Ilustrasi: Alfian Meidianoor (@saratdusta)

Di Indonesia, permasalahan kesetaraan gender sudah sangat sering kita dengar gaungnya pada dekade terakhir ini. Belakangan, istilah ‘kesetaraan’ kemudian berganti menjadi ‘pemberdayaan’. Meskipun telah menjadi sedemikian santer diperjuangkan para aktivis perempuan, namun masih tak jarang masyarakat melekatkan ‘gender’ sebagai ‘perempuan’. Mungkin gender masih dikira menyoal perempuan saja.

Kaum perempuan telah merasakan penderitaan yang panjang menjadi second sex. Maka wajar jika menuntut kesetaraan. Tak perlulah saya paparkan lebih jauh ketidakadilan yang dialami perempuan. Di era sekarang sangat menggelitik jika masih juga ingin menempatkan perempuan di ranah domestik. Karena ketidakadilan itulah tak sedikit aktivis perempuan kemudian berdiri bersama kaum gender ketiga dalam menyuarakan hak mereka sebagai manusia.

Gender ketiga yang dimaksudkan adalah mereka kaum LGBTIQ (Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender, Intersex dan Queer). Tak perlu pula saya paparkan mengapa diri mereka terbentuk seperti itu. Penolakan tentu saja mereka dapatkan karena masyarakat menganggap ‘kesakitan’ mereka bisa merusak moral. Di Indonesia, kaum LGBTIQ tidak dilindungi oleh Undang-undang dan tentu saja pernikahan sesama jenis tidak diakui. MUI pada awal Maret lalu mengeluarkan fatwa yang menyerukan beberapa hukuman bagi kaum homoseksual, mulai dari hukuman cambuk hingga hukuman mati. MUI juga meminta pemerintah mendirikan pusat rehabilitasi untuk ‘mengobati’ mereka.

Terlepas dari para ulama, di beberapa kalangan homoseksual, transgender dan cross-dressing pun sangat sering diberikan pandangan seolah mereka menjijikkan dan merupakan wabah yang perlu dijauhi. Mereka pun kadang dijadikan sebagai bahan candaan. Homophobe ada di mana-mana, dan anehnya dianggap sebagai kewajaran.

Beberapa waktu lalu dalam sebuah perayaan anniversary himpunan mahasiswa di kampus saya, seorang stand up comedian tampil dengan materi yang menurut saya sangat sexist dan misogynist. Tak hanya sekali saya menemukan hal-hal seperti itu dijadikan bahan lelucon dengan nada merendahkan. Jika melihat apa yang disuguhkan media nasional, saya seolah pasrah untuk memaklumkan hal tersebut. Belum lagi beberapa tahun lalu ketika media memberitakan seorang mantan artis cilik transeksual yang tampak begitu cantik, masyarakat sontak heboh membicarakan berita tersebut. Di Indonesia ini, apa sih yang tidak bisa menjadi berita heboh?

Jika sebelumnya dua orang perempuan saling bergandengan, hal tersebut masih terlihat wajar. Namun jika hal tersebut terjadi saat ini, jangan harap mereka akan lolos dari tatapan kecurigaan akan orientasi seksual mereka. Belum lagi jika melihat segerombolan perempuan dengan barber cut hair tak jarang orang yang ada di sekelilingnya secara otomatis saling berbisik. Paling tidak itu pandangan yang saya lihat di beberapa kali kesempatan. Begitu pula jika melihat dua lelaki dengan penampilan rapi dengan rambut klimis. Jangan kira mereka akan lolos dari bisik-bisik lebih dari setengah orang yang melihatnya. Kenapa tidak mengubah kepala kita menjadi sedikit toleran dan membiarkan saja mereka lewat tanpa memandangnya sebagai sesuatu yang aneh?

Belakangan yang paling sering saya dengar adalah “Kok sekarang banyak lesbian yah? Rugi banget tuh cewek-cewek. Ada kita ini yang nganggur.” Bukan hanya laki-laki yang mengalami homophobia. ‘Penyakit’ ini juga menjangkiti kaum perempuan. Beberapa waktu lalu beberapa teman di media sosial saya memosting gambar dua lelaki tampan dengan beberapa pose yang begitu mesra dan tentu saja dilengkapi caption dengan nada yang sama. Dengan sangat yakin saya menebak mereka yang melontarkan hal demikian adalah jomblo yang sepertinya belum bisa menerima kenyataan bahwa dia harus berusaha lebih keras untuk mendapatkan pacar. Mungkin juga mereka lupa bahwa selain komunikasi yang baik, salah satu hal yang paling dibutuhkan dalam hubungan adalah kenyamanan.

Jika kita sering menasihati orang yang kurang percaya diri dengan “just be yourself!”, kenapa kita tidak membiarkan mereka juga menjadi diri mereka sendiri. Kenapa harus menjadi homophobe? Sudah sepantasnya kita memperlakukan semua manusia di sekeliling kita sebagaimana manusia. Entah dia homo atau hetero. Kita tidak perlu menjadi aktivis anti perang untuk mendapatkan hidup yang damai. Cukup menerima apa yang menjadi pilihan orang lain dan menghargainya. Karena untuk dihargai kita perlu terlebih dulu menghargai. Begitulah hidup. Tak satu pun yang lepas dari pamrih.

*Tulisan ini dibuat untuk International Day Against Homophobia and Transphobia (IDAHAT) yang jatuh pada 17 Mei.