Ilustrasi: Fandy Achmad Hamid ( @achmad_hamid )

Saya selalu mewaspadai dua hal dalam hidup; jawaban dan kepastian. Terhadap yang pertama, di tengah taman, saya akan menangkap banyak kupu-kupu meskipun sadar tidak semua dan mungkin tidak ada, yang bisa saya rawat dan menetap di rumah. Terhadap yang kedua, di dalam kepala ini, segala sesuatu terbelah dan tidak pernah selesai, memastikan sesuatu hanya membuatnya menjadi kesia-siaan belaka.

Dalam sebuah kesempatan diskusi, ketika berbicara tentang proses kreatif, saya memilih berbagi tentang pengalaman di awal menulis dan pertanyaan-pertanyaan yang datang dari teman-teman sekitar saat itu.

Sebutlah lima tahun lalu, meski mungkin kurang lebih, bersama beberapa teman, kami memutuskan mulai menjalani salah satu tugas mahasiswa sastra; menulis. Tidak jelas mengapa demikian, awalnya kami hanya senang membaca dan sesekali diskusi kecil-kecilan tentang apa yang kami temukan.

Penjelajahan dimulai dari salah satu periodesasi sastra buatan H. B Jassin, Balai Pustaka. Robohnya Surau Kami milik A. A. Navis memulai pelahapan kami terhadap karya angkatan mereka.

Seiring waktu berjalan, kesenangan saya menulis puisi – juga beberapa teman lain, membuat diskusi semakin menarik. Hingga pada sebuah perjumpaan, teman saya bertanya, “Kenapa-ko kau masih menulis puisi, baru ada-mi Aan Mansyur?” pertanyaan yang akhirnya membuat dia lebih sering dan tekun menulis prosa. Pada kesempatan lainnya, teman itu mengajak saya untuk membenci Aan, baik dalam karya maupun pribadi. Dengan alasan, jika tidak demikian, kami kesulitan terlepas dari bayang-bayangnya.

Saya terbiasa untuk tidak menjawab pertanyaan dan pernyataan semacam itu. Tapi dalam benak, sebuah pertanyaan menyusun tubuhnya sendiri, apakah dengan membenci, saya bisa sehat dan terlepas dari bayang-bayang seseorang? Move on tidak semudah itu, Gaes.

Secara sadar, ketika memutuskan menjadi penulis puisi, saya tinggal di sebuah kota di mana Aan Mansyur begitu berpengaruh dan mendominasi banyak penulis muda. Dan tawaran membencinya bukan pilihan yang baik, setidaknya bagi saya, untuk usaha menemukan dan berkenalan dengan proses kreatif itu sendiri.

Maka yang saya lakukan adalah sebaliknya, saya berusaha mengenal – bahkan jika perlu hingga cara kencingnya, dengan penyair yang saya senangi karyanya. Itulah yang membuat saya membaca puisi-puisi melalui jejak generasi, dimulai dari Sitor Situmorang, Afrizal Malna, Aslan Abidin, dan Aan Mansyur. Beruntung karena dua di antara mereka berada di kota yang sama dengan saya.

Saya tidak tahu apakah pilihan ini salah dan pilihan teman saya benar. Atau mungkin sebaliknya atau tidak kedua-duanya. Saya tidak tahu sekaligus ragu. Yang saya lakukan hanya berusaha dan terus berusaha menemukan jawaban paling sederhana tentang apa itu puisi?

Cara saya saat ini untuk menemukan jawaban itu, dengan membaca sedikit buku – secara jumlah barangkali dalam setahun hanya dua puluh hingga dua puluh lima, dan mengulang-ngulangnya sebanyak mungkin. Selain karena saya sadar kemampuan otak saya mencerna sesuatu memang tidak begitu kuat, itu juga melatih saya untuk fokus terhadap sebuah frame tertentu. Sekali lagi, saya tidak tahu apakah cara ini benar.

Saya selalu mewaspadai dua hal dalam hidup; jawaban dan kepastian. Di kota ini, beberapa penyair muda masih sering terjebak dan mempertanyakan hal serupa. Semisal, mengapa banyak sekali yang ingin menulis puisi dan menjadi penyair? Atau bagaimana cara menaklukkan penyair yang puisinya lebih kuat dari dirinya?

Pertanyaan pertama hanya membenarkan penggalan soneta Neruda, mungkin karena puisi adalah between the shadow and the soul. Tapi untuk menaklukkan penyair lain? Bagi saya, dunia puisi – juga persajakan, harus terlepas dari ambisi kepanikan semacam itu. Saya tidak tertarik kesurupan dengan praktik bahwa, untuk tumbuh harus menebang dulu. Kenapa kita tidak sama-sama tumbuh? Bukankah itu jauh lebih sehat.

Jika pada akhirnya saya memang harus menebang, maka pilihannya adalah menghilangkan beberapa bagian paling mengganggu dalam hidup saya. Semacam menonaktifkan akun facebook, melepas instagram, dan membiarkan path menjadi museum. Itu yang saya lakukan. Dan sekali lagi, saya tidak tahu apakah cara ini yang benar. Saya hanya rindu. Rindu sama siapa? Entahlah. Mungkin seseorang yang di kejauhan sana sedang membaca tulisan ini.

Saat ini saya merasa cukup muda untuk melakukan banyak hal, tapi bayangan bahwa yang saya lalui adalah jalan kecil menjadi tua, membuat saya hanya bisa memilih sedikit hal di dunia ini dan tenggelam di dalamnya. Dan kini, puisi adalah laut yang saya pilih. Maukah kau membantuku bertukar napas ketika tenggelam bersama?  


Baca tulisan lainnya

Rangga adalah Sastrawan Sosialita Kita

Tiada Cinta yang Kekal dan Percuma

Tiga Puisi yang Paling Berpengaruh dalam Hidup Saya

Tujuh Istilah Cinta yang Harus Kamu Ketahui Sebelum Patah Hati

Belajar Jatuh Cinta dari Vicky Prasetyo

Luffi dan Feodalisme Bahasa

Kita Butuh Berita Kepada Kawan, Bukan Lawan

Pesantren, Senyum Enigmatik Monalisa dan Pinokio