racun’ yang ditawarkan ini sekali lagi harus diurungkan untuk membeli. Pada kesempatan berikutnya, saya sepertinya harus bertandang langsung ke tokonya di Jl. Kumala No. 93, Makassar. Bagi yang ingin melihat merchandise lainnya, bisa cek di @delusi_stockroom.

Kenzie_Klub

Sumber Foto: @rockincelebes

Sumber Foto: @RockInCelebes

Lapakan Kenzie_Klub tampaknya yang konsisten hanya menjajakan kaset pita di RSD 2016. Didominasi oleh rilisan fisik band-band punk rock seperti The Offspring, Rancid, The Ataris hingga duo elektronik The Chemical Brothers. Saya pun menyempatkan membeli kaset pita album parodi Off The Deep End milik ‘Weird Al’ Yankovic di sini.  Bila ingin mencari kaset pita lainnya di luar RSD 2016, silakan menghubungi Kenzie_Klub di Instagram, @kenzie_klub.

Lapak Audio

Record Store Day 2016_Makassar_LapakAudio_Revius

Sumber Foto: @rockincelebes

Berseberangan dengan Kenzie_Klub, Lapak Audio justru konsisten dengan hanya menjual rilisan dalam bentuk cakram padat. Berbagai CD dari musisi Indonesia hingga mancanegara dijual oleh Raymond, sang pemilik lapak. Bila ingin melihat koleksi CD lainnya, silakan buka di https://www.bukalapak.com/lapakmusicstore.

AlternativeExtMerch dan DeadPolish

Record Store Day 2016_Makassar14

Dua lapak ini selain bertetangga di RSD 2016, juga hampir sama dalam menjual berbagai merchandise berbagai band-band ekstrim, cadas nan berbahaya di Indonesia. Saya pun mulai pusing mengingat satu per satu nama band yang ada di lapakan ini, walau masih mengingat ada EP milik Sombaside terpajang di meja lapakan Deadpolish. Untuk rilisan lainnya, silakan melihat di @alternative.ext.merch.

Milisi

Sumber Foto: @RockInCelebes

Sumber Foto: @RockInCelebes

Lapak Milisi di RSD 2016 merupakan lapak milik Iko MD yang berasal dari berbagai koleksinya. Beberapa album klasik dalam bentuk kaset pita dan CD membuat saya mengurut-urut kening saat melihatnya walau harganya masih terbilang normal. Di lapak ini saya justru membeli rilisan musisi Makassar, The Rock Company bertajuk 7 Gradasi dan diberikan CD lagu Monday Morning dari Adi Saleh dan Best Cuts of Piyu. Lapak ini semakin istimewa karena khusus dibuka oleh Iko untuk perayaan RSD 2016. Entah kapan lagi bisa ada. Cukup berdo’a saja semoga Iko mau membuka di kesempatan berikutnya.

 Membangkang

Record Store Day 2016_Makassar12

Lapakan record store terakhir yang terlihat di RSD 2016 adalah Membangkang. Lini merchandise milik Kabon cukup hingar bingar dengan memutar piringan hitam dari OFF!, Motorhead – Ace of Spades serta Homicide yang juga terpajang di lapakannya. Yang menarik pula ada tumpukan majalah Aktuil, majalah musik Indonesia di era 70-an (sepertinya ini milik seorang teman, hehehe). Kabon pun sempat memberikan saya CD dari EP milik NoWayOut berjudul Penggusuran yang ternyata dibagi secara gratis. Bila ingin melihat merchandise lainnya dari Membangkang, bisa mengontak Kabon di @kabonobak atau berkunjung langsung ke tokonya di Jln. Gunung Lompobattang, No. 43, Makassar.

Makassar Secondhand

Record Store Day 2016_Makassar11

Pada awalnya saya sedikit heran dengan acara record store tetapi juga diramaikan dengan lapakan t-shirt, kemeja, celana dan jaket second hand. Makassar Secondhand yang hadir di RSD 2016 tentu saja tidak membawa berbagai macam rilisan fisik. Lama-kelamaan saya pun menyadari perlu juga melihat sesuatu yang berbeda setelah berbagai uji mental untuk merogoh kocek lebih dalam. Saya juga sempat bertemu dengan Buyung, sang pemilk Makassar Secondhand yang menjelaskan sedikit tentang lapakannya. Bila ingin melihat barang-barang lainnya dari Makassar Secondhand, silakan berkunjung ke akun Instagramnya, @xmshcx.

***

Walau hanya bisa membeli beberapa rilisan dan menerima ‘anugrah’, RSD 2016 Makassar memang ampuh menghadirkan berbagai ‘racun’ di depan mata ketika isi kantong sedang menipis di akhir bulan. Selain itu, saya tidak melihat kehadiran lapak dari M Dee, Lucky Bastard, dan Bunker Rock Records ataukah saya yang telat datang?

Akhirnya saya pun bisa berkonsentrasi menyaksikan penampilan musik seutuhnya dari Adi Saleh dan Max Havelaar. Sebelumnya, saya hanya sempat melihat sedikit penampilan dari My Silver Lining, Gyant Hidayah, Wildhorse, dan The Rock Company bahkan melewatkan pembahasan talkshow tentang record store bersama Rilo Mappangaja, Iko MD, Bobhy dari KBJ dan Sofyan dari MMC.

 

RSD 2016 menjadi sebuah inisiatif yang baik untuk merayakan secara kolektif pergerakan para record store independen untuk berkumpul dalam satu tempat. Hal ini tergambar dari ucapan Ardy Siji dari Rock In Celebes yang saya temui di venue. “Sebenarnya persiapan untuk RSD di Makassar sudah sejak 2 bulan lalu. Hanya saja karena kesibukan masing-masing, baru bisa direalisasikan tanggal 23 April,” Ardy menjelaskan. “Intinya sih, kita sama-sama (mengadakan RSD), biar lebih rame. Karena setelah sosialisasi tentang ini, baru ketahuan ada sekitar 30-an yang usaha (record store) seperti ini di Makassar”.

Beberapa rilisan musisi Makassar yang hadir meramaikan RSD tahun ini antara lain My Silver Lining dengan EP Welfare, The Rock Company dengan 7 Gradasi, single terbaru Adi Saleh berjudul Monday Morning dan single terbaru milik Gyant Hidayah yang dibundel dengan album pertamanya, Laugh and Hold. Terkait dengan ketiadaan rilisan khusus RSD di Makassar, Ardy beranggapan bahwa hal ini juga disebabkan untuk RSD 2016 ini lebih berfokus pada kesediaan 22 record store independen untuk berkumpul.  Ardy berharap semoga tahun depan rilisan khusus RSD dari Makassar bisa ada, jika musisi yang ingin merilis bisa memberi info lebih awal sebelum RSD digelar.

Para penggiat record store independen ini juga secara tidak langsung ikut melestarikan sejarah melalui rilisan fisik. Era digital memang sangat membantu pengarsipan berbagai rilisan fisik yang mulai langka. Tapi dengan memiliki rilisan fisiknya secara langsung, kita bisa menyimpan bukti nyata berbagai peristiwa yang tak lekang zaman. Mengutip larik dari Planet Berbeda milik Morfem, hasrat digital bergelora, tapi tetap saja analog yang juara. Ewako! []

N.B.: Seluruh foto merupakan dokumentasi pribadi saya kecuali foto yang bersumber dari akun @RockInCelebes, Gyant Hidayah, dan The Rock Company.


Baca tulisan lainnya

Record Store Day: Antara Kapitalisme dan Penyelamatan Musik

Penghormatan untuk Pencapaian Artistik

Momen Istimewa untuk Rilisan Musisi Makassar

Rilisan Album Musisi Makassar untuk Record Store Day 2015

Yang Terpelajar, Yang (Seharusnya) Menghargai Musik