Sumber Gambar: Pygmy Marmoset ( @pygmos )

Mengawali tahun 2016 ini bisa dimulai dengan hal-hal yang sederhana. Salah satunya dengan berkumpul bersama keluarga untuk bercerita apa saja selepas  melakukan rutinitas sehari-hari. Bercerita sambil menikmati penganan ringan di kala senja. Cerita-cerita itulah yang berusaha dibingkai oleh Pygmy Marmoset dalam “Cerita Senja”.

Tunggu dulu, Pygmy Marmoset yang dimaksud di sini bukanlah monyet mungil yang hidup di hutan tropis Amerika Latin. Melainkan dua orang bernama Zenith Syahrani dan I Wayan Sanjaya  Putra yang membentuk Pygmy Marmoset.  Agar lebih hemat diucapkan, Pygmy Marmoset sering menyingkat namanya menjadi Pygmos. Duo pemusik folk asal Bali yang telah merilis album pertamanya bertajuk Kabar dari Hutan di tahun 2014 dan baru saja mengeluarkan lagu terbarunya “Cerita Senja” pada Januari 2016.

Lagu yang menurut mereka adalah sebuah kisah sederhana tentang bagaimana kita tidak lupa untuk bersyukur atau berbahagia atas segala sesuatu yang sudah terjadi hari itu dan bisa menemani waktu istirahat di kala senja. Di lagu terbarunya, Pygmos masih mengangkat tema sederhana untuk menemani kita merebahkan tubuh yang lelah setelah melewati hari yang panjang. Coba dengarkan lagu ini ketika langit sore mulai berwarna kuning keemasan, terkadang berwarna jingga, terkadang magenta.

Duo folk Pygmos dari Bali, Zenith Syahrani dan I Wayan Sanjaya Putra.

Duo folk Pygmos dari Bali, Zenith Syahrani dan I Wayan Sanjaya Putra.

Muhammad Indra Gunawan punya catatan khusus tentang “Cerita Senja” dari Pygmos. Teman yang seringkali saya sapa Igun ini mengatakan, “Cerita Senja” seolah-olah mengajak kita kembali mengingat apa saja yang kita sudah lewati hari itu. Apakah kamu sudah menjadi yang terbaik untuk dirimu hari ini? Igun yakin setiap orang punya cara masing-masing menikmati senja tersebut. Mungkin akan diabadikan dalam layar berwarna telepon genggamnya atau sembari menikmati kopi panas yang dihidangkan diatas meja. Terkadang pula senja membuat seseorang menjadi sangat melankolis.

Saya sepakat dengan yang Igun tuturkan tentang “Cerita Senja”. Musik folk yang membungkus manis suara vokal dari Zenith Syahrani yang bersenandung merdu dengan permainan gitar I Wayan Sanjaya Putra dalam lagu ini.  Walaupun lagunya menyenangkan, musik folk yang ditawarkan Pygmos dalam lagu “Cerita Senja” sepertinya lazim ditemukan pada band-band folk Indonesia, yang otomatis mengingatkan saya pada lagu-lagu dari Banda Neira dan Nosstress.

Di balik banyaknya kemiripan dengan band-band folk tersebut, “Cerita Senja” ternyata membuat saya ingin mendengar berulang-ulang setelah pertama kali mendengarnya. Entah ‘sihir’ apa yang Pygmos taruh dalam lagu ini. Mungkin saja ini upaya sistematis agar saya segera memesan album perdana Pygmos, Kabar dari Hutan yang belum pernah saya dengar sekalipun.

Bukan itu saja yang membuat “Cerita Senja” terasa berbeda. Ada pola repetitif dari segi lirik seperti dalam larik melagukan rindu, semerdu senandung senja yang membuat perasaan saya menjadi tenteram. Pola yang bisa dipakai juga untuk musisi-musisi folk dari Makassar seperti Ruang Baca dan My Silver Lining dalam memadukan lirik dan musik yang mudah diterima oleh kuping penikmat musik Makassar. Terlepas dari itu, “Cerita Senja” tampaknya bakal masuk dalam daftar lagu saya yang bisa dinikmati kala berkendara dan bercengkerama bersama keluarga di akhir pekan ini menjelang enam sore.

Sebelum semakin banyak cerita-cerita yang saya dituliskan, sebaiknya segera simak tembang “Cerita Senja” berikut ini. Jangan lupa, tuliskan kesanmu tentang lagunya di kolom komentar di bawah tulisan ini.

P.S. : Pygmy Marmoset juga merilis video terbarunya, “Cerita tentang Pohon”. tonton videonya di sini.


Baca tulisan lainnya dari Achmad Nirwan

Yang Diwariskan David Bowie Bukanlah Musik

Semangat Anti Kemapanan yang Terus Berjalan

Banyak Jalan Menuju Kemerdekaan Bermusik

Panggung Memukau milik Musisi Indie

Musik Kontemporer itu Seperti Virus

Membuka Jejak Semesta dan Rupa Pesona