Foto: M. Ifan Aditya ( @ifandfun ) & Saddam Syukri ( @emondamn )

Tepat setelah Shalat Jum’at (4/3), saya mengunjungi Gedung Phinisi UNM untuk pertama kalinya. Sesampainya di sana, saya langsung menuju ke Ruang Teater yang terletak di lantai tiga. Di depan pintu masuk telah dipenuhi para mahasiswa UNM yang antusias mendapatkan tiket masuk program International Symposium on Regional Cinema, Learning for Japan and the potential of East Indonesia, sebuah forum yang diselenggarakan oleh SEAscreen Academy tahun ke-empat. Inilah satu-satunya program terbuka yang diadakan SEAscreen bertajuk Feature Film Development Lab yang berlangsung sejak tanggal 2-6 Maret. Program-program lainnya yang mereka selenggarakan sepanjang tanggal tersebut lebih bersifat intim, hanya antara para mentor dan peserta pembuat film yang sedang dalam masa pengembangan ide dan skrip cerita untuk dibuat ke dalam film panjang. Berbeda dengan SEAscreen tahun sebelumnya yang berfokus kepada basic introducing of filmmaking, diikuti puluhan peserta dengan output pembuatan film pendek di hari terakhir, SEAscreen tahun ini berfokus pada pembuatan film panjang menggunakan skrip yang matang dan hanya menerima 3 tim (berjumlah total 7 orang) saja untuk dilatih.

Memilih Ruang Teater Gedung Phinisi sebagi lokasi penyelenggaraan forum memang terasa sebuah pilihan yang tepat. Ruang Teater-nya sendiri diatur menyerupai gedung bioskop, lengkap dengan kursi yang nyaman dan berukuran sangat luas. Forum yang terdiri dari dua sesi ini dipandu oleh artis Luna Vidya, yang ia buka dengan sebuah lelucon segar, “Nama saya Luna, Vidya, tapi jangan samakan saya dengan Luna Maya. Luna Maya cantik, sedangkan Luna Vidya cerdas”. Sesi pertama dimulai dengan berangkat dari satu pertanyaan penting dari Luna untuk dijawab oleh ketiga pembicara, Tomomi Ishiyama dan Kamila Andini, selaku mentor dan Riri Riza selaku penggagas SEAscreen; Bagaimana upaya perfilman daerah melawan industri film mainstream yang berpusat di Jakarta?

Sesi pertama Simposium bersama moderator Luna Vidya dan ketiga pembicara, Tomomi Ishiyama dan Kamila Andini, selaku mentor serta Riri Riza selaku penggagas Seascreen.

Sesi pertama Simposium Internasional Seascreen bersama moderator Luna Vidya serta ketiga pembicara, Tomomi Ishiyama, Kamila Andini, dan Riri Riza. (Foto: Saddam Syukri)

Menurut Riri Riza: Penting atau tidaknya tergantung persoalan cara melihat potensi suatu wilayah, bukan hanya melihat dan menemukan potensi tersebut, tapi juga bagaimana memanfaatkannya. Sulawesi Selatan sendiri adalah daerah yang punya banyak ladang cerita, seperti La Galigo misalnya. Ini merupakan satu cerita yang bisa diterjemahkan ke dalam berbagai versi dan sudut pandang. Belum lagi Sulawesi Selatan punya karakter etnis yang sangat variatif yang bisa menginspirasi terbentuknya sebuah cerita. Dunia kini semakin terbuka, termasuk pasar film, oleh karenanya ini harus dimanfaatkan dengan menggerakkan semua aspek, bukan hanya pembuat film, produksi, kritik dan komunitas film, tapi juga pendidikan.

Menurut Tomomi Ishiyama: Tokyo tadinya adalah pusat industri film di Jepang hingga akhirnya serangkaian gempa dahsyat melanda negara mereka di tahun 2012. Ini menggerakkan generasi muda keluar dari Tokyo menuju daerah-daerah lain untuk membuat film. Gerakan ini berlangsung secara sporadik, bukan hanya generasi dari Tokyo, generasi di daerah-daerah lain di Jepang kemudian memutuskan untuk membentuk komunitas film dan festival film sendiri. Membuat festival di daerah sendiri adalah usaha yang sangat penting di Jepang. Ada daerah-daerah tertentu di Jepang yang tadinya tidak begitu dikenal atau bahkan hampir mati karena hanya menyisakan generasi tua sementara generasi mudanya bermigrasi, akhirnya menjadi terkenal dan hidup kembali, karena para generasi muda ini kembali, membentuk komunitas film dan festival film berkembang di daerah tersebut. Gerakan ini (pembuatan festival film) penggagasnya bukan cuma datang dari komunitas film dan pembuat film, tapi juga didukung masyarakat lokal dan pemerintah. Ada simbiosis mutualisme, di daerah-daerah di Jepang, pemerintah membutuhkan seniman untuk menghidupkan sebuah daerah (utamanya yang kurang dikenal), sementara para seniman yang sebagian besar beraliran independen membutuhkan dukungan pemerintah dalam membuat festival film guna menjadi platform yang bisa menampilkan karya mereka.

Menurut Kamila Andini: Perlawanan terhadap film mainstream yang berpusat di Jakarta bukan hanya milik sineas daerah di Indonesia. Di Jakarta pun, menjadi sineas Independen adalah sebuah perlawanan. Meski demikian, keberadaan film mainstream dan sidestream ibarat sebuah ekosistem yang saling menjaga. Film mestinya tidak hanya dinilai dari bagus atau tidaknya, tapi juga perlu dilihat dari tujuan penciptaannya, karena tidak semua film dibuat untuk hiburan, dan tidak semua film dibuat untuk tujuan artistik. Bagi pembuat film, yang paling penting jangan pernah malu atau hanya sekedar menunggu kesempatan, mereka harus menciptakannya jalannya.

Ketiga pembicara ini juga sama-sama mengakui bahwa keberadaan festival itu penting sebagai penjaga pola penciptaan sebuah karya sebagai media eksibisi. Riri Riza merasa sudah saatnya komunitas film di Makassar untuk membuat festival film internasionalnya sendiri. Kamila Andini mengambil contoh Jogja-NETPAC Asian Film Festival yang menurutnya ketika pertama kali dibuat hanya dihadiri sedikit sekali penonton, “Tapi seiring berjalannya waktu, orang-orang datang lagi karena penasaran dan ingin mencari tahu kenapa film-film tersebut diputar. Akhirnya seperti yang kita lihat, 10 tahun kemudian Jogja-NETPAC setiap kali diadakan selalu penuh oleh penonton dan menjadi festival yang dinanti-nanti”. Menurut Tomomi, di Jepang sendiri, Karya seni dari filmmaker indie yang dianggap bersifat art umumnya hanya bisa dipamerkan melalui festival film, itulah alasan mengapa festival film diperlukan dan berkembang di sana, karena untuk menembus bioskop konvensional juga adalah sulit bagi film indie. Mendengar penjelasan Tomomi tentang pergerakan sineas muda pasca gempa membuat saya sempat berpikir, apakah Indonesia juga butuh gempa bumi yang lebih besar untuk menggerakkan para sineas dan komunitas filmnya?

Sesi ke-dua kemudian menghadirkan dua pembicara yang dianggap sudah melakukan perlawanan melalui perfilman daerah. Yang pertama, Sunarti Sain, produser film Bombe 2 berhasil masuk jaringan bioskop konvensional yang penontonnya menembus angka 50 ribu, dan yang kedua, Yosep Anggi Noen, sineas asal Jogja, kota yang membentuk basis perfilmannya sendiri. Anggi dikenal lewat film-nya berjudul Vakansi yang Janggal dan Penyakit Lainnya telah membuat film sejak duduk di bangku SMP. Ketertarikannya menjadi mentor di SEAscreen ia akui karena keinginannya untuk bertemu dengan orang-orang yang sama seperti dirinya, membuat film tapi tak pernah sekolah film. Inti pertanyaan yang diajukan oleh Luna Vidya untuk kedua pembicara ini adalah bagaimana rasanya melakukan perlawanan terhadap mainstream? Termasuk cara pandang mereka terhadap bioskop konvensional.

Sesi ke-dua kemudian menghadirkan dua pembicara yang dianggap sudah melakukan perlawanan melalui perfilman daerah, Sunarti Sain dan Yosep Anggi Noen.

Sesi ke-dua kemudian menghadirkan dua pembicara yang dianggap sudah melakukan perlawanan melalui perfilman daerah, Sunarti Sain dan Yosep Anggi Noen. (Foto: Saddam Syukri)

Menurut Sunarti Sain, ia masih baru dalam urusan produser, dan profesi yang ia jalani ini masih dalam proses belajar. “Saya memilih profesi ini karena saya punya jaringan untuk masuk ke bioskop-bioskop konvensional dan merasa film daerah punya peluang untuk mendobrak industri mainstream.” Awal-awal mau memasukkan film yang ia produseri pun butuh perjuangan berat dan proses yang panjang. Dominasi film barat itu perlu dilawan, dan anggapan bahwa film daerah itu tidak bermutu juga patut dipertanyakan, karena belum ada yang bisa menentukan ukuran kelayakan sebuah film daerah.

Yosep Anggi Noen berkomentar tentang Jakarta yang dianggap sebagai pusat (perfilman) karena orang-orang melihatnya sebagai pusat cerita. Padahal yang paling utama sebenarnya bukan darimana cerita itu berasal, tapi apakah kita punya cerita untuk diceritakan atau tidak. Oleh karenanya penting bagi Anggi memiliki kepercayaan diri ketika menyangkut memamerkan sebuah karya. Sama halnya durability juga penting, memiliki semangat untuk terus bercerita melalui film. Jangan hanya membuat satu film saja kemudian tidak pernah muncul lagi. Dengan memanfaatkan lokalitas, ada banyak peristiwa yang bisa ditemukan, tapi intinya adalah bercerita, apalah gunanya merekam sebuah peristiwa tapi tidak memiliki cerita. Peristiwa itu penting tapi ceritalah yang membuat orang jatuh cinta. Vakansi Yang Janggal dan Penyakit Lainnya karya Anggi juga pernah tayang di bioskop, tapi hanya di beberapa kota saja dan bertahan dalam waktu hitungan jari. Ini mungkin menjadikannya sebagai film lokal yang paling gagal dalam lingkup bioskop konvensional (Dengan nada sarkasme). “Saya tidak pernah melihat masuknya Vakansi Yang Janggal dalam jaringan bioskop konvensional adalah sebuah keberhasilan. Saya melihatnya sebagai usaha mereka (pemilik jaringan bioskop konvensional) untuk membuat saya diam, pasca kritikan saya di depan publik tentang cara kerja mereka”.

Pernyataan Sunarti tentang usahanya mendobrak industri mainstream di Makassar kemudian menuai semacam kritik dari penulis puisi, Aan Mansyur, yang muncul dari barisan bangku peserta forum. Menurut Aan, cara Sunarti terhadap film-film lokal yang ia produseri malah terlihat bukan sebagai perlawanan tetapi justru melebur ke dalam industri mainstream. Dan jika memang demikian, tindakan tersebut justru akan mematahkan semangat sineas lokal untuk mengambil langkah mereka sendiri, yaitu di jalur independen. Sunarti lalu menegaskan kembali bahwa perlawanan yang ia maksud adalah perlawanan menolak dianggap daerah, perlawanan melawan kapitalisme. Ini adalah perlawanan untuk memperlihatkan di dunia luar bahwa industri perfilman juga sedang tumbuh di Makassar, dan untuk memperlihatkannya dibutuhkan penonton. Dan untuk menjangkau penonton yang lebih luas dalam memperkenalkan lokalitas, dibutuhkan jaringan bioskop konvensional ini.

Persoalan mengenai penonton dan independen lalu menarik perhatian Anggi untuk memberi pendapat. “Penonton bagi filmmaker adalah penting, film hanya bisa dikatakan sahih jika memiliki penonton. Tapi menjadi independen adalah persoalan lain”, ungkap Anggi. Ia menjelaskan bahwa menjadi independen bukan cuma karena membuat film dengan budget sendiri, tapi juga membuat film dengan gagasan orisinil, salah satunya bentuknya adalah dengan tidak membiarkan penonton mendikte atau mendesign cerita yang ingin filmmaker sampaikan. “Film sudah ada sejak berpuluh-puluh tahun yang lalu, betapa ketinggalannya kita jika hanya membuat film yang selalu sama dengan gagasan yang sama. Dengan tidak membiarkan penonton mendikte, filmmaker harus menemukan gaya bertutur yang berbeda”. Anggi yang menganggap film adalah kuil untuk merenung berpendapat bahwa dengan mengangkat isu lokalitas, sebuah film tetap bisa tampil kekinian. Ini mengingatkan saya dengan Kisah Cinta yang Asu, film pendek karya Anggi yang saya tonton di Rumata’ Artspace tahun lalu. Waktu itu isu begal dan geng motor masih marak di berbagai kota, dan dalam film tersebut karakter utama pria-nya merupakan anggota geng motor yang sering meresahkan warga.

Mendekati waktu Maghrib, forum ini akhirnya ditutup dengan sebuah pernyataan dari Riri Riza dalam menanggapi persoalan sulitnya film daerah masuk ke dalam jaringan bioskop konvensional. Menurutnya, persoalan ini bukan hanya dihadapi perfilman daerah, tapi semua film (genre). Selalu sulit menembus jaringan bioskop karena mereka punya pakem sendiri yang sulit melunak. Sebuah pakem, sebuah hegemoni, yang sebenarnya dibentuk oleh para penonton itu sendiri.

Di penghujung acara, hanya sedikit peserta forum yang tersisa, banyak dari mereka telah keluar ketika forum tengah berlangsung. Saya juga sempat memperhatikan di pertengahan forum, banyak dari peserta mulai kehilangan fokus dan asyik mengajak teman duduk mereka bercerita, malah ada sekelompok peserta laki-laki yang keberadaan mereka dalam ruangan terasa mengganggu karena volume suara obrolan mereka menandingi volume suara para pembicara. Syukurlah mereka keluar sebelum acara benar-benar usai. Entah apa sebenarnya yang penonton-penonton tipe seperti harapkan ketika menghadiri forum diskusi seperti ini, mau dianggap eksis?

Esok harinya, di Sabtu malam (4/4) saya berkesempatan hadir lagi dalam acara SEAscreen yang bertajuk Media Meeting and Reception. Kegiatan ini selain menghadirkan pertunjukan musik dari musisi lokal seperti Fami Redwan dan Rizcky de Keizer, juga menghadirkan obrolan ringkas dan ringan dengan para peserta dan mentor SEAscreen mengenai pengalaman atau kesan yang mereka dapat selama mengikuti kegiatan.

Tomomi Ishiyama dan Riri Riza berbincang dengan MC Benny Wahyu di Media Gathering and Reception SEAScreen Academy 2016.

Tomomi Ishiyama dan Riri Riza berbincang dengan hadirin di Media Meeting and Reception SEAScreen Academy 2016. (Foto: M. Ifan Adhitya)

Yosep Anggi Noen dan Kamila Andini di Media Meeting and Reception SEAScreen Academy 2016. (Foto: M. Ifan Adhitya)

Yosep Anggi Noen dan Kamila Andini dengan MC Benny Wahyu di Media Meeting and Reception SEAScreen Academy 2016. (Foto: M. Ifan Adhitya)

Bagi Yandy Laurens, mengikuti SEAscreen seperti mengerjakan persoalan matematika dengan cara yang menyenangkan. Proses yang dijalani menuntutnya bekerja secara serius dan tekun, tetapi mentor-mentornya sangat membantu dan menyenangkan. Sementara rekan se-tim Yandy, Andi Burhamzah secara bercanda mengatakan, “Setelah bertemu dan belajar dari para mentor ini, saya akhirnya sadar bahwa film-film buatan saya selama ini jelek”. Yandy dan Andi merupakan satu tim dalam proyek cerita berjudul Deni dan Andi yang terinspirasi dari peristiwa kerusuhan Mei ’98 berlatar Makassar.

Andi Burhamzah dan Yandy Laurens bersinergi dalam mengangkat kisah Deni dan Andi.

Andi Burhamzah dan Yandy Laurens bersinergi dalam mengangkat kisah Deni dan Andi. (Foto: M. Ifan Adhitya)

Selain itu ada juga Agustinus Sudarsa dari proyek cerita berjudul Ujan Segera Pergi yang diinspirasi dari tradisi masyarakat Suku Dayak, yang berpendapat bahwa mengunjungi Makassar dan mengikuti Seascreen adalah sebuah proses menyegarkan dan memberikan banyak pengalaman dan ide baru, bukan cuman berpengaruh terhadap cerita yang sedang ia gagas, tapi juga menginspirasinya menulis sesuatu yang lain begitu ia kembali ke kampung halamannya, Balikpapan. Rekan se-tim Agustinus ada Wucha Wulandari dan Nastitya Diesta Whiwandra.

Agustinus Sudarsa, Wucha Wulandari dan Nastitya Diesta Whiwandra ketika berbincang pada Media Gathering SEAscreen, 5 Maret 2016.

Agustinus Sudarsa, Wucha Wulandari dan Nastitya Diesta Whiwandra ketika berbincang pada Media Gathering SEAscreen Academy 2016. (Foto: M. Ifan Adhitya)

Dan terakhir, ada Yusuf Radjamuda dan Zulkifly Pagessa dengan proyek cerita berjudul Mountain Song, berfokus pada ritual adat bernama Raego milik masyarakat pedesaan di pegunungan Pipikoro, Sulawesi Tengah, yang letaknya sangat sulit dijangkau. Bagi Yusuf, yang paling penting dari SEAscreen adalah prosesnya, proses berbagi pengalaman dan pengetahuan, entah nanti ide cerita lolos atau tidak itu urusan belakangan. Walau Yusuf sudah cukup dikenal dengan film pendek Halaman Belakang yang pernah berkeliling ke banyak festival film dalam dan luar negeri, ia tak lantas jumawa. Antara dia dan peserta SEAscreen lainnya tak ada yang membedakan, “kami berada di posisi yang sama saat ini, sedang dalam proses menciptakan karya yang baru”, imbuhnya.

Yusuf Radjamuda yang hadir di SEAScreen Academy dengan cerita berjudul Mountain Song.

Yusuf Radjamuda hadir di SEAScreen Academy dengan cerita berjudul Mountain Song. Bagi Yusuf, yang paling penting dari SEAscreen adalah prosesnya. (Foto: M. Ifan Adhitya)

Riri Riza menjelaskan ketiga cerita di atas diharapkan sudah siap beserta dengan proposal budget yang make sense sepanjang Maret-Agustus, sebelum  diserahkan ke para comitee SEAscreen untuk diseleksi kembali. Pemenangnya akan diumumkan di bulan Oktober 2016. Riri Riza kemudian mengungkapkan alasan di balik perubahan format SEAscreen. “Seascreen Academy di tiga tahun terakhir telah bekerjasama dengan 40 filmmaker muda dari seluruh penjuru Indonesia Timur. Saya tahu bahwa setelah mengikuti SEAscreen, mereka sendiri telah berhasil menghasilkan banyak karya film pendek yang baru. Inilah yang menginspirasi saya untuk merubah format Seascreen yang fokusnya menciptakan satu film panjang, karena saya percaya ke 40 peserta tersebut pasti punya ide yang lebih besar, mimpi untuk membuat satu karya film panjang”. Riri juga selalu kagum dengan film-film pendek yang ia temukan di Makassar yang sebagian besar dibuat dengan statemen lokalitas yang sangat kuat, ini juga alasan mengapa ia ingin terlibat dan menyumbangkan sesuatu bagi Makassar dalam hal film, dan SEAscreen Academy adalah salah satu bentuk sumbangsihnya. []


Baca artikel lainnya dari Kemal Putra

The Layar Tancap: Satu Lagi Bioskop Alternatif di Makassar

Surat Cinta dari Joko Anwar

5 Film Paling Dinanti yang Bakal Gagal Kamu Saksikan di Bioskop Tahun 2016

The Force Should Not Be Awaken

Akhir Perang yang Sia-Sia