foto: Sofyan Syamsul (@pepeng__)

Akhir-akhir ini saya sedih sekaligus cemas melihat anak saya. Ia tak punya cukup ruang untuk bermain.

Kami tinggal di kompleks perumahan yang lazim di Kota Makassar, tanpa ruang terbuka (kecuali jalanan yang berbahaya bagi anak-anak), apalagi taman bermain. Kadang memang ada anak-anak lain datang bermain di dalam rumah, atau anak saya bermain di luar begitu mendengar gerombolan anak sekompleks sedang lewat dengan sepeda mereka. Tapi itu sangat jarang terjadi, kalau dirata-ratakan mungkin sebulan sekali.

Ini sangat berbeda dengan apa yang saya alami sebagai anak-anak, pada sepanjang dekade 1980an di kota kecil, semi urban kala itu, Parepare. Ketika lonceng sekolah dipukul berkali-kali, kami sudah tahu akan berkumpul di mana untuk bermain. Bersama kawan, saya sering berkumpul untuk bermain. Kami bisa memilih main di banyak tempat berbeda, sesuai dengan jenis permainan yang seperti tak ada habisnya. Pagi, siang, sore, kadang hingga malam hari kami bermain. Rumah bagi kami hanya tempat makan tidur.

Karena itu saya sedih melihat anak saya lebih banyak tinggal di dalam rumah. Sendiri, menonton, membaca, menggambar, atau kadang bermain game. Ia tak punya ruang bermain yang dekat dan mudah diakses. Ruang yang bisa mengumpulkan anak-anak, tempat mereka melakukan semua hal yang biasa dilakukan anak-anak: bermain.

Masa kecil saya sangat berbeda. Kami sungguh punya banyak ruang untuk bermain. Memang, nyaris tak ada dari ruang itu dibangun khusus sebagai ruang bermain, tetapi semua tersedia bagi kami sepanjang waktu. Selalu ada tanah kosong, bangunan mangkrak, bangunan tua tak berpenghuni, kolong rumah, lapangan olahraga bahkan sawah atau kebun. Kami memanfaatkan semua ruang itu.

Bila anak saya ingin berenang, saya harus membelanjakan uang yang tidak sedikit untuk membawanya ke kolam renang di hotel dekat rumah. Di sana, ia seringkali tak bisa berlama-lama, karena apa asiknya bermain sendiri? Di kolam renang sering hanya ada orang-orang asing atau orang dewasa saja. Atau lebih tepatnya begini: kolam renang hotel adalah untuk anak-anak berenang bersama orangtua. Bagi anak-anak, apakah tidak lebih asik berenang bersama anak-anak lain? Dan, bagian kolam renang untuk anak-anak sungguh sempit.

Bagi kami, selalu ada liukan sungai dengan air jernih tempat kami berenang. Kadang ada pohon tinggi di tepi potongan sungai yang dalam tempat kami bergantian melompat, menguji nyali sambil meneriakkan nama atau menirukan gaya pahlawan-pahlawan kami. Bila kami bosan berenang di sungai, kami akan janjian untuk berenang di laut. Di sana kami bisa memilih untuk berenang di pantai berpasir atau bertanggul, kami bisa melompat dari dermaga kayu atau beton. Kadang juga kami berenang sedikit ke tengah untuk mencapai perahu kayu atau kapal besi yang karam. Dari haluan, bagian paling tinggi, kami menghempas diri ke hamparan laut luas.

Ini sungguh tidak adil bagi anak-anak sekarang. Pembangunan telah merenggut ruang mereka.(Tentu ini tidak termasuk anak-anak dari kalangan berkecukupan yang bisa menikmati taman bermain di kompleks mewah mereka. Tapi tetap saja itu ruang privat, terbatas.) Pembangunan terjadi hanya untuk orang dewasa, dan bukan untuk bermain. Pembangunan yang berlangsung secara tambal-sulam yang bahkan tidak dapat dikendalikan oleh orang-orang yang berada di dalamnya. Pembangunan yang disetir keterpaksaan (memperlebar jalan karena banyaknya kendaraan, membuat kompleks tanpa ruang terbuka untuk mempertahankan tingkat profit).

Sesekali, saya melihat anak-anak yang lebih besar terpaksa bermain bola di atas jalanan kompleks yang beralas paving blok, berbagi dengan kendaraan yang tidak jarang lewat. Kendaraan, rupanya, juga ikut merenggut ruang mereka yang sudah sempit. Ini sungguh berbeda dengan lapangan bola kami yang sangat beragam. Selain di tanah kosong atau lapangan bola, kami juga main bola di pantai saat laut surut pada sore hari atau di sawah selepas panen. Kami juga bisa bebas main bola di lapangan sekolah pada sore hari. Saat itu pekarangan sekolah begitu luas, jarang yang tertutup tembok, dan parkiran (bila ada) sangat kecil. Bahkan selalu saja ada potongan jalan beraspal yang begitu jarang dilewati kendaraan sehingga kami dapat bermain bola, dengan diterangi merkuri pada malam hari.

Bila anak-anak datang bermain ke rumah saya, sulit untuk tidak jatuh kasihan pada mereka. Mereka hanya bisa bermain di ruang tamu atau teras yang sama-sama sempit. Mereka hanya bisa menyusun balok atau membuka-buka buku bergambar, atau kadang menuntun mobil-mobilan mereka melewati jalan sempit di antara mebel. Bagi kami, bermain di rumah berarti bermain di kolong rumah. Mungkin lebih dari setengah rumah di Parepare pada masa itu adalah rumah panggung. Di bawahnya sering ada tanah kosong tempat kami bermain kelereng, petak umpet, cangke, atau lainnya.

Musim hujan ini, anak saya tentu ingin main hujan juga. Saya membolehkan. Tapi ia hanya bisa bermain hujan di teras belakang rumah yang super sempit. Kadang saya mengusulkan bahwa ia boleh main hujan di jalan depan rumah. Tapi pada musim hujan ini ia selalu menolak. Mungkinkah ia sudah merasa tak aman di luar pekarangan rumah?

Saya sungguh cemas. Sedih.