Oleh: Kemal Syaputra ( @Mr_Kems )| Sumber Gambar: Good Sheep Productions & Kinekuma Pictures

Di saat banyak film bertemakan LGBT yang masih berkutat dengan perjuangan menuntut hak asasi mereka dalam lingkup sosial, sebuah persoalan klasik yang saya paham memang belum sepenuhnya berakhir, film besutan Andri Cung ini tidak mengikuti pola tersebut. The Sun, The Moon, And The Hurricane adalah film yang mencoba menormalkan kaum gay dalam mindset penonton Indonesia. Bahwa kehidupan mereka tidak melulu tentang mencoba mencari keadilan dan hak asasi di tengah masyarakat luas. Mereka punya kehidupan sendiri yang mesti mereka jalani, persoalan yang harus dipecahkan, keinginan yang ingin dicapai, selayaknya diri mereka sebagai manusia. Walau pada akhirnya pandangan mayoritas kaum straight terhadap kaum gay memang memengaruhi keputusan yang harus diambil nantinya oleh beberapa tokoh dalam film ini. Tapi pandangan mayoritas itu bukan intinya, melainkan ada pada karakter itu sendiri.

Pertemanan Rain dan Kris dimulai sejak bangku SMA, ketika Kris menyelamatkan Rain dari para pe-bully. Pertemanan ini kemudian berlanjut di rumah Kris yang selalu kosong, hingga ke kamarnya. Setiap kali menghabiskan waktu di kamar, ada indikasi dorongan seksual yang selalu ditampakkan, hanya saja Rain menahan diri karena takut, sedang Kris menahan diri karena tidak yakin. Rain menerima dirinya sebagai gay walau tidak mesti mengumumkannya pada dunia, sedang Kris menolak dirinya sebagai gay dan mencoba menjalani hubungan tanpa status dengan seorang perempuan teman sekolahnya. Suatu hari Kris pergi dari kehidupan Rain, hingga akhirnya bertahun-tahun kemudian mereka bertemu kembali, Rain makin matang dengan orientasi seksualnya, sedang Kris telah menikah.

Kris dan Rain yang akhirnya sama-sama bertemu kembali setelah terpisah bertahun-tahun.

Kris dan Rain yang akhirnya sama-sama bertemu kembali setelah terpisah bertahun-tahun.

Kisah film ini berangkat dari keberanian sutradaranya membawa kita menjelajahi kehidupan para tokohnya. Andri punya keberanian dalam menangani ke-vulgar-an filmnya, walau tidak sampai menghadirkan adegan-adegan telanjang, namun adegan-adegan seks yang ditampilkan tampak intens dan menggebu-gebu. Menarik sekali bahwa seks mengambil peran penting dalam film ini, menjadi pengikat chemistry para tokohnya. Tapi bukan berarti seks membuat hal tersebut menjadi dangkal, para tokoh punya banyak hal untuk dikatakan serta punya banyak perasaan yang mengharap untuk dipahami. Ada adegan ketika Rain secara diam-diam memungut bulu kemaluan Kris dari kamar mandi, membungkusnya dalam selembar tisu lalu sepanjang hidupnya ia simpan sebagai kenang-kenangan. Banyak penonton menganggap itu sungguh menjijikkan, tapi bagi Rain, bagi Andri, ini bagian yang fundamental, bagian yang personal, bahwa setiap orang punya caranya sendiri, cara yang rahasia dan intim untuk terhubung dengan orang yang mereka kasihi. Keberanian Andri dalam memotret hal-hal detail seperti inilah yang membuat kisah film nampak nyata dan alami.

Kris yang kembali bertemu Rain dalam sebuah liburan menjadi lebih terbuka tentang orientasi seksualnya yang sebenarnya.

Kris yang kembali bertemu Rain dalam sebuah liburan menjadi lebih terbuka tentang orientasi seksualnya yang sebenarnya.

Semua tokoh dalam The Sun, The Moon, And The Hurricane adalah penting. Tiap karakter membawa problem kehidupan masing-masing yang siapa pun bisa terhubung dengan salah satu tokoh tersebut. Rain berkutat dengan pencarian cinta sejati, itu selalu menjadi isu utama dalam hidupnya sejak ditinggal Kris yang ia pikir dulu cinta sejatinya. Di satu titik dalam hidupnya, bertahun-tahun setelah berpisah dengan Kris, ia bertemu dengan Will, seorang hooker yang ia temui di jalan-jalan kota Bangkok. Mereka berdua memutuskan bercinta setelah pertemuan sekejap itu. Secepat dan sealami itulah hubungan mereka terjalin. Will hanyalah tokoh pendukung dalam cerita, tapi apa yang ia emban adalah penting. Will mewakili orang-orang yang selalu bimbang, sama seperti Kris, Apakah harus mengikuti kata hati atau mengikuti akal sehat? Sepanjang hidupnya, Will besar dengan percaya uang bisa memberinya kehidupan karena uang adalah nyata, sedang cinta (seperti yang ia rasakan pada Rain) sekali pun ia dambakan namun tidak nyata baginya.

Lalu kemudian ada Susan, istri Kris. Susan adalah sumbu emosi dalam film ini, keberadaannya membuat kita mempertanyakan moralitas hubungan Kris dan Rain setelah akhirnya bertemu kembali. Itulah sebabnya ia menjadi karakter favorit saya. Susan dibutakan oleh rasa cintanya yang besar pada suaminya, menjadikan korban dari kebimbangan Kris, yang terjebak antara cintanya pada Rain yang ingin ia raih kembali dengan keinginannya mempertahankan Susan yang tak ia cintai hanya demi menjaga status baiknya di mata sosial. Susan adalah korban yang nyata, berapa banyak perempuan atau mungkin laki-laki yang harus hidup dalam kebohongan pernikahan bahwa pasangan mereka adalah gay atau lesbian? Susan dan Kris adalah pasangan suami istri yang layak dikasihani, sementara Susan adalah korban orientasi seks dari Kris, maka jika keduanya digabungkan mereka adalah korban pandangan masyarakat umum terhadap kaum gay.

 Susan, istri Kris menjadi sumbu emosi dalam film ini,

Susan, istri Kris menjadi sumbu emosi dalam film ini.

Andri sepertinya menginginkan film ini larger than life yang untuk beberapa poin berhasil, tapi ketika ia paksakan di poin yang lain justru terasa mengganggu. Ia seperti ingin penonton mampu memaknai arti dari perjalanan hidup Rain sama seperti Rain memaknainya, oleh karena itu Rain juga menjadi pembaca narasi dalam film ini, menceritakan pelajaran-pelajaran yang ia petik dari setiap pengalaman yang ia lalui. Sayangnya, antara narasi Rain dan visualisasi tidak berimbang, narasi terlalu luas dan melebar, sedang visualisasi berada dalam jangkauan yang pas. Apa yang Rain narasikan dan apa yang penonton lihat terasa berjalan di sumbunya masing-masing, tidak begitu saling melebur.

Bagi saya film yang baik adalah seperti cermin, yang mampu merefleksikan siapa kita atau perbuatan kita, dan film ini berhasil melakukan itu. Kita mampu melihat siapa kita sebagai makhluk sosial terhadap kaum gay, mindset kita sebagai mayoritas membatasi bahkan membentuk pilihan hidup mereka sebagai minoritas, seperti yang apa yang Kris perbuat terhadap Susan. Tapi bahkan ketika kita bukanlah kaum gay, film ini juga merefleksikan nilai-nilai kompleks manusia terlepas dari orientasi seksualnya. Keempat tokoh diperlihatkan melalui dua perspektif; secara adil kita mampu melihat letak kebenaran serta letak kesalahan akan keputusan-keputusan yang mereka ambil dalam hidup mereka. Itu sebabnya ketika kita ingin menghakimi, kita justru mengasihi mereka, karena kita tahu pilihan-pilihan egois yang mereka ambil adalah akibat dari betapa sulit hidup memperlakukan mereka. Dan terkadang untuk terus bertahan hidup, keputusan yang mereka ambil cukup hanya mereka sendirilah yang perlu mengerti.

Silahkan simak cuplikan filmnya berikut ini.

 

the sun the moon poster_ReviusSutradara: Andri Cung | Tahun: 2014 | Genre: Drama |Bahasa: Indonesia & Inggris |Rating : 3.5 / 4 Stars