Oleh: Brandon Hilton | Foto: Tim Media MIWF 2017

Saya tiba di venue pukul 16.00 WITA. Dari depan gerbang masuk venue, tampak gerombolan ABG yang bersolek ala yanglek sudah mendominasi. Menuju ke area panggung, saya terkejut oleh panggung dengan lampu dan tata suara yang belum terpasang. Jelas ada yang tidak beres di sini. Dari info yang tertangkap indera pendengaran saya, ada oknum yang sengaja menekan dan mengadu domba pihak penyelenggara dan pihak yang bertugas di Benteng Fort Rotterdam. Ditambah lagi, gerombolan ABG tadi membuang sampah bekas makan dan minum mereka di mana-mana. Beberapa teman kemudian berinisiatif memungut sampah yang diproduksi gerombolan tadi.

Event yang akan digelar tersebut bertajuk Konser Reformasi pada 21 Mei 2017, yang dipersembahkan oleh Rumata’ Artspace, Prolog Art Building, Katakerja, Rajawali Media, dan Revius. Konser Reformasi ini diadakan sebagai refleksi 19 tahun Reformasi.

Membuat event sebagai ruang untuk berkumpul dan berbagi cerita adalah hal yang sangat positif. Apalagi, event ini yang nyatanya berfungsi sebagai ruang sosial, menyegarkan kembali ingatan tentang era reformasi Indonesia, sebagai sarana edukasi alternatif. Jadi, tindakan mempersulit kelancaran event ini atas nama izin sungguh sangat disayangkan.

Akhirnya, perjuangan dari penyelenggara acara untuk tetap menggelar Konser Reformasi pun berbuah manis. Saya mendapat kabar baik ini setelah diberitahu oleh seorang panitia bahwa pihak keamanan akhirnya memberi izin. “Tuhan masih bersama orang-orang yang baik,” lanjut sang panitia tersebut sambil bersyukur.

Walhasil, event bisa dimulai jelang lima menit menuju 21.00 WITA yang seharusnya mulai pukul 18.45 WITA—bahkan di sela-sela waktu tersebut pun malah diisi dengan soundcheck. Saya sempat mendengar “kapan ini acara mulai?” dari salah seorang pengunjung wanita and i feel bad for her. Dengan membawa nama “Reformasi”, saya rasa pihak penyelenggara yang notabene berkompeten di bidangnya mampu mengimplementasikan arti dari kata “Reformasi” itu sendiri agar tidak ada yang terbuang sia-sia, termasuk waktu dari pengunjung yang sudah datang dan mengorbankan beberapa pahlawan nasional dalam kertas untuk menyaksikan event ini.

Konser Reformasi dibuka dengan pemutaran audio pengunduran diri Presiden Soeharto. Setelah pemutaran audio sadar diri tersebut selesai berkumandang, Lily Yulianti Farid dan Aan Mansyur secara resmi membuka event ini dengan melontarkan pengalaman-pengalaman mereka yang seharusnya menarik didengarkan lebih lama lagi. Pengalaman seorang ibu yang harus membesarkan anaknya di mana rezim berganti dan semua nyaris tak terkendali, pengalaman seorang mahasiswa dari desa bersama beberapa orang teman yang baru masuk kuliah di saat keriuhan terpusat di jalan. Ingin rasanya berlama-lama mendengar pengalaman yang diceritakan tapi, apa daya, waktu semakin terkikis menipis.

Kapal Udara menjadi band pertama yang menyuguhkan karya mereka yang menepis segala pesimis. Penampilan mereka tetap konsisten membawakan lagu-lagu yang akan dimuat di album “Seru dari Hulu”—mereka  membocorkan nama albumnya untuk pertama kalinya di atas panggung Konser Reformasi. Selanjutnya, Minor Bebas naik ke atas panggung. Seperti biasa, band ini tidak pernah gagal untuk tampil apik dan total. Untuk band yang tergolong keras yang dinikmati sambil duduk, mereka membawakan lagu Bring Them Back dengan berkolaborasi bersama Teater Ketjil. Saya rasa, penampilan ini adalah representasi yang pas dari Konser Reformasi.

“Konser Reformasi saya pikir, substansinya harus dapat dalam artian, substansi dari reformasi tentang kita merombak suatu tatanan dari birokrasinya, pemerintahannya, itu yang menurutku bagusnya masuk didalam setiap item dalam konser ini,” ungkap Radhit, vokalis sekaligus gitaris Minor Bebas. mereka berkolaborasi bersama Teater Ketjil, “ini adalah penampilan kedua. Yang pertama dulu di acara peringatan hari penghilangan paksa internasional. Kita kolaborasi di lagu yang sama. Saya pikir, Konser Reformasi ini perlu sentuhan yang berbeda. Di penampilan ini mengambil naskahnya kita ubah, ini liriknya diambil dari tantang tiraninya Homicide. Lagunya diawal yang pengantar tadi, itu lagunya ERK yang judulnya Hilang. Kita mau ini special karena menurutku konser yang punya tajuk Reformasi harusnya jadi medium kita untuk mengingat apa yang telah terjadi, terus refleksi sama apa yang terjadi sekarang, agenda Reformasi yang diperjuangkan di 98 itu apakah sudah terwujud atau belum. Terus yang penting menurutku, banyak anak-anak muda yang kehilangan sejarahnya. Bisa jadi. Tidak tahu apa yang terjadi di 98 dan sebagainya. Ruang seperti ini harus dimanfaatkan baik-baik untuk kasi tau anak muda karena bahaya kalau kita kehilangan momentum sejarahnya,” Ungkap Bobhy dari Teater Ketjil.

Reformasi memang seharusnya tidak sebatas nama, tema, atau apapun itu. Implementasi dari reformasi itu sendiri jika diterapkan di tiap lini event ini, niscaya akan berjalan sesuai jadwal. Mungkin terlalu dini, tapi, bagi saya, penampilan Minor Bebas yang berkolaborasi bersama Teater Ketjil adalah standar bagi event yang mengangkat tema, yang bagi sebagian orang disebut sensitif, sakral, dan sebagainya.

Penampil berikutnya adalah Loka. Band yang membuat saya terkejut sekaligus kagum saat band ini sedang mempersiapkan peralatan mereka untuk tampil. Bagaimana tidak, band yang tampil perdana di Konser Reformasi ini membawa langsung dua drum/perkusi milik mereka sendiri yang lengkap. Peralatan dan penampilan Loka berbanding lurus, ditambah lagi dengan aksi Firman, penabuh drum mereka yang tampil atraktif. Mereka membawakan tiga lagu di antaranya Berhujah dan Antipati. Permainan drum yang atraktif dan saling menyambut antara Firman dan Albar sungguh merupakan penampilan panggung yang spektakuler bersama liukan nada gitar Juang Manyala yang khas dengan nada yang sendu bertaut dengan rasa optimis.

Loka, band yang tampil pertama kalinya di panggung musik Makassar langsung menghentak Konser Reformasi dengan penampilannya yang memukau.

Culture Project yang datang dari Palu, menampilkan proyek pikir dan rasa, serta musik yang ber-roh-kan tradisi—saya memakai kalimat yang mereka tuliskan pada akun Instagram mereka—Culture Project tampil percaya diri menembus malam dengan meracik musik mereka yang turut diiringi oleh instrumen bambu yang dirakit. Musik modern bernuansa budaya, sungguh mantap nian mendengarnya.

Berikutnya, dari Jakarta, Jason Ranti, solois yang mampu mengobati pesimis dan membuat pengunjung melempar senyum bahkan tawa. Solois yang satu ini handal dalam memainkan instrumen harmonika dan gitar di saat yang bersamaan, juga pandai mengolah vokal dengan lirik yang rapat. Di penghujung penampilan Jason Ranti, saya menyempatkan diri untuk mengobrol singkat dengan Adit, salah seorang pengunjung di barisan belakang yang tampak duduk santai. Entah santai atau kosong. Ia berpendapat, “Secara semangat, semangat reformasi sudah dapat sekali mi dari band-band yang perform. Tapi, secara persiapan, belum bisa mewakili semangat reformasi itu sendiri. Mungkin karena orang-orang di belakangnya (panitia penyelenggara) beberapa juga personil band yang bakalan main di ini event, bisa jadi fokusnya terbagi. Overall bagusji. Cuman, itumi, secara teknis harus diperhatikan dari awal. Mulai dari perizinan dan lain-lain. Ticketing juga iyya. Maksudku banyak itu orang di depan kodong yang berpikir kalau tidak ticketing toh karena mereka pikir ini event dalam rangkaiannya MIWF.”

Lagi lima belas menit menuju pukul 00.00, panggung Konser Reformasi akhirnya dihentak oleh Speed Instinct, unit Alternative Rap/Rock yang sepertinya sedang reuni malam itu dengan kembalinya Aslam pada drum dan Nirwan pada gitar. A good late night show to warming us all. Malam nyaris di pukul dua belas, band ini tetap nge-gass! Mereka semakin menderu membawakan lagu-lagu barunya dari album yang rencana akan dirilis tahun depan. Selepas dari penampilan mereka, Nirwan sempat memberitahukan kepada saya betapa beruntungnya penonton Konser Reformasi, karena satu hal. “Saya sebenarnya hanya tampil khusus bersama Speed Instinct malam ini. Konser Reformasi sepertinya sangat cocok membuat kami satu panggung kembali, tapi hanya untuk sekali saja. Di luar event ini, saya menolak tawaran tampil selanjutnya dengan Speed Instinct.” Alih-alih, saya cukup menyayangkan pendapat Nirwan yang terasa begitu egois.

Melangkah ke penampil berikutnya, ada Dekadansa merupakan semacam supergrup-nya musisi di Makassar. Terbentuk di awal tahun 2017, band yang dihuni oleh Fami Redwan (gitar), Rizcky de Keizer (bass), dan Radhitya Erlangga (drum) ini telah merilis single berjudul Berantak. Sayangnya, penampilan mereka malam itu ternyata kurang lengkap karena saya tidak melihat Fami Redwan di atas panggung. Ada apa gerangan? Walhasil, Rizcky dan Radhit pun tampil sebagai duet malam itu, membawakan Come Together dari The Beatles dan All Apologies milik Nirvana. Padahal saya sangat antusias untuk menyaksikan penampilan mereka membawakan lagu Berantak yang katanya juga bakal menjadi soundtrack dari salah satu film layar lebar tahun ini. Radhit pun bahkan menggeleng pertanda tidak tahu ketika saya menanyakan di mana keberadaan Fami saat mereka tampil.

Baiklah, Konser Reformasi sepertinya penuh kejutan yang tak terduga. Kejutan baik dan buruk yang silih berganti LoeJoe yang mungkin jarang saya saksikan tampil di atas panggung pun akhirnya bersiap di Panggung Konser Reformasi. Baru-baru saja ketika Oscar LoeJoe memetik senar gitarnya, saya hanya bisa merinding saat mendengar keluaran suara gitarnya yang padat dan mantap. “Tabrak Lari” dan “1001 Malam” pun dimainkan dengan lancar tanpa tendeng aling-aling. Baru kali ini saya menonton penampilan band rock dari Makassar dengan sound yang jernih dan enak didengar. Hail, LoeJoe!

Setelah ditelisik, tata suara yang mantap di Konser Reformasi malam itu ternyata berkat olahan luar biasa dari sound man Ari Reda bernama Mas Agus. Beliau betul-betul menguasai main board digital 48 channel yang disediakan oleh vendor Rajawali Media. Penampilan Ari Reda pun sulit dipungkiri sangat luar biasa malam itu dengan bermodalkan dentingan dawai gitar klasik dan harmonisasi suara Ari Malibu-Reda Gaudiamo yang memukau. Ari Reda yang menjadi penampil pamungkas Konser Reformasi tampil mulai pukul 01.00 dengan membawakan lagu-lagu terbarunya seperti Z dari album Suara dari Jauh serta lagu Hujan Bulan Juni dan Aku Ingin, dua lagu musikalisasi puisi Sapardi Djoko Damono yang menjadi permintaan penonton paling banyak untuk dinyanyikan. Simak recap video Konser Reformasi di bawah ini.

Apalah arti dari sebuah semangat jika penerapannya tidak tepat. Di sini, seharusnya tidak ada yang terbuang sia-sia, entah itu tenaga ataupun waktu kalau segala lini di konser ini terkonsep dan dieksekusi dengan teliti. Tidak mudah memang menjadi pihak atau panitia penyelenggara, namun jangan dipersulit dengan menjadi penampil pula. Pikiran terbagi, fokus terbagi, beban makin menjadi, setengah-setengah dalam mengeksekusi pasti menghantui. Pengunjung adalah  tamu yang kepuasannya menurut saya harus menjadi nomor satu. Menutup tulisan ini, saya menganggap Konser Reformasi ini sepatutnya terus diadakan untuk bisa terus mengingatkan para penerus generasi bangsa tentang sejarah yang tidak boleh dilupakan. Bersama dengan itu, persoalan teknis dan non teknis bisa lebih baik di kesempatan selanjutnya. Salam Reformasi! []