Foto: Aswan Pratama ( @aswan_pratama )

April tahun ini terasa lebih spesial. Makassar mengadakan Record Store Day sebanyak dua kali, dalam kurun waktu sepekan. Setelah digelar secara kolektif pada 23 April di Gedung Kesenian Makassar, Musick Bus kembali melanjutkan perayaan RSD dengan Physical Record Fest (PRF) pada 30 April di Pelataran Parkir Ruko Pettarani. Dua momen RSD ini menjadi kesempatan khusus bagi saya untuk bisa melihat rilisan fisik langka yang bakal hadir dan dipajang oleh empunya. Walau saya tetap tak mampu merogoh kocek yang dalam untuk membelinya.

Jadwal acara PRF sedianya dimulai sejak jam 15.00 WITA. Saya pun sempat diberitahukan oleh seorang panitia untuk hadir lebih awal menjelang acara dimulai. Namun apa mau dikata, saya baru bisa bergegas menuju venue menjelang pukul lima sore bersama seorang kawan. Setelah tiba dengan selamat di venue dan kendaraan terparkir dengan aman, saya langsung menuju pintu masuk PRF dan tak sengaja bertemu Rilo Mappangaja, sang pemilik Musick Bus. Dia sempat memberitahukan jadwal acara PRF sebenarnya sudah berjalan. Hanya saja, penampilan musisi di panggung PRF belum dimulai. Saya menghela nafas lega sejenak karena hampir saja melewatkan momen-momen awal kemeriahan PRF.

Saya sempat memprediksi bahwa perayaan Physical Record Fest tahun ini mirip dengan Record Store Day yang digelar pada tahun lalu di Musick Bus (silakan lihat tulisan tentang Makassar tahun lalu, Momen Istimewa Untuk Rilisan Musisi Makassar). Ternyata, setelah mengamati secara keseluruhan, saya menemukan lima hal istimewa yang menjadi ‘benang merah’ dari perayaan PRF sebagai berikut.

Record store yang berpartisipasi 

Dibandingkan dengan perayaan RSD pada satu pekan sebelumnya, hanya ada 11 record store independen yang berpartisipasi di PRF, yaitu Alternative Ext Merch, Caveman, Kedai Buku Jenny, Kenzie_Klub, Lapak Music, MMC Shop, RaditxSuwandi, Tuna Nada, 13 Merch, Mdee Store (yang berkoordinasi dengan Awan dari SvmberxRedjeki) dan tentu saja Musick Bus sebagai tuan rumah. BunkerRock dan Venomous yang tadinya bakal hadir, ternyata absen untuk PRF karena ada sesuatu hal berdasarkan informasi dari Rilo. Selain 11 record store tersebut, Frontxside juga membuka lapak merchandise-nya yang dikoordinasi langsung oleh Indhar, sang vokalis. Perihal yang lengkap tentang record store independen dari Makassar sebelumnya juga saya sempat bahas dalam tulisan Record Store Day 2016 Makassar pekan lalu.

Rilisan khusus RSD dari musisi Makassar

Rilisan musisi Makassar khusus RSD di PRF termasuk hal yang patut ditunggu karena ada empat band yang merilis khusus untuk perayaan ini. Rilisannya berbentuk cakram padat (CD) dari Dead Of Destiny yang bertajuk The Black, single Frontxside – UNITEDASONE, No Name Street dari Standing Forever, dan Koala and Owl dari Idiot Einstein.

Physical Record Fest_Revius7

Selain itu, album yang telah rilis lebih dulu juga hadir di PRF, antara lain My Silver Lining dengan EP Welfare, The Rock Company dengan album penuh 7 Gradasi, kompilasi Celebes Extreme Musick dari Venomous dan kompilasi Music For Brighter Day – Compilation VI. PRF semakin menarik karena Eddington juga ikut merilis video musiknya secara perdana berjudul Bodytalks melalui YouTube. Simak video musiknya di bawah ini.

Teruntuk Dead of Destiny dan Standing Forever, momen PRF ini bersejarah bagi karya terbaru mereka. Mereka mampu memberikan jawaban kepada saya setelah sekian lama menunggu rilisan fisik dalam album penuh. Tanpa berpikir panjang, saya pun langsung membeli album mereka yang terpajang mantap di CD display Musick Bus.

Walau jumlah rilisan khusus secara kuantitas RSD sama dengan tahun lalu, hal ini mengisyaratkan antusiasme musisi Makassar untuk merayakan RSD masih perlu digiatkan agar rilisan-rilisan khusus tersebut semakin bertambah di tahun berikutnya. Tidak bisa dipungkiri bila proses merilis sebuah karya lumayan menguras tenaga dan pikiran, tapi setidaknya RSD bisa menjadi salah satu pemicu semangat para musisi Makassar untuk mau merilis karyanya dalam bentuk fisik.

Master of Ceremony (MC) yang multi-talenta

Saya termasuk orang yang jarang mengamati penampilan Master of Ceremony (MC) di sebuah acara. Tetapi di PRF, ceritanya jadi berbeda ketika Radit dan Suwandi didapuk menjadi MC sekaligus menjaga lapakan kaset pita mereka, RaditxSuwandi. Salut! Sejatinya pula, saya mengenal mereka sebagai musisi-musisi Makassar yang cukup ‘berbahaya’ di atas panggung, terutama ketika tampil dalam Minorbebas.

Radit yang menjadi salah satu MC di Physical Record Fest.

Radit yang menjadi salah satu MC di Physical Record Fest.

Di PRF, keduanya mampu melempar hal-hal berkaitan dengan rilisan fisik dengan cerdas dan bernas, bahkan berhasil mengutip pernyataan Awan dari SvmberxRedjeki tentang makna sebuah rilisan fisik,”Tak Pegang Maka Tak Enak”. Pembawaan gaya MC mereka yang memang cukup jahil, alih-alih membawa saya mengganggap duet ini lebih cocok menjadi MC untuk acara musik. Apakah PRF menjadi debut mereka sebagai MC? Hanya Tuhan YME dan mereka yang memutuskan kelak.

Talkshow & Open Deck Session

Sesi talkshow yang dirangkaikan dengan open deck session ini dimulai pada pukul 19.30 WITA. Para individu yang mengikuti sesi bincang yang dipandu Didi dari Madama Radio ini adalah Mutiah Wenda Juniar, Rilo Mappangaja, Artha dari Tabasco dan saya. Fami yang rencananya ikut berbincang, urung hadir karena masih tampil bersama bandnya di tempat lain.

Masing-masing individu menceritakan seputar rilisan fisik favorit dan dampak serta harapan Record Store Day menurut mereka. Saya bercerita sekilas tentang album pertama milik Foo Fighters, Melismatis – Finding Moon, Sentimental Moods – Destinasi Empat dan antologi SemakBelukar 2009-2013 serta dua kaset pita, Nevermind dan versi parodinya, Off The Deep End dari “Weird Al” Yankovic. Sedangkan Mutiah menceritakan impresinya dengan piringan hitam album kompilasi I Saved Latin! A Tribute to Wes Anderson, AC/DC – Back in Black, dan Black Sabbath – Paranoid. Artha membawa piringan hitam Humbug dari Arctic Monkeys dan CD Lipstik Lipsing – Room For Outside. Rilo bercerita dengan fasih tentang piringan hitam favoritnya yang cukup banyak, antara lain Once More ‘Round the Sun dari Mastodon dan Haim – Days Are Gone.

Ketika ditanya dampak dan harapan dari Record Store Day, setiap pembicara malam itu pasti punya pendapat yang berbeda. Salah satu pendapat yang saya salut datang dari Rilo yang menganggap Record Store Day sangat bermakna dalam menjaga semangatnya untuk tetap menjalankan Musick Bus sebagai salah satu record store independen di Makassar. Terbukti, Musick Bus sukses menggelar perayaan Record Store Day di Makassar sejak 2013. Cukup disayangkan talkshow dan open deck session terbilang singkat karena hanya berdurasi sekitar 30 menit. Walaupun singkat, besar harapan bahwa ucapan masing-masing pembicara bisa menjadi inspirasi sederhana tentang pentingnya rilisan fisik hadir untuk sebuah perayaan Record Store Day.

Aksi Panggung yang Monumental dan Sentimentil 

Panggung musik Physical Record Fest terbilang padat dengan sebelas penampil. Sayangnya, My Silver Lining dan Kapal Udara yang menjadi dua penampil awal urung tampil pada hari itu. Walhasil panggung PRF dibuka oleh Standing Forever. Standing Forever membawakan lagu-lagunya yang termuat di No Name Street dan membawa salah satu lagu dari Motion City Soundtrack. Makassar Rocksteady kemudian tampil setelah break maghrib dengan membawakan kembali musik rocksteady untuk mengoyangkan tubuh sejenak mengikuti tiupan trombone dan saksofon bersahut-sahutan.

Penampilan berikutnya datang dari kuartet post-punk Eddington yang tampil memukau saat membawakan repertoar dari mini albumnya, EST. 2013 walau sempat mengalami akord dalam lagunya. Freezer yang tampil setelah talkshow, sepertinya tanpa ampun menghajar gendang telinga panggung PRF malam itu, salah satu melalui lagu mereka berjudul Albert Einstein.

The Rock Company menjadi penampil selanjutnya di PRF. Walau saya sempat heran melihat kuintet rock asal Makassar ini ternyata diperkuat oleh vokalis baru dan diawali dengan Welcome to the Jungle dari Guns N’ Roses, penampilan mereka malam itu lumayan menyedot perhatian yang hadir di PRF.  Soleluna x Myxomata yang menjadi penampil paling teduh malam itu. Dentingan gitar Soleluna yang bersahutan dengan bebunyian ambient yang dimainkan oleh Myxomata seolah menjadi penyejuk panggung malam itu. Mereka membawakan karya-karya instrumental mereka sendiri, salah satunya Nebula.

Setelah tampil di tempat lain pada hari yang sama, sudah waktunya The Hotdogs tampil menjelang pukul sepuluh malam. Membawakan lima lagu, salah satunya yang paling saya ingat adalah Ganjasmara dibawakan sebagai penutup penampilan mereka malam itu. Dead of Destiny yang menjadi salah satu band yang merilis album khusus untuk RSD di PRF, juga merupakan band paling saya tunggu penampilannya malam itu. Saya pun memberanikan diri untuk berada di garis depan panggung terang tanpa barikade itu untuk menonton aksi mereka membawakan repertoar yang termuat dari album The Black. Penampilan dua band ini pula yang membuat para penonton yang semula diam, mulai bersenang-senang untuk mengerakkan tubuh dengan ber-pogo ria serta headbang penuh sukacita.

Dan puncak penampilan panggung PRF malam itu ditutup oleh Melismatis bersama Tabasco di satu panggung. Kolaborasi ini bukanlah yang pertama kalinya. Dua grup musik asal Makassar ini pernah melakukannya di Musick Bus Fest pada 27 Desember tahun lalu. Hal yang tidak biasanya dari penampilan malam itu adalahnya absennya Hendra, bassist dari Melismatis dan Rendy, sang penggebuk drum dari Tabasco.

Repertoar kolaborasi ini dimulai dengan Green Lake milik Tabasco kemudian dilanjutkan Sedikit Ke Timur, sebuah lagu yang jarang dibawakan Melismatis. Panggung semakin meriuh dengan Gloria dengan intro tepuk tangan pramuka yang menjadi ciri khas lagu tersebut. Saya seolah-olah disuntikkan kembali semangat baru oleh Melismatis malam itu setelah sekian lama tak menyaksikan aksi panggung mereka. Menyenangkan!

Setelah Gloria dibawakan, Juang pun sempat menyapa para audiens yang masih setia di depan panggung sebelum memulai lagu berikutnya. Dia bahkan sempat meminta maaf dan akhirnya mengucapkan bahwa Melismatis sudah waktunya untuk BUBAR dan panggung PRF merupakan panggung terakhir Melismatis. Umpatan”what the f**k” langsung terlintas begitu cepat di kepala saya ketika mendengar ucapan Juang tersebut. Saya tentu saja terkejut mendengarnya dan mengira hal tersebut hanya bahan candaan saja.

Ternyata, keputusan bubar tersebut benar adanya dan pastinya bukanlah hal yang main-main untuk band sekaliber mereka. Walhasil, saya harus bisa pasrah menerima itu sembari diiringi dengan Street Light yang melankolis sebagai lagu terakhir dari penampilan malam itu, tentunya dengan raut muka yang lesu (Perihal bubarnya Melismatis akan dimuat lebih lengkap pada tulisan berikutnya).

***

Terlepas dari penutupan panggungnya yang sangat sentimentil dan masih terasa dampaknya bagi saya hingga saat ini, PRF termasuk cukup monumental sebagai puncak selebrasi istimewa untuk Record Store Day di penghujung April tahun ini. Berkah dari dua kali RSD di Makassar tampaknya bermanfaat kepada sesama record store independen untuk saling mengenal dan menjalin koordinasi lebih jauh lagi dalam memperlebar peluang-peluang lainnya di RSD tahun mendatang. Para musisi juga bisa tampil maksimal dengan tata suara dan tata cahaya yang mantap, plus mudah-mudahan mereka diberikan bayaran, mengingat ada sponsor utama terpampang nyata di PRF yang bisa mendukung untuk hal tersebut. Jangan sampai kata“support” hanya menjadi label luarnya saja, sedangkan kesejahteraan musisi dari segi finansial tak diperhatikan.

Entah apa yang terjadi di PRF berikutnya. Penuh harapan akan lebih banyak hal-hal membahagiakan yang terjadi. Semoga!  []