Kala itu sekitar bulan Desember tahun 2006. Kekikukan masih terasa di dalam diri saya dengan lingkungan yang baru, bernama “Kampus”. Hari itu, seorang senior memberikan sebuah buku judulnya “Islam dan Doktrin Peradaban”. Buku yang akan dibahas  dan katanya harus dibaca. Buku itu selayaknya sebuah pemberat di samping buku anatomi gigi dan atlas anatomi tubuh. Buku itu terlalu berat untuk dibaca oleh saya saat itu. Namun di situlah awal saya berkenalan dengan Nurcholish Madjid, yang beberapa tahun setelahnya menjadi guru dan inspirasi saya.

***

Islam di masa Cak Nur tak ubahnya seperti saat ini, dipenuhi doktrin dan dogma, menjadi alat kekuasaan politik, bahkan terjebak di wilayah peribadatan formal. Pemikiran kritis merupakan fondasi utama di dalam gagasan Islam Cak Nur tanpa harus terjebak model kearab –araban.

Pemikiran Cak Nur ibaratnya seorang anak muda yang keinginan tahuannya selayaknya kobaran api Promotheus yang meledak – ledak. Mencari celah akan tanya, di setiap tanya yang berdetak. Tanpa berpatokan pada arah yang sama dengan orang banyak. Dan yang terpenting menghancurkan belenggu-belenggu yang mapan mengekang, seperti senandung Bono U2:

I want to run
I want to hide
I want to tear down the walls
That hold me inside
I want to reach out
And touch the flame
Where the streets have no name

Berpikir kritis, terbuka dan penuh otokritik terhadap nilai – nilai di masyarakat khususnya agama adalah ajarannya. Sangat berbeda dengan pelajaran agama Islam yang dulu saya dapatkan di sekolah. Pelajaran yang kering dan membosankan itu sangat berbeda dengan NDP (Nilai Dasar Perjuangan HMI) yang disusunnya. Awalnya membingungkan namun penuh gairah yang memaksa saya untuk menuntaskannya. Buku pertama Cak Nur yang di tangan saya yaitu “Pintu-Pintu Menuju Tuhan” kemudian senantiasa menemani saya di ruang kelas, di laboratorium, bahkan di studio tempat saya berlatih main musik waktu itu. Cak Nur rasanya mengerti akan kegerahan makna yang menyerang anak di usia masa remaja akhir.

Tulisan — tulisan Cak Nur adalah sajian lezat bagi saya hingga hari ini. Mulai dari yang paling ringan di kumpulan tulisan  “Pintu-pintu Menuju Tuhan” sampai yang berat seperti “Demokrasi Politik, Budaya, dan Ekonomi”. Tulisannya seperti kejut listrik pada gagasannya, namun di satu sisi pemakaian kata yang menyejukkan dan santun memberi kita inspirasi untuk berpikir dan menulis. Gagasan tentang kebenaran universal yang termuat dalam model tauhid kiranya membuat geram beberapa ahli di masanya. Yang lebih membuat geram para ahli agama di masanya adalah gagasan sekularisasi sebagai produk pemisahan antara dunia dan agama serta demokrasi. Tak ayal gagasan tersebut membuatnya dicap antek Amerika, dan Zionis. Fatwa-fatwa larangan membaca bahkan melayangkan kemurtadan (menyimpang dari agama) bagi Cak Nur dapat mudah didapatkan di situs pencari.

Jikalau The Beatles menyanyikan “All You Need is Love” maka  Cak Nur akan menyanyikan lagu berjudul “Islam dan Pluralisme”. Gagasan tersebut menjadi titel sebuah bukunya namun tetap mendasari di banyak tulisannya. Islam menurutnya ajaran penuh cinta dan damai. Bagi beliau “semua agama nabi adalah sama dan satu, yaitu Islam, meskipun syariatnya berbeda sesuai dengan zaman dan tempat khusus masing-masing nabi itu.” Dan masih banyak gagasan beliau lainnya.

***

Cak Nur memang bukan seorang Rasul. Idenya juga mungkin bukan yang pertama dibandingkan Harun Nasution dan Fazlur Rahman. Namun orang inilah yang membuat saya tertarik belajar Islam dari berbagai macam perspektif. Dia mengantarkan saya kepada Murtadha Muttahari, Michel Fouccault, Ali Syariati, Edward Said, Albert Camus, Nietzche, Ernest Gellner, Gus Dur, Goenawan Mohammad, Ahmad Wahib, dan lainnya. Beliau merangsang saya untuk terus membaca. Membaca tanpa sabuk pengaman. Bernalar tanpa memaksakan. Gagasan – gagasan Cak Nur telah memberi ruang bagi para gondrong dengan skinny jeans berbicara Islam, pastor dan ustad berdialog bukan berdebat, bahkan anak punk dan clubbers untuk mencari Tuhan.

Saya belum pernah bertemu dengannya, namun membacanya serasa berada di tengah ceramahnya. Beliau telah meninggalkan kita. Tapi karyanya terus Abadi. Miris ketika para “intelektual” ataupun yang mengaku Islam tidak pernah membacanya. Tahun 2014 tepat sembilan tahun beliau meninggalkan kita. Biarkanlah Beliau dimiliki oleh semua, agar pesan damai menyatukan kita. Karena Cak Nur adalah sang guru bangsa.

image: ndableg