Oleh: Kemal Syaputra ( @Mr_Kems ) | Sumber Gambar: 20th Century FOX Films

Tiga tahun berturut-turut, Hollywood memanjakan pecinta film di penghujung akhir tahun dengan film-film sci-fi berlatar luar angkasa. Gravity di tahun 2013, Interstellar di tahun 2014, lalu kini, ada The Martian. Satu-satunya dari ketiga film bergenre sama ini yang diangkat dari sebuah novel. Cara kita berekspektasi terhadap Interstellar dulu, tentu saja sama dengan cara kita berekspektasi terhadap Gravity, bahwa ini akan menjadi film yang menguras emosi, menegangkan, mampu meragukan rasa optimisme kita. Maka ketika The Martian muncul, saya rasa ekspektasi kita tidak berubah, bahwa emosi yang kita rasakan di dua film tersebut akan kita temukan juga di The Martian. Well, benar, tapi tak sepenuhnya benar. Ada hal yang begitu mengejutkan yang tidak kita temukan di Gravity dan Interstellar, atau di film bertema luar angkasa mana pun, atau bahkan film bertema bertahan hidup manapun.

The Martian mengisahkan misi sekelompok astronot yang melakukan penelitian kehidupan di planet Mars, yang suatu hari berubah menjadi bencana ketika proses tersebut harus dibatalkan karena terjangan badai yang kedahsyatannya di luar perkiraan. Kelompok astoronot ini memutuskan kembali ke Bumi, sembari membawa duka karena salah seorang di antara mereka harus tertinggal di Mars, dan diduga tewas. Ternyata astronot yang tertinggal ini, dialah karakter utamanya. Saya bersungguh-sungguh, awalnya saya sama sekali tidak menduga bahwa Matt Damon-lah astronot yang tertinggal itu. Perannya bernama Mark Watney, dan ternyata dia yang tadinya dikira telah tewas, masih hidup.

Mark Watney (Matt Damon), bersama tim astronot sebelum dia tertinggal sendirian di planet Mars.

Mark Watney (Matt Damon), bersama tim astronot sebelum dia tertinggal sendirian di planet Mars.

Saya tahu sebelum menonton The Martian bahwa Matt Damon membawakan peran utama di film ini, tapi ketika dialah ternyata yang menjadi karakter yang tertinggal di Mars, saya benar-benar tidak mengantisipasinya, dan ini merupakan salah satu faktor mengejutkan yang saya sebutkan di awal. Di banyak film, pemeran utama kerap kali ditampilkan mencolok di awal film, entah dengan kharisma yang terasa kuat atau kadang tersamarkan.

Hal tersebutlah yang nantinya akan membantu kita membedakan siapa pemeran utama. Tapi di The Martian, karakter Mark Watney tidak ditampilkan demikian, secara tersamarkan pun tidak. Watney tidak memiliki kharisma, karena dia begitu berbaur, dan lagi, dia bukanlah kapten dari kelompok astronot ini, dan inilah yang membedakan Mark Watney dengan tokoh “tersesat” manapun dalam sebuah film bertema bertahan hidup.

Mark Watney harus berjuang bertahan hidup sendirian di planet Mars.

Mark Watney harus berjuang untuk bertahan hidup sendirian di planet Mars.

Ketika Dr. Ryan di Gravity tersesat, dia menjadi karakter yang begitu dibuat personal. Karena punya masa lalu untuk dikisahkan, masa depan yang harus diraih, yang membuat kita mengasihinya. Sehingga mengharapkan ia selamat, begitu pun dengan penceritaan Pi Patel di film Life Of Pi (2012), atau penceritaan Chuck Noland di Castaway (2000). Ketika sebuah karakter dibuat menjadi begitu personal, akan mudah bagi kita sebagai penonton untuk terhubung dengan karakter tersebut.

Tapi Mark Watney tidak memiliki keistimewaan itu, dia tidak punya cerita di masa lalu atau latar belakang kehidupan untuk dibuat personal. Dan saya yakin, Ridley Scott, sang sutradara paham betul akan keadaan tersebut. Namun di satu sisi, dan ini yang mengagumkan karena Mark Watney tidak dibuat personal, justru ke-biasa-biasa-saja-annya inilah yang berhasil membuat karakternya mewakili semua umat manusia. Kita terhubung dengan Watney karena kita tidak harus spesial, dan dia tidak harus spesial. Untuk menjangkaunya, kita hanya perlu menjadi apa adanya.

Namun ada satu hal menarik yang The Martian berkahi untuk tokoh utamanya, dan ini juga menjadi faktor mengejutkan lainnya yang saya rasa belum pernah saya saksikan di film bertema luar angkasa mana pun, Watney punya selera humor yang sangat baik, dan semua orang-orang di film ini punya selera humor yang ditampilkan tanpa segan. Dan kita menyukai humor, karena masing-masing dari kita punya sense itu.

Watney adalah jenis karakter yang always see the cup is hall full, not half empty — ini frasa yang saya temukan beberapa hari lalu dari salah seorang teman saya, yang tanpa diduga bakal berguna untuk kebutuhan review– yet, with sense of humor. Ketika dia menjadi satu-satunya orang yang kini hidup di Mars, dia tidak melihat segalanya sebagai sesuatu yang buruk. Melalui selera humor Watney, dan tentu saja juga melalui kecerdasannya, kita melihat kondisi tersesatnya sebagai sebuah hiburan, bukan sesuatu yang memutuskan asa belaka.

Siapa yang tidak menyangka, Watney tetap memiliki selera humor yang lucu walaupun dipenuhi kecemasan karena harus bertahan hidup.

Siapa yang tidak menyangka, Watney tetap memiliki selera humor yang lucu walaupun dipenuhi kecemasan karena harus bertahan hidup.

Di beberapa film bertema serupa, kita selalu diberi momen di mana kita merasakan betapa sia-sianya kondisi tersebut, betapa hilang-harapannya si tokoh utama. Bersama Watney kita tidak menemukan momen yang demikian, setidaknya tidak dengan cara berlarut-larut.

Segalanya terasa high-spirited, Watney selalu punya jalan keluar, dan dia melakukannya, sekali lagi saya katakan, dengan selera humor. Dengan demikian, harapan kita terhadap Watney sama seperti harapan kita dahulu terhadap Dr. Ryan, yaitu menginginkan ia bisa selamat. Tapi tentu saja selera humor Watney tidak menghilangkan kekuatan thrilling The Martian. Mereka disensasikan secara berbaur, namun bisa dibedakan. Seseorang sendirian di Mars menanti jemputan dari Bumi, mana mungkin tidak akan menegangkan, bukan?

Setelah apa yang kita saksikan di Gravity, lalu di Interstellar, secara visual apa yang kita saksikan di The Martian tidak lagi memukau. Visual-nya sudah terasa seperti sesuatu yang normal. Namun Ridley Scott bakal menggantinya melalui jajaran cast-nya.

Kita melihat begitu banyak wajah-wajah familiar di film ini, bukan cuman satu, atau dua, melainkan enam atau bahkan sampai delapan aktor. Dan mereka bukan wajah-wajah spesialis pemeran side-kick, tapi sudah pernah merasakan menjadi karakter utama di sebuah film. Sebut saja Jessica Chastain, Dia menjadi kapten di sini. Scott memang selalu mengapresiasi perempuan dengan menjadikan mereka sebagai sosok pemimpin. Kristen Wiig yang selera humornya tidak penuh dihapuskan. Serta Jeff Daniels, dan Chiwetel Ejiofor. Dan walau mereka tidak ditampilkan secara menonjol, namun setidaknya mereka ditampilkan dengan cara yang berimbang.

Akhirnya The Martian adalah kebangkitan lagi bagi Ridley Scott, pasca kegagalannya dua tahun terakhir lewat The Counselor (2013) dan Exodus: Gods and Kings (2014). Lewat The Martian pula, Ridley Scott membuktikan bahwa film bertema luar angkasa belum kehabisan sisi lain untuk diekplor. Tersesat mungkin adalah tema yang umum, tapi gaya penceritaannya menjadikan kisah Mark Watney tetap menyegarkan.

Siapa yang menyangka bahwa sebuah film luar angkasa yang identik dengan ketegangan ternyata bisa disusupi kelucuan? Siapa yang menyangka bahwa sebuah karakter utama tanpa perlu dibuat menjadi begitu personal ternyata bisa berhasil disukai? Mungkin Mark Watley bukan karakter yang menggetarkan, tapi dia begitu mudah disukai. Hal yang pertama yang saya sadari ketika selesai menyaksikan film ini adalah akhirnya ada karakter biasa-biasa saja yang berhasil dikisahkan dalam film yang epik. Saya bahkan hampir mengiranya sebagai sebuah biopic.

Sementara Gravity dan Interstellar mungkin menjadi film bertema luar angkasa yang menyodorkan unsur ketegangan di dua tahun terakhir, maka The Martian akan menjadi film bertema luar angkasa paling menghibur yang mematahkan ketegangan semata itu. Well, mengejutkan bukan? Inilah yang menjadikan The Martian film yang tiada duanya.

martian2015_revius

Judul: The Martian |Sutradara: Ridley Scott | Rilis: 2 November 2015 | Genre: Sci-Fi | Rating : 4 / 4 Stars

Baca ulasan film lainnya dari Kemal Syaputra

Ego yang Lenyap dalam Hati Bajrangi

Kesedihan di Tengah Tawa

Roman Hitam Putih Kehidupan Siti

Kegilaan Superhero yang Ingin Tenar Kembali