Ilustrasi: Herman Pawellangi (@chimankorus

Usai berbagi pengetahuan dan pengalaman di depan para filmmaker muda di acara Makassar SEAScreen Academy di salah satu ruangan Hotel Novotel, dengan santai Meiske Taurisia menerima ajakan saya untuk wawancara. “Kita ke area kolam renang, biar saya bisa merokok,” katanya.

Sore mulai terlihat gelap, kolam renang cukup ramai, suara kendaraan yang kian riuh pada jam pulang kantor terdengar jelas dari bawah bercampur gemuruh mesin-mesin pendingin ruangan. “Bising ternyata. Kayaknya kita harus pindah ke ruang gym saja. Buat merekam suara pakai ponsel kurang bagus di sini. Tapi, saya isap sebatang dulu ya,” kata Dede, panggilan akrabnya.

Meiske Taurisia seorang produser film. Ia kerap bekerja bersama Edwin, menggarap film indie. Karya mereka pernah diputar di berbagai festival film dunia. Di Indonesia, film-film mereka sering didiskusikan di ruang-ruang pemutaran komunitas. Sebut saja Babi Buta yang Ingin Terbang (2008), Postcard from the Zoo (2013), dan Someone’s Wife in the Boat of Someone’s Husband (2014).

Bersama Edwin pula, Dede merintis bioskop alternatif di Jakarta bernama Kinosaurus. Ia juga menginisiasi program screening film bernama Kolektif yang bertujuan untuk melakukan upaya pendidikan non-formal melalui apresiasi film. Kolektif juga bisa ditemukan di Makassar; digelar oleh Rumata’ Artspace saban bulan bertajuk Kolektif Makassar.

Ada banyak hal yang membuat saya tertarik untuk ngobrol dengan Dede. Selain karena selama satu tahun terakhir kami bekerja sama mengusung Kolektif Makassar, pekerjaannya sebagai produser, bagi saya, sangat menarik untuk diketahui lebih jauh. Saya tak cukup banyak tahu mengenai pekerjaan produser hingga akhirnya saya mengikuti kelas-kelas yang Dede berikan di SEAScreen Academy. Memamerkan dan memperkenalkan talenta yang dimiliki Edwin melalui berbagai film lab dan festival luar negeri menjadi salah tanggung jawab yang diemban Dede sebagai seorang produser. Di Makassar, ada banyak anak muda yang tampaknya lebih tertarik menjadi filmmaker ketimbang membantu teman-filmmaker mereka memamerkan karya yang sudah dibuat. Entah karena perfilman Makassar be lum membutuhkan banyak produser, atau mungkin pengetahuan mengenai dunia produser agak sulit diakses.

*

Kenapa memutuskan menjadi produser film indie?

Produser film indie? (Tertawa). Backround pendidikan saya seni. Saya sekolah seni rupa, arsitek, dan fashion, sehingga cukup dekat dengan wilayah berbau seni, dan saya menyukainya. Ketika memutuskan bikin film pertama, Babi Buta yang Ingin Terbang, bareng Edwin dan Sidi Saleh, motivasi pertama saya adalah memperkenalkan talenta dua orang ini. Karena, waktu itu, belum ada sistem yang kuat yang mau dua orang ini menghasilkan karya. Dan, saya pikir, jika saya bisa membantu mereka menciptakan sistem itu. Ya, why not?

Banyakkah produser di Indonesia yang mau mendukung perfilman indie?

Saya yakin pasti ada. Tapi, mungkin karena exposure terhadap sutradara, katakanlah serupa Edwin ini, minim. Akhirnya, orang-orang juga tidak banyak tahu bahwa ada karya-karya yang datang dari sutradara seperti ini yang layak direalisasikan. Kalau karya-karya seperti ini terekspos, saya yakin banyak yang mau. Selain itu, mungkin karena akses pengetahuan tentang produser juga minim, jadi sangat sedikit yang mau terlibat. Ketika memutuskan jadi produser pun, saya sudah lama terlibat dalam dunia film. Andaikata saya tidak pernah terlibat, saya juga pasti tidak akan ada di posisi sekarang ini.

Apa sih pentingnya keberadaan produser dalam sebuah film?

Produser penting karena memikirkan posisi film di pasar (kepentingan ekonomi) dan masyarakat (kepentingan sosial budaya), baik dalam negeri maupun luar negeri. Karena dasar kepentingan itu, maka ruang lingkup tanggung jawab produser lebih lebar secara horisontal. Artinya variabel yang harus dipertimbangkan rentangnya dari ekonomi sampai sosial budaya. Berbeda dengan sutradara yang ruang lingkupnya lebih dalam secara vertikal. Artinya variabel yang harus dipertimbangkan lebih sedikit, fokus utama ke kreatifitas. Bukan berarti keduanya tidak saling memikirkan kerjaan yang berbeda itu, namun karakter dan dominasi fokusnya yang berbeda. Dan pembagian itu diperlukan karena lebarnya area jangkauan film yang berpotensi masif. Karena itulah maka film disebut sebagai karya seni yang memiliki potensi komunikasi massa. Untuk itu pembagian ruang lingkup kerja melahirkan profesi dan profesionalitas yang berbeda, spesifik jadinya. Pada prakteknya, produser mengurus film dari pengembangan, persiapan, produksi, pasca produksi, promosi, distribusi, eksibisi, pengarsipan. Dan semua tahap tersebut produser harus menjawab pertanyaan, “Mau gimana (5W1H)?” Kesimpulannya, produser gak pernah berhenti bekerja, apalagi saat HKI film dimilikinya. Bersifat selamanya. Kaya punya anak.

Apa skill-skill utama yang harus dimiliki seorang produser?

Waduh, ini susah jawabnya! Apalagi saya yang tak punya background film. Belajar dari observasi, baca, nonton, nanya orang; apa pun juga bukan hanya film, namun juga visual art, musik, dst. Art dalam arti seni apapun juga. Keuntungan saya adalah karena background sekolah saya arsitektur, seni rupa, fashion, jadi I am quite loaded with visual art. Tapi art saja gak akan bisa membuat saya jadi produser. Managerial skill juga highly important. Gimana mau ngatur produksi kalau gak bisa manage various resources? Dalam konteks jadi produser seperti saya, yang kata orang suka bikin film art atau film art-house. Whatever. Saya rasa dua hal terpenting: kemampuan manajemen dan memiliki taste of art. Dan, keduanya dapat dipelajari dengan cara seperti di atas.  Oh, terakhir, yang paling penting, beyond managerial skills and taste of art, adalah keberanian mengambil resiko.

Pandangan Dede terhadap penonton film Indonesia?

Penonton Indonesia itu banyak sekali variasinya. Kita tidak bisa menganggap penonton adalah mereka yang pergi ke bioskop saja. Atau, penonton adalah mereka yang menonton di ruang-ruang screening komunitas, atau mereka yang menonton melalui online platform. Mereka semua adalah penonton. Cara menontonnya saja yang beda. Nonton yah nonton, selama bentuk film yang ditonton terjaga.

Di kelas SEAScreen kemarin, Dede bilang, “Kalau mau bikin film, kamu jangan sampai miskin.” Apakah itu salah satu ketakutan di dunia film indie?

Saya ngomong seperti itu ya kemarin? Ah, tidak juga. Definisi miskin itu relatif. Misalnya, saya mau membuka toko buku, pilihannya ada dua: apakah saya mau membuka toko buku a la Kineruku di Bandung, atau a la Gramedia yang tersedia se-Indonesia. Jadi, miskin atau tidak miskin itu relatif, tergantung kebutuhan. Kemarin, ketika saya ngomong seperti itu dalam konteks apa ya?

Dalam konteks cara mendanai film. Jika targetnya festival harus ke funding internasional, jika targetnya bisokop harus ke investor.

Oh, mungkin ini ujung-ujungnya adalah hubungan erat antara jenis film dengan outlet yang cocok untuk film tersebut. Jika jenis film yang ingin kita buat punya mass-appeal, bisa menarik pasar massal, yah, sebaiknya dipasarkan ke jaringan bioskop. Plus, kalau financing system yang kita gunakan untuk proyek film tersebut adalah investatsi, yah, pemasarannya harus ke bioskop. Tapi, jika dari awal kita sadar bahwa jenis film yang akan kita buat punya penonton yang terbatas, dan kita tidak merasa urgent untuk memutarnya di bioskop, financing system yang bisa kita gunakan adalah dari hibah atau film funding yang programnya banyak luar negeri dan pemasaran atau eksibisnya melalui festival film.

Dede sedang terlibat atau membentuk production house yang baru yang berfokus menghasilkan film-film yang target market-nya ke bioskop komersil. Mengapa?

Memasarkan film ke bioskop itu bukan pekerjaan simple. Kalau kita mau memasarkan film ke bioskop artinya kita bercita-cita mau penonton yang sebanyak-banyaknya. Bercita-cita punya penonton yang banyak artinya kita harus sadar bahwa proyek film yang ingin kita buat harus punya mass appeal, budgeting-nya juga menggunakan dana investasi. Belum lagi membahas sistem distribusi dan promosinya. Promosi film di bioskop jauh lebih sulit dibandingkan promosi film di ruang pemutaran komunitas/bioskop alternatif. Jika saya lantas ingin membuat film yang target market-nya bioskop, yah, karena saya tertarik. Saya sudah punya pengalaman membuat film yang targetnya lebih ke festival film dan yang diputar di ruang pemutaran komunitas/bioskop alternatif. Sampai saya dan teman-teman pun memutuskan untuk membuat bioskop alternatif sendiri. Ini sudah saya lakukan sejak 2008, dan sekarang saya ingin mencoba tantangan lain. Saya sama sekali belum pernah membuat film dengan metode investasi, belum pernah merencanakan promosi film yang tayangnya di bioskop komersil. Ini area baru yang ingin saya ketahui dan coba. Dan, bagi saya, itu normal.

 Tapi, Babibuta Films masih jalan terus?

Tentu saja. Karena buat saya ruang pemutaran komunitas dengan bioskop itu bukan saingan, mereka itu komplementer. Apa yang bisa dipenetrasi oleh komunitas, tidak bisa dipenetrasi oleh bioskop, begitu pun sebaliknya. Jadi, ini dua ruang eksbisi yang berbeda. Filmnya berbeda. Ibarat jualan baju, ada toko baju yang mass appeal, seperti Ramayana atau Matahari. Tapi, ada tipe baju tertentu, yang dipakai untuk acara tertentu, yang mengharuskan kita perlu ke butik, atau fashion designer. Bagi saya, membuat film juga seperti itu, punya market-nya sendiri-sendiri.

Mungkin itu sebabnya mengapa Dede membuat Kinosaurus. Karena sadar bahwa bioskop buatan mbak akan berbeda dengan bioskop komersil.

Iya, betul.

Tapi, adakah ketakutan Kinosaurus malah akan bersaing dengan Kineforum, misalnya?

Tidak. Sama sekali tidak. Saya dan Mamat (Manager Kineforum) malah kadang ngobrol untuk membuat program baru bersama. Teh Nia (Dinata) juga sedang membuat ruang pemutaran baru, namanya Cinespace. Jadi, di Jakarta ada Kinosaurus, Kineforum, Cinespace, dan, bagi saya, kita bukan saingan. Justru kita sama-sama hadir untuk memperkuat keberadaan bisokop alternatif dan komunitas, bahwa lewat ruang-ruang yang kecil pun, pemutaran tetap bisa berlangsung. Tidak juga menciptakan Kinosaurus untuk saingan dengan bioskop komersil. Ini dua jenis bioskop yang berbeda. Di Kinosaurus, misalnya, selain pemutaran film, kami juga menyediakan ruang bagi penonton untuk berdiskusi dengan sutradaranya, di bioskop komersil, tak ada ruang diskusi di sana.

Di banyak negara, bioskop justru dibelah lagi menggunakan ishtilah first run, second run, repertoire, dan sebagainya. Bioskop sebenarnya punya layer, dimensi yang lebar juga. Di Indonesia saja yang tidak ada. Jadi, harus ada ruang pemutaran lain sebagai pendukung. Kita harus sadar bahwa industri tidak akan maju, jika cuma dimonopoli satu jenis saja. Industri film di Indonensia itu bisa dibilang tidak kaya. Dulu kita cuma punya bioskop komersil. Bagusnya karena sekarang sudah mulai bermunculan bioskop komunitas, juga makin banyak kafe-kafe yang menyediakan ruang pemutaran film. Produksi DVD di Indonesia malah makin mati, tapi untungnya platform untuk online screening juga makin bermunculan. Jadi, industri apa pun itu, perlu keragaman.

Oiya, kenapa sulit sekali menemukan DVD film-film produksi Babibuta Films?

Itu kesalahan saya. Kesalahan karena saya dan teman-teman di Babibuta Films cukup abai untuk mengurus pengadaan DVD Babi Buta yang Ingin Terbang atau Postcard from the Zoo, padahal di luar negeri DVD dua film itu malah dijual. So, itu sebuah kelalaian dan jangan ditiru.

Saya pikir tidak diproduksi dalam bentuk DVD karena takut dibajak.

Sebenarnya, pengadaan DVD sudah sering saya bahas dengan Edwin. Termasuk detail booklet dan sebagainya. Tapi, karena kesibukan lain bermunculan, rencana-renacan seperti itu menguap, lalu dilupakan. Juga, salah satu penyebabnya karena sumber daya manusia-nya, pada dasarnya Babibuta Films tidak punya banyak SDM yang bisa didelegasikan tugas tersebut, disamping persoalan budget untuk memproduksinya. Tapi, rencana itu masih terus ada.

 

*
Meiske Taurisia lahir di Jakarta, 16 Mei 1974. Pada 1997, ia menamatkan pendidikan S1 Arsitektur di UNIKA Parahyangan, Bandung. Satu tahun berselang, ia menamatkan pendidikan S1 Desain Tekstil di Institut Teknologi Bandung. Ia melanjutkan pendidikan magisternya di ArtEz, Arnhem, The Netherlands, dan meraih gelar MA Fashion, Design, and Strategy. Pada 2016 ia menjalani pendidikan Magister Perencanaan dan Kebijakan Publik, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia.

Terlibat di dunia perfilman awalnya sebagai penata busana di sejumlah film  panjang Indonesia. Beberapa di antaranya: Garasi (2006), 3 Hari untuk Selamanya (2006), D’Bijis (2007), dan The Photograph (2007). Menjadi produser untuk pertama kalinya di film Babi Buta yang Ingin Terbang (2008). Bersama Edwin dan Sidi Saleh, Meiske mendirikan rumah produksi Babibuta Films, dan jaringan distribusi film Kolektif.