Film Indonesia akrab dalam keseharian rakyat Indonesia masing-masing. Semua film yang sebagian besar memiliki latar tempat di Indonesia, baik kisah fiksi maupun kisah nyata, mampu memberikan refleksi kehidupan bermasyarakat bangsa Indonesia di setiap zamannya.

Sebuah film karya sineas Indonesia pertama berjudul Darah dan Do’a dari Usmar Ismail dirilis pertama kali pada 30 Maret 1950. Tanggal penting inilah yang dijadikan acuan untuk peringatan Hari Film Nasional yang sampai sekarang diperingati dan dirayakan oleh masyarakat Indonesia terutama penggiat sineas film Indonesia.

Memperingati 65 Tahun Hari Film Nasional di hari Senin ini, kami tim redaksi Revius memiliki kesan istimewa terhadap film-film Indonesia yang selalu membuat kami terinspirasi menjadi rakyat Indonesia yang lebih baik lagi. Sekali lagi, Selamat Hari Film Nasional !


Chairiza

Soekarno (2014)

image1

Film Soekarno merupakan film favorit saya sepanjang film Indonesia. Sebenarnya, bukan kepada filmnya. Terlebih kepada sosok Soekarno yang saya idolakan. Film ini kemudian mampu memvisualkan bacaan saya tentang berbagai peristiwa menjelang kemerdekaan RI. Ditambah lagi, film ini diramu dan diracik oleh Hanung Bramantyo. Sutradara film yang sudah tidak asing lagi di telinga kita.

Tak masalah saya kira jika kita menjadi generasi yang paham akan masa lalu negara kita sendiri. Dan film ini mampu untuk menjelaskan itu tanpa kita harus membuka buka sejarah sekolah menengah pertama.


 

Rieski Kurniasari

Merah Putih (2009), Nagabonar (1987), Tanah Air Beta (2010), Laskar Pelangi (2008) dan fiksi (2008)

laskar-pelangi-1

Jujur saja, saya jarang menonton film, apalagi film Indonesia. Saking jarangnya, semua film Indonesia yang saya tonton itu saya rasa bagus semua.

Saya suka film yang menyinggung soal nasionalisme trilogi Merah Putih, Nagabonar, atau film keluarga seperti Tanah Air Beta dan Laskar Pelangi. Oh iya, sekali lagi karena kurang terdidiknya saya dalam hal menonton film, saya sampai harus lihat dulu di Wikipedia maksud akhir film Pintu Terlarang-nya Joko Anwar.

Film Indonesia favorit saya yang lain itu “fiksi” yang dibintangi Ladya Cheryl. Nuansanya kalem tapi gila. He he.


Achmad Nirwan

Sepatu Baru (2013) dan Cahaya dari Timur (2014)

sepatubaru-2

Kedua film ini cukup berkesan buat saya karena mampu membuat saya lebih optimis menjadi orang Indonesia yang tinggal di belahan timur. Banyak potensi-potensi yang belum digali di timur Indonesia ini mampu diekspos oleh sineas-sineas hebat ini.

Seperti Sepatu Baru karya Aditya Ahmad yang mengangkat mitos (maaf) celana dalam yang dilempar ke atas bakal menangkal hujan untuk turun lebih deras. Lain lagi dengan kisah para pesepakbola belia dari Tulehu yang mampu mengorbit hingga pentas internasional di Cahaya dari Timur: Beta Maluku yang terinspirasi dari kisah nyata. Selebihnya silahkan saksikan filmnya sendiri, cess 🙂

 


Herman Pawellangi

Dunia yang Lengang (2013)

DuniaYangLengang-DeliLuhukay

Film indie yang disutradarai Deli Luhukay ini cukup membuat saya rada bingung saat pertama kali menontonnya. Tapi lama-kelamaan saya sadar kalau saya mulai terpesona plus menganga ketika mengerti akhir ceritanya. Jika manusia hanya diberikan jatah sejumlah kata 140 kata saja per hari, apa jadinya. Mengucapkan kata cinta kepada orang tersayang pun harus dipikir hemat-hemat. Ide ceritanya yang keren sekali, Gais! By the way, saya kangen sama Revion di kantor.


Joem Pelenkahu

Quickie Express (2007)

5229.42335296.ekspres-608x342

“Di mana Ada Kemaluan, Di situ Ada Jalan”

Dari tagline film saja sudah ketahuan kalau ini film komedi. Quickie Express saat itu pula langsung menjadi film Indonesia kesukaan saya. Jujur saja, saya sebelumnya tidak begitu banyak menonton film Indonesia. Namun, saat melihat poster filmnya, saya yakin kalau film ini pasti menghibur.

Tidak perlu menunggu lama, cukup di beberapa menit pertama saja, film ini sudah mengocok perut karena intonasi-suara-dialek-ambon-pacar-gay-bos-gangster saat sedang mengancam Jojo (Tora Sudiro) sangat lucu, sedikit berantakan tapi tetap lucu.

Jokes dalam film ini tidak garing, unpredictable, dan tidak norak, serta di beberapa bagian banyak mengandung sindiran. Bagi yang belum nonton atau pun yang sudah nonton dan masih mau menonton, silahkan tonton di sini.


 

Barzak

Suster Keramas (2009)

suster

Premis film yang unik, dialog yang cerdas, dan akting yang memukau adalah alasan saya menyukai semua film horor Indonesia. Satu judul favorit saya adalah Suster Keramas. Menurut saya, hanya seorang jenius yang bisa menggabungkan kata “suster” dan “keramas” jadi sesuatu yang menakutkan. Itu baru judulnya, dari segi cerita film ini juga sangat unik. Konon, filmmaker sekelas Tarantino belajar banyak dari film yang diarahkan oleh Helfi Kardit ini. Kudos!

Suster Keramas mengisahkan tiga orang mahasiswa, Kayla, Barry dan Ariel yang menginap di Vila untuk mengerjakan tugas kuliah. Ya, mengerjakan tugas kuliah. Di sela-sela kesibukan mereka berkutat dengan “buku” dan “jurnal”, mereka bertemu dengan Mitchiko, gadis asal Jepang yang karena alasan yang sangat logis datang ke Indonesia untuk mencari seorang suster bernama Karmila yang ternyata (spoiler alert!) sudah meninggal dan ternyata (spoiler alert!) masih gentayangan karena (spoiler alert!) mati penasaran dan ternyata (spoiler alert!) akan menampakkan diri bila namanya disebut tiga kali. Unik, kan?

Karakter yang paling menarik di film ini adalah Jeng Dollie dan Roy Konak, pasangan eksibisionis yang dinilai dari namanya saja sudah bikin merinding.

Suster Keramas adalah film terbaik Indonesia sepanjang masa dan film-film bergenre horor harus diproduksi lebih banyak lagi di negara ini. Titik!


M. Ifan Adhitya

Memburu Harimau (2012)

memburu-harimau-test2

Memburu Harimau, Film pendek karya anak-anak Makassar tahun 2012 yang juga masuk nominasi film pendek terbaik di Festival Film Indonesia (FFI) pada tahun yang sama. Beruntung, saya bisa menjadi bagian dalam produksi yang di Sutradarai oleh Arman Dewarti. Film pertama yang sangat saya banggakan, apa lagi bisa jadi bagian dalam film yang di Produksi oleh Meditatif Film berkerjasama dengan Institut Kesenian Makassar (IKM) ini.

Lebih jelasnya bisa liat Trailer dan Teaser film Memburu Harimau di (youtube), dan yang belum berkesempatan atau penasaran dengan film Memburu Harimau bisa menantikan Screening filmnya nanti 🙂


 

Arkil Akis

Ada Apa dengan Cinta (2002)

aadc

 

Film Indonesia favorit saya adalah Ada Apa Dengan Cinta (AADC). Alasannya sederhana, film AADC dan masa pubertas saya sedang hot di waktu bersamaan. Romantika remaja yang sampai terekam di alam bawah sadar, apalagi adegan ketika Dian Sastro dan Nicholas sedang… ah… sudahlah.


Baca artikel lainnya yang terkait tulisan ini

Lima ‘Bioskop’ Alternatif di Makassar

Jika Kami adalah Tokoh Film

Sebuah Rencana Membuat Film Kartun tentang Kerbau untuk Kamu

Literasi Media dalam Foto dan Film

Memasuki Ruang Imajinasi dengan Film Animasi

“Sebenarnya Film Sepatu Baru itu Salah Acuan”

Pesan untuk Film Bombe’