Oleh: Halia Asriyani* ( @alyahaliaa )| Ilustrasi: Aisyah Azalya ( @syhzly )

Pinus sudah ada sejak zaman pemerintahan kolonial Belanda menguasai Nusantara. Konon untuk membuat iklim Indonesia mirip dengan iklim daerah asal mereka, para penjajah sengaja menanam pinus di tempat-tempat yang mereka kuasai. Keberadaan hutan pinus di suatu daerah memang menambah hawa yang sejuk dan segar karena daunnya yang rimbun.

Tanaman monokotil tersebut memiliki ciri batang berbentuk bulat simetris, lurus tegak serta terdapat alur yang dalam di kulit luarnya. Di Indonesia, jenis pinus yang tumbuh adalah Pinus Merkusii. Bentuk daunnya seperti jarum dengan jumlah dua helai dengan tepi daun bergerigi halus. Cabang-cabang yang ada di bagian tengah hingga atas pohonnya membentuk putaran yang teratur. Tinggi berkisar 20 hingga 40 meter. Pada umumnya, pinus dapat tumbuh di daerah beriklim sedang hingga dingin yaitu daerah yang berkisar antara ketinggian 400 hingga 1800 meter di atas permukaan laut. Maka dari itu, di daerah lereng gunung tidak jarang ditemui hutan-hutan pinus.

Meskipun pada awalnya tumbuh secara alami, namun kini, pinus telah dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan. Kayunya digunakan untuk keperluan konstruksi ringan dan meubel. Hasil lainnya berupa getah yang diolah menjadi minyak yang mengandung senyawa terpentin. Minyak itu berfungsi sebagai pelarut untuk mengencerkan cat minyak bahan campuran vernis yang biasa digunakan untuk mengkilapkan permukaan kayu. Selain itu juga mengandung senyawa gondoruk menyang digunakan sebagai bahan kosmetik dan sabun mandi, termasuk bahan baku industri kertas, plastik, keramik, dan cat batik. Aroma minyak hasil getah pinus ini juga sangat harum sehingga biasa digunakan untuk aroma parfum pada ruangan dan kapur barus. Buah pinus sendiri oleh pengrajin dapat dijadikan sebagai kerajinan tangan seperti gantungan kunci.

Pinus adalah salah satu tanaman yang tidak memerlukan banyak perawatan. Mampu tumbuh baik meskipun di tanah yang kurang subur, berpasir, hingga berbatu. Hal tersebut membuat pinus menjadi tanaman yang banyak dibudidayakan untuk konservasi lahan. Termasuk yang ada di Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan.

Terhampar hijau di sebagian besar wilayah Sinjai Barat dan Tengah, dua kecamatan di Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan. Sejak tahun 1980 pinus ini memang sengaja ditanam oleh pemerintah untuk program reboisasi. Warga boleh untuk mengelola pohon-pohon pinus tersebut. Getahnya bisa disadap dan dijual seharga Rp 4.500/liternya. Kecuali untuk ditebang. Sebab, daerah hutan pinus tersebut berada di kawasan hutan lindung yang berada di bawah naungan Dinas Kehutanan setempat.

Celakanya, di balik keberadaan hutan pinus ini ada bahaya yang mengancam masyarakat. Khususnya di daerah resapan air, pinus sangat tidak cocok untuk ditanam. Sebab, pinus memiliki daun jarum yang banyak memiliki stomata, sehingga akan banyak menyerap dan menguapkan air.

Selain itu, daun pinus yang jatuh ke tanah akan sulit terlapuk dan menyebabkan air hujan sulit masuk ke dalam tanah. Banyaknya air yang diuapkan pinus dan ditambah sedikitnya air yang meresap ke tanah ini membuat cadangan air dalam tanah menipis. Efeknya pada musim kemarau, daerah yang berada di sekitar hutan pinus akan mengalami kekeringan.

Menurut keterangan warga di Dusun Bontolaisa, Desa Gantarang, Kecamatan Sinjai Tengah, sejak tahun 1990 ketika pinus mulai tumbuh besar dan diproduksi hasilnya, kondisi air di dusun tersebut mulai tidak normal. Di daerah yang terletak tidak jauh dari kawasan hutan pinus ini pada musim kemarau, antara Juni hingga November, warga kesulitan memperoleh air bersih. Air yang mengalir ke rumah warga sangat sedikit dan harus dijatah.

Semakin tahun, keadaannya semakin parah. Sebagian besar rumah warga di Lorong Tallassang yang terletak di Dusun Bontolaisa sama sekali tak teraliri air. Akibatnya warga harus mengantri untuk mengambil air di penampungan yang terdapat di salah satu kebun milik warga.

Akibat lain yang ditimbulkan oleh pinus adalah bencana longsor. Jenis pohon pinus yang besar dan berat membuat tanah kelebihan beban. Apalagi jika pinus tersebut berada di lereng gunung. Saat musim hujan tiba, tanah akan menjadi berat dan jenuh sehingga mudah runtuh.

Pohon pinus berpotensi lebih besar menyebabkan kebakaran hutan. Zat terpentin yang terdapat pada batang pohon pinus adalah zat yang mudah terbakar. Selain itu, tumpukan daun-daun pinus yang gugur tidak mudah membusuk secara alami sehingga jika terjadi kebakaran akan dengan mudah menyebar dan sulit dipadamkan.

Tahun lalu, Hutan Lindung Bulu Pattiorang, Kecamatan Sinjai Barat, mengalami dua kali kebakaran. Musim kemarau panjang menyebabkan pohon pinus mengalami kekeringan sehingga mudah tersulut api, bahkan dengan api rokok sekalipun. Kebakaran yang kedua, Oktober tahun lalu, menghanguskan 1,6 hektar kawasan hutan pinus hanya dalam waktu dua jam.

Tidak lama berselang, Dinas Kehutanan kembali mengadakan reboisasi dengan pohon pinus di daerah Kandreapia, Kecamatan Tombolopao, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Daerah yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Sinjai pada bagian timurnya ini memang daerah yang kaya akan pinus.

Di masa depan, 10 tahun kemudian, pinus-pinus itu akan tumbuh besar memberikan manfaat sekaligus bahaya yang mengancam masyarakat. Sepatutnya, konservasi bukan hanya soal menghijaukan lahan yang gundul. Tetapi, tetap harus memperhatikan manfaat dan dampak yang ditimbulkan bagi masyarakat yang hidup di sekitarnya. Tapi apa pentingnya untuk kita? Selagi masih tegak dan hijau digantungi Hammock, selagi masih mampu mengundang likes di Instagram, Pinus dan kita masih baik-baik saja, bukan? []

*Penulis adalah pegiat ruang baca Philosophia, mengikuti pelatihan penelitian desa bersama Sekolah Rakyat Petani Payo-Payo.


Baca tulisan lainnya

Ilusi Kelangkaan Pangan

Harga yang Harus Ditebus untuk Sebotol Madu

Perjalanan ke Barat

Tempat Lezatnya Cokelat Bermula

Panen Hasil Bumi, Panen Kolaborasi

Untuk Kamu yang Masih Peduli Kepada Bumi

Karena Hasil Bumi Tidak Bisa Ditukar dengan Beton

Membuka Celah Sebab-Akibat Negara Gagal