Ilustrasi: Aisyah Azalya ( @syhzly )

Suara ketikan mengalihkan perhatianku ke sumber suara. Aku menatapnya dengan biasa, ya biasa saja sebab terlalu sering kulihat. Ketika matahari baru saja mengintip kecil sama dengan yang kulakukan sekarang, dirinya masih seperti itu. Aku tak dapat melihat apa yang ditulisnya. Yang jelas bibirnya tak pernah menghasilkan senyuman. Hanya kelopak mata yang lebih basah dari biasanya.

Sesekali ia meneguk teh yang sebentar lagi dingin dengan menyentuhkan bibir merahnya ke bibirku. Lalu melepaskannya dan sedikit menjauh dariku. Aku berharap ia mau bersandar di samping tepat di depan layar laptop agar bisa kubaca apa yang membuatnya terlalu asyik sendiri. Rasanya hambar seperti ini terus, meskipun rasa manis dalam diriku bisa dikatakan terlalu manis, masih belum juga bisa menyingkirkan rasa datar ini.

Aku sering mencari hal yang membuatku ingin melupakan sebuah kata bosan. Aku memang beruntung, orang ini selalu mengajakku kemana dia pergi. Aku melihat banyak pilihan lain yang jauh lebih bagus, tapi tak tahu kenapa diriku yang ia selalu pilih.

Pertama kali aku bertemu dengannya… tunggu aku sedikit lupa. Biarkan aku mengingat kapan itu terjadi. Oh iya, aku tidak tahu berapa lama, yang penting aku berasal dari seseorang yang memoles seksi tubuhku, dan orang yang pertama kali kulihat, adalah dia – pemilikku. Aku masih ingat dia tersenyum sumringah kepada seseorang ketika menggenggam seluruh tubuhku pertama kali. Dia seperti sangat bahagia memilikiku. Seakan-akan, aku adalah teman baru baginya. Aku pun menganggapnya seperti itu. Sebab sampai saat ini, dia selalu setia.

Namun, aku tidak bisa memungkiri perasaan. Seperti ada yang kurang dari semuanya. Dia berubah. Suara tawanya tak pernah lagi kudengar. Suara tawa yang menghasilkan ramai justru kini berubah hening.

Tunggu sebentar, dia meninggalkan tempat tidur dan menjauh dari laptop. Aku bisa melihat tubuh tinggi semampainya mendekat lemari. Memeriksa laci satu demi satu, hingga ia menemukan sebungkus camilan.

“Sial!!”

Aku membelalakkan mata. Ini suara yang pertama kali kudengar setelah berhari-hari bermesraan dengan kesunyian. Suara kesal karena sebungkus camilan yang ia buka berhamburan di lantai. Tapi dia hanya memungut separuh keripik kentang di lantai dan membiarkan sedikit sampahnya di bawah sana.

Ia mendekatiku kembali. Duduk bersandar di tempat tidur dengan mimik paling kusut. Jemarinya menggaruk kepala dengan kencang. Yang aku khawatirkan mood-nya saat ini terlanjur kacau. Aku beruntung masih berada di dekatnya, agar bisa kutatap dirinya lebih lama.

Gawat, pikirannya semakin tidak karuan setelah seluruh ruangan tiba-tiba menjadi gelap gulita.

BUKK!

Ia memukul meja samping ranjang dengan kesal. Hanya sedikit cahaya rembulan yang memasuki jendela hingga ada secercah cahaya yang membantuku melihat. Di dalam kegelapan, dengan gerakan cepat, aku diraihnya dan menikmati diriku sekali lagi. Sekarang lebih lama dari yang tadi. Aku tak bisa melihat apapun, termasuk dirinya.

Tidak! Aku mulai oleng, tak dapat kutahan diriku hingga jatuh menghempas lantai yang keras. Aku merasakan nyeri di kepala. Suara terkejut terdengar samar di telingaku. Semuanya mulai buram. Cahaya rembulan sedikit demi sedikit hilang dari penglihatan. Hingga mataku menutup dan semuanya berubah gelap.

****

Ada yang lengket. Badanku kaku tak seperti biasanya. Aku kembali ke dunia nyata dengan sinar mentari yang langsung mengenai tubuhku. Senyum sumringah yang lama tak kulihat terpampang jelas di depan mata. Pemilikku menatapku begitu dekat. Sambil duduk di teras belakang rumah. Teras yang langsung berhadapan dengan laut dan suara ombak sebagai back sound-nya. Ada botol plastik kecil di tangannya. Hingga aku tahu kepalaku yang luka diobatinya semalam.

Selang beberapa lama, dia masuk melalui pintu samping rumah dan meninggalkanku sendiri di luar. Awalnya aku yang berharap ada yang menemani, kini cuma bisa menikmati terik mentari sendirian saja. Tapi senyumku kembali, dia muncul mendekatiku dengan membawa sebuah teko? Aku tidak perlu bertanya apa isinya. Dia mau minum teh? Teh atau minuman apapun akan mengangguku ketika berada di situasi saat ini.

Kekhawatiranku semakin menjadi-jadi, bagaimana kalau kepalaku yang sepertinya tidak terkena luka biasa malah semakin marah karena sangat tak menyukai minuman apapun sekarang. Namun dia tetap saja melakukannya, seperti tak peduli dengan keadaanku dan akibatnya nanti.

Bluurrr…. suara aliran teh sudah terdengar namun aku tak merasakan apa-apa. Pemiliku menuangkannya di sesuatu di belakangku. Aku tak bisa melihat siapa di sana. Hingga pemilikku duduk di kursi samping meja dan memutarku 180 derajat.

Siapa dia? Dia tersenyum padaku, seperti baru bertemu setelah sekian lama berpisah. Tubuhnya masih bersih, tanpa plak teh sama sekali. Tapi kenapa dia hanya diam? Menatapku dengan teduhnya yang justru semakin membuatku heran. Ada inisial “MR” di tubuh keramiknya. Hingga aku sadar dan menatap diriku yang bertuliskan MRS.

Aku kembali menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Sudah sangat lama aku tak melihatnya. Sudah sangat lama aku tak ditemani olehnya, sepasang cangkir yang akhirnya bertemu. Sampai membuatku lupa kita tercipta berdua dan dipakai dua orang.

“Selamat ulang tahun, suamiku. Aku minta maaf cangkir couple kita aku rusak di hari spesial ini. Tapi tenang saja, kini dia baik-baik saja. Aku pinjam punyamu ya.”

Dia meneguk teh cangkir MR. Aku menatap pemilikku yang menengadah ke langit biru. Dirinya tersenyum meskipun ada setitik cahaya yang kulihat dari kelopak matanya. Cahaya yang dipantulkan dari air mata yang sempat menetes di mata indahnya.


Baca tulisan dari rubrik Prose lainnya

Tiada Cinta yang Kekal dan Percuma

Si Jomblo Squidward

Benny Harus Kuat!

Surat Kepada Senin

Beberapa Jam Sebelum Seseorang Menemukan Mayatku

Setelah Membunuh Ayahnya, Cinderella Mencuri Sepatu Kaca

Sebuah Rencana Membuat Film Kartun tentang Kerbau untuk Kamu

Tingkah Lelaki Kajang Dalam