Ilustrasi: Aisyah Azalya ( @syhzly )

Beberapa malam yang lalu, dari tempatku hidup dalam sebuah bowl bening, kuperhatikan dia menguap. Rambutnya yang semakin panjang menjadi berantakan karena garukan, tangannya terkadang bergerak mengucek mata. Di layar Macbook Pro tampak beberapa gambar cangkir dan gelas dalam model berbeda. Ada yang ditumpuk dan lainnya tergeletak berantakan. Dari layar yang sama, sebuah puisi dibacanya berulang.

Puisi dan musik instrumental. Dua hal yang berubah dari hari-harinya belakangan ini. Meski pernah mengaku bahwa sewaktu SD pernah mengikuti lomba baca puisi, tapi tetap saja itu bukan jenis bacaan yang digemarinya. Dia biasanya cuma menikmati komik, yang gambar lebih banyak dari teks. Bergantian dibacanya puisi tersebut dan diamatinya beberapa gambar cangkir dan gelas. Aku masih yakin dia tidak tahu beda cangkir dan gelas.

Dia yang aku maksud adalah tuanku. Namanya Herman Pawellangi tapi dia tidak begitu senang dengan nama yang diberikan oleh orang tuanya, bapak Pawellangi dan ibu Masita, S.Pd. Dia lahir di sebuah kota bernama Sengkang pada 27 Oktober 1992. Dia lebih dikenal dengan Chimank, entah nyambungnya di mana. Katanya nama itu merupakan panggilan seorang tetangganya sejak kecil. Diambil dari nama seorang atlet olahraga. Entah dengan alasan apa, karena badan tuanku sama sekali tidak atletis dan dia tidak ada bakat di bidang olahraga.

Sungguh, tuanku adalah orang yang romantis. Bahkan kepadaku, dia mengaku bahwa aku paling banyak memberikan inspirasi jika dia sedang mendesain sesuatu atau otaknya tiba-tiba buntu saat menggambar. Sayang saja, semua mantan pasangannya selalu menyakitinya. Padahal sikapnya sungguh manis. Aku yakin dia juga seperti itu pada satu pendahuluku, Revion The First.

Pada suatu malam dia berbisik kepadaku, “Puisi-puisi kak Aan ini susah. Sudah kubaca berkali-kali tapi tidak kumengerti.” Dari situlah aku tahu dia sedang mengerjakan ilustrasi atas beberapa puisi dalam sebuah buku berjudul Tidak Ada New York Hari Ini. Pantas saja dia menjadi begitu semangat, ternyata dia mendapat sebuah tantangan. Biasanya butuh satu hari untuk membaca satu cerita pendek. Kali ini, dia harus membuat dua belas ilustrasi dalam waktu kurang dari satu bulan. Sungguh luar biasa tuanku ini. Dan dengan congkaknya saat menceritakan konsep ilustrasinya kepadaku dia bilang begini, “Pokoknya saya mau menggambar benda. Tidak mauka gambar suasana. Gampang sekali. Tapi toh ini ada satu puisi judulnya Batas susah sekali kupahami. Masa kutanya temanku bilang ‘Bacako dulu ini puisi dan benda apa yang kau lihat di puisi ini.’ Tapi toh temanku tidak tahu, jadi saya bilang ke dia lagi. ‘Sudah mi deh, tidak mengertiko memang sastra.’ Itu juga kak Abe dan Kak Randy kutanya bilang, ‘Kak, apa itu batas?’ Kak Abe jawabnya garis, terus Kak Randy jawab police line.”

Ilustrasi Batas yang terinspirasi dari puisi M Aan Mansyur yang judulnya sama.

Ilustrasi yang dibuat Herman Pawellangi untuk puisi M Aan Mansyur yang berjudul Batas.

Ilustrasi Batas itu merupakan tiga ilustrasi terakhir yang diselesaikannya. Dia hampir saja menyerah karena tidak sanggup menginterpretasikannya. Padahal dia menonton teaser Rangga membacakan puisi itu berulang-ulang, bahkan bertanya langsung ke penulisnya. Hingga akhirnya pada suatu malam karena terus menerus dihubungi soal ilustrasinya, dia kembali membaca berulang puisi itu. Dan seperti ada unsur magis, tangannya bergerak tanpa henti hingga ilustrasi untuk puisi Batas selesai.

Dan akhirnya, pada tanggal 30 April lalu, dua belas ilustrasinya dipamerkan di acara peluncuran buku puisi Tidak Ada New York Hari Ini, yang ceritanya sebagai buku puisinya Rangga di film Ada Apa Dengan Cinta? 2. Tuanku sangat senang untuk pameran tunggalnya yang pertama. Katanya banyak yang suka ilustrasinya. Apalagi Batas, bahkan penulis puisinya juga sangat suka ilustrasi itu. Makanya ilustrasi tuanku diniatkan untuk dipamerkan lagi pada acara MIWF nanti. Saat syukuran atas buku puisi Tidak Ada New York Hari Ini.

Oh iya, tuanku Herman juga bercerita bahwa sebelum ke acara peluncuran buku di Arcade MaRI, dia sempat diwawancarai oleh Sani. Kepadaku dia menceritakan kembali apa yang dia jawab saat wawancara.

Jadi sejak kapan kamu suka menggambar?

Kalau tahu suka gambar itu dari kecil. Tapi baru sekitar dua tahun saya serius menggambar. Karena sebelumnya saya bukan di ilustrasi tapi digital imaging. Sebelumnya saya tidak menyangka ternyata bisa masuk di dunia desain. Dari SD hingga SMA saya bergaulnya di musik. Dan, pas mau kuliah bingung masuk di mana. Pilihanku cuma di seni musik. Tapi karena kebetulan tidak tahu kenapa tiba-tiba mau belajar desain dan saya pikir kayaknya saya cuma bisanya di sini. Jadi masuklah saya di jurusan desain. Dan sejak itu mulai mendesain hingga sekarang menjadi ilustrator sekitar dua tahun lalu.

Kamu ingin dikenal sebagai illustrator atau desainer?

Sebagai desainer.

Apa bedanya ketika kamu mengilustrasikan sesuatu dan ketika kamu mendesain sesuatu?

Bedanya, kalau ilustrasi asal menggambar saja. Kalau ilustrasi saya pakai konsep, sedangkan digital imaging terserah saya. Sekarang memang saya lebih banyak di ilustrasi tapi tetap ingin diingat sebagai desainer. Karena saya lahirnya di situ.

Kenapa ilustrasi kamu kebanyakan digital? Apa bedanya antara menggambar digital dan manual?

Kalau manual sebenarnya jarang sekali. Saya kebanyakan di digital karena saya lahirnya dari sana. Tetap sukanya sama digital. Selama ini ilustrasi saya di Revius semuanya digital. Beda lah. Karena kalau di manual saya tidak main-main seperti di digital. Alirannya beda. Kalau manual saya mainnya tengkorak. Yang sangar begitu. Kalau digital justru saya main di warna yang soft.

Jadi lebih suka digital, yah?

Gini yah. Sebenarnya seimbang. Saya lebih suka di manual karena dark. Mungkin karena terpengaruh oleh musik yang saya dengar. Karena saya suka metal. Jadinya lebih dapat. Pasti bawaannya seperti ada setan di belakangku yang mengatakan ‘Gambarko tengkorak’. Dan saya dengar musik metal sebenarnya sudah lama. Karena memang kakakku suka musik metal. Jadi kalau dengar metal jadinya suka. Karena sudah lama kenal. Tapi sebelum masuk ke metal masuk ke rock dulu.

Jadi kamu punya band? Nama bandnya apa?

Saya punya band, tetapi namanya sering berubah-ubah. Karena main band untuk senang-senang dan isi kekosongan. Karena kemarin-kemarin cuma main-main. Kalau lagi ada acara terus kosong yah saya main musik. Sehari-hari tidak. Yah, kapan ada panggilan. Sekadar mengisi kekosongan. Sama saja dengan memotret. Itu semua hanya sekedar hobi. Tidak untuk diseriusi. Fokus saya cuma di ilustrasi. Mantapnya di situ.

Kenapa memilih menggambar? Dan sejak kapan serius di bidang ini?

SMA kelas dua saya mulai serius. Apa yah? Saya cuma dapat feel-nya di situ. Jadi langsung tiba-tiba, ‘Oh iya, di sinima saya.’ Justru waktu SMA tidak pernah gambar-gambar pas guru menerangkan. Sebelum tahu bahwa bisa di situ. Yah belum menyadari kemampuan lah. Karena waktu itu saya di musik.

Oh iya, gambar pertama yang dibayar adalah gambar untuk cover album solo gitaris. Saya diminta buatkan covernya. Kemarin itu saya menggambar digital imaging sebelum ke ilustrasi. Jadi bikin saja, belum ada pikiran untuk cari uang. Yah saya berkarya saja karena yang saya pikir adalah saya ini seniman. Dan saya cuma mau senang-senang. Terus sepertinya dia suka salah satu karyaku dan dia tanya. Ini karyaku saya posting di Facebook. Yah sekitar tahun 2010 atau 2011 lah. Dia kirim pesan, “Mas bisa bikin cover gak? Saya mau kayak desainnya mas.” Jadi yah saya bilang, “Bisa ji.” Langsung saya iyakan karena ini pertama kalinya. Saya senang sekali karena ada yang suka desain saya. Dari situ langsung oke. Karena untuk pertama kalinya ini menghasilkan. Dulu murah sekali karena tidak ada pengalaman  dan referensi soal harga karya. Jadi di bawah standar lah. Waktu itu cuma 500 ribu. Itu karya pertama saya yang dibayar.

Tuanku sangat riang menceritakan semuanya kepadaku malam itu. Tapi kemarin dia mengeluh, “Itu kak Sani lamanya mi dia wawancaraika baru belum diposting hasilnya.” Entah kenapa si Sani itu tidak menyelesaikannya. Mungkin dia galau. Aku jadi sedih melihat tuanku, makanya kuputuskan untuk menceritakan sosok tuanku agar namanya bisa diingat orang lain. Paling tidak orang di Makassar saja dulu. Selain itu aku juga mau memperkenalkan diri. Mungkin orang-orang cuma kenal Revion The First.

Kami diberi nama Revion, sebuah singkatan untuk Revius Scorpion. Sebenarnya aku dan pendahuluku cukup beruntung bisa dipelihara oleh tuanku Herman, karena awalnya dia sangat ingin memelihara naga. Tapi karena dia sadar memelihara naga adalah sesuatu yang mustahil, makanya pilihannya jatuh ke kami. Secara jujur dia mengakui, dia tidak pernah berhasil memelihara hewan karena pasti mati muda. Tapi katanya, aku bisa hidup mandiri tanpa perawatan ekstra, bisa mandi sendiri, dan aku cuma makan sekali dalam tiga minggu juga kuat. Tuanku memang anti-mainstream. Saat orang lain memelihara anjing, kucing, atau iguana, dia malah memelihara kalajengking. Untung saja, dia belum menemukan pet shop yang menjual naga. Karena sejak kecil hingga sekarang dia sangat cinta kepada naga.

Tuanku memang rada aneh. Katanya dia juga punya teman imajinasi. Pada suatu sore saat mengajakku jalan-jalan di bukit dekat kost dia bercerita, “Jadi di toilet rumahku itu ada 20-an temanku tapi dalam bentuk imajinasi. Yang pertama itu mirip karakter The Simpsons, terus muncul satu per satu sampai banyak dan kadang saya cerita dengan mereka. Tiap saya pulang kampung pasti mereka senang dan harus dirayakan. Caranya dengan saya siram-siram air satu per satu dan di situ kadang ada teman baru lagi atau ada yang hilang salah satunya. Yang kami cerita hal biasa kayak manusia normal yang lagi ngumpul, tidak pernah cerita yang aneh-aneh. Tapi saya tidak pernah curhat sama mereka.”

Pada kesempatan lain dia cerita soal ilustrator favoritnya. “Kalau ilustrator digital, saya suka anak Mojokerto namanya Adam Marucil, dia tidak terlalu detail tapi manis dan beda dari yang lain. Kalau manual, Ilustranesia dan Godmachine. Kalau yang terakhir ini manual dan digital jago.” Katanya lagi, di Makassar sebenarnya banyak yang tahu menggambar tapi tidak kelihatan. Semuanya bersembunyi di kampus. Makanya, dia bersyukur karena Revius berhasil menariknya keluar dari kampus sehingga karyanya bisa dilihat banyak orang. Makanya tuanku Herman selalu bilang, “Revius adalah rumahku, sejauh apapun saya pergi pasti kembalinya selalu ke rumah.” Jadi untuk saat ini selain fokus membuat ilustrasi untuk Revius dan mengikuti lomba-lomba desain, tuanku Herman ini segera menyelesaikan kuliahnya. Sukses, tuan! []


Baca tulisan lainnya

Saya Berharap Ilustrasiku Ibarat Lagu yang Menenteramkan Hati

Sebenarnya Film Sepatu Baru itu Salah Acuan

Saya Benci iTunes!

Ada Dua Kata, Jadilah Berbeda

Do It Fast, Do It First, Do It Your Way