Foto: Herman Pawellangi ( @chimankorus )

Setiap manusia pasti mempunyai pandangan hidup yang dijadikan pegangan atau pedoman yang didapatkan dari pengalaman dan pemikiran menurut waktu dan tempat hidupnya. Pedoman yang menjadi esensi dalam menghadapi cobaan di dunia fana ini. Salah satu cobaan tersebut adalah mencari kebahagiaan hidup, yang menurut sebagian besar orang bisa didapatkan jika sudah mapan dalam hal finansial.

Persaingan mencapai kemapanan semakin bertambah ekstra ketat dalam kehidupan masyarakat modern. Kebutuhan hidup yang semakin konsumtif pun menghadirkan siasat menghalalkan segala cara menuju dan mempertahankan kemapanan, walau ada pula yang menikmati kemapanan sebagai ‘warisan’. Persaingan tidak ‘sehat’ ini pun memunculkan strata sosial dan ekonomi yang sangat tidak etis, menyebabkan kesenjangan sosial hanya demi kata kunci kemapanan pun menjadi didambakan. Kesenjangan sosial akibat ekonomi yang timpang tindih ini menimbulkan kriminalitas di jalanan, pemukiman kumuh, gelandangan dan wabah kelaparan.

Melihat kesenjangan sosial yang menjangkit seperti wabah penyakit, bermunculan individu-individu yang memproklamirkan diri untuk bergerak melawan paham kemapanan tersebut karena dipicu keadaan lingkungan seperti itu. Mereka memberontak dan mendobrak aturan dengan cara bergiat dengan mandiri (do-it-yourself), solidaritas yang tinggi antar sesama dalam komunitasnya. Bahkan jika perlu, menjadi seorang anarkis yang menurut Errico Malatesta merupakan cara dari penghapusan eksploitasi dan penindasan manusia, bisa dilakukan lewat penghapusan dari kapitalisme yang rakus dan pemerintahan yang menindas.

Para penganut anti kemapanan ini mengkritik mereka yang mapan dan berkuasa dengan menjadikan musik sebagai katalis perlawanan mereka, karena musik dapat mengubah persepsi pendengarnya tentang sebuah keadaan, dengan menyisipkan pesan-pesan propaganda perlawanan, musik dapat pula berubah menjadi alat perlawanan yang ‘ramah lingkungan’. Musik dengan hegemoninya diupayakan dapat mengubah persepsi masyarakat tentang keadaan atau kondisi sekitar tanpa harus bergesekan langsung dengan aparatur negara yang bertindak represif dalam demonstrasi, misalnya.

Musik akustik balada, reggae dan punk rock menjadi medium yang tepat dalam menyalurkan energi pemberontakan. Tersebutlah  salah satunya yaitu Sex Pistols yang merupakan dedengkot punk rock Inggris dari era 70-an, sangat vokal menyuarakan pesan-pesan anti kemapanan dalam pemilihan diksi dalam lirik lagunya. Metode perlawanan yang efektif dalam medium musik ini masih terus berlanjut dari generasi ke generasi baik dalam musik, penampilan hingga gaya hidup, termasuk sampai kepada para individu-individu anti kemapanan di Indonesia yang pertama kali terdengar gaungnya memainkan musik punk rock di era 90-an, seperti Antiseptic di Jakarta dan The Hotdogs di Makassar.

Musik punk rock yang mendarat di Makassar di penghujung 90-an, mampu bertahan hingga belasan tahun sampai sekarang karena etos punk yang mereka pegang dengan teguh dalam kehidupan sehari-hari,  menghidupkan musik punk rock dari tongkrongan, membuat panggung-panggung musik secara berkala dan mandiri, persetan dengan sponsor dan tidak peduli dengan profit yang bakal didapatkan.

Keriuhan scene punk rock Makassar yang masih solid ini berusaha diobrolkan lebih rinci dalam diskursus Mencari Etos Punk dalam Skena Punk Rock Kekinian di KBJamming Vol. 18 yang  digelar oleh Kedai Buku Jenny dan BEM Fisipol Unhas pada Jum’at, 21 Agustus 2015 di Pelataran FIS 4 Fisipol Unhas dari pukul 15.30 hingga 17.30 sore. Fami Redwan (The Hotdogs), Alonzo Raintung (Black Elvis) dan Ucok Manurung (Lucky Bastard) diyakini sebagai orang-orang dari scene punk rock Makassar yang tepat dalam membincangkan tema ini menurut Kedai Buku Jenny.

Obrolan tentang etos punk ini pun dimulai pada pukul 16.30, telat sejam dari waktu yang ditentukan. Fami Redwan pun mulai bercerita tentang dirinya yang menemukan musik punk sebagai perlawanan karena tidak ingin bersentuhan dengan hal-hal kemapanan, terutama pekerjaan yang dekat dengan para kapitalis. Fami bahkan memilih berhenti menjadi mahasiswa dengan memotong kartu mahasiswanya dan membuat tato agar bisa menghindar dari permintaan orang tuanya dalam mencari pekerjaan mapan secara finansial.”Peristiwa itu merupakan bunuh diri kelas bagi saya,” celoteh Fami.

KBJammingVol18_Revius1_sm

Pilihan hidup yang ditempuh Fami ini akhirnya membuat keluarganya membebaskan dalam mencari kehidupan yang diinginkannya. Pilihan etos punk untuk mencari bekal hidup pun membuat Fami semakin sering hijrah ke kota lain dalam upaya belajar menulis kreatif, bermain musik dan menjadi freelancer.

Beda lagi dengan Ucok Manurung yang ternyata berhenti sekolah sejak SMA karena ingin mengobarkan semangat punk dalam dirinya, padahal ibunda Ucok merupakan dosen di sebuah perguruan tinggi. Etos punk yang diyakininya dengan konsisten tanpa perduli dianggap sebelah mata oleh keluarganya, ternyata menuai hasil ketika ia bisa memanen hasil jerih payahnya untuk bisa bertahan hidup.  Ucok sangat menikmati pekerjaannya sekarang yang bergiat dengan memproduksi baju untuk Lucky Bastard, toko merchandise miliknya, mendesain sampul beberapa grup punk dan hal-hal lainnya yang berkaitan dengan proses pembuatan album band punk rock tersebut. Ucok di akhir pekan pun masih aktif dalam membantu peribadatan di gereja.

Alonzo Raintung dari Black Elvis juga memiliki pengalaman serupa tapi tak sama. Ketertarikannya dengan musik punk hingga gaya hidupnya tak lebih karena merupakan simbol perlawanan yang tepat dalam memberontak dari kapitalisme. Berawal dari menyenangi musik punk,Alonzo kemudian resah melihat keadaan sekitar dan mulai sering mencari informasi seputar isu-isu lingkungan dan gerakan perlawanan.  Alonzo pun mulai berani menyuarakan pesan pemberontakan dalam lirik yang ditulisnya, yang membuat sering terlibat tampil bersama Black Elvis dalam gigs-gigs bertema solidaritas anti penggusuran dan penolakan hampir dalam satu dekade ini.

Pengalaman bergelut dengan hidup anti kemapanan ini ternyata malah membuka pandangan bagi ketiganya tentang perlunya membuka diri melihat perubahan-perubahan yang terjadi di scene punk rock sekarang. Salah satunya, Alonzo yang berpendapat jika etos punk sekarang tidak mesti harus menjadi bagian dari musik punk untuk menyatakan perlawanan. “Banyakmi sekarang teman-teman yang punya profesi mapan tapi punya etos punk dalam dirinya,” ujarnya mantap.

Ucok juga bercerita bahwa etos punk harus senantiasa diberi dukungan di kekinian dalam hal-hal kecil tapi penting, misalnya produksi CD dan kaset pita band-band punk rock yang tidak pernah mengalami untung, namun itulah bentuk dukungan untuk band-band punk rock untuk tetap berkarya.

Fami melihat perkembangan yang signifikan dari scene punk rock di Makassar sekarang adalah kehadiran band-band baru yang peduli dari segi sound sekarang dan tidak melulu memainkan musik punk rock mentah-mentah, namun menyilangkannya dengan hardcore, hip hop bahkan indie rock. “Karena pentingki punk sekarang melahirkan kelompok-kelompol yang  punk, sebutlah regenerasi. Terlebih lagi, scene punk rock tidak mengenal kata senioritas. Semuanya sama,” Fami berujar lebih lanjut, “Perlawanan bisa lewat atribut dan statement apa saja namun kuat akarnya. Jadi, anak punk memang harus kreatif secara mandiri.”

Hal yang menarik dari semua pembicara kali ini adalah mereka mengakui berasal kalangan ekonomi menengah dan tidak memulai menyalakan etos punk dalam dirinya berasal dari street punk, sepertiyang dilakukan oleh Marjinal Taring Babi. Namun terlepas dari itu, proses-proses kehidupan yang mereka lewati dengan etos punk, boleh dibilang mampu mengubah pandangan mereka dalam melihat scene punk rock sekarang. Bobhy dari Kedai Buku Jenny juga mengungkapkan bahwa diskursus seperti ini bisa menjadi bagian dari rencana untuk membuat riset tentang scene punk rock di Makassar.

Selepas diskursus tersebut, saatnya menyaksikan penampilan Black Elvis dan The Hotdogs yang sudah ditunggu-tunggu oleh audiens sore itu. Black Elvis membawakan “Bulls On Parade” dari Rage Against The Machine dan ditutup dengan “Lawan”, walau terlihat penonton canggung untuk merangsek ke depan untuk sekedar ber-pogo ria. Saking bersemangatnya, Alonzo sempat mengalami kejadian kabel microphone-nya putus di lagu terakhir.

KBJammingVol18_Revius3_sm

The Hotdogs yang tampil setelah Black Elvis, memulai aksi mereka dengan lagu “Kotaku”. Audiens yang sempat terpancing oleh lagu ini, mulai berani merangsek ke depan untuk memanaskan moshpit di depan panggung. Sayangnya, pada repertoar selanjutnya, audiens tampak malu-malu untuk berdansa. Beberapa lagu yang dibawakan The Hotdogs sore itu tampaknya berasal dari album-album awal The Hotdogs salah satunya dari album No More Respect (1998). Saya sendiri pun sempat merasa heran melihat The Hotdogs tidak membawakan lagu-lagu yang biasanya memanaskan moshpit seperti “Bijak Menginjak”, “Kekalahan Terbaik”, “Ganjasmara”, “Berhenti Berdoa” ataupun “Angkat Kaki”.

KBJammingVol18_Revius4_sm

Mungkin bagi sebagian kalangan masyarakat menganggap para penganut musik tiga jurus ini sebagai orang-orang yang tidak berguna dan tidak punya pekerjaan, apalagi dengan penampilan dan kelakuan mereka yang cukup nyentrik sehingga banyak menarik perhatian orang. Tetapi menyimak diskursus yang digelar oleh Kedai Buku Jenny, seolah-olah mampu membuka mata saya bahwa banyak hal positif yang bisa diambil dari etos punk yang mereka percaya. Kesederhanaan, solidaritas (lihat saja jumlah audiens komunitas punk yang hadir mendengarkan dalam diskusi KBJamming dalam foto-foto di atas), kemandirian dan rasa persatuan mereka yang dibingkai dalam semangat anti kemapanan yang tetap berjalan dan bergerak dinamis mengikuti zaman. Here today, gone tomorrow!


Baca artikel lainnya dari Achmad Nirwan

Membangun Tren Positif dengan Fotografi dan Musik

Banyak Jalan Menuju Kemerdekaan Bermusik

Kisah Kehidupan Sehari-hari

Berlayar dalam Lautan Barang

Bergerak Bersama Demi Musik

Prolog Untuk Semua

Tabuhan Penutup Bunyi-Bunyian di Halaman

Merayakan Usia Ke-dua dengan Cinta dan Kasih Sayang

Panggung Memukau milik Musisi Indie

Panen Hasil Bumi, Panen Kolaborasi

Menuju Kegelapan

“Konsisten Plus Nekat!”

“Musik Kontemporer itu Seperti Virus”

Membisingkan Ide dan Musik dalam Garasi

Berjuang Membangun Halusinasi Secara Nyata

Momen Istimewa untuk Rilisan Musisi Makassar

Rilisan Album Musisi Makassar untuk Record Store Day 2015

Membuka Jejak Semesta dan Rupa Pesona

Bersiasat dengan Bisnis Musik di Era Digital

Pesta dan Ska Sehari Penuh Sukacita!