Foto: Guril Rismar Loa (@grismarloa)

Juang Mallibu Manyala (lahir di Bone, 22 Oktober 1990) adalah salah satu sosok penting di balik kemegahan musik Melismatis, keintiman Bunyi-Bunyi Per Halaman, dan kesuksesan Riuh Berderau Sulawesi Tour. Dia juga mendirikan Prolog Art Building dan Vonis Media.

Dalam daftar “Teman Saya yang Paling Tidak Disukai Banyak Orang”, Juang berada di urutan pertama. Dia tidak senang bermanis-manis, saklek, dan memiliki ego musisi di atas rata-rata; kombinasi yang membuat dia dengan mudah ditinggalkan oleh teman-temannya.

Konon, pernah terjadi percakapan telepon seperti ini:

Jeremy: Juang, kalau nanti cariko teman band, sebaiknya cari yang tidak tau Melismatis. Karena kalau dia tahu, duaji kemungkinan: 1) Seganki; karena dia tahu reputasinya band-mu sebelumnya, sehingga dia nda bakal mau, atau 2) Dia benciko.
Juang: Siapa ini?
Jeremy: Saya Jeremy. Temanmu.
Juang: Jeremy? Siapa itu?
Jeremy: Bhay!

Setelah Melismatis resmi menyatakan diri bubar, Juang tetap tidak berhenti menggaungkan karyanya. Dia mencatatkan namanya sebagai penata musik untuk film pendek dokumenter Save Our Forest Giant (2016) karya Aditya Ahmad dan sebagai produser untuk debut album Suhu Beku. Dua yang paling baru: penata musik untuk film produksi Miles, Athirah (2016), produser dan penata musik di film musikal karya Arman Dewarti yang hingga tulisan ini disunting masih dalam tahap produksi. Oh, iya, satu lagi, dia juga sedang mengerjakan proyek musik yang masih dia rahasiakan nama dan bentuknya. Ternyata masih ada. Juang sehari-hari juga bekerja sebagai guru di SMA Islam Athirah Baruga. Mata pelajaran yang diajarkannya adalah seni musik.

Pada suatu sore, akhir September lalu, ditemani sayup-sayup bunyi metronome dan deru napas seorang anak metal bernama Baso, saya dan Juang berbincang di ruang rekam studio Sedikit ke Timur di Toddopuli, Makassar.

Jadi, berapa berkurang temanmu bulan ini, Juang?

Banyak. Banyak yang sekolah. Banyak yang tinggalkan Makassar. Hahaha. Apa maksudnya ini? Berkurang karena apa maksudmu?

Coba baca pengantar saya di atas.

Saya tidak hitung. Cuma mungkin banyak yang terluka karena saya. Ndak tahu juga. Siapa tahu ada di antara mereka yang bahagia. Nda pernah saya pikir sebenarnya. Nda pernahji jadi beban apakah banyak orang yang suka atau tidak dengan saya. Jadi, ya, soal pertemanan itu memang diseleksi alam. Orang-orang yang cocok akan bertemu dan berjalan bersama. Mereka yang cocok akan ada seterusnya berjuang denganmu. Orang-orang yang selalu cari aman, ya, pasti lebih banyak temannya. Hahaha.

Panjang juga jawabannya. Padahal, saya cuma basa-basi bertanya soal itu!

Keindahan dan kedalaman garapan musikmu untuk film Athirah banyak dipuji. Ceritakan dulu, Ces, sedikit tentang keterlibatanmu di film itu.

Jadi sebelumnya saya memang sering kerja dengan Kak Riri (Riri Riza). Tapi, bukan film panjang. Dulu, saya hanya membantu setiap kali SEAScreen Academy membutuhkan orang di departemen musik. Selama tiga tahun bekerja sama, Kak Riri sempat mengatakan kalau dia suka musik yang saya compose. Terus, ternyata dia aware dengan Suara Hingga Terang, musik yang saya bikin untuk film Aditya Ahmad, Sepatu Baru. Dia juga menyimak scoring film Cita karya Andi Burhamzah. Kemudian suatu hari dia hubungi saya, dan kurang lebih dia bilang, “Saya menyimak semua musik yang kau kerjakan selama tiga tahun terakhir. Kalau mau serius, nanti Mira akan menghubungimu dan mengajakmu terlibat di film Athirah. Semoga kau tertarik.” Saya bilang, “Saya pasti tertarik, Kak. Bukan Kak Riri yang ajak pun, saya mau.”

Di film ini, kau bekerja sama dengan Riri Riza dan Mira Lesmana, dua sosok senior di perfilman nasional. Apakah ada perbedaan treatment dengan proses kreatifmu di karya-karya lainnya?

Sebenarnya saya tidak pernah melihat diri saya sedang berada di tahap mana. Apakah di tahap rendah ataupun di tahap tinggi.

It sounds not like you, Man! Haha.

Hahaha. Begitulah. Jadi, sepertinya memang sudah begini jalannya. Itu tadi maksud saya sambungannya kenapa saya nda pernah merasa ini tinggi dan rendah. Saya rasa ini bukan sebuah pencapaian walaupun film Indonesia pertama yang saya tonton di bioskop dan bikin saya terkagum-kagum adalah film hasil arahan sosok yang sama. Dan, proses keterlibatan saya tadi seperti di jawaban pertanyaan sebelumnya.

Yudhistira Baso, bassist band Al Gore Corp, memasuki ruangan dengan alasan ingin ngadem di ruangan ber-AC karena, katanya, terlalu panas di luar. Atau, barangkali sekadar untuk menutupi alasan utamanya: kepo.

Begituji?

Nah, lanjut ke jawaban pertanyaan tadi, dalam proses kerja saya, ternyata lebih gampang daripada di proyek musik film-film sebelumnya. Karena brief mereka yang jelas. Mungkin karena mereka terbiasa bekerja sama dengan komposer/musisi senior, seperti Erwin Gutawa, Aksan Sjuman, Anto Hoed, dan Daeng Basri Sila. Mereka mengerti bagaimana treatment terbaik ke penata musik film mereka. Ini contoh teknis, pekerjaan yang memudahkan buat saya, Mbak Mira dan Kak Riri minta saya bikin 15 musik dengan durasi terserah yang telah ditentukan judulnya terlebih dahulu. Dan, dua musik itu telah diberi judul Pulang ke Bone dan Meninggalkan Bone. Saya, sebagai orang yang berbagi kampung halaman dengan tokoh utama, jadi lebih gampang membayangkan bagaimana harunya perasaan pulang dan bagaimana rindunya meninggalkan rumah. Dengan deskripsi judul seperti itu, tentu saja, sangat membantu saya membayangkan musik seperti apa yang harus saya arrange. Dan setelah membaca skenario, juga dibantu pendekatan filosofis karakter dari Kak Riri, saya betul-betul bisa membayangkan apa yang dialami Athirah pada masa-masa itu, yang kebetulan kurang lebih sama dengan yang saya alami di masa kecilku.

Kau mengerjakan semua komposisi itu sendiri?

Tidak, tentu saja. Saya dibantu banyak orang. Ukka Manyala bermain bass upright di semua komposisi; Imran Melulu memainkan semua alat musik etnik; sureq (mengajinya orang bugis) oleh Abdi Karya; Arif Fitrawan bermain piano dan bukan synthesizer seperti biasanya; Echa dari band Terts membantu isian strings; Oscar Loe Joe merekam vokal dan instrument; Satrio Budiono mengerjakan finalisasi audio dan masukannya sangat membantu di departemen suara; juga ada Iqra’ yang membantu menyanyi di salah satu komposisi.

Sebagai penata musik untuk karya audiovisual dan sebagai bagian dari sebuah band, di mana letak perbedaan keasyikannya? Dan, adakah persamaan tingkat bikin pusingnya?

Perbedaan ada di finalisasinya. Bentuk akhir dari pekerjaan saya sebagai penata musik untuk film adalah scoreScoring. Jadi, saya mesti betul-betul ikut dinamika film. Kalau di band, bentuk akhirnya adalah lagu. Dan, kebetulan saya ini musisi merdeka, jadi tugas saya hanya memerdekakan imajinasi saja. So, saya bebas di band mau bikin musik seperti apa. Kalau di film, setelah imajinasi, ditekan lagi sama dinamikanya film.

Sutradara ikut menekanmu?

Kebetulan kalau sutradara nda adaji yang tekan. Sejauh ini, semua sutradara yang saya temani kerja asik semua.

Letak persamaannya?

Sumber keduanya adalah sama-sama dari kepalaku. Dan sama-sama nda ada yang bikin pusing.

Karena kita sudah membahas tentang band, jadi apakah Melismatis betul-betul bubar? Atau, sekadar cari sensasi?

Bubar. Melismatis memang waktunya berhenti. Waktunya diselesaikan. Melismatis selesai dan orang-orangnya bubar. Jadi Melismatis berhenti hanya sampai di album ke-2. Betul-betul berhenti. Rencananya akan ada perayaan rilisnya album ke-2. Tapi mungkin hanya mengundang teman-teman dekat. Teman-teman yang mendukung Melismatis sejak awal; yang menonton konser pertama sampai di konser terakhir kami. Karena kita tidak punya fans banyak, jadi kita punya nama-nama mereka. Hahaha. Sebenarnya, Melismatis tiap hari saya hidup dengan mereka. Tapi, untuk di panggung, ini akan menjadi pertunjukkan Melismatis yang paling terakhir.

Mengapa bisa betul-betul bubar, padahal kalian semua adalah teman sedari kecil?

Mungkin justru karena kami terlalu berteman. Terasa seperti sudah waktunya untuk selesai. Ditambah dengan kesibukan masing-masing; Ukka dan Ari bersekolah di luar kota; saya dan Hendra sudah berkeluarga, dan dalam waktu dekat ini Adam dan Ari juga; Dede dan Iccang sibuk kerja kantoran. Jadi, memang kita hanya bisa berkumpul di akhir pekan atau waktu-waktu liburan tertentu saja. Kadang mereka berkunjung ke rumah bermain dengan anakku. Dan, sesekali membicarakan Melismatis atau mendengarkan bentuk akhir dari lagu yang telah kami rekam bersama.

Hanya itu alasannya?

Saya tidak bisa sebenarnya jawab alasannya karena memang tidak ada alasannya. Karena memang rasanya sudah waktunya untuk selesai. Dan, kami semua merasakan itu bersamaan. Lucu. Sama seperti Baso waktu mau keluar dari Harakiri nda adaji masalahnya.

Baso: Weh, saya ada alasan nah. Karena saya bosan. Hahaha.

Kodong. Kalo dari saya itu yang saya rasa. Melismatis itu teman sejak kecil. Sudah jadi keluarga. Sudah melalui masa-masa sekolah bersama. Bahkan sudah berteman sebelum saya bisa bermain gitar. Dan, dulu Ari itu nda bisa main keyboard. Dede nda bisa menyanyi. Tapi, karena kita butuh suara keyboard dan screamer, jadi Ari disuruh les dan Dede disuruh belajar scream. Ini kejadian sebenarnya nah. Haha.

Di bagian ini, Juang diam beberapa saat dan saya membiarkannya berpikir. Hehe.

Terlalu bullshit juga sih kalo saya bilang nda adaji gesekan. Ya, gesekan-gesekan pasti ada. Tapi, saya tidak anggap sebagai masalah. Dan kita nda mau gesekan itu menjadi luka. Akhirnya, kita akhiri saja. Dan, saya pikir, saya bisa bahagia sama mereka tanpa harus bermain musik sama-sama.

Sudah terjawab. Adaji ternyata konser terakhir sebelum betul-betul diakhiri.

Iyo. Adaji. Konser terima kasih kepada teman-teman terdekat. Kenapa gampangka sebut itu? Karena tidak banyakji memang yang tahu Melismatis menurut saya. Orang yang baca interview ini mungkin juga nda tahu siapa itu Melismatis. Interview apa ini. Belum didengar karyanya, bandnya sudah bubarmi! Hahaha.

Hahaha. Omong-omong, kenapa menurutmu kita ini di skena musik independen Makasar, di luar Punk sama Metal, kesannya seperti sibuk sendiri satu band sama band lain dan nda bisa rangkul orang-orang seperti Punk dan Metal lakukan?

Menurut saya, rumpun yang tidak membatasi dirinya antara pendengar dan pelaku itu hanya Metal dan Punk. Dan, kita ini, yang bergerak di musik independen di luar itu, mungkin bukannya “ngartis,” ya, tapi menurut saya bagus kalo kita punya sekat atau jarak antara pelaku dan pendengar. Tidak serta-merta itu semua yang nongkrong sama kita ini. Eh, bagaimana cara saya menjawab ini. Eh, apa tadi pertanyaanmu? Hahahaha.

Baso: Weh, apa kobilang itu berdua? Hahaha.

Hahaha. Soal skena musik di Makassar…

Di manajemen seni itu ada yang namanya positioning. Dan, menurut saya, yang tidak harus pake teori positioning ini cuma metal dan punk. Karena, mereka memang tumbuh seperti itu. Kalau band-band lain yang sifatnya ‘sangat industri’, menurut saya, harus punya positioning. Mereka harus bisa memosisikan band mereka ke media, pendengar, sampai ke kritikus. Penting untuk menjadi eksklusif. Walaupun, nanti pasti banyak yang salah paham lagi baca pendapat saya ini. Contoh saja, seperti ini, tidak semua orang yang menyukai Sore di Jakarta, nongkrong dengan Sore. Semua orang yang suka Sore, yang beli karya-karya Sore, tidak mungkin masuk di tim kerja Sore. Sore tahu, menurut saya, meskipun saya nda kenal Sore, mereka itu menerapkan positioning. Mereka tahu bagaimana memosisikan band dengan fans dan media. Karena, yang saya lihat di Makassar, kebanyakan kita itu tonji baku ambil-ambil. Kalau saya ngomong begini, tambah banyak lagi teman saya yang berkurang.

Tapi, menurut saya, penting apa yang kau bilang ini, Juang.

Jadi, ini bukan menggurui. Tapi, nda apa-apa kalo merasa tergurui, karena memang saya guru. Hahaha. Maksud saya, guru itu memang cara bicaranya menggurui. Jadi, terserah mau menangkap seperti apa. Mungkin banyak yang kira saya sombong karena saya terapkan strategi positioning. Misalnya, ada orang tahu band saya, nongkrong di studio saya, dan saya langsung minta dia jadi manajer. Hahaha. Itu contoh cemen. Karena, saya tahu kalau saya nda posisikan diri, dia nda jadikan saya mic-nya. Ini bukan soal idola nah. Saya nda tahu apa itu idola. Anggaplah Fami, Indar, atau Baso. Misalnya, dia bicarakan tentang…. apakah lagumu Baso?

Baso: Tussu’-tussu’. Hahaha.

Al Gore Corp, misalnya. Lagunya bicara tentang seks. Itu, menurut saya, malah edukasi. Sesuatu kalo semakin ditutup-tutupi akan semakin bikin penasaran. Dan Al Gore Corp malah blak-blakan membahas seks. Akhirnya pendengarnya teredukasi. Weh, tunggu dulu, panjang sekalimi ini. Hahaha.

Ndak apa-apa. Ini pertanyaan saya satu-satunya tentang scene di Makassar.

Jadi, ituji tadi. Menurut saya, di musik kita itu peran manajemen sangat penting untuk meluaskan pendengar. Kalo kita pake strategi positioning, pasti ini orang-orang nda lunturki respect-nya. Ini contoh konkritnya nah: pernah ada orang, setiap Melismatis bikin konser atau produksi album, dia orang pertama yang selalu beli tiket dan CD. Nah, akhirnya, tidak tahu bagaimana dia pun masuk di lingkaran pelaku. Bukan pemusik nah. Dia pun merasa ‘saya ini bukan lagi pendengar, karena saya berbaur dengan pelaku’. Akhirnya, dia nda anggap penting lagi konser-konser dan karya-karya band saya. Karena mungkin dia pikir “ih, saya kan juga pelaku!’ Tapi, sebetulnya, nda papa juga sih. Ada kan juga orang bikin band buat cari teman banyak. Silakan. Ini kan cara berpikir saya. Saya, kalo bikin band dan bikin album, ya, saya mau income juga. Itu kan bentuk apresiasi juga, income. Jadi, salah satu cara saya mengukur kinerja di industri melalui income. Strateginya adalah positioning. Kalo kita berbaur, ya, kasusnya akan jadi seperti contoh tadi.

jm1_revius

Menurutmu apa perbedaannya Makassar dengan kota lain, misalnya Bandung atau Jakarta? Kenapa di sana tampaknya lebih berhasil meluaskan pasar?

Jauh sekali. Sama seperti Coldplay bisa jual albumnya sampai di Papua, atau band di Arab tidak bisa jual ato tidak  banyak laku di Inggris. Pertama, kita bicara dari segi pasar. Pasar mereka sudah terbangun. Misalnya, melalui brand clothing. Ada singgungannya ini nah. Bisa kita ambil contoh distro seperti Chambers ato Immortal. Cara mereka menarik konsumen adalah dengan bekerja sama dengan kebanyakan brand-brand luar Makassar. Jadi ketika brand-brand ini masuk, nyempil juga ini band-band dan menjadikannya sebagai titik distribusi. Siapa mau beli brand Makassar di Bandung? Orang Bandung bikin brand sendiri. Tidak mau jual brandnya di kota lain. Hasilnya kan titik distribusinya Mocca, Pure Saturday, The Sigit, dkk adalah distro-distro itu tadi.

Interview terhenti di bagian ini beberapa saat karena rekaman harus segera dimulai. Sambil menunggu rekaman selesai, pembaca bisa menelusuri beberapa karya Juang Manyala di Youtube atau Soundcloud.

Juang, lanjut dulu tadi soal perbedaan skena Makassar dan di kota lain.

Itu tadi contoh konkritnya, pasar. Kota-kota seperti Jakarta dan Bandung sudah terbentuk pasar untuk distribusi secara nasional. Dan, di lain sisi, media juga berperan. Misalnya, di TV Nasional. Buat apa kita di Makassar tahu tentang  macet di  Jakarta? Okelah, kalo perkembangan politik karena memang di sana semua pusatnya. Cuma macet, atau diterobosnya jalur busway, atau apakah yang tidak penting dan terjadi di Jakarta. Buat apa kita di Makassar tahu semua itu? Lebih baik dikasi jatah slot ke konten lokal berkualitas saja. Media lokal juga harus mengubah mindset kalau tidak perlu harus terus siarkan konten luar biar disimak. Sebenarnya, kalau media ini singgungannya dengan kebijakan pemerintah. Kalo tadi itu tentang pasar, contohnya seperti clothing atau EO yang sudah membentuk band-band luar tadi menjadi berbeda dengan band lokal. Kalau media, contohnya ya itu tadi. Selalu Jakarta terus. Jadi itu orang yang di Makassar selalu berpikir apa yang dia lihat di TV saja itu yang oke dan itu konten luar semuanya. Ini baru kita bicarakan pasar dan media. Belum ke pelakunya. Jadi mengenai pasar harus kita paksa untuk dibentuk ulang. Kalau media itu singgungannya ke pemerintah, sih. Dan media harus betul-betul patuh untuk ditegakkannya regulasi itu. Selebihnya saya nda tahu apa lagi. Pokoknya, itu dua hal menurut saya yang mempengaruhi pasar kenapa sampai pelaku dan penikmat itu-itu saja orangnya.

Setelah Melismatis bubar, proyek apa yang sedang kau kerjakan?

Pertama, saya sedang mengerjakan proyek musik untuk film dokumenter tentang reklamasi karya sutradara Arfan Sabran dan Fatimah Zahra. Karena tentang reklamasi, mereka ingin kampanye lebih masif dengan melibatkan musisi/band. Oleh karenanya, saya dan beberapa teman kemudian membentuk kolektif (band) dan output dari kolaborasi kolektif ini akan berbentuk mini album. Sekarang masih dalam tahap produksi. Kedua, saya memproduseri band bernama Suhu Beku. Ketiga, sekarang tengah terlibat di film musikal karya Rusmin Nuryadin bekerja sama dengan Meditatif Film milik Arman Dewarti. Film musikal ini Insya Allah akan diputar di bioskop. Tahun depan.

Saya dapat bocoran, band atau kolektif barumu, apa pun namanya, anggotanya sebagian besar anak-anak band terdahulumu juga. Apa yang salah dengan completely orang-orang baru?

Orang-orang susah akrab sama saya. Saya juga susah akrab sama orang. Mungkin tadi karena terlalu positioning. Mungkin. Dengan orang-orang baru nda adaji salah. Cuma orang-orang yang saya temani kerja sama di proyek ini adalah orang-orang yang dulu membantu dan menyelamatkan Melismatis. Makanya manajemen dan anggota band ini adalah orang-orang yang dekat dengan Melismatis.

Apa yang membuatmu begini total di musik? Apa sebenarnya yang kau percayai yang musik betul-betul dapat lakukan?

Saya suka sekali Slamet Abdul Syukur. Saya suka sekali dengan… kenapa saya lupa orang-orang yang saya suka? Hahaha.

Jonsi!

Iya, Jonsi. Thom Yorke, Jhonny Greenwood, Cholil…

Hans Zimmer?

Hans Zimmer. Eh, tapi tidakji Hans Zimmer. Saya kurang sreg karena dia kerja betul-betul buat orang. Nah, orang-orang yang saya sebutkan tadi, kelima orang itu, adalah orang-orang yang percaya bahwa musik adalah media terbaik untuk mengajak orang ke hal-hal yang lebih baik. Saya tidak tahu prinsip Cholil, tapi saya melihat apa yang dia lakukan dengan Efek Rumah Kaca itu berpengaruh sekali di hidup saya.

Kenapa bisa begitu?

Ketika dia menyatakan pandangannya di lagu Cinta Melulu. Waktu saya SMA, setelah mendengar lagu itu, saya langsung berhenti menulis lagu cinta. Dan, dia bikin saya berpikir, “oh, iya, kenapa ini orang-orang bikin lagu tinggi sekali ke-aku-annya? Kenapa tidak membahas hal-hal yang lebih ke-kita-an?” Dan, menurut saya, itu dampak baik bagi saya. Saya kenal banyak orang juga gara-gara musik. Dulu, teman saya itu-itu saja anak Melismatis. Dan, saya percaya bahwa musik bisa mengubah keadaan menjadi lebih baik. Seperti mungkin yang dipercayai oleh lima orang yang saya sebutkan tadi.

Pengalaman mengajar di SMA, apakah kau optimistis dengan kondisi seni dan ekonomi kreatif di masa depan dilihat dari antusiasme siswa-siswimu?

Oh iya, harus optimistis. Makanya saya bilang tadi melalui musik keadaan bisa jadi lebih baik. Apalagi musik dimasukkan dalam pendidikan. Tentu saja, saya optimistis generasi selanjutnya akan jadi lebih baik. Apalagi kalo mereka kenal baik dengan musik. Musik yang baik. Maksud saya edukasi musik yang lebih filosofis, bukan musik yang sekadar hiburan. Dan, saya percaya, musik yang baik harus diajarkan sejak dini. Makanya saya mengajar.

Tapi, respon siswa-siswimu bagaimana? 

Kadang-kadang positif. Kadang-kadang juga mungkin cara saya yang keliru, jadi agak tidak positif. Tapi, sejauh ini, saya lihat mereka senang.

Apakah kau percaya diri mengatakan bahwa sampai saat ini kau bisa hidup dan menghidupi melalui musik di kota yang masih memandang remeh para pekerja seni?

Hahahaha. Iyalah. Pede dong. Saya menghidupi anak saya yang berumur sebelas bulan. Dia tumbuh cantik dan lucu. Istri saya juga masih setia menjaga dia dan saya. Keduanya terlihat sangat bahagia. Akhirnya, sejauh ini, saya pikir kebahagiaan itu mereka dapat melalui musik. Karena saya setiap hari bekerja di musik dan mereka berdua masih bisa seperti itu. Mereka tumbuh cantik dan bahagia. Jadi, intinya adalah selama kedua orang itu, istri dan anak saya, masih bahagia dengan saya menjalani musik, ya, saya percaya bahwa saya bisa menghidupi mereka melalui musik. Kalau suatu hari saya lihat mereka sedih atau lesu berkepanjangan, mungkin saya harus koreksi apa yang saya lakukan untuk bertahan hidup dan menghidupi.

Ada saran untuk mereka yang benar-benar ingin nyemplung total di bidang seni?

Saran saya adalah harus konsisten, bangun networking, dan perbanyak kolaborasi. Dan jangan terlalu manja, karena seni itu misteri. Kita tidak tahu apa yang akan berlaku besok. Dan, memang seniman itu suka dengan hal-hal yang bikin penasaran.

Bagaimana rasanya menjadi seorang ayah dan tetap bermain gitar?

Terlalu bahagia. Terlalu bahagia sampai-sampai saya rasa sudah tidak bisa lagi menulis lagu. Dulu metode saya: satu kasus, satu lagu. Kalo sekarang rasanya tidak ada lagi kasus, tidak ada lagi kegelisahan, karena kebahagiaanku ini ultimate. Tapi, saya juga tidak minta supaya Tuhan kasih saya masalah. Hahaha. Maksudnya, sekarang ini treatment saya berubah untuk bikin lagu. Mungkin kau rasakan juga. Dan, saya percaya kalo saya terus bermain gitar, hal yang paling dikangeni sama anak saya nanti ketika saya mati adalah suara gitar saya. Dan, suara itu yang bakal temani dia nanti menghadapi dunia dalam kesendiriannya.