Musisi dan musikus memiliki makna yang sama, yaitu orang yang mencipta, memimpin, atau menampilkan musik. Pemusik — yang diturunkan dari kata dasar musik ditambah awalan pe- — bermakna pemain musik (seperti pemetik gitar, penggesek biola, atau pemain piano), lebih sempit daripada musisi dan musikus.

Persamaan tentang musisi dan musikus yang diungkapkan Ivan Lanin di atas, merupakan sekian banyak versi pengertian musisi yang mungkin tersebar di ranah dunia daring sekarang. Beberapa ada yang mengatakan bahwa musisi itu orang yang berkecimpung dalam dunia musik atau seniman di bidang musik yang mencurahkan segenap pikiran dan hatinya demi menciptakan karya seni (musik).

Ada pun yang mengatakan bahwa musisi itu ditujukan bagi individu yang berjiwa musik luar biasa. Karena jiwa musiknya istimewa, bahkan terlalu istimewa sehingga menciptakan karakter dalam dirinya yang tidak memungkinkan bagi dirinya untuk berkecimpung dalam bidang lain selain musik, itulah musisi.

Beberapa pengertian di atas semacam itu relatif, bisa berubah-ubah dan tergantung bagi siapa saja yang ingin menganutnya. Tapi berdasarkan pengalaman dan pengamatan saya yang tidak pernah mengenyam pendidikan musik secara formal, proses dalam bermusik seorang musisi-lah yang membuatnya sejatinya dia seorang musisi.

Bagaimana jikalau proses dalam bermusik itu bisa dianalogikan dengan proses pelaksanaan Rukun Islam?

Proses dalam bermusik bisa memiliki tahapan-tahapan yang serupa halnya dengan melaksanakan Rukun Islam. Untuk menyegarkan ingatan, makna rukun menurut Islam adalah dasar keyakinan yang harus dipenuhi agar ibadah itu sah. Jikalau meninggalkan salah satu bagian dari ibadah itu, maka batal pula ibadah itu.

Saya hanya ingin memudahkan pemahaman bagi yang membaca, bahwa proses dalam bermusik ini “wajib” dilaksanakan seperti halnya kita menjalankan pelaksanaan rukun Islam ini bagi kalangan umat Muslim.

“Rukun” dalam bermusik berikut ini semestinya “wajib” dilalui musisi dalam proses  bermusiknya. Bagi yang tidak menjalankan dengan sesuai tahapan ini, proses dalam bermusik bisa jadi tidak “sah” jika tidak dijalani seutuhnya.

1. Mengucapkan “Ayo Kita Bermusik!” (Sebelum Bersolo Karir, Sebaiknya Membentuk Sebuah Band)

“If there’s one thing I’m good at, it’s gathering people together to do something fun” — Dave Grohl

“Dalil” Dave Grohl di atas bisa menjadi motivasi yang baik bagi seorang calon musisi yang ingin bermusik dan membentuk sebuah band. Tanpa ada kemauan bermain musik terlebih dahulu, pastilah sulit untuk mengajak orang bergabung dalam grup musik atau band. Ngumpul-ngumpul dengan teman yang bisa bermain musik merupakan awal yang paling umum terjadi, sebelum mengajak mereka bermain dalam sebuah band.

Memang, mengumpulkan kerabat atau orang-orang baru untuk membentuk sebuah band itu susah-susah gampang. Hal yang sering terjadi biasanya terbentur pada masalah selera musik dan aliran yang akan dimainkan. Kadangkala ada pula musisi yang lebih memilih berkarir secara sendiri, itu tidak apa-apa. Tapi bagi yang masih perlu pengalaman manggung, sebaiknya anda mencoba untuk nge-band terlebih dahulu dan rasakan sendiri perbedaannya.

2. Mendirikan Latihan Rutin dalam Seminggu

“Practice does not make perfect, it makes permanent” — Alexander Libermann

Setelah berhasil mengumpulkan teman-teman yang sepakat untuk membentuk band, mulailah sering berlatih rutin setidaknya sekali dalam seminggu. Band yang paling terkenal  dan sering manggung saja pasti menyempatkan waktunya untuk berlatih rutin.

Latihan ini tentu sangat berguna untuk melemaskan otot-otot syaraf anda dan mengingat kembali perpindahan akord dan ketukan yang jikalau dianggap sepele, bakal menjadi ‘bumerang’ negatif untuk penampilan ketika manggung. Ya, sering berlatih tidaklah membuat penampilan anda sempurna, tetapi bakal membuat anda punya ingatan permanen untuk komposisi lagu yang ingin dibawakan.

3. Berpuasa Membawakan Lagu Orang Lain (Mari Menulis dan Membawakan Lagu Sendiri)

Sering-sering berlatih untuk tampil tapi membawakan lagu orang lain itu terkadang bikin jenuh, bukan?

Satu-satunya cara terbaik agar tidak bosan dan sebaiknya berpuasa membawakan lagu orang lain sejenak adalah menulis lagu sendiri dan berani membawakannya di depan publik.

Enyahkan dulu sikap bahwa orang lain bakal tidak menyukainya. Kalau ada yang menyukainya dan mau mendengarkan lagu anda sendiri, itu merupakan hadiah paling tak terhingga. Percaya saja, itu membuat anda merasa lebih mengapresiasi membawakan lagu sendiri dibandingkan membawakan lagu orang lain.

Tetapi ada saja ironi yang paling sering saya temui dari panggung-panggung musik, baik kompetisi, bazaar atau pun adalah musisi yang pada umumnya bangga jika membawakan lagu karya orang lain. Masih mending jikalau menyisipkan lagu sendiri dalam setlist lagunya. Anda sudah diberikan bakat begitu besar oleh Tuhan, tapi Anda hanya sanggup membawakan lagu orang lain? Jangan sampai itu menjadi kutukan untuk Anda.

4. Mengeluarkan Album dan Promosikan!

“I’ve done a lot of albums and I kinda know when I’m onto something that was inspirational for me to record and create, and this was one of those projects where I really enjoyed making the album.” — Lee Ritenour

Setali tiga uang, mengeluarkan album itu merupakan tingkatan lebih lanjut dari menulis lagu sendiri, layaknya lulusan sarjana yang melanjutkan pendidikan ke strata pascasarjana. Bagi yang merasa sudah memilik cukup banyak materi-materi lagu yang siap dijadikan album, maka rekamlah lagu-lagu tersebut menjadi sebuah album, sebuah mahakarya untuk dinikmati orang lain seperti halnya mengeluarkan zakat untuk orang lain yang membutuhkan.

5. Menunaikan Konser Tunggal Bagi yang Mampu

“A concert is not a live rendition of our album. It’s a theatrical event.” — Freddie Mercury

Jikalau ibadah haji diperuntukkan untuk umat Islam yang mampu atau kuasa untuk melaksanakannya baik secara ekonomi, fisik, psikologis, keamanan, perizinan dan sebagainya, menunaikan konser tunggal bagi musisi itu seharusnya kewajiban untuk yang mampu melakukannya. Mampu secara finansial itu tidak mutlak, mampu secara mental baja yang sebaiknya diutamakan.

Era modern ini sudah banyak menawarkan hal-hal yang baru yang memungkinkan anda menggelar konser tunggal. Tidak perlu tata cahaya dan panggung yang megah, dengan semangat DIY (do-it-yourself) saja kalian sudah bisa membuat konser tunggal sendiri di garasi atau di taman. Jangan terlalu sering menghamba kepada orang yang berpunya untuk melakukan konser tunggal, dengan semangat kolektif dengan teman-teman saja bisa membuat hal ini terjadi. Tentunya dengan kemampuan mental baja yang paling terdepan. Seperti kata Freddie Mercury, jadikan konser tunggalmu sebagai tempat berekspresimu.[]