Ilustrasi: Tristania Indah ( @tristaniaindah )
Euforia Record Store Day 2017 di Makassar masih terasa suasananya, meski perayaannya telah selesai sepekan berlalu. Record Store Day pada tahun ini terasa begitu istimewa karena tim musik Revius mencatat ada 16 rilisan khusus dari musisi Makassar, baik dalam format CD, kaset pita maupun dalam format yang unik—berbentuk flash disk. Itu pun belum termasuk rilisan lainnya yang luput kami temukan selama Record Store Day Makassar pada 30 April lalu.

Antusiasme merilis karya dalam bentuk fisik ini menginspirasi tim musik Revius kembali merilis Revius Mixtape bulan April ini, tentu saja dengan tema spesial Record Store Day Makassar setelah mendengarkan beragam rilisan dengan seksama. Mixtape yang memuat lima lagu ini sekali lagi menjadi upaya rekam jejak serta menyebarluaskan karya-karya terbaru dari musisi Makassar. Selamat mendengarkan dan menikmati Revius Mixtape edisi bulan April 2017 beserta ulasannya.

Acoh Wahab

Sedikit Malu-Malu – Suhu Beku

Suhu Beku adalah anomali. Di saat anak-anak muda seusia mereka (yang penuh dengan energi kemarahan dan kebingungan) lebih memilih menggemari musik hingar bingar nan agresif, Suhu Beku justru datang membawakan musik yang sama sekali bertolak belakang. Musik yang tenang namun tak melulu mendayu-dayu. Yang mengalun dewasa tanpa harus mengelabui kebeliaannya.

Semua kesan tadi terdengar di lagu berjudul Sedikit Malu-malu ini. Dengan intro yang dapat membuat siapapun tetiba mengosongkan pandangan, Suhu Beku lalu menyambutmu dengan nada nyanyian yang memberi substansi ke lamunanmu. Entah itu berupa imaji tentang kerinduan pada sebuah kenaifan yang terlalu malu untuk kau kenang. Atau tentang keraguan yang membuatmu harus memilih antara menjadi kebanyakan atau sekedar kembali mencari pembenaran. Ditambah lantunan lirik yang terdengar samar yang seolah memberi alasan lebih untuk membebaskanmu memilih apa yang hendak ingin kau beri arti pada lagu ini.

Permainan minor-mayor yang sesuai porsi juga membuat lagu ini tidak terdengar seperti lagu lain di genre yang sama. Walaupun masih terdengar pengaruh Sore era album Ports of Lima, notasi di lagu ini tidak terjebak di pengkultusan nada-nada idola. Terutama di bagian interlude lagu ini yang sangat kental nuansa mengawang ala My Bloody Valentine namun terbalut cantik dengan pengiring chord yang apik.

Terdengar progres yang signifikan diantara dua lagu Suhu Beku yang telah dirilis. Di lagu sebelumnya yang berjudul Seluruh Daya mereka seperti tidak menemukan apa yang mereka idamkan. Seluruh Daya terdengar seperti lagu pop biasa yang mencoba sepenuh hati untuk menjangkau telinga mereka-mereka yang so-called ‘penggemar musik indie’. Di lagu ini, Suhu Beku justru terkesan effortless. Mereka seolah tak peduli telinga mana yang harus dituju. Serupa dengan ketidakpedulian mereka dengan tren musik yang menjangkiti teman-teman sebaya mereka. Suhu Beku kini sedikit jauh lebih dekat untuk menjadi dirinya sendiri.

Achmad Nirwan

Objek Wisata – The Hotdogs

Sebelum Objek Wisata dimasukkan dalam rilisan kaset pita EP Lagu Lain-lain pada RSD Makassar 2017 pekan lalu, saya sebelumnya sempat melipir ke blog vokalis bandnya dan mendengar lagu ini lebih dulu,  sekitar tiga bulan lalu. Jadi, ketika lagu ini ditetapkan masuk ke dalam mixtape edisi ini, saya sempat tertawa kecil, justru bukan karena lagunya. Melainkan karena saya sudah mengetahui lirik lagu ini sudah tercantum di blog tersebut, jauh-jauh hari sebelum sang vokalis memberitahu saya untuk mencarikan lirik lagunya.

EP Lagu Lain-lain yang dirilis hanya 5 kopi saja di RSD Makassar 2017.

Terlepas dari aransemen lagu yang ‘lain-lain’ dari repertoar The Hotdogs yang biasanya, ditambah intro gitar mengingatkan saya dengan Jimmy Eat World, Objek Wisata memang lebih menarik bagi saya dari segi liriknya. Setelah membaca liriknya, saya langsung membayangkan The Hotdogs seperti band punk rock yang kelelahan dan mencari tempat persembunyian yang aman. Mereka sudah bersiap untuk kalah dari petualangan bermusik yang menurut mereka: zonder kata ‘pasti’. Nuansa liriknya yang pesimis dan seolah-olah Bono dari U2 menyanggupi untuk berduet dengan mereka, lagu ini justru menepis secuil rasa pesimis saya bahwa The Hotdogs sukar untuk bubar. Mengapa? Simak saja catatan kaki dari liriknya: Sebagai salah satu band punk rock paling tidak produktif se-nusantara, jarak menuju album berikutnya kini menjadi selagu lebih dekat.

Boleh percaya atau tidak, lirik Objek Wisata juga alih-alih menjadi refleksi dari perjalanan musikal saya beberapa tahun ini. Seperti halnya Arah Tak Kentara dari Melismatis, lagu ini belakangan rutin diputar dalam playlist ‘obat penenang saya’ di kala sedang pesimis dengan segala persoalan hidup, bahkan terasa sangat pas didengar ketika saya berkendara malam dengan motor Jupiter Z butut. Begitulah, hidup memang zonder kata ‘pasti’.

N.B. Liriknya bisa disimak di sini.

Brandon Hilton

Hemisphere – Next Delay

Sebagai penikmat musik berdistorsi, belakangan ini saya selalu berusaha membuka cakrawala musik seluas-luasnya terhadap musik-musik dari genre lainnya. Terlebih lagi corak musik semakin berwarna yang dimainkan di scene musik Makassar akhir-akhir ini. Seperti halnya lagu Hemisphere dari Next Delay yang saya dengar setelah mereka resmi merilisnya dalam split album Krone Av Solen bersama Minor Bebas. Saya pun sempat menyimak lagu ini secara langsung saat Next Delay tampil di panggung Record Store Day Makassar 2017 pekan lalu. Satu kata untuk penampilan mereka dengan lagu ini: gaspol!

 

Krone Av Solen, rilisan split album dari Minor Bebas bersama Next Delay.

Hemisphere memang menghadirkan pola permainan yang sederhana, namun sudah menendang telinga sejak awal. Dengan hentakan rhythm drum yang cepat, repetitif dan tidak mengenal fill-fill yang rumit, Hemisphere malah membawa saya mengawang-awang sejenak dengan sound gitar yang mengawang-awang sepanjang lagu dan gitar pembuka lagunya yang crunchy. Lagu ini menjadi jalan pengenal yang baik bagi saya dengan warna musik shoegaze yang dimainkan Next Delay.

Terinspirasi dari liner notes Holy Noise Indonesian Shoegaze Compilation yang ditulis Arian13—yang kaset pitanya dipinjamkan Achmad Nirwan kepada saya, masih banyak pekerjaan rumah yang mesti dilakukan Next Delay untuk membuat scene musik shoegaze ini lebih hidup di kota Makassar, dan tidak ada yang bilang itu sebuah hal yang mudah. Menyimak belakangan ini scene musik alternative kembali ramai di Makassar dengan adanya Minor Bebas, Sanctuary Moon bahkan yang paling anyar yakni Dystopia Farm, saya berharap Next Delay bisa berhasil merilis album dalam kurun waktu tersebut, dan bahkan aktif dalam waktu yang lama. Let’s go!


Dhihram Tenrisau

Help the Rainbow – Minor Bebas

Beberapa tahun ini adalah masa kebangkitan untuk musik-musik aliran 90-an berbau Seattle Sound. Di tanah air beberapa band beraliran seperti ini menghiasi dari Morfem, Ner.vous, hingga Barefood. Dan Minor Bebas adalah salah satu band yang melengkapi itu.

Lagu Help the Rainbow adalah salah satu lagunya yang paling Seattle Sound. Berisik, liar, dan tidak neko-neko. Part intro dan reffrain mengingatkan pada anthem terbaik era grunge , Smells Like Teen Spirit. Vokal bariton Radit yang bertenaga selayaknya Kurt Cobain yang baru bangkit dari kuburnya dipadukan dengan Dave Grohl. Duet gitar Ical dan Radit yang berada di garda depan adalah kuncinya. Deru gitar berdistorsi semi fuzz itu cocok dengan ketukan drum Randy.

Untuk departemen lirik sendiri,  Radit dkk mengambil barisan lirik yang mudah dicerna. Sekali dengar dapat langsung dihapal dan tepat untuk diteriakkan para penonton saat band ini menodongkan ujung microphone-nya pada mulut-mulut yang lapar di bawah panggung.

Dalam mitos-mitos dan kisah-kisah  seluruh dunia, pelangi menandakan sebuah harapan. Lirik lagu ini mungkin adalah metafora bagaimana harapan itu direnggut oleh materialisme masyarakat modern. Hal itu tercurahkan pada barisan lirik, ooh we live in dark age again/money likes religion today/misguide by every packaging/never enough.

Lebih jauhnya, lagu ini bisa menjadi anthem pembebasan para generasi milenial yang pemberontak akan tatanan lama dan susah diatur.

Fami Redwan

Terjaga – Sanctuary Moon

Walaupun mereka adalah band yang relatif baru, namun saya termasuk yang terlambat mengenal Sanctuary Moon. Dan cara saya berkenalan bisa disebut klasik: Langsung menyimak mereka secara live di RSD 2017 lalu, yang mengakibatkan saya harus tersedak dua kekagetan sekaligus.Pertama, sebagai tokoh protagonis dalam kisah permusikan kota Makassar, sebenarnya Suwandi Suleman punya berapa band? Atau, sebenarnya ada berapa Suwandi Suleman di kota ini? Kedua, ternyata saya sudah punya satu lagu mereka, dikirim lewat e-mail sehari (atau dua hari?) sebelumnya oleh Achmad Nirwan. Kenapa saya belum mendengarnya?

Sanctuary Moon – Terjaga dalam bentuk cakram padat yang dirilis di Record Store Day Makassar tahun ini.

Maka setelah beberapa hari menyesap lagu mereka yang berjudul Terjaga, yang secara musik membawa saya ke area abu-abu antara lagu Placebo yang saya lupa judulnya dan lagu Smashing Pumpkins yang juga saya lupa judulnya, mulailah saya menulis kesan dan pesan ini. Yang tidak akan ada gunanya jika tidak saya kutip liriknya untuk kalian baca.

Hai Desember
Pernahkah kau tidur terlelap?
Sejam saja
Sudahi saja lembaranmu di atas meja
Lekaslah pulang
Senja takkan menunggu lama

Lirik lengkapnya bisa disimak langsung di lagunya. Yang kalian baca di atas adalah hasil mem-Buni Yani (baca: memotong dan memasang kembali sesuai kepentingan) dari keseluruhan lirik, agar terbaca pesannya. Dan kira-kira apa pesan lagu ini? Menurut saya, lagu ini bercerita tentang seseorang yang sedang memelas pada pasangannya (sebut saja namanya Desember) agar sudi kiranya meregangkan diri sejenak dari kesibukan duniawi. Lembaran di atas meja bisa menunggu. Namun senja tidak begitu. Kira-kira begitulah kesimpulan yang bisa saya haturkan dengan sebuah senyuman. Kenapa mesti tersenyum? Karena lagu ini dinyanyikan oleh pria. Tanpa bermaksud homophobic, saya berasumsi kalau Desember nan sibuk yang dimaksud adalah seorang wanita. Sang pria seniman, wanitanya pegawai kantoran. Jadilah lagu-lagu seperti ini akan banyak menusuk ruang dengar kalian di tahun-tahun ke depan.

Karena emansipasi, seperti layaknya revolusi, juga butuh korban.