Foto: MIWF 2016 ( @makassarwriters )

“Media Amerika-lah yang pertama kali memiliki ide menyebut saya The next Pram (Pramoedya Ananta Toer), karena saat itu ia satu-satunya penulis Indonesia yang dikenal di Amerika.” Demikian jawaban Eka Kurniawan ketika seorang peserta program Nury Vittachi in Conversation with Eka Kurniawan yang digelar Chapel Benteng Rotterdam pada hari ke empat MIWF 2016, menanyakan perihal rasanya dianggap The Next Pram.

Dia menolak disamakan dengan Pram, “Tulang punggung novel Cantik itu Luka adalah horror, sementara Lelaki Harimau adalah crime,” ungkapnya. Novel-novel lokal picisan horror, crime dan silat, salah satunya adalah Kho Ping Ho dan Tujuh Manusia Harimau adalah bacaan Eka ketika masih kecil dulu biasanya ia temukan dijual di terminal. Ia mengaku tak banyak yang bisa ia lakukan ketika masih kecil hidup di sebuah desa membosankan di Pantai Pangandaran. Saking bosannya, ketika lulus SMA, melanjutkan kuliah di Jogja hanyalah alasan agar ia bisa pergi dari desa tersebut. Di UGM, Eka mengambil jurusan Filsafat yang menurutnya ia ambil hanya karena ia belum paham artinya. Tahun pertama, ia lagi-lagi kebosanan, dan akhirnya memutuskan menghabiskan waktu di perpustakaan. Itulah awal pertama Eka bersentuhan dengan perpustakaan kampus. Ia seperti menemukan surga, katanya. Ada banyak novel sastra yang ia baca namun kala itu tidak ia sangka merupakan sastra yang diakui di seluruh dunia, perkenalannya dengan sastrawan dunia seperti Salman Rushdie, Gabriel Garcia Marquez, Fyodor Dostoyevsky, hingga Voltaire. Masa-masa pertemuan Eka dengan perpustakaan kampus membuat ia melupakan kuliahnya.

Nury Vittachi memberikan pertanyaan kepada Eka Kurniawan dalam sesi obrolan ini di Chapel Fort Rotterdam.

Nury Vittachi memberikan pertanyaan kepada Eka Kurniawan dalam bahasa Inggris untuk sesi obrolan ini di Chapel Fort Rotterdam.

Pada 1997, ketika Soeharto melakukan kampanye re-election, Eka menjadi salah satu dari ratusan mahasiswa yang turun ke jalan melakukan aksi protes. Dari sana, Eka mulai berkenalan dan bergabung dengan aktivis mahasiswa. Melalui mereka pula, Eka mulai mengenal karya-karya Pram. Ketertarikan Eka terhadap Pram, membuat ia memutuskan menjadikan Pram sebagai bahan skripsi-nya. Namun karena kondisi politik kala itu, proposalnya ditolak. Eka tidak peduli, ditolak atau tidak, ia berpikir tetap harus melanjutkan tulisannya ini dalam bentuk selain skripsi. Pada 1998, ketika Soeharto turun, Eka sekali lagi mengusulkan Pram sebagai materi skripsinya, akhirnya diloloskan. Tak lama setelah lulus kuliah, skripsinya tersebut diterbitkan dalam bentuk buku. Ide ini datang dari teman-temannya, dan dicetak oleh tentu saja penerbit independen.

Dari sini, kita mulai bisa melihat bahwa novel-novel Eka yang kita baca selama ini adalah perpaduan antara pengalaman ia membaca di waktu kecil dan ketika ia sudah dewasa. Novel-novelnya seperti Cantik Itu Luka dan Lelaki Harimau, adalah sebuah picisan yang termodifikasi menjadi karya yang ajaib dan canggih. Karya-karya yang diinspirasi dari hal murahan dan remeh, menjadi sesuatu yang besar dan penting.

Novel-novel lokal picisan horror, crime dan silat, salah satunya adalah Kho Ping Ho dan Tujuh Manusia Harimau adalah bacaan Eka ketika masih kecil dulu sebelum mengenal karya-karya Fyodor Dovstoyevsky hingga Gabriel Garcia Marquez.

Novel-novel lokal picisan horror, crime dan silat, salah satunya adalah Kho Ping Ho dan Tujuh Manusia Harimau adalah bacaan Eka ketika masih kecil dulu sebelum mengenal karya-karya Fyodor Dostoyevsky hingga Gabriel Garcia Marquez.

Namun, butuh waktu yang lama juga baginya hingga bisa setenar sekarang. Cantik Itu Luka, novel yang berhasil membesarkan namanya, ketika pertama kali terbit tidaklah begitu laku dan hanya diterbitkan oleh penerbit indie. Pada 2006, novel ini pernah diterjemahkan ke dalam bahasa Jepang atas inisiatif Ribeka Ota, tapi tak berdampak siginifikan. Namun kala itu Eka merasa bahwa bahkan jika novelnya tak sukses secara lokal namun ada yang susah-susah mau menerjemahkannya ke dalam bahasa asing dan diterbitkan di negara asing, itu artinya novelnya pastilah sesuatu yang penting.

Nasib Cantik Itu Luka berubah ketika di tahun 2013 ia ditemukan oleh Annie Tucker, seorang perempuan Amerika yang tertarik dengan kebudayaan Indonesia. Ia kemudian direkomendasikan oleh seorang Indonesia untuk membaca novel Eka Kurniawan jika ia ingin membaca sastra Indonesia masa kini. Annie berhasil menemukannya dan akhirnya tertarik menerjemahkannya. Dari sana, novelnya kemudian diterbitkan di Amerika, mendapat banyak pujian oleh media di sana, termasuk berhasil dipilih dalam daftar buku favorite Oprah Winfrey. Kesuksesannya di Amerika pada akhirnya membuatnya sukses juga di Indonesia. Sebuah perjalanan yang menakjubkan, tapi di satu sisi begitu miris. Selalu tentang kekuatan asing, bahwa apa yang disukai masyarakat asing haruslah dicontoh, termasuk bacaan yang dihasilkan penulis negeri sendiri. Namun, terlepas dari kemirisannya, tersisa pertanyaan, andai tak booming pertama kali di Amerika, apakah Cantik Itu Luka akan setenar sekarang hingga memenangkan penghargaan dan Man Booker Prize?

Suasana sesi obrolan Nury Vitacchi bersama Eka Kurniawan di Chapel Fort Rotterdam.

Suasana sesi obrolan Nury Vitacchi bersama Eka Kurniawan di Chapel Fort Rotterdam.

Di akhir perbincangan, Eka kemudian menanggapi tentang pembakaran buku di Indonesia yang juga menjadi concern MIWF tahun ini. Menurutnya tak ada yang perlu ditakutkan. “Novel-novel Pram bahkan hingga kini masih dilarang, tapi masih terus dibaca,” ungkapnya. Semakin sebuah karya itu dilarang, kita semakin ingin terus membacanya. “Dengan terus menerbitkan dan membaca, maka itulah bentuk perlawanan kita”, tambah Eka. []


Baca tulisan lainnya

Menolak Pemberangusan Buku

Bertanya Sebelum Kita Tenggelam

Penerjemahan adalah Kunci Menuju Literasi yang Lebih Baik

Pengalaman Maman dan Media Hari Ini

Tiga Penyair dari Tiga Negara yang Berbeda

Masyarakat Kita Ingin Membaca Diri Mereka Sendiri