Oleh: Lily Yulianti Farid ( @lilyyulianti )

Sejak enam tahun terakhir, penulis Lily Yulianti Farid dan sutradara film Riri Riza mengatur waktu mereka sedemikian rupa untuk mendirikan dan menjalankan sebuah rumah budaya di Makassar, yang diberi nama Rumata’. Keduanya lahir di Makassar dan meski tak lagi tinggal di kota ini, mereka senantiasa ingin berbakti, mereka hendak membahagiakan Makassar. Bersama sejumlah keluarga dan sahabat serta dukungan banyak pihak, kini Rumata’ menjelma sebagai upaya akar rumput untuk menjadikan Makassar salah satu pusat kegiatan kebudayaan lintas-daerah, lintas-negara. Lily menulis catatan berikut ini sebagai kado ulangtahun ke-5 Rumata’ yang jatuh pada tanggal 18 Februari 2016.

Mengurus Rumata’ adalah pengalaman Long Distance Relationship (LDR) yang sesungguhnya. Di Makassar, Jakarta, New York, dan Melbourne terdapat sahabat dan keluarga yang sejak awal kami ajak menjadi Pendiri Yayasan dan Dewan Pengawas Rumata’ (Mo Riza, Dana Riza, Titien Syukur, Sukma Syukur, Moch. Hasymi Ibrahim, dan Farid Ma’ruf Ibrahim). Tapi komunikasi jarak jauh yang begitu intens dengan empat orang pengurus harian Rumata’ yang menentukan denyut organisasi ini, mewarnai kehidupan saya tahun-tahun terakhir ini. Mereka adalah Riri Riza, Ita Ibnu, Abdi Karya, dan terakhir bergabung Fiska Ramli. Berlima kami menjaga irama kerja dan semangat dari hari ke hari. Tentu tak semua hari tercatat sebagai hari-hari yang cerah. Ada masa-masa yang berat. Tapi kami bertahan karena tak pernah merasa sendiri. Setidaknya, saya dan Riri sebagai pendiri Rumata’ tak pernah merasa ditinggalkan. Sebaliknya, kami mendapatkan sahabat baru.

Tulisan singkat ini adalah kado saya untuk keempat saudara se-Rumata’ ini. Empat orang yang menyisihkan waktu, tenaga, dan pikiran setiap hari secara sukarela untuk menjalankan program kerja dan merawat rumah budaya yang dibangun di atas rumah masa kecil Riri di Jalan Bontonompo 12A Gunung Sari.

Saya akan mulai dari Ita Masita Ibnu (32). Ia adalah potret seorang pekerja profesional yang menjalankan kerja relawan secara terstruktur dan penuh komitmen. Bidang keahlian Ita adalah administrasi, keuangan, serta manajemen kegiatan. Dan keahlian inilah yang disumbangkannya dalam lima tahun terakhir tanpa lelah. Ita mengajari kami membuat laporan keuangan dan administrasi yang baik di sela kesibukannya bekerja sebagai staf di sebuah organisasi non-pemerintah. Ia juga ibu dari dua anak serta kakak yang baik bagi begitu banyak adik. Ketika pertama kali mengajukan diri menjadi relawan di Rumata’ pada bulan Juni 2011 untuk membantu pelaksanaan Makassar International Writers Festival yang pertama, saya langsung terkesan pada kecekatan Ita mengurus persiapan teknis dan administrasi keuangan. Di saat yang sama, saya melihat potensi Ita untuk menjadi role model bagi siapa saja yang hendak menjadi relawan dengan kerendahan hati yang sungguh sulit dicari tandingannya. Ita bukanlah jenis orang yang gemar update-update status dan upload-upload foto di media sosial (seperti halnya saya) dan mungkin karena itulah energinya selalu konstan, kecekatannya selalu tampil di atas rata-rata dan yang terpenting administrasi organisasi kami menjadi rapi berkat kerja relawan yang ditunjukkan Ita. Hal lain yang saya kagumi dari Ita, ia tidak selalu menghabiskan waktu mengagumi diri sendiri, mengharapkan pujian, atau berupaya keras untuk terlihat keren di dunia maya maupun di dunia nyata. Dalam banyak kesempatan, saya bercita-cita ingin menjadi seperti Ita. She is so genuine!

Ada banyak warga Makassar yang perjalanan hidupnya seperti Ita. Menamatkan pendidikan dasar dan menengah di kabupaten, hijrah ke Makassar untuk kuliah, bekerja, menikah, membangun keluarga, mencicil rumah sederhana, merencanakan masa depan, dan terlibat dalam urusan keluarga besar dari kampung halaman. Saya mengenal banyak ibu muda seperti Ita, aktif di berbagai kegiatan, tapi rasa-rasanya sangat jarang saya melihat langsung seorang perempuan yang menjalani masa-masa terpenting dalam hidupnya: menikah, membangun rumah tangga, melahirkan, membesarkan anak, dan sekaligus mengabdikan keahliannya untuk jangka waktu yang begitu lama di mana ia menunjukkan komitmen yang konstan untuk bekerja sebagai relawan. Kehadiran Ita di Rumata’ menyadarkan saya bahwa betapa beruntungnya bila dalam hidup ini kita bertemu orang baik, ikhlas, dan bersungguh-sungguh dalam kerja kerelawanannya.

Dunia relawan senantiasa identik dengan anak-anak muda. Tapi, justru orang-orang yang hidupnya sudah mapan–tanpa memandang usia–perlu menekuni kerja relawan dalam jangka panjang. Anak-anak muda lazimnya menempa kematangan pribadi dan kepedulian sosial melalui berbagai aktivitas. Bahkan dalam tahap tertentu, dunia relawan dipandang sebagai keseruan yang mungkin hanya bertahan beberapa bulan atau satu-dua tahun. Ketika anak-anak muda memasuki dunia kerja, menikah dan membangun keluarga, biasanya sebagian undur diri satu per satu karena harus memprioritaskan urusan keluarga dan karir. Karenanya, Ita sungguh istimewa di mata saya karena ia justru memasuki dunia relawan ini bersamaan dengan fase terpenting dalam hidupnya: memutuskan menikah dan membangun keluarga. Ita tak pernah mundur. Ia menangani kegiatan besar di Rumata’, menjadi manajer produksi untuk Makassar International Writers Festival, menggawangi program beasiswa Friends of Indonesia bekerjasama dengan Departemen Luar Negeri dan mengawal kebutuhan administrasi dan keuangan kami mempersiapkan Makassar-South East Asian Screen Academy. Saya selalu terdorong untuk memperkenalkan Ita kepada banyak orang, khususnya kepada mahmud alias mamah-mamah muda lainnya tentang kerja-kerja relawan yang sebaiknya dijadikan gaya hidup. Saya percaya, visi kita melihat dunia, cara-cara yang kita pakai mengukur keberhasilan dalam hidup akan menjadi lebih manusiawi dan membumi begitu kita memutuskan membaktikan diri pada satu atau lebih kerja kemasyarakatan. Menjadi relawan akan membuat kita menjadi lebih kreatif menunjukkan rasa syukur. Kita akan tertempa untuk menilai makna hidup dan kebahagiaan berdasarkan kerja tulus dan keinginan untuk terus belajar dan berbagi.

Orang seperti Ita mengerjakan semua tugas kerelawanannya bukan karena tuntutan pekerjaan profesional, bukan juga karena jabatan apalagi berharap surga atau menghitung-hitung pahala. Ia berada dalam golongan orang-orang yang terdorong bekerja untuk masyarakat karena ia tahu bahwa ia mampu mengelola waktu, memiliki kapasitas, serta bisa menyusun prioritas. Ita adalah salah satu wujud terbaik yang pernah saya temui dalam kerja relawan jangka panjang yang dikerjakan secara konstan dari hari ke hari selama lebih lima tahun terakhir. Ita bergabung bersama kami sejak Maret 2011 dan ia adalah salah seorang yang hampir setiap hari saya ajak berkomunikasi dalam hubungan LDR ini, mengurus Rumata’. Ia adalah mutiara.

Bersama Ita, ada Fiska Ramli (27), lulusan STIE Lembaga Administrasi Negara. Fiska cenderung pendiam, tapi jangan ditanya soal betapa cekatan dan tekunnya ia mencatat semua percakapan dan ide yang terlontar dalam ribuan percakapan lintas kota dan lintas negara di Whatsapp Group tim kerja Rumata’. Fiska telah empat tahun menjadi relawan namun secara resmi bergabung sebagai pengurus harian Rumata per 1 Januari 2016. Kehadiran Fiska mengukuhkan niat kami untuk melakukan kerja lintas-generasi di organisasi kecil ini. Fiska tumbuh sebagai relawan yang mengerti benar apa yang hendak ingin kami capai: ide mesti dikerjakan bersama, dikonsep, dirancang, dijalankan, dan dievalusi secara terukur. Meski menjadi anggota pengurus harian yang paling muda, Fiska memiliki rasa percaya diri untuk bersuara dan menganggap diri setara dengan yang lainnya. Jalan hidup Fiska kurang lebih seperti Ita. Hijrah ke Makassar untuk kuliah dan akhirnya memutuskan untuk tinggal dan mengembangkan diri di kota ini. Setiap kali kami membuka lowongan relawan untuk program-program kerja kami, sudah sangat banyak relawan yang memanggilnya “Kak Fiska.” Relawan-relawan yang berusia 20-an atau belasan tahun. Ini berarti, kerja lintas-generasi yang terjadi di Rumata’ semakin lebar rentangnya dan membuat saya bersyukur karena setiap kali mengunjungi Makassar, pasti akan bertemu wajah-wajah baru dan mendengarkan cerita-cerita baru. Fiska adalah jembatan kami untuk mengenal generasi yang lebih muda.

Sebagai organisasi yang didirikan oleh dua orang yang tidak berada di Makassar, Rumata’ juga sangat bersyukur memiliki Abdi Karya (34), seniman yang berkarir sebagai aktor, sutradara teater, pengarah seni, dan pengajar. Berbeda dengan Ita dan Fiska yang mengawal semua kebutuhan administrasi, keuangan, pengarsipan dan segala sesuatu yang membutuhkan disiplin dan ketertiban, Abdi adalah muara kreativitas yang penuh dinamika. Tantangan terbesar bagi dia tentu saja bagaimana menyeimbangkan energi kreatifnya dengan kemampuan manajerial untuk menjalankan tugas-tugas organisasi dan rumah budaya. Tantangan serupa dihadapi oleh Riri dan saya, yang selalu melontarkan ide dan butuh mitra untuk bisa menerjemahkannya dengan baik. Dan, di sinilah kami bertiga sangat bergantung pada Ita dan Fiska. Abdi menjadi ujung tombak Rumata’ selama lima tahun terakhir, dalam arti yang sebenar-benarnya. Ia yang mengetahui teknik termudah membuka gembok kunci pagar Rumata’ (yang selalu gagal saya buka), ia yang mengetahui persoalan teknis seperti cara terbaik menyalakan mesin pompa air dan berkomunikasi dengan tetangga serta mengatur penataan tanaman. Abdi jugalah yang membantu kami mempromosikan Rumata’ sehingga kami dikenal oleh banyak lembaga kesenian di kota dan negara lain. Ia juga yang menindaklanjuti kerjasama dengan berbagai lembaga.

Bersama mereka, saya dan Riri tak pernah lagi kebingungan berdua. Sedikit tentang Riri Riza (45), ia seorang sahabat yang serius, tertib dengan selera humor yang unik. Ia adalah yang paling tua di antara kami berlima dan tentu saja yang paling menggelisahkan Rumata’. Bertolak belakang dengan saya yang selalu spontan, random, dan serampangan, Riri sangat tertib sejak dalam pikiran, hingga perbuatan. Mungkin karena ia adalah seorang sutradara film, ia senang sekali mengatur-atur blocking, komposisi, dan posisi orang-orang.

Dulu, curhat-curhat tentang masa depan Rumata’ hanya terjadi di antara kami berdua. Persahabatan kami menjadi semacam urusan keluarga. Bagaimanapun kami yang paling bertanggungjawab atas kelangsungan hidup rumah budaya ini karena kami yang mencetuskan idenya dan menyatakan siap menjalankannya. Kelahiran Rumata’ kami upayakan bersama setelah bertemu secara singkat di Jakarta, bulan Maret 2008. Riri adalah sahabat yang selalu sungguh-sungguh menjawab email-email saya terkait rencana pembangunan rumah budaya dan pengembangan program. Jawaban yang dikirimnya selalu panjang seperti prosa yang ditulis untuk segera diterbitkan. Ia juga tekun mencatat hasil pertemuan dan ide yang terlontar setiap kali bertemu. Terkadang saya menggodanya, “Kamu lebih serius dari walikota dalam memikirkan pengembangan kebudayaan kota…”

Kami berempat senantiasa mengagumi stamina Riri mengurus Rumata’ di tengah pekerjaannya yang lain dan komitmennya terhadap keluarga. Riri tak hanya mempersembahkan rumah masa kecilnya, tapi juga menyerahkan waktu, tenaga, dan pemikirannya.

Dari keempat saudara se-Rumata’ ini saya belajar banyak hal. Kami berasal dari generasi dan latar belakang yang berbeda: usia kami 40-an, 30-an, dan 20-an. Keluarga kami–suami, istri, anak-anak–telah berkorban begitu banyak saat kami memberi tahu mereka bahwa kami senantiasa perlu menyisihkan waktu untuk Rumata’ dan ini akan berlangsung sepanjang hayat kami. Dalam tingkatan yang berbeda-beda, keluarga pun terlibat dalam perjalanan kami menjaga kelangsungan hidup Rumata’.

Kami ingin terus menjaga persaudaraan kami di Rumata’. Seperti keinginan seorang anak membahagiakan kedua orangtua dan keluarga, sebagai warga kota yang baik, kami juga ingin membahagiakan Makassar. Kami hidup dari udara, tanah, dan air kota ini dan karenanya kami ingin membayar semua ini dengan bekerja sebagai relawan untuk Rumata’. Dalam kapasitas sebagai warga kota, kami selalu ingin berbakti. Saya tahu, inisiatif-inisiatif serupa tumbuh secara sporadis dan tentunya membuat Makassar menjadi lebih dinamis.

****

Empat tahun yang lalu, kami menanam tiga pokok ketapang di halaman depan Rumata’. Waktu yang dibutuhkan untuk menanamnya tidak lebih dari tiga puluh menit, tapi kami tahu setelah itu terjalin persahabatan seumur hidup yang akan diuji melalui komitmen kami. Kami menanam pohon ketapang di sore itu sebagai wujud syukur karena perlahan rumah budaya yang kami bayang-bayangkan mulai mewujud. Setahun sebelumnya, orang-orang hanya bisa melihat sebuah seng hijau bertulis Rumata’: menandakan bahwa pembangunan sedang berlangsung. Kami tersenyum melihat ruang galeri dengan langit-langit tinggi, jendela kaca dengan teralis yang memberi jalan bagi sinar matahari untuk masuk dan membentuk bayang-bayang di lantai, sebuah ruang kerja kecil dan gudang. Halaman belakang masih berupa belukar dengan pohon mangga dan pohon ketapang yang menjulang kokoh. Di malam harinya kami menggelar syukuran sederhana, mengundang sejumlah teman, dan rekan media. Beberapa hari setelah itu saya kembali ke Melbourne, membawa harapan dan rasa percaya akan kapasitas dan komitmen kami untuk memelihara Rumata’. Pagi ini, saya masih bisa mengingat jelas kebahagiaan menanam tiga pohon ketapang itu.

Sejak tahun 2010, perjalanan pulang-pergi Melbourne-Makassar yang saya lakoni diisi dengan harapan dan rasa percaya: bila saya bertemu orang-orang yang tepat, orang-orang yang dengan mereka saya merasa nyaman bekerja, maka keinginan berbakti untuk Makassar melalui Rumata’ bisa diwujudkan sedikit demi sedikit, pelan-pelan, dan akan berlangsung lama.

Tentu saja, di luar nama-nama pengurus yang saya ceritakan di sini, bahkan sejak pertama kali ia digagas dan dijalankan hingga hari ini, begitu banyak orang yang telah percaya, membantu, berkontribusi, dan menemani perjalanan kami. Tak peduli apakah orang-orang ini menemani kami sesaat, sesekali, atau senantiasa, bagi kami semua memberi arti. Setiap orang meninggalkan jejak. Tak terhitung jasa orang-orang yang terlibat dalam kegiatan yang kami adakan, Dan tentu saja, kami berharap, apa yang kami kerjakan dapat menyentuh hati banyak orang, menggerakkan semakin banyak tangan dan kaki untuk menciptakan oase kreativitas di kota yang pembangunannya masih terasa timpang dan hasil pembangunannya hanya dinikmati segelintir orang.

Tetapi, di luar sana, mungkin juga ada pihak yang bertanya, curiga, kurang senang bahkan mengkritik apa yang kami kerjakan. Pertanyaan, kecurigaan, rasa kurang senang, atau kritikan ini juga memberi arti karena membuat kami solid dan sekaligus menegaskan kenyataan: tak semua orang akan senang dan berbesar hati menerima apa yang kita kerjakan.

Mungkin mimpi kami terdengar aneh di tengah masyarakat kita. Teringat pertanyaan dan komentar yang bermunculan ketika ide ini digulirkan pertama kalinya pada November 2010: “Rumah budaya? Bagaimana menjalankannya?”, “Duitnya dari mana?”, “Kalau punya tanah, kenapa tidak membangun kos-kosan saja?”, “kenapa harus kita yang mengerjakan, ini urusan pemerintah, bukan?”, “mengapa tidak membangun masjid?”

Kami mencoba menjawab rasa sangsi, juga sikap was was. Kami mencoba terus menumbuhkan harapan. Kami hendak membahagiakan Makassar dengan menjaga kelangsungan Rumata’ sebagai salah satu oase kreatif yang bisa diakses siapa saja. Makassar yang lebih bijak, lebih manusiawi, lebih berbudaya, genuine, itu mimpi kami. Tidak mudah, tapi tentu saja tidak mustahil. Kami sudah memulainya dan saya menjalaninya sebagai LDR yang menyenangkan dan menghadirkan kehangatan di hati, setiap hari. []


Baca tulisan lainnya terkait dengan Rumah Budaya Rumata’

Kebohongan Hingga Senyuman: Interpretasi Ilustrasi-ilustrasi “Dialog Diri”

“Musik Kontemporer itu Seperti Virus”

Memotret Indonesia dalam Lukisan

MIWF for Everyone!

Mengingat Kembali Karaeng Pattingalloang