Saat banyak media maupun individu penikmat musik di kota Daeng ini ramai-ramai mengeluarkan top ten list atau top five list mereka di penghujung 2014 lalu, saya sebenarnya ikut menunggu daftar khusus rilisan album musisi kebanggaan kota Makassar di tahun 2014.

Sayangnya, belum ada yang mengeluarkannya sampai detik ini. Maka dari itu, saya sebagai penikmat musik yang biasa-biasa saja di kota ini, berusaha menampilkan beberapa rilisan album luar biasa yang penuh perjuangan dari para musisi kota Daeng di tahun 2014.

Semangat para musisi kota Makassar untuk merilis karyanya di tahun 2014 ini patut diapresiasi. Ada yang merilis sesuai dengan momentum untuk mengkritik pemilu sampai bercerita tentang senja di Pantai Losari.

Mengingat tahun 2014 adalah tahun pemilu dan politik, yang di mana media massa lebih banyak fokus untuk memberitakan hal tersebut, mereka masih punya kesempatan untuk merilisnya.  Terlebih lagi, sorotan media massa yang terlalu besar terhadap musik mainstream pula menutup mata mereka terhadap karya musik yang lahir di kota ini.

Daftar di bawah ini tidak mutlak yang terbaik menurut saya, tidak perlu dikategorikan sebagai terbaik dari yang terbaik, karena terbaik menurut masing-masing pihak. Daftar ini tidak muluk-muluk sekaligus upaya merawat ingatan bahwa ada karya fisik musisi Makassar yang muncul di tahun 2014.

Theory of Discoustic – Alkisah EP

TOD - Alkisah

 

Dirilis tepat 6 November  2014 lalu, Alkisah akhirnya dirilis dalam bentuk cakram padat oleh Theory of Discoustic setelah sebelumnya mereka merilis mini album perdana mereka, Dialog Ujung Suar dalam format digital bebas unduh.

Alkisah masih merupakan kelanjutan dari interpretasi budaya Bugis-Makassar yang lebih dulu ada di Dialog Ujung Suar, namun proses penggarapannya lebih serius dan makin menguatkan Theory of Discoutic untuk berani membenamkan lirik bahasa Indonesia ke dalam lagunya. Karena membuat lagu dengan Bahasa Indonesia itu tidak mudah menurut saya dan mereka dengan cerdas memadukan musik dan lirik menjadi sesuatu yang membanggakan saat saya mendengarnya.

Album ini dibuka dengan “Satu Haluan” yang secara tersirat menggambarkan tentang gagah beraninya para pelaut Bugis mengarungi samudera Nusantara, karena suku Bugis dan laut menjadi hal yang tak terpisahkan. Coba dengar saja saat Dian melantunkan liriknya: Arus deras menggerakkan /geladak terus berontak, Tak putar balikkan/ haluan hingga kapal pun bersandar/ Biar teng­gelam, menantang aral tak putar arah.

Kemudian mereka menapak lagi di “Negeri Sedarah” dengan tema yang lebih menyentil persoalan kemanusiaan yang tampaknya masih relevan di masa sekarang, di mana masih ada individu yang mementingkan kepentingan pribadinya atau golongannya, dibandingkan kepentingan orang banyak. Simak saja liriknya: “tinggalkan/ingkari kebenaran”. Tanpa perlu menjadi marah secara eksplisit, Theory of Discoustic membungkusnya dengan kegeraman yang cerdas tanpa kehilangan ciri khas folk dari Theory of Discoustic sekali lagi.

“Lengkara” pada urutan lagu berikutnya yang memiliki larik Alam raya berlimpah/Bukan sebuah lengkara, sudah dipastikan menjadi track paling favorit saya seketika saat pertama kali mendengarnya. Semacam pancaran positif untuk menjaga lingkungan ingin disampaikan oleh Theory Of Discoustic dalam setiap sulaman larik dengan larik di lagu ini menjadi sebuah kesatuan yang menakjubkan.

Theory of Discoustic dengan formasi terkini yang cukup solid saat tampil di Sepiring Culinary Festival, 23 November lalu.

Kemudian “Alkisah” pun menutup perjalanan panjang tiga lagu sebelumnya cukup dengan satu lariknya kisah melagu/lintasi masa dan waktu dengan Dian, sang vokalis yang bernyanyi seperti mengingatkan saya sekilas dengan yodel a la Fleet Foxes bertemu dengan musisi legendaris Afrika,  Fela Kuti, namun tetap menghadirkan karya bernuansa folk modern dengan memadukan ornamen bebunyian tradisional yang sudah mengakar berabad-abad lamanya.

Sebuah penutup sempurna dari semua pengorbanan Theory of Discoustic dalam merilis sebuah karya epik yang mampu menerangkan jalan mereka menjadi band folk paling mempesona di kota ini. Dan yang membanggakan lagi, mereka bisa mengangkat lagi semangat para musisi-musisi di kota ini untuk merilis albumnya lebih banyak lagi pada tahun depan. Semoga saja ini pertanda baik bagi kita semua.

Eddington – EST. 2013 EP

BerpbE1CIAAjr8d (1)

 

Post-punk pada umumnya selalu dikaitkan dengan kehadiran Joy Division dan vokalis cult-nya, Ian Curtis pada tahun 1977. Kecenderungan terperangkap dalam tubuh Ian Curtis sepertinya ingin ditampilkan Asnur dan koleganya melalu musik yang ditampilkan di EP ini.

Memuat kontaminasi post-punk mentah dalam “Road To The Bright”,”Finding A Day”,”The Lost Habitat” dan “Glue”, Eddington tampaknya harus berani keluar dari pakem yang diusung Ian Curtis dan Joy Division dan membaurkan  warna post-punk lain seperti  yang diusung Interpol, misalnya. Terlepas dari itu, warna musik Eddington ini merupakan khazanah musik baru yang berani ditampilkan musisi kota Makassar pada tahun 2014.

 

Paniki Hate Light – Survival

 

PHL cover

Simpang siur tentang kabar Paniki Hate Light bakal merilis album semenjak setahun lalu, akhirnya terjawab  sudah. Setelah melalui proses rekaman yang panjang dan penuh suka duka, grup post-hardcore asal Makassar ini pun merilis album perdananya bertajuk Survival pada 9 November 2014 lalu dalam bentuk cakram padat atau compact-disc (CD). Survival yang paling ditunggu-tunggu oleh para penggemar dan penikmat musik yang menyimak perkembangan Paniki Hate Light  termasuk saya selama hampir 6 tahun,  pastinya menyambut gembira rilisan ini.

Survival merangkum semua teriakan bertuah yang terkadang diimbuhi nyanyian melodius dari sang vokalis, Agil Putra yang kompak berbagi dengan Yudhi dan Jerry di departemen gitar, Dede yang mengolah bebunyian keyboard/synth, Amin yang menjaga ritme bersama Opan yang menghentak drum.

Melihat proses perjuangan yang penuh pengorbanan , saya pun ikut bersyukur bahkan ada tiga rasa syukur saya setelah Paniki Hate Light merilis “album Survival” ini. Yang pertama, mereka tidak merilisnya saat wabah emo post-hardcore dan sejenis sedang merajalela pada tahun 2008-2010 di Makassar. Jujur saja, masa-masa itu merupakan puncak histeria subgenre ini sedang naik daun. Ditambah lagi, makin banyak yang band sejenis yang menawarkan warna musik yang sama. Tapi seiring berjalannya waktu, band-band tersebut mulai hilang dari peredaran dan mungkin saja merubah alirannya. Tapi tidak dengan Paniki Hate Light, yang konsisten mengusung warna musik yang kurang lebih sama dari masa itu sampai sekarang.

Wildhorse – Delirium EP

EP-COVER

 

Setelah sebelumnya direncanakan akan dirilis pada bulan Maret 2014, Wildhorse akhirnya merilis EP debutnya bertajuk “Delirium” pada bulan April 2014. Saya pun menyempatkan diri untuk membelinya di Kedai Buku Jenny setelah mereka memberikan info dimana bisa mendapatkan EP tersebut.

Setelah mendengarkan 4 lagu keseluruhan dari mini album ini, saya pun berkesimpulan secara utuh bahwa “igauan” yang ingin dilontarkan dalam amunisi berbentuk lagu oleh Wildhorse masih mencari pakem yang pas untuk mengigau secara lebih liar lagi. Masih mentah untuk dihidangkan dalam bentuk kue rock n’ roll yang manis.

wildhorse

Terlepas dari semua permasalahan teknis di atas yang masih perlu perbaikan sana-sini agar igauannya lebih meraung,  saya patut mengacungkan jempol dan mengangkat topi untuk Wildhorse. Seperti yang mereka cantumkan di plastik pembungkus CD ini, mereka bekerjasama dengan sebuah perusahaan jasa pelayanan antar cepat untuk menghelat program sedekah Sedekah Super Service Berbagi Nasi untuk orang-orang yang membutuhkan, yang donasinya berasal dari seluruh penjualan EP “Delirium”. Tulisan ini bisa dibaca selengkapnya di sini.

 

Fami_ – International Bitter Day EP

fami_collage

Berawal dari memproklamirkan diri untuk keluar dari pola bermusik a la anak band yang dilakukannya bersama unit punk rock-nya The Hotdogs, Fami Redwan merilis album self-released berjudul The Chloroplast di awal proyek solonya. Kemudian berlanjut dengan mengusung dub reggae dengan nama Tragic Soundsystem. Terakhir, memakai nama Fami_ dengan tambahan underscore pada ujung namanya di EP International Bitter Day, EP “resmi” pertamanya.

Lagu “Gegap Gulana”, “Membusuklah Bersamaku”,”Delusional Permanence”, “International Bitter Day” dan “My Schism, Your Perspective” di International Bitter Day EP ini menjadi bukti Fami_ berusaha mengaduk pop menjadi lebih ekletik. Dengan bebunyian trip-hop, dub reggae, sampling sitar India yang membuai bahkan memasukkan bunyi ombak Pantai-yang lebih tepat disebut anjungan sekarang-  Losari, terbukti berhasil memasuki telinga saya dengan nyaman seolah-olah menemukan komposisi meditasi yang tepat untuk merilekskan jiwa dan raga.

Sebelumnya belum pernah ada rilis fisik bagi karya-karya Fami ini. Jadi, kehadiran Elevation Records yang mengagumi karya-karya Fami dan memutuskan untuk merilis album fisiknya, merupakan suatu berkah tersendiri bagi Fami, penikmat musiknya serta  bertambahnya daftar rilisan musisi dari Makassar.

Critical DefacementCrime of The Century

 

Cover

“Crime of The Century” yang dirilis pada bulan  Juni 2014 oleh Brutal Infection Records ini merupakan karya perdana Critical Defacement secara utuh dalam bentuk album semenjak dibentuk pada tahun 1996, walaupun pernah merilis mini album pada tahun 2000 dan 2010.

Critical Defacement yang mengarahkan kiblat bermusiknya pada Dying Fetus dan Napalm Death ini merupakan salah satu generasi pertama band pengusung death metal di kota Makassar.

Mengandung 9 lagu, “Crime of The Century” dihadirkan oleh Critical Defacement yang mengaduk segala rupa brutal technical death metal di dalamnya dengan vokalis, Idol Blasphemy yang menyalakkan vokalnya dengan teknik gultural, grunt dan piq squeals. Favorit saya ada pada “Bastard of Zionism” dan “Semua Pasti Mati”. Trust me, Their music will blast you through your head!

FRONTxSIDEFRONTxSIDE EP

R-6129140-1411794848-1058.jpeg

 

Tahun 2014 merupakan tahun paling ramainya gelaran musik hardcore di kota Makassar. Ya, musik hardcore sedang diminati oleh para kawula muda kota Daeng di Tahun Kuda Kayu ini.

Gaya anak hardcore paling sering saya lihat ketika menghadiri gig-gig yang menampilkan band-band hardcore, walaupun acara tersebut tidak ada kaitannya dengan musik hardcore. FRONTxSIDE, unit hardcore yang terbentuk di tahun 2012 itu pun sering sekali terlihat di poster-poster setiap gelaran musik hardcore dan sebagainya.

FRONTxSIDE yang terdiri dari Rizky  ( Drum ),  Eggi ( Bass ), Wawan Ndo ( Gitar ) dan Indhar ( Vokal ), merilis album EP-nya tahun ini. Memuat 7 lagu dengan bernafaskan punk hardcore a la Black Flag, FRONTxSIDE berusahakan menghadirkan semangat kebersamaan para hardcore brotherhood dalam tiap benang merah aransemen lagu-lagunya.

Sekilas terdengar semangat  Kid D. dari Ryker’s bahkan Jill Van Diest dari Stepforward  di teriakan Indhar saar menggelontorkan lirik-lirik FRONTxSIDE.  Lirik-lirik lagunya pun positif karena berkisar tentang kondisi sosial di sekitar dan penyamarataan jenjang sosial. Lagu “Pencari Kerja” pun jadi favorit saya karena adanya lirik-lirik positif seperti itu.

Sedikit catatan untuk rilisan ini, agaknya perlu dipikirkan lagi artwork untuk cover-nya dan pemilihan judul EP yang lebih bagus dalam mendukung kekuatan lagu-lagu bagus di album ini. Ya, semoga rilisan FRONTxSIDE berikutnya bisa bekerjasama dengan teman-teman ilustrator kota ini yang makin banyak bertebaran karyanya di jejaring sosial.

 

Galarasta – Man In Love

?????

 

Menjamurnya musik reggae di kota Makassar tahun 2013 hingga sekarang  pun memunculkan banyak panggung-panggung musik reggae. Sedemikian pesatnya reggae berkembang, panggung menjadi ramai tapi rekaman album band reggae minim hadir sebagai bukti otentik karya dari band reggae tersebut.

Kekosongan rekaman album reggae di kota ini pun diisi oleh Galarasta, segerombolan lelaki pemuja musik dari Jamaika ini yang beranggotakan Rengga (vocal), Dadang (gitar/biola) ,Leo (gitar), Iwan (bass) ,Ari (drum), Adnan (keyboard), Nano (Percussion) dan Didin (Djembe dan Back Voc) , untuk memperkenalkan karya mereka lewat musik reggae.

Man In Love berisi 8 track dengan nafas reggae yang kental, bumbu folk, ballad sampai blues yang dimainkan selaras dan harmonis. Track favorit saya ada pada “Woyyow” yang enerjik dan “Senja di Losari” yang cukup nyaman dinikmati sambil menikmati senja di Losari, yang mana Losari sekarang lebih sesuai dibilang anjungan dibandingkan pantai berpasir.

Galarasta pun tidak terlalu peduli dengan kondisi hiruk pikuknya panggung politik tahun ini., terbukti dengan hadirnya Man In Love menjadi warna musik yang menyatakan kedamaian  di tengah ordo ab chao sepanjang tahun kemarin.

High Voltage – High Voltage EP

High Voltage

Mendengar EP  yang memuat 8 lagu ini beserta artwork yang keren,  cukup menyenangkan karena penuh kejutan-kejutan yang juga di dalamnya. Disertai lirik-lirik mengandung tema kritikan terhadap lingkungan sosial dan kondisi dunia sekarang yang semakin terabaikan akibat adanya peperangan, bencana alam dan busuknya birokrasi pemerintahan, High Voltage pun menaikkan luapan voltase musiknya dengan grindcore yang yang dilebur dengan genre lain seperti hardcore, punk, thrash metal bahkan death metal. Ya, formula High Voltage bisa sedemikian ragamnya karena mereka merupakan salah satu band yang telah mengusung grindcore sejak 2001, beranggotakan Pay Crushergrind  di Vokal, Eggi pada bass, Wawan pada gitar dan Luken di drum.

Seperti lagu “Teenage Superduper Grind” yang diawali dengan riff gitar nada mayor dan ketukan bossanova, selanjutnya dihantam tanpa ampun, serta lagu “Indonesia Centralistik Terrorize” yang diawali dengan  Indonesia Raya sekitar 17 detik sebelum di-grind penuh oleh High Voltage. Selain itu ada pula “Suffer By The Way” yang mengingatkan pada lagunya Napalm Death “You Suffer”, lagu paling pendek di dunia yang cuma berdurasi 1 detik.

Various Artists –  Sorak Suara Kontra Kotak Suara

 

Kompilasi Kontra Kotak Suara 9 April 2014 cover

Kompilasi yang dirilis tepat 9 Juli 2014 ini didominasi oleh band-band punk rock dan hardcore yang  memuntahkan segala amarah mereka atas busuknya pemerintahan, khususnya pada sistem pemilihan umum yang mereka yakini tidak bakal mengubah harkat orang banyak.

Bk3FPYgCUAA_hK-

Rilisan yang cukup terbatas ini hanya dicetak 30 keping saja dan disebarkan kepada yang sudah terlebih dahulu memesannya. Memuat 19 lagu berbahaya, Kontra Kotak Suara ini menghadirkan Front to Fight “Lawan Nyata”, Build Down To Anathema “Bangkit dan Lawan” dan No Way Out “Penggusuran” sebagai beberapa track yang menjadi kegemaran saya dari kompilasi ini, yang cukup mewakili bagaimana rasanya mereka tidak setuju dengan pemilihan umum yang hanya membuang-buang uang negara saja.

Jumping Illusions – Escape and Sure-Five-all

Jumping Illusions - Escape

Setelah sukses menghentak beberapa panggung krusial di tahun 2014, Jumping Illusions juga melakukannya bersamaan dengan merilis EP yang diberi nama “Escape and Sure-Five-All” yang berisikan 5 lagu hasil karya orisinil dari Jumping Illusions.

Jumping Illusions yang terdiri dari Galih (drum) Juni (gitar) dan Ahnaf (bass) ini boleh dibilang termasuk nafas baru untuk aliran alternative punk rock di kota ini. Walaupun mereka masih sangat bangga membawakan beberapa nomor dari Blink-182 bahkan beberapa lagunya pun terpengaruh dengan trio punk rock tersebut, masih ada harapan mereka mulai menemukan warna punk rock tersendiri di lagu “Jangan Berhenti”.

Ya, setidaknya mereka punya karakter sendiri dalam bermusik yang berciri Jumping Illusions. EP terbaru mereka “Escape and Sure-Five-All” juga telah beredar di iTunes Store. Untuk membeli EP mereka, silahkan klik di sini.

Front To Fight – Lontang for Hardcore

front to fight - lontang for hardcore

Band-band beraliran hardcore asal Kota Daeng pada tahun ini cukup banyak merilis karyanya baik dalam bentuk single, mini album maupun album penuh. Salah satunya Front to Fight yang mengusung Hardcore Breakdown ini pada pertengahan tahun lalu merilis mini album Lontang for Hardcore yang memuat 6 lagu dan dirilis secara independen oleh Front to Fight sendiri.

Lirik-lirik yang lugas dan aransemen yang tegas dalam Lontang for Hardcore siap menonjok gendang kuping telinga. Sayangnya, mini album ini dari segi sound belum tertata dengan baik, atau mereka memang mengharapkan output yang seperti itu. Terlepas dari persoalan teknis, Front to Fight patut diancungi dua jempol karena mau berani merilisnya di tengah rilisan band-band Makassar yang masih bisa dihitung jari. []

P.S. Silahkan ditambahkan bila ada yang kurang di kolom komentar dari daftar  yang di atas. Kalau ingin meluangkan waktu, silahkan baca juga tentang album-album wajib dengar di tahun 2013 di sini.

 Tulisan ini pun saya dedikasikan kepada Denny Sakrie (1963-2015) yang baru saja berpulang bulan ini. Semoga amal ibadah beliau diterima di sisi-Nya. Amin Yaa Rabbal Alamin.