Perkenalan saya dengan Revius terjadi pada bulan Februari yang menurut orang-orang adalah bulannya kasih sayang. Berawal dari penulis kesukaan saya, Aan Mansyur, Ia membagikan tulisannya berjudul “Sejumlah Kumpulan Cerpen Indonesia yang Saya Baca Dua Kali Atau Lebih”. Saya membacanya dengan runut dan sedikit manggut-manggut. Saya sadar beberapa kumpulan cerpen tadi memang belum pernah saya baca sebelumnya.

Kemudian di bulan Maret, saya membaca cerpen dari penulis yang sama berjudul “Beberapa Jam Sebelum Seseorang Menemukan Mayatku”. Cerpen yang saya baca di teras depan kos teman dengan terburu-buru namun tetap bisa saya cerna dengan baik. Dan dari itu semua, tulisan yang pernah saya tatap beberapa detik melalui layar handphone tapi segera saya tutup karena terlihat terlalu panjang dan saya terlalu terkejar waktu saat itu adalah tulisan lain yang berjudul “Apa Judul yang Cocok Untuk Tulisan Ini Menurut Kamu”. Tidak beberapa lama setelah membaca cerpen yang tadi, saya kembali membuka tulisan tersebut. Saya berusaha membacanya dengan baik. Untuk pertama kalinya, saya menemukan tulisan lain dari Aan Mansyur di website Revius. Saya mulai bertanya, apa ada tulisan yang lebih menarik di website ini, selain tulisan Aan Mansyur yang bisa membuat saya ingin mengunjunginya berkali-kali? Jawabannya; ada dan banyak. Sebab menurut saya tulisan di sana epik dan tidak membohongi pembacanya; termasuk saya. Itu terbukti dari tulisan tentang mitos-mitos yang sebenarnya dialami oleh semua orang entah itu sadar atau tidak. Saya tergelitik ketika mengingat tulisan itu. Betapa percayanya saya pada mitos yang disodorkan ketika masih kecil dulu. Betapa bahagia selalu bermula dari hal-hal kecil seperti itu.

Saya akhirnya rutin mengunjungi Revius menggunakan ibu jari setiap hari dan membaca beberapa rubrik di sana. Mulai dari opinion, prose, reading, juga essay. Ada banyak hal yang bisa saya tahu setelah membacanya. Hal lucu dan beberapa hal penting yang sering terjadi di sekitar saya namun luput dari pandangan. Revius menjelma menjadi kantong ajaib doraemon versi website yang menyajikan apapun yang dibutuhkan dan yang tidak dibutuhkan namun harus diketahui. Jika bisa, suatu saat saya mau mengusulkan agar Revius ke depannya memiliki rubrik yang membahas tentang buku-buku psikologi horor atau semacamnya. Selain membaca tulisan yang sendu seperti sastra, saya pun suka membaca buku-buku yang terkadang membuat logika hilang arah entah ke mana. Membaca dan menonton film-film yang membuat pembaca dan penonton berpikir akhirnya akan seperti apa. Sebab lagi lagi, kata Aan Mansyur saat ini semua pembaca sudah cerdas dan tidak perlu selalu disuapi.

Saya bukan seorang penulis yang baik. Menulis hanya selingan untuk membahagiakan diri saya sendiri. Saya tidak pernah bekerja untuk orang. Saya tidak memiliki komunitas menulis apapun. Dan masih banyak ketakutan-ketakutan lain yang berputar di kepala sewaktu ingin mengetahui lebih jauh tentang Revius. Berawal dari informasi yang saya peroleh, bahwa Chairiza yang akrab saya panggil kak Caca; salah seorang senior saya yang tua setahun di Kosmik UH, juga ikut menulis di Revius, saya yang bermodal nekat dan ingin tahu memutuskan untuk mulai bertanya-tanya kepadanya. Dia membuka jalan dengan bersedia memberitahu pihak Revius. Saya tidak tahu apa yang ia katakan pada saat itu. Hingga beberapa lama kemudian, ia memberitahu bahwa saya sudah dipanggil “jalan-jalan” ke kantor Revius. Saya bingung. Dan jujur, beberapa hal membuat saya menghindari kak Caca. Saya masih sangsi apa yang harus saya katakan ketika di sana.

Hingga pada suatu malam saya menyelesaikan membaca sebuah buku tipis yang sedikit sendu dan berniat mengirimkan review-nya ke Revius. Oh iya, saya juga pernah membaca tulisan Kak Arkil, orang yang saya temui di akun Twitter-nya @masihitu, orang yang sejak dahulu kala saya follow dan tidak me-follow balik (barangkali dikarenakan ketidakkenalannya dengan saya, hehehe). Orang yang saya tahu kehadirannya di malam puisi dari absen yang beredar. Namun tidak pernah saya lihat rupanya itu menulis dengan sangat epik. Saya terkadang berpikir ingin menjadi dia versi perempuan. Saya tidak tahu bagaimana jadinya kalau kak Arkil adalah seorang perempuan, ada berapa banyak lelaki yang jatuh cinta padanya. Jatuh cinta padanya dan tulisannya tentu saja.

Kembali pada tulisan pertama yang saya kirimkan ke Revius, jujur saya hanya mau mencoba saja. Saya tidak yakin tulisan saya bisa diterbitkan seperti ketidakyakinan saya bahwa di dunia ini tidak akan ada orang yang tidak pernah menyakiti. Saya tidak berharap lebih bahwa tulisan saya layak untuk dipublikasikan. Namun saya tetap menghubungi pihak Revius dan bertanya apa tulisan saya bisa dimuat atau tidak. Dan mereka bilang bisa namun harus melalui tahap pemolesan terlebih dahulu. Saya tidak punya kata-kata lebih lagi untuk menunjukkan perasaan saya ketika tulisan saya berhasil dimuat sebagai penulis tamu di Revius. Barangkali seperti balon, di dada saya terisi banyak sekali udara dan siap meledak saat itu juga.

Dan semalam adalah waktu yang sangat berbahagia. Akhirnya dengan sedikit malu-malu dan ketidakpercayaan saya, (sampai saat ini saya sering mencubit diri sendiri untuk meyakinkan ini adalah nyata) saya diterima di Revius dan menjadi bagian dari mereka. Menjadi bagian dari mereka yang tulisannya selalu saya baca tanpa melihat penulis aslinya. Sebut saja ini sebagai keberuntungan pemula saya bertemu dengan orang-orang baik yang dikirim Tuhan di sana. Saya meledak. Saya pecah berkeping-keping karena kebahagiaan yang datang bertubi-tubi.

Ternyata benar apa kata mama, ada banyak jalan lain menuju pelita raya ketika malam sudah tiba. Ada banyak jendela ketika pintu utama sudah tertutup. Dan ada banyak kebahagiaan yang bisa ditemukan di mana saja. Saya rasa, Revius adalah salah satu di antaranya. []


Tulisan lainnya dari Nurul Fadhillah

Belajar Mengingat Hari Bersama Yetti