Ilustrasi: Ananda Al Givari M. ( @algiivar ) | Foto: MIWF 2016 ( @makassarwriters )

Roland Kelts merupakan penulis yang berasal dari negara campuran: Amerika dan Jepang. Campuran tersebut juga terasa dalam bukunya, Japanamerica: How Japanese Pop Culture Has Invaded The U.S dan menjadi kurator sekaligus editor untuk Monkey Business. Ia juga menjadi kolumnis mingguan di The Daily Yominuri dan komentator untuk National Public Radio. Tak hanya itu, ia juga menjadi pengajar tentang budaya pop Jepang di New York University dan the University of Tokyo. Berikut wawancara saya dengan Roland Kelts.

Apa yang membuat Roland memutuskan untuk menjadi seorang penulis?

Saya menyukai bahasa, dan saya juga suka menulis kalimat. Jadi, saat saya masih kecil dulu, saya suka menulis sebuah cerita. Dan saya rasa, saya menyukai irama bahasa. Jadi saat kamu menulis, kamu bisa mendengarkan irama bahasa, seperti sebuah musik.

Siapa yang memberikan inspirasi untuk menulis? Siapa yang mempengaruhi Roland?­­

Kakek saya yang berasal dari Jepang adalah seorang penyair. Beliau juga adalah seorang penulis. Namanya Ikuro Sayaki. Jadi, dia yang telah menginspirasi saya dan saya juga memiliki beberapa guru terbaik yang terus mendorong saya untuk terus menulis.

Bagaimana cara Roland menemukan inspirasi untuk mulai menulis?

Sebenarnya saya tidak mencari inspirasi, namun ini adalah sebuah pekerjaan. Jadi setiap pagi saya bangun untuk melakukan pekerjaan ini.

Apa pendapat Roland tentang makna sebuah karya?

Karya adalah salah satu hal terbaik yang manusia bisa ciptakan, namun bisa juga manusia hancurkan. Dan itu sangat menyedihkan. Namun saat manusia dapat menciptakan karya, hal itu ibarat memberikan sebuah kado untuk insan manusia. Dan saya rasa saya bisa melakukan itu.

Bagaimana ceritanya sehingga Roland bisa terlibat sebagai editor untuk beberapa karya buku?

Ketika saya masih menjadi mahasiswa, saya telah menjadi editor untuk majalah kampus. Dan saya cukup menikmati pekerjaan menjadi seorang penulis. Jadi, saya melanjutkannya saat saya berada di Amerika. Saat saya pindah ke Jepang, saya bertemu dengan Motoyuki Shibata. Shibata membuat buku Monkey Business dan ia meminta saya untuk mengedit cerita dari buku tersebut.

Bisakah Roland menceritakan sedikit tentang buku karya Roland yang berjudul Japanamerica?

Jadi buku itu adalah sebuah cerita tentang budaya pop antara Jepang dan Amerika setelah perang dunia kedua berakhir. Di Jepang, ada banyak sekali hal tentang budaya pop Amerika. Seperti Disney, Film Disney, punk, jeans biru, komik. Dan seniman Jepang mulai membuat ciri khasnya sendiri berupa hal yang asli seperti Manga dan Anime.

Apa yang mempengaruhi Roland untuk menulis buku Japanamerica?

Penerbit menghubungi saya untuk menulis tentang hal ini karena Jepang dan Amerika cukup terhubung dekat. Dan saya juga tinggal di dua Negara tersebut.

Apa yang pembaca bisa dapatkan dari buku Japanamerica?

Saya rasa pembaca bisa mendapatkan sebuah cerita tentang seni Asia dan Amerika dan juga bagaimana hubungan antara budaya Asia dan budaya Amerika.

Bagaimana pendapat Roland tentang percampuran budaya?

Seperti halnya restoran cepat saji KFC yang tersebar di berbagai Negara. Namun di Makassar sendiri, ayam KFC disajikan dengan nasi putih yang tidak disajikan seperti itu di Amerika. Itu kemudian menjadi keunikan dunia. Asia dan Amerika berusaha mengkombinasikan dua hal untuk membuat sesuatu yang baru dan berbeda.

Apa tantangan terbesar Roland dalam mengartikan dan mengedit tulisan kreatif Jepang ke dalam bahasa Inggris?

Ada banyak tantangan, namun saya rasa salah satu tantangan terbesarnya adalah memikat pembaca bahasa Inggris. Karena ada banyak sekali bahasa inggris asli yang digunakan. Jadi, bagaiamana cara untuk memikat pembaca dengan pengartian yang bukan sepenuhnya bahasa inggris asli yang telah berubah.

Apa karakteristik yang dapat Roland lihat dari karya fiksi kontemporer Jepang?

Karya fiksi Amerika memiliki banyak cerita tentang keluarga. Di karya fiksi Jepang kontemporer, hampir semuanya tidak menggunakan cerita keluarga. Termasuk Haruki Murakami, hanya cerita tentang seseorang. Saya merasa karya fiksi Jepang terlalu kesepian.

Apa pendapat Roland tentang kesuksesan seorang penulis terkenal?

Hal itu kemudian tergantung pada bagaimana cara mengartikan sukses itu sendiri. Saya rasa kesuksesan penulis terkenal adalah pribadi yang menjaga diri untuk terus menulis. Saya rasa kita harus mencintai dunia menulis terlebih dahulu. Itu adalah hal yang penting untuk sukses dalam menulis. Karena terkadang, kita menulis dan orang-orang tidak menyukainya namun kita harus terus menulis dan jangan menyerah.

Siapa saja penulis favorit Roland?

Aoko Matsuda, Yoko Ogawa, dan tentunya Haruki Murakami. Ada juga penulis yang telah meninggal dunia, yaitu Kenji Nakagami. Beliau sangat luar biasa. Beliau menulis tentang rakyat miskin di sebuah desa kecil di Jepang.

Bagaimana dengan Indonesia? Apakah Roland mempunyai penulis favorit dari Indonesia?

Saya tidak tahu banyak tentang penulis Indonesia. Namun di MIWF 2016 ini, saya mengenal Eka Kurniawan. Dia adalah penulis yang menarik.

Sebagai salah satu dari begitu banyak penulis tamu di MIWF 2016, apa pendapat Roland tentang festival kepenulisan ini?

Ini merupakan kali kedua saya berada di Indonesia. Saya rasa, Indonesia mengagumkan, unik, kasual, dan peserta yang mengikuti seminar sangat fokus, memiliki ketertarikan dan rasa ingin tahu yang tinggi. Sangat memberikan kesegaran.

Festival kepenulisan apa saja yang pernah Roland datangi sebelumnya?

Saya pernah ke Singapore Writers Festival, Asian Writers and Translators di Manila.

Kemudian, menurut Roland apa yang membedakan festival tersebut dengan MIWF?

Saya rasa MIWF lebih bersifat kasual, lebih santai dan dengan peserta yang muda-muda. Di Manila dan Singapura, pesertanya terdiri dari umur yang lebih tua. Dan tentunya, saya menyukai Makassar. Sangat indah.

Apa saja proyek menulis Roland yang sedang dipersiapkan ke depannya?

Saya sedang menyelesaikan sebuah novel. Dan tahun depan, saya akan ke Harvard University untuk sebuah penghargaan. Saya akan menulis sepanjang tahun. Dan tahun depan saya akan berada di Boston.

Terimakasih untuk waktu singkatnya Roland.. Nice to meet you.

Nice to meet you too...

Roland Kelts di MIWF 2016. ( Foto: @makassarwriters )

Roland Kelts di MIWF 2016. ( Foto: @makassarwriters )


Baca tulisan lainnya

MIWF 2016 Day 1: Seruan Untuk Menghentikan Pemberangusan Pengetahuan

MIWF 2016 Day 2: Tentang Perempuan hingga Musikalisasi Puisi Sapardi

MIWF 2016 Day 3: Satu Kata: Padat!

MIWF 2016 Day 4: Melampaui Dirinya Sendiri

Menolak Pemberangusan Buku

Bertanya Sebelum Kita Tenggelam

Penerjemahan adalah Kunci Menuju Literasi yang Lebih Baik

Pengalaman Maman dan Media Hari Ini

Tiga Penyair dari Tiga Negara yang Berbeda

Masyarakat Kita Ingin Membaca Diri Mereka Sendiri