Foto: M. Ifan Adhitya (@ifandfun)

Setelah mengeluarkan single “Refraction from The Sun”, “Note of Anxiety”,”Night and Memory”  di tahun 2011 sampai 2012 dan mini album untuk pertama kalinya yang bertajuk Dialog Ujung Suar pada tahun 2013, Theory of Discoustic akhirnya menelurkan kembali karya terbaru lewat mini album berikutnya, Alkisah yang dirilis dalam bentuk format cakram padat atau compact disc beberapa waktu yang lalu. Ya, puji syukur pun saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Pemurah, telah memberikan “hidayah” kepada Theory of Discoustic untuk mau merilis albumnya secara nyata di depan mata.

Penantian panjang untuk melihat langsung rilisan fisik Theory of Discoustic ini cukup dramatis–kalau perlu sampai menye-menye— bagi saya dan mungkin saja beberapa penikmat Theory of Discoustic yang cukup menyayangkan mini album pertama mereka, Dialog Ujung Suar ternyata hanya dirilis dalam bentuk digital saja pada tahun lalu.

Album terbaru Theory of Discoustic Alkisah, yang akhir dirilis dalam bentuk fisik. Tampilan album yang unik dengan bersarungkan kantung saku dari bahan kain blacu.

Mini album terbaru Theory of Discoustic bertajuk Alkisah, yang akhirnya rilis dalam bentuk fisik. Tampilan album yang unik dengan bersarungkan tempat dari bahan kain blacu.

Sebelumnya di album Dialog Ujung Suar, Theory of Discoustic menampilkan beberapa lagu-lagu ringan nan indah dengan unsur cerita rakyat dari Sulawesi Selatan seperti “Bias Bukit Harapan” dan “Harapan Musim Penghujan”. Sedangkan di Alkisah kembali menghadirkan formula  musik folk akustik yang sama, namun lebih eksploratif dalam ritmis, lebih perkusif namun tetap nyaman untuk didengarkan tanpa butuh kebisingan yang tidak perlu. Terinspirasi dari keragaman budaya masyarakat Bugis, Theory of Discoustic pun membenamkan aransemen Alkisah dengan lirik-lirik yang tidak biasanya hadir di kelompok musik folk lainnya yang pernah saya simak.

Pada lagu “Satu Haluan” yang tersirat mengangkat tentang gagah beraninya para pelaut masyarakat Bugis dalam menerjang laut seolah-olah membuat saya membayangkan lagu ini seperti pengiring dalam perjalanan Sawerigading dalam satu episode “Ritumpanna Welenrennge” dalam epos I La Galigo. Simak saja liriknya yang berbunyi, “Arus deras menggerakkan geladak tuk berontak/Tak putar balikkan haluan hingga kapal pun bersandar/Biar teng­gelam, menantang aral tak putar arah”.

“Satu Haluan” pun sepertinya menjadi lumbung eksplorasi Theory of Discoustic dengan menghadirkan teriakan vokal serupa yodel pelan yang diimbuhi reverb yang pekat, lalu pada pertengahan lagu perlahan-lahan menurun tensi lagu untuk melanjutkan lagi dengan yodel yang sama di awal lagu. Pada saat awal mendengarkan lagu ini, cukup aneh rasanya. Namun ternyata setelah didengar berulang-ulang baru saya rasakan kalau ini adalah bagian yang menjadi ciri khas dari Theory of Discoutic — berusaha tidak tampil monoton pada setiap aransemen lagunya.

Kemudian mereka menapak lagi di “Negeri Sedarah” dengan tema yang lebih menyentil persoalan kemanusiaan yang tampaknya masih relevan di masa sekarang, di mana masih ada individu yang mementingkan kepentingan pribadinya atau golongannya, dibandingkan kepentingan orang banyak. Simak saja liriknya: “tinggalkan/ingkari kebenaran”. Tanpa perlu menjadi marah secara eksplisit, Theory of Discoustic membungkusnya dengan kegeraman yang cerdas tanpa kehilangan ciri khas folk dari Theory of Discoustic sekali lagi.

“Lengkara” pada urutan lagu berikutnya yang memiliki larik Alam raya berlimpah/Bukan sebuah lengkara, sudah dipastikan menjadi track paling favorit saya seketika saat pertama kali mendengarnya. Semacam pancaran positif untuk menjaga lingkungan ingin disampaikan oleh Theory Of Discoustic dalam setiap sulaman larik dengan larik di lagu ini menjadi sebuah kesatuan yang menakjubkan.

Theory of Discoustic dengan formasi terkini yang cukup solid saat tampil di Sepiring Culinary Festival, 23 November lalu.

Theory of Discoustic dengan formasi terkini yaitu Dian Megawati (vokal/harmonika), Reza Enem dan Nugraha Pramayudi (gitar), Fadly FM (bass), Hamzarullah (drum/perkusi), serta Adriady Setia Dharma (keyboards/perku­si). Mereka tampil cukup solid membawakan seluruh lagu dalam album Alkisah di Sepiring Culinary Festival, 23 November lalu.

Kemudian “Alkisah” pun menutup perjalanan panjang tiga lagu sebelumnya cukup dengan satu lariknya kisah melagu/lintasi masa dan waktu dengan Dian, sang vokalis yang bernyanyi seperti mengingatkan saya sekilas dengan yodel a la Fleet Foxes bertemu dengan musisi legendaris Afrika,  Fela Kuti, namun tetap menghadirkan karya bernuansa folk modern dengan memadukan ornamen bebunyian tradisional yang sudah mengakar berabad-abad lamanya.

Sebuah penutup sempurna dari semua pengorbanan Theory of Discoustic dalam merilis sebuah karya epik yang mampu menerangkan jalan mereka menjadi band folk paling mempesona di kota ini. Dan yang membanggakan lagi, mereka bisa mengangkat lagi semangat para musisi-musisi di kota ini untuk merilis albumnya lebih banyak lagi pada tahun depan. Semoga saja ini pertanda baik bagi kita semua. []