Foto: Ahmad Aufar Tahir ( @ahmadaufart )

Sebagai seorang peminat rilisan fisik, saya kerap antusias dengan perayaan Record Store Day (RSD). Saya pun semakin bersemangat lagi dengan RSD saat mengikuti talkshow musik NOISE#3 yang merupakan rangkaian menuju Record Store Day Makassar yang diadakan di Prolog Art Building pada hari Kamis pekan lalu. Dari talkshow yang menghadirkan tiga pembicara dan penampilan Minor Bebas dan Firstmoon tersebut, serta ditambah dengan melihat banyaknya kabar terbaru dari band-band Makassar yang memberi sinyal akan merilis karya terbaru saat RSD, saya makin percaya bahwa Record Store Day Makassar edisi ke-6 pada 23 April 2017, bila mengutip istilah kekinian: bakalan petjah!

Saya tiba pada pukul 15.00 WITA di Gedung Kesenian—yang merupakan tempat Record Store Day Makassar tahun lalu.  Saya pun berharap akan mendapat rilisan-rilisan yang lebih ‘nendang’ dari RSD 2016. Sudah banyak lapakan yang menjajakan ‘ratjun-ratjun’ mulai vinyl, CD, kaset pita, T-shirt,patch sampai Flash Disk. Bisa saya katakan bahwa rilisan di RSD Makassar tahun ini adalah surga bagi penikmat rilisan fisik dengan format kaset pita. Pasalnya, selain mendominasi dalam hal jumlah, ada beberapa band lokal—seperti Minor Bebas x Next Delay, The Hotdogs, No Way Out, Homer, Front To Fight—yang merilis album dalam format kaset pita, juga diadakan obral dengan harga yang cukup menggiurkan. Karena terlalu banyak ratjun yang ditawarkan, saya menepi sejenak untuk menjernihkan pikiran.

Saya pun mencatat ada 16 rilisan musisi Makassar, baik rilisan sendiri maupun kompilasi yang khusus diluncurkan untuk Record Store Day Makassar 2017, ratjun dan petjah!

RSD Makassar 2017 secara resmi dibuka pukul 16.00 WITA dengan tampilnya SHAL, band penganut paham easycore dengan balutan synthesizer yang kental. Meski penampilannya kurang greget, SHAL tetap sukses menyelesaikan aksi panggungnya. Berlanjut dengan penampilan Next Delay. Kali ini mereka benar-benar Minor Bebas x Next Delay. Bukan hanya pada split album mereka yang diberi tajuk Krone Av Solen, tapi juga pada live performance. Band penganut paham shoegaze ini berkolaborasi dengan Radhit (Minor Bebas, Dead Of Destiny) yang menabuh drum. Nice to see them live and loud!

Setelah menyaksikan kolaborasi yang epik, kini tiba giliran empat pemuda penganut paham punk yang menamai diri mereka First Fast From Failed. Pemuda-pemuda ini bermain benar-benar cepat dan menyuguhkan ancaman yang serius. Unit punk ini tidak takut tampil beda. Ini dibuktikan dengan dirilisnya album mereka dalam format Flash Disk. It’s not about how it looks, it’s about how you play your goddamn songs with your entire soul. I punk you so much, FFFF! Menjelang pukul enam, Sanctuary Moon, unit alternative pop ini didaulat menutup sesi musik bagian pertama. Kuarter yang merilis EP berisikan tiga lagu yang diberi tajuk Terjaga ini mampu membuat pengunjung berkerumoon dan meramaikan moshpit. Suwandi cs. sukses membuat beberapa pengunjung bergoyang riang gembira hingga petang tiba.

Break Maghrib pun saya manfaatkan untuk kembali berkeliling. Rupanya, sudah banyak rilisan spesial di booth Record Store Day. Walaupun kehabisan beberapa album band lokal yang saya incar, saya tetap senang bisa melihat tingginya kesadaran dan antusiasme musisi-musisi khususnya di Makassar terhadap rilisan fisik. Layak untuk dikatakan bahwa perayaan Record Store Day Makassar kali ini adalah yang paling variatif. Tidak hanya menyuguhkan live music performance dan berbagai rilisan fisik sebagai hidangan utama.

Berpusing-pusing riang gembira saat berburu rilisan fisik langka alias ‘ratjun’ di Record Store Day Makassar 2017.

Di samping panggung penampilan, ada booth official media RSD Makassar 2017 yakni Monoton Stream, media yang digagas beberapa anak muda dan terbentuk pada bulan Juni tahun lalu. Mereka juga ikut memajang dan memainkan beberapa vinyl yang tergolong langka. Saya pun melihat mereka termasuk pemuda-pemudi yang unik, bahkan saat mengobrol langsung bersama Holis, Vincent, Fadli, dan Ari sebagai perwakilan dari Monoton Stream. Pemberian nama Monoton sendiri, menurut pengakuan Fadli, “Monoton itu ya artinya melakukan sesuatu yang begitu-begituji saja. Baru musikta’, dominan underground dengan musik-musik (yang) stay young. Jadi, pemberian nama Monoton karena dominan musiknya untuk anak muda, tambahnya.

Monoton Stream sendiri mengaku senang untuk bisa ikut berpartisipasi dalam perayaan RSD Makassar tahun ini. Ini kesempatanta’ karena momennya pas, ada wadah untuk streaming,” ungkap Holis. Menurut pengakuan Ari,Di Monoton, sementara dibuat program Indieside. Kita ambil beberapa persen lagu lokal band Makassar untuk dimasukkan dalam program Indieside itu sendiri. Makanya kita sangat support untuk berada di RSD ini.” Selain muda, Monoton sendiri terbilang kritis baik dalam cara berpikir, ataupun melihat sesuatu. Mereka sedikit tergelitik dengan adanya embel-embel blablabla yang kalau saya tidak salah—mohon koreksi bila salah atau keliru—adalah sebagai sponsor utama. Saya sepemikiran dan sependapat dengan teman-teman dari Monoton. Hanya sekedar pendapat semata, alangkah indahnya jika RSD dilakukan secara kolektifan tanpa membawa embel-embel apapun. Saat menanyakan bagaimana pendapat dari Monoton saat mellihat antusias pengunjung dan rilisan band-band lokal, mereka Cuma bisa mengatakan “Cakep!”. Mereka hanya menaruh harapan agar RSD kedepannya bisa lebih mandiri tanpa embel-embel apapun. Stay young, Monoton!

Selepas bincang-bincang yang tidak monoton, Dheandra, band pop asal Makassar tampil dengan teduh. Musik lembut Dheandra pas saya manfaatkan untuk kembali melihat-lihat racun yang makin malam makin ganas dan pengunjung yang makin ramai. Yang juga notabene adalah sebagai pengunjung, Opniel, salah satu warga Taman Indie Makassar ini sudah lama mengetahui event RSD dan mengaku senang dengan rilisan fisik dari musisi Makassar yang menunjukkan peningkatan. “RSD tahun ini lumayan ramai, lapakannya juga tambah banyak. Semoga dengan event ini penjual rilisan fisik dan peminat rilisan fisik bisa makin banyak bertambah,” ungkapnya. Selain Opniel, saya juga mengobrol dengan Dennis, gitaris berambut gondrong dari Speed Instinct, band penganut paham alternative rap rock yang juga turut merilis CD single untuk RSD kali ini. Si gitaris gondrong ini berharap bahwa band-band lain juga dapat lebih produktif lagi dalam membuat karya, apapun itu. “Karena ini hari raya rilisan fisik sedunia toh, bagaimana kalau kita merayakan sama-sama dengan merilis secara fisik, baik dalam bentuk album, single, atau apapun itu,” ungkapnya.

Di sela-sela penampilan band, ada pula bincang-bincang seru bersama band-band yang merilis khusus untuk Record Store Day Makassar 2017.

Tidak bisa dipungkiri bahwa para pelapak juga adalah nyawa dari RSD yang digelar tiap tahun. Tigabelas Merch yang rajin menggelar lapakan di RSD kembali menjajakan racun-racun miliknya mulai dari rilisan fisik, topi, hingga baju. Buyung, sang pemilik Tigabelas Merch mengaku bahwa ia melihat ada perkembangan dan kesadaran dari para penikmat rilisan fisik. “Kalau soal penikmat rilisan, sudah ada perkembangan. Sudah sadar semua betapa pentingnya mendukung band lokal Makassar agar bisa terus berkarya dan sudah lumayan banyak yang suka tanya-tanya CD ke saya pribadi, Cuma kebetulan masih sedikit stock. Kebanyakan kaos band hehehe”.

Selepas penampilan Dheandra, ada Front To Fight, unit hardcore Beatdown asal Makassar yang juga saya tunggu-tunggu akhirnya tampil dan menyulut adrenaline beberapa pemuda belia untuk masuk dalam mosh pit. Minor Bebas adalah penampil selanjutnya. Dengan suara gitar yang khas dan dibarengi dengan semangat yang maksimum, unit grunge ini tidak pernah gagal untuk tampil total. Saya kaget dengan pemberitahuan Radhit dari atas panggung yang mendapat kabar bahwa album split mereka dengan Next Delay, Krone Av Solen, ludes dilalap jagoan-jagoan rilisan fisik. Mungkin belum waktunya (emot sedih). RSD 2017 dibuat berdansa dengan tampilnya Makassar Rocksteady. Sebagian besar pengunjung dibuat berdansa seiring dengan musik ska yang mereka mainkan. Bandit-bandit Freezer didaulat menjadi band penutup di RSD 2017. Pada penampilan mereka kali ini, gitar diisi oleh Endi (Dead Of Destiny) dan drum dihuni oleh Akbar (Anatomy, Heads Up). Hal ini tidak menyurutkan agresi mereka di atas panggung, terlebih saat Endi melantunkan solo gitarnya yang berbahaya nan membius. Saya juga dibuat makin takjub saat Radhit kembali berkolaborasi mengisi vokal saat membawakan cover lagu School milik Nirvana. Petjyaah!

Penampilan Minor Bebas yang petjah! dan memanaskan mosh pit panggung Record Store Day Makassar 2017.

Record Store Day Makassar 2017  menjadi Record Store Day yang saya akui tergolong sukses mengumpulkan maniak-maniak rilisan fisik di Makassar. Semoga di tahun depan pula, pencahayaan untuk booth-booth para pelapak dibuat lebih terang lagi, agar ratjun-ratjun yang ditawarkan lebih mudah terlihat. Salute! []