Oleh: Kemal Syaputra* ( @Mr_Kems )| Sumber Gambar: Fourcolours Films

Saya selalu jatuh cinta pada film klasik. Bahkan lebih jatuh cinta lagi pada film klasik hitam putih. Maka dari itu saya mudah jatuh cinta pada film modern hitam putih. Frances Ha (2013), Nebraska (2013), Ida (2013), Tabu (2012) semua berformat hitam putih. Format yang sangat jarang bisa ditemukan di zaman sekarang. Dan, saya juga menyukai film bertema rasa sakit manusia dan bertema kesendirian. Dua tema yang saya rasa semua orang memilikinya atau setidaknya pernah dan akan memilikinya. Dan saya selalu merasa bahwa, pada film modern ketika mereka menggunakan format hitam putih, maka tema-nya akan selalu mengenai rasa sakit dan kesendirian. Seolah-olah warna hitam putih tersebut sudah menjadi statemen bahwa inilah perasaan tokoh utama yang akan kita temui pada film yang kita tonton, bahkan sebelum kita mengenal siapa tokoh utamanya.

Saya tahu saya tak akan bisa melarikan diri dari Siti sejak pertama kali menyaksikannya. Gambar-gambar pada scene pertamanya, semuanya hitam putih, dan kualitas tersebut langsung menyengat saya. Siti merupakan film Indonesia, ini menjadi kenyataan yang lebih unik lagi. Kapan terakhir kali saya, atau kamu, menyaksikan film modern Indonesia hitam-putih? Siti, langsung membuat saya jatuh cinta, pertama karena filmnya berformat hitam putih. Kedua, saya mengenal Siti jauh sebelum saya mengenal tokohnya, saya tahu dia akan menjadi karakter yang menanggung rasa sakit dan kesendirian. Siti dibuat dalam format yang sama seperti Ida. Selain mereka sama-sama hitam putih, mereka juga sama-sama menggunakan rasio gambar 4:3, seperti menonton di TV tabung. Tapi berbeda dengan Ida di mana gambar-gambarnya nampak elegan, Siti tidak, Siti tampak begitu suram. Kesuraman yang membuat saya teringat film klasik Pather Panchali (1955) dan The 400 Blows (1959). Dan ini begitu di luar dugaan saya, tidak pernah saya mengira bahwa akan ada film Indonesia yang membuat saya mengenang kejayaan film-film neo-realist, Siti berhasil melakukannya.

Siti merupakan perempuan muda yang telah menikah dan beranak satu. Ia tinggal di rumah reyot di pinggir Pantai Parangtritis bersama anak laki-lakinya yang masih SD yang punya mulut cerdas nan jenaka walau malas bersekolah. Ibu mertuanya yang begitu sabar, jenis kesabaran orang tua yang mungkin akan kau temukan juga di film-film karya Yasujiro Ozu, kemudian suaminya yang lumpuh akibat kecelakaan saat melaut. Suami Siti tak bisa lagi menjalani profesinya sebagai nelayan, juga tak bisa lagi bicara, hanya mampu berbaring sepanjang hari di tempat tidur. Sehingga sekarang Siti-lah yang harus menjadi kepala keluarga. Siti bukannya tidak mengeluh, tapi ia tak punya pilihan lain selain menjalani peran baru tersebut. Ia menjadi penjual rempeyek keliling siang hari di bawah panas terik bersama ibu mertuanya, lalu di malam hari dia berubah menjadi hostes di sebuah rumah karaoke di sekitar Pantai. Siti harus melakukan itu, dia membutuhkan uang untuk membayar hutang suaminya untuk kerusakan kapalnya kala itu. Jadi bisa dibayangkan, bagaimana menjadi Siti, yang menjalani dua jenis pekerjaan dengan perbedaan kontras tersebut. 

Karena kecelakaan saat melaut, suami Siti harus meringkuk di tempat tidur

Karena kecelakaan saat melaut, suami Siti harus meringkuk di tempat tidur karena tidak bisa berbuat apa-apa bahkan berbicara.

Pertama kali Siti dinampakkan, dia tidak punya kecantikan yang menjual. Apalagi ketika harus menekuni pekerjaannya sebagai penjual rempeyek, dia nampak makin tidak cantik. Tapi saya berpikir apa perlunya kecantikan jika hanya harus menjual rempeyek. Namun sesuatu kemudian berubah dari dirinya ketika ia bertransformasi. Saat menjalani profesi sebagai hostes dia menjadi begitu mempesona. Tidak cantik, tapi mempesona. Saya familiar dengan frasa; Kecantikan kadang gagal membelimu, tapi pesona selalu berhasil. Siti memiliki pesona itu, sesuatu dalam dirinya yang berubah seiring perubahan pada pekerjaannya. Dan ini bukan soal baju seksi yang ia gunakan, ini soal gesture-nya, caranya membawa diri saat menjadi hostes. Saya rasa karena kualitas inilah seorang polisi muda nan single bernama Gatot bisa jatuh cinta pada Siti. Ya, jatuh cinta, Gatot bukan polisi yang manipulatif yang saya pikir akan seperti itu pada awalnya. Dia polisi baik-baik yang menemukan Siti di tempat yang tidak baik dengan pekerjaan yang tidak baik, tapi itu tidak menghentikan Gatot.

Sebagai penonton, saya paham Siti merasakan cinta Gatot pada dirinya. Tapi di sisi lain, dia sadar bahwa dia punya suami yang tidak mungkin ia tinggalkan. Siti mendambakan suaminya bisa berbicara lagi padanya, Siti mendambakan bisa mengumpulkan uang lagi untuk membayar hutang, dua hal yang sepertinya mustahil tercapai dalam waktu dekat. Tapi, Siti juga lelah menunggu lebih lama lagi. Dan ketika semuanya terasa suram, saya rasa cinta dan rasa damba Gatot-lah yang kadang meringkan beban Siti. Ini seperti karakter Shashi Godbole dalam English Vinglish (2012); seorang ibu rumah tangga yang kurang dihargai dalam keluarganya. tapi ia tetap membalasnya dengan cinta yang tak terbatas. Suatu hari Shashi ditaksir Pria Prancis, itu tak membuat Shashi luluh, tapi berhasil membuat ia merasakan suatu penghargaan yang tak ia temukan dalam keluarganya. Dan karena saya menonton English Vinglish jauh sebelum Siti, saya dengan mudahnya langsung mampu memahami perasaan Siti bahwa ia berbagi perasaan yang sama dengan Shashi.

Saat menjalani profesi sebagai hostes, Siti menjadi begitu mempesona.

Saat menjalani profesi sebagai hostes, Siti menjadi begitu mempesona.

Tapi director-nya, Eddie Cahyono bukan ingin menjual kisah cinta seorang gadis miskin dengan polisi muda. Yang ingin Eddie jual adalah betapa suram dan kerasnya kehidupan Siti, sebagai perempuan muda, yang mungkin punya banyak potensi jika diberi pendidikan yang mapan dan hidup di keluarga yang berkecukupan, atau andaikan pemerintah peduli terhadap nasib generasi mudanya. Namun Siti mustahil menjadi seperti itu karena ia terlahir miskin, karena pemerintah tidak peduli. Eddie menjadikan kehidupan Siti nampak begitu keras sehingga membentuk karakter-nya. Siti kuat, karena ia tahan menjalani dua pekerjaan berbeda, tapi ia juga putus asa, karena kedua pekerjaannya jelas bukan pekerjaan yang indah atau menyenangkan atau memperlihatkan masa depan cerah, dan dia punya harapan yang sepertinya tidak akan terwujud. Sehingga baginya, cinta takkan mengubah apapun, namun justru jika sesuatu yang menyakitkan datang menghampirinya lagi, ceritanya mungkin akan lain.

Sementara subtansi film Siti menjual begitu banyak pil pahit yang mudah menyerap emosi penontonnya, gaya bertutur Eddie di sisi lain justru menjadikan film Siti sebagai surat cinta, sebuah selebrasi untuk film klasik bergenre neo-realist. Semua kualitas neo-realist bisa kita temukan di film panjang perdana Eddie ini, dan saya harap bukan menjadi film terakhirnya. Tokoh utamanya yang miskin, yang secara sosial terpinggirkan, diceritakan begitu apa adanya tanpa unsur dramatisasi, dikuatkan oleh gambar-gambar hitam putihnya yang murung di lingkungan yang anti-glamour. Secara sederhana, Eddie berhasil menangkap sisi lain Indonesia yang muram, kondisi yang ke mana pun kita pergi, masih mudah untuk kita temukan.

Ada banyak film Indonesia yang menyinggung soal kaum marginal yang miskin, tapi berapa banyak dari film tersebut yang mendapat treatmen seperti yang Siti dapatkan? Siti adalah sebuah maha karya; dibuat dengan semangat independen kualitas dunia, yang menjual kemuraman, sembari merayakan kebangkitan aliran baru. Eddie dalam sebuah percakapan ringan sempat mengakui bahwa dirinya sebelum membuat film adalah juga seorang pecinta setia film, itu ia lakukan sejak masih kecil. Ia memang penonton karya-karya Francois Truffaut sampai Yasujiro Ozu dan itu berhasil nampak pada film Siti. Siti beruntung, ia tidak hanya dibuat oleh seorang sutradara handal, tapi juga dibuat oleh seorang penonton film. Sutradara yang cintanya dalam membuat film, sebesar cintanya dalam menonton film.

*Penulis adalah penggiat Cinema Appreciator Makassar

film-siti_Revius

Judul : SITI| Sutradara : Eddie Cahyono| Produksi: Fourcolours Films |Tahun : 2014| Genre : Drama | Negara : Indonesia

Ulasan lainnya dari Kemal Syaputra

Kesedihan di Tengah Tawa

Ego yang Lenyap dari Hati Bajrangi

Kegilaan Superhero yang ingin Tenar Kembali