Oleh: Mario Hikmat Ilustrasi/foto: Kedai Buku Jenny

Setiap awal tahun, kita gemar melakukan perenungan tentang lika-liku hidup yang telah dilewati. Seperti biasa, kita sering merefleksikan kejahatan apa yang pernah kita lakukan, atau kebaikan apa yang belum sempat kita kerjakan. Socrates, seorang bijak yang lahir di negeri yang sedang dalam krisis yang parah, pernah berpesan kepada semua anak cucu Adam. “Hidup yang tak direnungkan,” katanya, “adalah hidup yang tak pantas untuk dijalani.”

2017 masih panjang. Dan, karena itu, semangat dan kebaikan harus tetap dirawat agar bisa berumur panjang. Usaha merawat hal-hal baik itu saya temukan di Wesabbe, sebuah kompleks perumahan kecil di Tamalanrea, di sudut Kota Makassar. Namanya: Zine Wesabbe.

Zine Wesabbe adalah media alternatif yang mengisahkan pengalaman menjadi warga yang tinggal di Kompleks Wesabbe. Zine ini adalah proyek kolaborasi dari tiga komunitas kecil yang tinggal dan menghuni permukiman tersebut: Kedai Buku Jenny, Kafe Dialektika, dan Katakerja. Saya tidak tahu apakah komunitas ibu-ibu Pasar Sahrul juga terlibat dalam proyek ini.

Ide penerbitan Zine Wesabbe sederhana, namun sangat inspiratif menurut saya. Zine menurut sejarah awal terbentuknya merupakan sebuah wujud ekspresi dari orang-orang yang tidak mendapatkan ruang untuk menyebarkan hasil olah pikir mereka di media arus utama. Orang-orang tersebut kemudian membuat, menulis, mencetak, dan menyebarkannya sendiri. Zine diciptakan dengan semangat kemandirian: Do It Yourself. Tidak terkecuali Zine Wesabbe.

Jargon-jargon yang mendasari penulisan zine, biasanya berkisar seperti: Come on! Express your feelings, your questions about your sickness of the world, your (personal) problems, and whatever you wanna say. Hal-hal ini merupakan semangat yang diusung para pegiat zine. Karenanya, terdapat setidaknya empat karakter umum yang dapat kita tengarai pada zine, yaitu (1) a kind of liberal movement; (2) news values: don’t know what you are; (3) borderless media, choose your own media; dan (4) specific: focusing one topic (Vantiani 2010:1).

Suasana Peluncuran Zine Wesabbe di Kafe Dialektika.

Zine Wesabbe bagi saya tidak sekadar media untuk mengekspresikan diri, ia juga tidak semata-mata upaya menebarkan virus melek literasi di sekitaran kompleks. Lebih jauh daripada itu, proyek kolaborasi dari tiga komunitas ini adalah semacam usaha untuk lebih saling mengenal, untuk menyudahi kebiasaan masyarakat urban yang biasanya tidak saling sapa atau bahkan tidak saling kenal antar-tetangga di sekitar kompleks perumahannya. Orang-orang yang pernah bermukim di kompleks perumahan pasti merasakan hal semacam ini.

Zine Wessabe sengaja memilih media cetak agar lebih egaliter dan dapat diakses semua kalangan. Zine ini dibagikan secara gratis baik kepada yang sudah tua ataupun yang masih anak-anak, tanpa memandang status dan latar belakang. Di tengah gempuran media digital yang kadang tidak bisa diakses oleh semua kalangan. (Misalnya: orang yang tidak memiliki gadget pasti tidak akan bisa mengakses informasi di media digital.) Di titik ini, media cetak masih punya ruangnya sendiri yang lebih merakyat.

Selain itu, informasi di media digital atau media online kadang hanya memberitakan apa yang menjadi berita hangat di suatu tempat, seperti berita pemilihan kepala daerah atau gosip-gosip selebritas yang tidak ada efeknya bagi kehidupan bermasyarakat. Media semacam itu sering dengan sengaja mengabaikan kabar tentang aktivitas masyarakat yang tinggal di pinggiran. Mengapa hal itu bisa terjadi? Media digital/online, sebagaimana kita tahu, biasanya hanya dibuat untuk melayani kepentingan tertentu (seperti kepentingan politik atau pasar) dan juga untuk mendapatkan pundi-pundi uang dari jumlah orang yang mengakses media tersebut.

Zine Wesabbe hadir sebagai bahan bacaan alternatif. Selain memberikan kehangatan, keakraban, dan rasa kekeluargaan Zine Wesabbe menurut saya patut menjadi contoh untuk diterapkan di tempat-tempat lainya. Agar orang-orang yang tinggal di area kompleks perumahan bisa sekaligus mengajak anak atau orang terdekat mereka untuk menyenangi kegiatan membaca dan menulis. Juga, agar para penghuni kompleks tidak terserang rasa bosan atau merasa terasing akibat kesibukan kerja mereka masing-masing. Tetangga adalah keluarga terdekat jika kita tinggal seorang diri disebuah tempat. Kita bisa berbincang dengan mereka, curhat, atau sekadar minum teh bersama untuk menghabiskan waktu sambil membaca Zine buatan tetangga sendiri. Hal itu, menurut saya, adalah sedikit dari cara menjaga sisi kemanusiaan dalam diri kita. Ruang untuk menajamkan sisi kemanusian dalam diri akan selalu ada selagi kita mau.

Saya hanya ingin membocorkan sedikit saja bagian dari Zine Wesabbe edisi pertama ini. Zine Wesabbe ditutup oleh ungkapan manis Saleh Hariwibowo, gitaris dan vokalis Ruang Baca dan Kapal Udara. Ia berkata, “Kebahagiaan, sesederhana apa pun, tidak pernah lahir hanya dari diri sendiri.”

Saya sengaja tidak akan menceritakan terlalu banyak tentang isi dari edisi pertama Zine Wesabbe. Silakan kalian datang ke Kompleks Wesabbe dan kunjungi tempat-tempat komunitas yang terlibat dalam proyek kolaborasi ini. Semoga kalian mendapat hidayah dari tulisan-tulisan di dalamnya. Saya dengan penuh pengharapan, membayangkan suatu saat nanti di tempat-tempat lain di Kota Makassar lahir Zine Daya, Zine Minasa Upa, Zine Veteran, dan seterusnya.

Semoga di kompleks-kompleks permukiman itu lahir media yang berita dan informasinya membumi, tidak jauh dari kehidupan masyarakat, yang merekam aktivitas kehidupan masyarakat yang biasa-biasa saja, tetapi bisa memberi inspirasi. Sebagai upaya merawat hal-hal baik dalam hidup rukun bertetagga, sebagai jalan membangun soliditas dan solidaritas antarwarga. Atau, bisa saja, jika suatu saat ada permasalahan atau konflik antar-tetangga, bisa diselesaikan dengan cara yang budiman dan bijaksana, bersama-sama.

Warga Wesabbe sudah memulai tahun 2017 dengan mengagumkan. Apakah ada hal-hal mengejutkan lainya di beberapa tempat lain di Makassar? Semoga ada, dan akan berlipat ganda.

Ayo ke Wesabbe!