Oleh: Arkil Akis (@masihitu)| Foto: Katakerja (@katakerja65)
Judul: Aku Ingin Selalu Mekar di Hatimu | Penulis: Windah Makkarodda | Cetakan: Januari 2015 | Penerbit: Phinisi | Jumlah Halaman: 327 Hal.

 

“…Aku terkadang bertanya-tanya, kenapa setiap orang hampir selalu menambahkan nama ayahnya di belakang namanya. Awalnya, aku berpikir itu hanya sekadar penanda kalau kau anak dari nama yang tertera di belakang namamu itu. Namun, nyatanya lebih dari itu, dia yang paling bertanggung jawab atas hidupmu, selain ibumu”.

 

Kutipan di atas adalah perenungan Tenri (ehem!) di dalam novel Aku Ingin Selalu Mekar di Hatimu yang akan diulas dalam tulisan ini. Dari kutipan tersebut, tentu saja sudah tahu kan novel ini tentang apa?  Yup, Novel ini bercerita tentang keluarga. Dan, dari nama tokoh di atas juga sudah tahu kan, keluarganya keluarga dari mana?

Tapi sebelum terlalu jauh membahas isi bukunya, kita berkenalan dulu dengan penulisnya. Windah Makkarodda, tentu saja nama yang asing untuk kamu yang biasa membaca novel. Selain karena ini adalah buku debutnya, Windah atau biasa disapa Wincut (bukanji “winkat” bacanya) dikenal sebagai violinist yang lumayan sering mengisi acara-acara komunitas di kota ini.

Aku Ingin Selalu Mekar di Hatimu ditulis saat penulisnya berusia 19 tahun! Usia yang sangat muda untuk menulis sebuah novel (boleh minta tepuk tangannya? Kalau tidak boleh, ya sudah pade’ mungkin lagi sibukki’ bertepuk sebelah tangan dengan urusan lain)

Semoga garing. Oke, lanjut…

Novel ini ceritanya berpusat kepada Zakiah alias Cacha, dan akan lebih sering disebut “Chaq”, anak bungsu dari dua bersaudara, nama kakaknya adalah Tenri. Chaq, remaja usia 16 tahun berpacaran dengan seorang anak band bernama Aries. Hubungan mereka harus backstreet karena tidak direstui oleh orangtua Chaq.

Dari hubungan backstreet itu, Chaq mulai banyak menyembunyikan hal dari kedua orangtuanya, mulai dari uang les hingga berbagai kebohongan selanjutnya. Sampai akhirnya, Chaq harus hamil di luar nikah.

Dari sini, segala masalah mulai menemukan titik temunya. Bagaimana Tenri yang seperti mendapati dirinya kurang memberi perhatian sebagai kakak, Nuraeda (Ibu Chaq dan Tenri) seorang guru BK yang harus menerima bahwa anaknya hamil di luar nikah, dan Ayahnya yang seorang calon wakil walikota.

Novel setebal 327 halaman ini, mencoba menampilkan permasalahan remaja yang sebenarnya tidak sesederhana yang dipikirkan. Bagaimanapun, keluarga adalah akar dari cara remaja mendapatkan dan menyelesaikan masalahnya. Selain itu, novel ini juga ingin menyampaikan bahwa di kebanyakan keluarga (kebanyakan lagi di keluarga berada) terjadi kekeliruan akan ukuran kebahagiaan. Banyak orang tua yang demi kebahagiaan anak-anaknya justru menghabiskan waktu mereka mencari materi. Seringkali, ini menjadi “bom bunuh diri” karena kadangkala yang dibutuhkan oleh anak-anak hanyalah waktu sekaligus perhatian dari kedua orang tuanya.

“don’t judge a book by it’s cover” mungkin sudah terlalu klise, maka untuk buku ini adalah “don’t judge a story by one person” . Dengan pembagian cerita dari sudut pandang berbagai tokohnya, novel ini mencoba mengajak pembaca menilai satu masalah dari berbagai sudut pandang pelaku-pelakunya. Sebuah bentuk yang patut diberi aplaus, meskipun kalimat-kalimat pengantar yang digunakan penulis lumayan panjang untuk sampai ke dialog atau inti cerita di tiap bab yang kemungkinan membuat pembaca (terutama yang sering membaca novel dengan kalimat-kalimat rapat seperti di karya-karya Murakami) akan sedikit ngos-ngosan. Tapi, untuk sebuah novel debut yang ditulis di usia 19 tahun, ini adalah suatu pencapaian yang luar biasa.

Nilai plus lainnya, keberanian penulis untuk menggunakan “dialek” atau cara bertutur Makassar dalam dialog-dialog di novel ini sangat layak untuk diapresiasi. Ini semakin menambah keserasian dengan nama tokoh dan lokasi yang dijadikan latar novel ini. Meskipun di beberapa dialog masih terkesan ragu-ragu, tapi bagaimanapun ini adalah sebuah terobosan yang patut diacungi lima jempol (pinjam satu di temanta, kan temanji). Sungguh tidak sabar menanti karya Wincut selanjutnya!

Aku Ingin Selalu Mekar di Hatimu, novel dengan permasalahan sehari-hari yang dikemas manis seperti alunan violin menjadikannya novel yang sangat patut dibaca buat kamu yang sedang mencari bacaan bagus untuk dijadikan teman minum kopi atau mengisi waktu luang di sela-sela kesibukan (kentara ta, gang!).

Novel ini bisa didapatkan langsung (baik itu dibeli atau dipinjam) di Perpustakaan Katakerja (BTN Wesabbe C65). Atau bisa juga menghubungi akun Twitter penulisnya, @windahcutamora.

Terakhir, judul buku ini membuatnya cocok dijadikan kado kepada kekasih atau odo’ odo’ sambil mengatakan/menuliskan ini: Semoga perasaanmu selalu berbunga-bunga, karena “Aku Ingin Selalu Mekar di Hatimu”. Sik eh! []