Oleh: Marganalendra Addiluwu A. ( @Marganalendraaa )

Dimulai dari 10 Januari 2015, pertama kali melangkahkan kaki di negeri orang yang populer dengan kosmetik, operasi plastik dan musik mereka, menjadi hari terindah di dalam hidup saya. Saya telah mengidamkan untuk menginjakkan kaki di negeri tersebut selama tiga tahun dan akhirnya berhasil mewujudkannya. Korea Selatan, di mana warganya memakai huruf Hangeul dan mata di sana berbeda dengan di Indonesia yang besar.

DACCE ( Developing Argicultural Community and Cultural Exchange ) itulah Project yang saya lakukan di Korea Selatan. Project tentang argikultural dan sosial di mana saya melakukan lima aktivitas selama enam minggu di sana. Aktivitas pertama yang saya lakukan terletak di desa bernama Cheorwon ( 철원 ), desa yang terletak di bagian utara dan merupakan desa terdingin di Korea Selatan.

Aktivitas yang saya lakukan di Cheorwon ada dua yaitu menjadi staff dalam festival treking dan foto sesi di sungai yang membeku. Aktifitas pertama yang saya lakukan yaitu membantu penduduk desa sekitar Cheorwon melaksanakan festival treking, di sana saya membantu anak anak untuk menggambar pada sebuah layangan untuk dipamerkan atau dimainkan oleh anak anak itu di sekitar festival. Aktivitas kedua yang saya lakukan yaitu menemani warga desa itu sendiri untuk treking di sungai yang sudah membeku sejauh 4,5 Km. Di sini, saya sangat mengagumi keindahan desa Cheorwon yang sangat indah yang dilapisi dengan salju.

Aktivitas yang saya lakukan di Cheorwon ada dua yaitu menjadi staff dalam festival treking dan foto sesi di sungai yang membeku.

Aktivitas yang saya lakukan di Cheorwon ada dua yaitu menjadi staff dalam festival treking dan foto sesi di sungai yang membeku.

Setelah aktivitas di desa Cheorwon saya berpindah lagi ke desa selanjutnya yaitu Okcheon ( 옥천 ). Saya melakukan dua aktivitas sosial yaitu mengajar anak SD setempat dan memperindah desa dengan mewarnai tembok-tembok yang ada di desa tersebut. Aktivitas yang saya lakukan di Okcheon ini diawali dengan mengajar di SD setempat yang siswanya hanya sekitaran 20 siswa yang sudah terbagi dari kelas 1 – 6 SD. Saya dan teman dari Negara lain dipisah menjadi dua tim yaitu tim pemula yang mengajar anak anak Bahasa Inggris dan tim menengah mengajarkan anak SD yang sudah tahu bahasa inggris tetapi masih perlu ditingkatkan.

Inilah aktivitas yang saya lakukan di Okcheon ini diawali dengan mengajar di SD setempat yang siswanya hanya sekitaran 20 siswa yang sudah terbagi dari kelas 1 – 6 SD. Saya dan teman dari Negara lain dipisah menjadi dua tim yaitu tim pemula yang mengajar anak anak bahasa inggris dan tim menengah mengajarkan anak SD yang sudah tahu bahasa inggris tetapi masih perlu ditingkatkan.

Inilah aktivitas yang saya lakukan di Okcheon ini diawali dengan mengajar di SD setempat yang siswanya hanya sekitaran 20 siswa yang sudah terbagi dari kelas 1 – 6 SD. Saya dan teman dari Negara lain dipisah menjadi dua tim yaitu tim pemula yang mengajar anak anak bahasa inggris dan tim menengah mengajarkan anak SD yang sudah tahu bahasa inggris tetapi masih perlu ditingkatkan.

Anak anak di sekolah dasar tersebut sangat cepat tanggap dengan pembelajaran yang kami berikan. Dalam waktu dua hari anak anak SD yang masih pemula sudah bisa mengetahui alfabet dan anak anak yang masih menengah sudah bisa bernyanyi dengan menggunakan bahasa inggris. Saya ingat sebuah momen ketika saya bertanya kepada seorang siswa, “ cita citamu apa?” siswa itu menjawab dengan percaya diri “ 피자 데리프리고 싶어요!” ( I want to be a pizza delivery! ) sontak saya sangat kaget dengan keiginannya untuk menjadi pengantar pizza. Saya pun bertanya kenapa dia ingin menjadi pengantar pizza, dia hanya ingin mengendarai motor. Aktivitas selanjutnya yaitu mewarnai desa. Aktivitas tersebut dilakukan untuk membuat para tetua di desa Okcheon bisa lebih semangat lagi tinggal di desa sekaligus mempromosikan desa tersebut di kota seoul untuk dijadikan tempat tinggal ataupun tempat wisata. Saya bersama dengan teman-teman dari negara lain mengecat sekitar 6-7 rumah yang dulunya hanya dinding biasa tetapi kini menjadi photo zone.

Setelah melakukan empat aktivitas di desa, kami melanjutkan aktivitas di kota Seoul. Kami melakukan kampanye untuk promosi tentang desa-desa yang telah kami kunjungi untuk dijadikan tempat pariwisata ataupun dijadikan tempat tinggal permanen. Di pengalaman exchange tersebut, saya sangat merasa bahagia karena sudah melakukan banyak hal sosial dan sudah bisa merasakan hidup enam minggu di Negeri Ginseng yang telah saya mimpikan sedari dulu. Saya juga belajar tentang jiwa kepemimpinan, bisa mengambil keputusan dengan mempertimbangkan hal-hal lain dan juga saya menghargai orang lain meskipun berbeda negara. Di korea, saya juga mengikuti project yang mengajarkan tentang budaya korea yang sangat indah.

Learning point yang saya dapatkan dalam pengalaman exchange tersebut bahwa leadership is not about just being a leader of something but leadership can be seen by what we do & I got lot of experience being a leader even though im not a leader yet but I already had what ussualy leader had. []