Ilustrasi: Aisyah Azalya ( @syhzly )

Bermula dari beberapa minggu lalu, saat saya menghubungi Lily Yulianti Farid untuk mencari tahu mengenai apa-apa saja hal menarik yang akan ditemui di Makassar International Writers Festival (MIWF) 2016. Saya kemudian tertarik untuk mencari tahu lagi, semangat di balik pembuatan dan proses berjalannya MIWF selama enam tahun melalui kacamata pencetusnya sendiri. Saya percaya, penting untuk selalu hadir di setiap gelaran MIWF, tapi saya juga percaya bahwa penting untuk tahu semangat penggerak festival yang membuat anak-anak muda yang saya temui di Rumata’ Artspace bekerja.

Merintis MIWF ketika Lily bisa dibilang tidak sedang berdomisili di Makassar, serupa dengan Riri Riza yang merintis SEAscreen ketika sudah berdomisili di Jakarta. Bagaimana rasanya melihat Makassar dari “luar” ketika sedang dalam proses membuat festival ini?

Saya beserta Riri mulai merintis Rumata’, temasuk program-programnya, ketika saya juga mulai sekolah di Universitas Melbourne untuk S3 di awal 2010. Di tengah persiapan pembangunan Rumata’ Artspace, sebenarnya saya sudah sangat aktif di festival-festival penulis dan sastra di Australia, Eropa, dan punya link yang cukup bagus yang menghubungkan saya dengan teman-teman dan organisasi penulis di sana. Sepulang dari mengisi kegiatan di The Hague di tahun 2010, saya mendapat tawaran Writers Unlimited di Den Haag, Belanda, untuk mengatur kedatangan penulis mereka di tahun 2011, yang dari kerjasama ini membuat saya yakin ini bisa menjadi awal dimulainya MIWF. Tiga orang pertama yang meyakinkan saya adalah Farid M. Ibrahim, suami saya, Riri Riza, mitra saya di Rumata’ Artspace, dan M. Aan Mansyur – kurator pertama MIWF. Di tahun pertama MIWF kami mendatangkan penyair besar Sapardi Djoko Damono dan memulai tradisi membuat film dokumenter pendek tokoh-tokoh intelektual Sulawesi. Kami membuat dokumenter Muhammad Salim, penerjemah naskah I Lagaligo.

Orang-orang Makassar selalu melihat diri mereka sebagai pusat, karena mereka ada di dalam Makassar. Sama halnya, orang Jakarta yang melihat Jakarta adalah sebuah pusat. Padahal, jika kita keluar dari Jakarta, ke Tokyo misalnya, kita akan sadar bahwa Jakarta ternyata perlu banyak upaya lagi supaya orang-orang dari Asia Timur lebih mau melihat Jakarta, nah sama dengan Makassar. Karena saya di luar Makassar, tapi memikirkan Makassar, akhirnya banyak ide yang lahir didasari dengan keinginan agar lebih banyak orang datang ke Makassar untuk berpartisipasi dalam kegiatan sastra dan literasi. Itu membuat saya lebih jernih melihat petanya. Melihat Makassar dari luar juga otomatis membuat saya berpikir cara membuat gaungnya lebih besar. Lewat banyak percakapan dengan banyak orang yang saya temui di berbagai tempat dan negara, Makassar selalu saya sebut dan saya selalu memperhatikan tingkat awareness orang-orang terhadap Makassar. Saya jauh dan ini menjadi tantangan. Rumata’ Artspace unik karena dua pendirinya tidak di Makassar, tapi dalam keseharian dan kesadaran saya dengan Riri, Makassar selalu kami bawa. Jika kami sedang ngobrol dengan orang lain, kami selalu menginfokan mereka tentang program yang sedang kami kerjakan siapa tahu mereka tertarik untuk terlibat, jadi peluangnya lebih besar. Kami mempromosikan Makassar dan dilakukan sepanjang tahun.

MIWF akan menyentuh usia enam tahun. Bagaimana rasanya bisa menyelenggarakan festival internasional? Dan bagaimana perjalanan lima tahun mengubah MIWF tahun ini?

Saya ingin menjawab kecenderungan yang muncul, bukan cuma di Makassar tapi di banyak tempat di Indonesia. Orang mendeklarasikan sebuah kegiatan bersifat internasional sekali, dua kali, lalu kehabisan nafas. Karena memang butuh komitmen, harus ada penggeraknya dan tidak mungkin dikerjakan sendiri. Jadi, resepnya adalah kita harus bisa membuat orang percaya pada inspirasi yang ditawarkan dan menjaga energinya. Bukan status internasional-nya yang buat saya jadi penting, pilihan bahwa ini adalah festival penulis, bahwa ini adalah pertemuan orang-orang yang senang membaca buku, senang menulis, peduli pada isu-isu besar, orang-orang yang kritis. Ini memang melelahkan, tapi syarat utamanya adalah tidak sendiri, punya tim kerja yang solid. Bagi saya, buatlah sebuah kegiatan yang berdampak lestari dan bisa dijamin terjadi tiap tahun. Dengan begitu, setidaknya kita membuktikan bahwa kita turut serta membangun Makassar untuk jangka panjang.

MIWF sebenarnya adalah pekerjaan lintas-generasi. Saya misalnya, 45 tahun. Ibu-ibu seperti saya cenderung akan berkata ini bukan pekerjaan ibu-ibu, tapi saya tak mau seperti itu. Tugas seorang ibu itu adalah turut serta menumbuhkan generasi yang lebih baik, dan generasi yang saya maksud bukan anak saya sendiri, atau anak dalam keluarga terdekat saya, tapi saya memikirkan generasi muda Makassar. Beberapa di antara mereka kemudian menjadi rekan kerja saya di MIWF. Generasi yang 10 tahun atau 20 tahun lebih muda dari saya bisa dan setara dalam beradu pendapat dan ide dengan saya untuk mengerjakan MIWF.

BACA! Apa makna besar dibalik tema MIWF itu tahun ini?

Ini MIWF pertama yang mengambil tema Bahasa Indonesia, BACA! Saya ingin orang-orang tahu bahwa sedang terjadi pergerakan-pergerakan literasi, kecil tapi banyak, di berbagai tempat dan ini yang ingin kita apresiasi, kita beri semangat, kita pertunjukkan, agar umurnya panjang. Kita ingin membangun generasi yang menjadikan membaca itu gaya hidup, tapi cara kita untuk mengajaknya bukan dengan slogan kosong, melainkan melalui kegiatan-kegiatan yang lebih strategis dan lebih prinsip, sehingga kita menemukan esensinya.

Saya tidak ingin festival ini cuma jadi panggung di mana kita mendeklarasikan dengan bangga bahwa kami sudah mengumpulkan sekian ribu buku yang siap didistribusikan, itu memang penting, tapi yang lebih penting adalah menemukan dan bertemu dengan orang-orang yang membuat arus. Orang-orang biasa yang bersentuhan langsung dengan tetangga mereka, lingkungan mereka sendiri, yang hari ke hari menyuarakan pentingnya membaca. Bila orang tua kita tidak membaca, maka kita yang harus membaca. Dan kita yang membaca hari ini akan melahirkan anak-anak yang juga membaca. Nanti akan ada Jambore Pustaka di MIWF, teman-teman yang menggerakkan pustaka mandiri di banyak tempat, dan ini menjadi sangat spesial. Semoga meskipun cuma empat hari, akan ada banyak kegiatan membaca di sepanjang tahun menuju MIWF 2017.

Colli’ Pujie akan jadi nama besar di MIWF tahun ini. Akhirnya seorang perempuan menjadi bagian ” a tribute to…” Apa makna hal tersebut bagi Lily?

Studi S2 dan S3 saya tentang gender. Dalam banyak parameter, perempuan memang ketinggalan dan dominasi laki-laki sangat kuat. Ketika tahun ini dipilih Colli’ Pujie, dan ini bukan pilihan pribadi melainkan melalui diskusi dengan kurator dan tim kerja, bagi saya jadi terasa luar biasa. Kita terlanjur menerima perayaan-perayaan perempuan yang bersifat seremonial, misalkan Hari Ibu atau Hari Kartini. Kita akan melihat lomba-lomba kebaya atau lomba-lomba yang sifatnya melanggengkan stereotype perempuan. Padahal, perayaan yang bersifat substansif yang telah dicapai perempuan, harusnya diberi tempat yang lebih banyak, dirayakan lebih luas.

Nama Colli’ Pujie memang selalu muncul setiap kali ada perayaan seperti Hari Kartini, bahwa ada Kartini-Kartini lain di banyak tempat, tapi masih sedikit usaha serius untuk memunculkan kartini-kartini lain tersebut. Nah, saya ingin memulai di tanah kelahiran saya di Makassar. Memberi tempat, memberi apresiasi, dan berbagi inspirasi dengan generasi muda. Lewat MIWF, kita sedang turut serta membangun generasi dengan kekuatan orang biasa. Saya terharu, tentu saja, akan melihat Colli’ Pujie di panggung pembukaan MIWF dan ini akan menjadi inspirasi besar. Awal sebuah tradisi juga, bahwa perayaan terhadap pencapaian perempuan di Indonesia saat ini mestinya lebih bervariasi dan menyentuh hal-hal yang lebih esensial, seperti pencapaian intelektual, budaya-seni dan kontribusi lainnya bagi masyarakat.

MIWF juga kerap mendatangkan banyak penulis dan pembicara perempuan, bekerjasama dengan The Bodyshop yang concern mengenai perempuan, dan sering melakukan diskusi mengenai pemberdayaan perempuan, termasuk juga tahun ini. Diskusi mengenai pentingnya peran perempuan, mengapa ini menjadi penting bagi Lily dilakukan di Makassar?

Bukan cuma penulis atau pembicara perempuan, volunteer pun juga sebagian besar adalah perempuan. Jadi, girl power di MIWF itu terasa, tapi bukan sembarang perempuan juga yang jadi volunteer, kami melakukan sistem seleksi yang ketat. Saya ingin menyuarakan bahwa bagi perempuan, berkontribusi kepada masyarakat itu adalah proses yang tidak pernah berhenti. Dan biasanya, di MIWF saya mendatangkan perempuan-perempuan yang unik dan berani, yang ingin kita dengar ide dan pengabdiannya. Itulah mengapa saya selalu ingin memberi tempat bagi perempuan.

The Body Shop punya visi yang cocok dengan MIWF, kami sama-sama ingin selalu menumbuhkan self-esteem perempuan di setiap fase hidup mereka, baik sebagai anak perempuan, remaja, masuk universitas, memutuskan untuk menikah, misalnya, lalu menjadi ibu. Fase-fase tersebut punya fluktuasi, tapi selalu ada perempuan yang akan kita temui yang tidak berkompromi, yang tetap bekerja tanpa menjadikan alasan memiliki anak atau bersuami membuatnya berhenti di rumah. Perempuan seperti Suciwati Munir, Butet Manurung, saya percaya akan menjadi inspirasi, terutama bagi perempuan-perempuan yang sudah melakukan pencapaian-pencapaian tapi masih berjuang mementahkan stereotype yang beredar.

Semangat ini bukan untuk mengecilkan peran laki-laki, melainkan memberikan kesempatan bagi ide-ide yang dihasilkan perempuan dan yang telah diuji komitmennya, kemudian dipertemukan dengan audience di MIWF. Kita juga tahu bahwa sekarang ini yang mendominasi media massa adalah politisi dan pengusaha serta berita infotainment, jadi kita mesti menciptakan lebih banyak ruang lagi untuk mempertemukan orang-orang yang menginspirasi yang di luar lingkar dominasi itu. MIWF telah berkembang menjadi festival literasi sekaligus festival ide, orang-orang yang punya ide besar dan telah menjalankannya selalu hadir di MIWF

MIWF juga satu-satunya festival di Makassar yang saya yakin ber-volunteer paling banyak. Bagaimana Lily sekarang melihat keberadaan para volunteer ini?

Kepada volunteer ini saya selalu berkata bahwa kalian tidak boleh sekadar jadi tim hore, tim ikut-rame. Bahwa kami memang butuh tenaga volunteer, tapi kami juga butuh komitmen dan kemampuan berpikir kritis. Nah, kemampuan berpikir kritis bisa diciptakan oleh lingkungan, dan lingkungan seperti inilah yang saya ciptakan di MIWF. Setiap tahun, setiap kali kami membuka lowongan volunteer, pasti saya selalu buka dengan pidato kecil yang meminta mereka semua untuk belajar rendah hati. Afiliasi sebuah kelompok sebenarnya cenderung membuat anggotanya jadi mudah berbangga diri, jadi penting untuk selalu rendah hati. Selain itu, volunteer sebaiknya membaca buku. Bekerja dengan volunteer yang berwawasan, saya rasa itu yang menjadikan momen-momen di MIWF menjadi istimewa.

Setiap kali saya berdiri di depan hampir 150 volunteer, saya selalu katakan kepada mereka, kita berkeringat sama-sama, kita bekerja sama-sama. Jadi, saya memberi contoh. Dan struktur volunteerism sudah berkembang kuat di MIWF, dari segi umur sudah mulai banyak profesional muda yang bergabung. Ita Ibnu, yang sudah enam tahun menjadi volunteer dan icon di sana. Anak-anak muda juga berdatangan terus. Saya sebenarnya berharap ke depannya makin banyak profesional muda yang mau bergabung dan berkontribusi hingga kita bisa menumbuhkan tradisi structured volunteerism.

Selalu ada nama-nama besar dalam gelaran MIWF dan selalu ada banyak figur yang terlibat, dari berbagai pelosok dunia. Apa yang Lily miliki sehingga bisa menghadirkan mereka? Dan apa tantangan mengumpulkan mereka?

Sekali lagi, membuat mereka percaya. Dan kita memang harus memperkenalkan MIWF kepada mereka bahwa festival ini dikemas dengan baik dan memikat. Kita punya presentation kit, publikasi yang baik dan landasan filosofi festival yang kuat yang membuat banyak orang mau berpartisipasi. Dan saya selalu memberi tahu peserta, ini bukan acara komersil, ini bukan acara cari untung, tapi kami ingin kalian ikut karena kontribusi kalian akan sangat besar, dengan begitu mereka akan merasa bahwa mereka memang perlu berada di situ.

Tantangannya biasanya muncul dari dana. Misalnya, bagaimana cara mendatangkan penulis dari Malta ke Makassar, atau Hong Kong, Eropa ke Makassar. Orang-orang pasti berpikir kami memiliki uang banyak, padahal tidak begitu. Makanya kami membangun jaringan/partnership. Ini membuat saya belajar untuk melihat siapa saja yang sudah memiliki jaringan di organisasi besar, kedutaan besar, dan kita gabungkan dengan siapa saja penulis yang perlu datang ke Makassar.

Ada juga yang sinis dengan berkata “Apa itu MIWF? Mengundang penulis dari luar, orang dari Makassar saja tidak diundang” Ini yang kadang membuat saya bingung, karena MIWF ini untuk orang Makassar, terbuka seluas-luasnya dan gratis, tinggal datang, tinggal duduk, dan akan terlibat dalam percakapan-percakapan bernas selama empat hari. Ada puluhan diskusi dan workshop. Belajar di berbagai wokrshop yang pengajarnya memang sudah punya nama di bidang masing-masing, artinya acara ini gratis tapi bermutu. Ini bukan festival abal-abal. Setiap tahun, kami membuat undangan terbuka untuk penulis Indonesia Timur, dan itu dibiayai dan difasilitasi. Tahun ini juga ada divisi khusus bernama community engagement yang terus melibatkan, mengundang orang lewat email, media sosial satu-per-satu.

Saya berpikir bahwa bagi orang-orang Makassar, apalagi bagi yang merasa diri mereka sudah menjadi tokoh, yang pertama harus mereka kalahkan dalam diri mereka adalah jangan pernah merasa bahwa mereka sudah mencapai semuanya, sudah hebat dan merasa paling penting. Orang-orang sekarang punya kecenderungan berkumpul dan melakukan sesuatu, dan ini bukan lagi hal baru. Orang-orang berkumpul karena kesamaan visi atau minat, itu terjadi di mana-mana. Bagi saya, yang paling penting adalah sejauh mana komitmen untuk membuat dan menjalankan sebuah kegiatan, bukan sekadar membuat acara seru-seruan, tapi yang memiliki esensi.

Saat ini saya sangat mendukung Yayasan Sokola yang dikerjakan Butet (Manurung) juga Pustaka Bergerak yang dikerjakan Nirwan Arsuka dan kawan-kawan, karena bagi saya pendirinya merupakan tipe orang yang sangat mengakar, tidak ribut, dan berkoar-koar. Tapi memiliki strategi kerja jangka panjang. Dan saya percaya pada apa yang mereka lakukan.

Ini tahun kedua MIWF tidak “menggandeng” Pemerintah Kota. Kenapa? Bagaimana rasanya? Apa tantangannya?

Di 2011-2014, kami bermitra dengan Pemkot Makassar untuk menjajal pengalaman. Tapi rasanya sudah cukup. Sepanjang proses kerjasama, kami memiliki catatan yaitu sudah waktunya Pemkot dan dinas-dinasnya membuat struktur kerja yang lebih transparan. 2015, ketika pemerintahan berganti, walikota baru terpilih, kita sebagai masyarakat biasa punya harapan akan ada satu sistem yang berkembang, yang lebih transparan, apalagi kan slogannya Kota Dunia, jadi saya membayangkan prosedur kerjanya juga berstandar dunia.

Tahun lalu, saat Rumata’ Artspace memutuskan untuk tidak lagi menjadi mitra Pemerintah Kota, kami menaikkan standar kerja kami, kami memutuskan menguji 100% kekuatan orang-orang biasa yang mengerjakan MIWF dan program-program Rumata’ Artspace lainnya. Dengan poses ini juga kami bisa senantiasa kritis terhadap pemerintah. Saya selalu memastikan posisi saya sebagai warga biasa, bukan berada di lingkaran kekuasaan. Saya bisa saja masuk dalam lingkaran kekuasaan karena kenal dengan beberapa orang terkait, tetapi saya tidak ingin memanfaatkan itu. Itu bukan contoh yang baik.

Mengenai kesan tidak bekerjasama lagi dengan Pemkot, saya pernah menanyakannya ke tim kerja. Mereka membandingkannya dengan mitra-mitra luar negeri. Bekerjasama dengan mitra luar negeri, kami mengikuti serangkaian prosedur yang transparan. Kami tahu, kapan waktunya mengajukan proposal, pengumuman pengajuan proposal dicantumkan di website dan prosedurnya jelas, kami tahu siapa yang akan menangani proposal kami, kami tahu siapa orang yang akan diajak berdiskusi tentang visi, misi, dan capaian yang hendak dituju. Senang rasanya, karena ada proses pembelajaran yang berlangsung. Kami menjadi lebih bersemangat dan tertantang. Jadi, saya pikir perbandingan ini menjadi PR bagi Pemkot Makassar. Sebuah sistem yang transparan dan prosedur yang jelas. Ada pertanggung-jawaban publiknya.

Saya punya pengalaman menarik sekaligus kurang-nikmat di MIWF tahun lalu, saat menghadiri malam penutupan. Idenya mengambil tempat di Kapal Phinisi sangat keren, tapi venue tempat penonton harus berdiri sangat tidak nyaman, begitu banyak kerikil dan terasa sangat sempit; sangat berbeda dengan Benteng Rotterdam. Saya ingin mendengar tanggapan Lily mengenai ini.

Tahun lalu kami memang ingin jadi risk-taker dengan mengajak orang melihat Phinisi yang sedang dibangun waktu itu. Resikonya, tidak senyaman di Benteng (Rotterdam), tapi pengalaman yang kamu dapat sebagai penonton beda, bukan? Itu mengandung pesan bahwa kenyamanan itu masih mahal jika diusahakan sebagai kegiatan publik. Bisa menghadirkan di malam penutup itu sebuah pertunjukkan yang berkualitas yang bagi saya bahkan tidak masuk akal bisa terjadi, salah satunya teater orang turun dari Kapal Phinisi yang asli, was it a magic? Memang akan ada keluhan lokasinya berkerikil dan segala macam, tapi karena kita ingin menjelaskan mengapa ada Phinisi dibangun di tengah kota, apa nanti manfaatnya bagi masyarakat.

Sebuah kelompok yang mengatasnamakan diri mereka Aliansi Masyarakat dan Mahasiswa Islam melakukan protes dan demo atas Asean Literary Festival yang digelar di TIM baru-baru ini karena dianggap menyebar paham Komunis, LGBT, dan disintegrasi Papua. Sebagai orang yang punya kepercayaan terhadap literasi sekaligus merintis festival, bagaimana Lily melihat kejadian tersebut?

Memang memprihatinkan melihat gerakan-gerakan yang menganjurkan kebencian terhadap satu kelompok tertentu, membakar-bakar ketakutan yang tidak beralasan. Ini makin rutin terjadi, toleransi makin tidak ada. Bukan cuma terjadi di ALF, di Ubud Writers Festival tahun lalu juga terjadi, penyensoran terhadap pembicaraan ‘65. Sayang sekali, karena festival harusnya menjadi platform di mana orang-orang bisa mendapat jaminan berbicara. Kebebasan berbicara dan mengeluarkan pendapat di alam demokrasi Indonesia saya pikir cerminannya yah mesti ada di festival-festival penulis. Dan cencorship mencerminkan bahwa kita lagi-lagi mengalami kemunduran.

Kita sepakat MIWF adalah festival yang penting walau hanya tampak selama empat hari saja dalam setahun. Nah, jika ada satu hal yang Kak Lily ingin lakukan bagi Makassar yang tidak hanya akan dilihat selama empat hari saja, apakah itu?

Memang acaranya cuma empat hari, tapi dikerjakan selama setahun. Kami menghadirkan festival yang dikerjakan sungguh-sungguh. Saya memikirkannya dua belas bulan, tim saya mulai bekerja sembilan bulan sebelum acara. Jadi, apa yang kita nikmati selama empat hari itu seperti puncak gunung es. Audience melihat empat harinya saja, tapi tidak melihat bahwa di bawahnya ada kerja-kerja yang kadang chaos dan harus melewati banyak kendala.

Saat ini saya sedang memulai lagi mengerjakan proyek citizen journalism yang saya luncurkan di tahun 2006 bernama Panyingkul. Dan semoga setelah MIWF, ia bisa dinikmati banyak orang. []


Baca tulisan lainnya

Yang Akan Kamu Temukan dan Semoga yang Kamu Cari di Makassar International Writers Festival 2016

MIWF is For Everyone!

MIWF 2015 Day 1: Tribute to Passion

MIWF 2015 Day 2: Knowledge for Your Imaginations

MIWF 2015 Day 3: Promoting Literature Around the World

MIWF 2015 Day 4: Knowledge & Universe