Kamu punya ide. Saya dan dia punya ide. Pacarnya si dia juga punya ide. Semua orang punya ide. Ada ide yang baik dan buruk. Semua orang tahu. Tapi, ternyata, bahwa yang membedakan antara gagasan brilian dan gagasan buruk adalah seberapa baik atau buruk perwujudannya, bukanlah pengetahuan semua orang. Saya juga baru tahu. Kemarin.

Saya mau bercerita mengenai ide startup saya yang masih buruk–karena belum diwujudkan.

Gagasan dasarnya: sebuah online platform bagi pelaku industri kreatif di Makassar untuk memasarkan keterampilannya. Sebuah kanal bagi para fotografer favorit saya, seperti Ifan Adhitya, Farid Wajdi, dan Sofyan Syamsul, untuk memperkenalkan diri dan karya mereka secara individual maupun kolektif. Direktori visual bagi para pekerja lepas seantero Makassar: copywriter, videographer, animator, graphic designer, web developer, UX Designer, illustator, seniman mural, fashion stylist, sound engineer, event organizer, wedding singer, public speaker, social media officer, bahkan kawin kontraker*.

Bila terwujud, calon klien tidak akan kesulitan lagi menemukan para menyedia jasa yang mereka butuhkan. Jika, tentu saja, mereka punya koneksi internet.

Latar belakang

(Bagian ini sangat personal. Jangan heran apabila terselip curahan hati di sana-sini.)

Meskipun sudah menjalani profesi desainer grafis lepas selama kurang lebih 12 tahun, saya masih kesulitan mendapatkan pekerjaan (agar keren, kita sebut gig)–tidak seperti Randi Rajavi, sohib saya, yang memiliki klien dari benua lain. Sejauh ini, gig-gig yang saya dapatkan lebih banyak berasal dari rekomendasi keluarga, teman, atau kenalan. Dan, kadang-kadang, dari mantan pacar.

Persoalan kerap muncul ketika urusan profesional datang dari hubungan personal. Perkara “harga teman”. Klise. Dalam banyak kasus, calon klien yang meminta “harga teman” tersebut bahkan baru saya kenal 2 hari sebelumnya.

Saya ingin mengilustrasikan bagaimana gig yang berasal dari kenalan, sulit untuk dianggap gig (apalagi konser).

Lolita (saya pinjam nama ini dari novel Vladimir Nabokov) ingin desain undangan pernikahannya berbeda dengan desain undangan tetangganya. Dia ingin undangannya lebih cantik, lebih Skandinavian, lebih edgy. Ia berharap mendapatkan jumlah passoloq yang besar, atau setidaknya “kembali modal”. (Passoloq /pas-so-loq// Mkskb. Amplop yang berisi uang sebagai hadiah pernikahan kepada kedua mempelai. Amplop tersebut dimasukkan ke suatu wadah yang diletakkan di area pelaminan pada acara resepsi.)

Supaya desain undangannya nanti lebih cantik, lebih Skandinavian, dan lebih edgy, Lolita membutuhkan jasa desainer grafis. Lolita, dan banyak orang lainnya, tidak tahu paham mengenai profesi ini. Satu hal yang Lolita tahu: sejumlah percetakan pinggir jalan, yang selalu dia lihat bila pergi ke kampus, menyediakan jasa “desain gratis”. Lolita adalah mahasiswi yang hampir setiap hari ke kampus, selama bertahun-tahun. Berdasarkan pengalaman alam bawah sadarnya, Lolita menyimpulkan: desain grafis bukan pekerjaan rumit dan, karena itu, tidak perlu dihargai (mahal).

Lolita adalah temannya teman yang merekomendasikan jasa saya ke Lolita. Ia menghubungi saya dan kami pun bertemu di kedai kopi. Ia menjelaskan konsep yang ia inginkan, memberi referensi, dan detail-detail lain yang kadang-kadang ia tidak mengerti sendiri. Setelah memahami tingkat kesulitan dan menghitung estimasi lama pengerjaan, saya mengajukan harga yang pantas, yang—surprise!—ternyata terlalu mahal bagi Lolita dan calon suaminya. Ia menawar secara Afgan. Saya, tentu saja, menolak. Saya bukan penggemar Afgan. Ia menawar lagi, dengan meminta harga teman, padahal saya tidak merasa ia temanku.

Setelah sesi secangkir kopi tersebut, saya tidak pernah mendengar kabar Lolita dan suaminya lagi. Semoga acara pernikahan mereka sukses, memeroleh passoloq melimpah, dan mereka hidup bahagia selamanya. Amiin.

Perihal yang saya gambarkan di atas sulit dianggap gig–karena tidak ada gig. Itu satu contoh klasik bagaimana visi seorang klien tidak selaras dengan apresiasi yang ia berikan.

Ilustrasi di atas tidak bermaksud membebankan seluruh kesalahan di pundak Lolita. Saya juga memiliki andil atas gagalnya hubungan kerjasama tersebut. Saya mestinya menjelaskan lebih awal bahwa desainer grafis bukan pekerja sosial. Percetakan-percetakan yang menyediakan jasa “desain gratis” pun tidak sepenuhnya saya salahkan. Kendati begitu, tentu saja, mereka tidak bisa serta-merta dianggap tidak berdosa atas kasus ini.

Kesimpulan

Saya bukan satu-satunya desainer grafis lepas yang tertimpa masalah di atas. Saya percaya itu. Kasus serupa juga tidak hanya terjadi di bidang desain grafis. Saya juga percaya itu.

Dan, terutama, perkara rumit yang tampak sederhana seperti ini tidak boleh dibiarkan. Berubah!

*

Saya tahu bahwa startup senang mencari masalah. Untuk dipecahkan, tentu saja.

Go-Jek melihat masalah transportasi di Jakarta, Go-Jek menawarkan solusi, (mungkin) memecahkannya dan memberi dampak sosial dan ekonomi kepada banyak pihak. Dan, barangkali, menghasilkan masalah baru bagi supir taksi biru.

Pokémon GO melihat banyak orang kesepian dan tidak mengenal lingkungan mereka; butuh hiburan dan aktivitas olahraga. Minimal jalan kaki. Pokémon GO menawarkan solusi, saham Nintendo meningkat tajam, dan orang-orang berbahagia karena bisa main game sambil berolahraga. Everybody wins!

Tetapi, selalu ada pengecualian! Pokémon GO tidak melimpahkan kebahagiaan kepada orang-orang yang membuat fatwa haram untuk permainan mencari karakter virtual!

Revius Webzine melihat ada masalah dengan media yang selama ini kita konsumsi: bad news is good news; celebrity news is good news. “Good news” yang terhormat ini,  kalau dikonsumsi tiap hari selama bertahun-tahun (mungkin) akan melahirkan generasi sinis dan depresif dan/atau generasi apatis dan hedonis. Kami juga merasa bahwa minat baca dan menulis warga kota Makassar bisa lebih baik. Karena itu, Revius Webzine mengajak pembaca untuk menulis tentang apapun dan mengirimkannya ke e-mail talktous@revi.us. Kami belum pernah mengukur dampak sosialnya, tapi salah satu kampanye kami untuk mengajak siapapun untuk menulis ini bisa dibilang cukup berhasil jika menghitung jumlah tulisan yang  masuk ke meja redaksi virtual kami setiap minggu.

Lantas bagaimana dengan masalah pekerja lepas yang susah mendapatkan gig yang menarik? Apakah mereka membutuhkan solusi berupa startup juga?

*

Secara (luar biasa) sederhana, startup lahir dan berhasil dengan skema seperti ini.

Problem identification –> startup –> social impact.

(Ini sebabnya, usaha “Sari Laut asuhan Mbak Lolita” dan “Startup” jarang kita dengar diucapkan dalam satu kalimat.)

Kembali ke ide startup saya tadi. Identifikasi masalahnya sudah terjabarkan. Selanjutnya apa? Merancang perencanaan, mengumpulkan sumber daya, membentuk team, membuat produk dan layanan, melihat tren, menyempurnakan produk dan layanan, dsb.

Masih terlalu sederhana.

Masih terlalu mendasar.

Dan, intinya, saya tidak tahu apa lagi yang bisa saya jelaskan demi mewujudkannya.

It is still a terribly bad idea.

Fenox Venture Capital, Go-Jek, dan Badan Ekonomi Kreatif, saya yakin, bisa memberi penjelasan lebih baik pada hari Jumat, 29 Juli nanti. Dan, semoga, setelah mengikuti sesi Fireside Chat: The Rise of Indonesian Startup, saya bisa menulis “Saya Punya Ide Startup dan Insha Allah Yakin Bagaimana Mewujudkannya”. Amiin.

Ayo tunggu apa lagi? langsung daftar di bit.ly/swcmakassar

Ayo, tunggu apa lagi? Langsung daftar di bit.ly/swcmakassar

*Bagian ini, tentu saja, cuma bercanda. Saya merasa perlu menjelaskannya lagi. Siapa tahu selera humormu buruk. Siapa tahu.


Baca tulisan lainnya

3 Buku yang Perlu Dibaca oleh Para Desainer Gratis

Jika Helvetica adalah Wanita, Dia Tercantik di Dunia

Aku Berkarya Maka Aku Ada

Makassar (Mungkin) Perlu Belajar dari Khayelitsha

Musik Memegang Peranan Penting bagi Kota