Foto: Aswan Pratama ( @aswan_pratama )

Sebelum MIWF 2016 akan digelar pada 18-21 Mei 2016, pihak penyelenggara telah mengadakan pertemuan dengan pers untuk berbicara mengenai acaranya. Konferensi pers yang dimulai pukul 16.00 WITA ini dibuka dengan rasa prihatin Lily Yulianti Farid terhadap Hari Buku Nasional yang diperingati pada 17 Mei, justru disertai dengan isu pemusnahan buku yang makin marak akhir-akhir ini. Oleh karenanya, MIWF memutuskan di hari pertamanya digelar akan mengeluarkan maklumat resmi sebagai bentuk protes dan keprihatinan mereka atas pemusnahan buku sejalan dengan tindakan para aktivis literasi di Jogjakarta. Namun, MIWF bukan tentang rasa prihatin saja, sama seperti tahun-tahun sebelumnya, ini mengenai semangat literasi. Semangat literasi tahun ini ditandai dengan hadirnya 61 pembicara/penulis di 33 kegiatan yang akan berlangsung selama 4 hari di 7 lokasi. Dibangun dengan semangat volunteerism, melahirkan kerja kreatif dan kerjasama orang-orang muda, MIWF melibatkan lebih dari 5000 orang setiap tahunnya.

Lily Yulianti Farid merasa prihatin dengan isu pemusnahan buku yang makin marak akhir-akhir ini saat berbicara di konferensi pers MIWF 2016.

Lily Yulianti Farid  saat berbicara di konferensi pers MIWF 2016. Dia juga mengungkapkan rasa prihatin terhadap pemusnahan buku yang marak belakangan ini.

Tahun ini, MIWF mengangkat tema BACA!, terinspirasi dari tumbuhnya komunitas baca dan pustaka di Indonesia yang semakin banyak. Mulai dari kuda pustaka yang berkeliling di kampung terpencil di Jawa tengah hingga perahu pustaka yang ada di Sulawesi Barat. Melalui serangkaian panel diskusi, workshop, pertunjukan dan pembacaan karya serta forum terbuka, festival ini akan menjelajahi bagaimana Indonesia dan kesadaran literasi di Indonesia yang sedang bertumbuh, serta minat baca yang semakin berkembang dalam beberapa tahun terakhir ini. Juga akan hadir pencetus perpustakaan bergerak, Nirwan Ahmad Arsuka, Muhammad Ridwan Alimuddin dan Maman Suherman. Mereka akan membagi pengalaman membangun dan mengelola proyek pustaka mandiri. Perahu Pustaka Pattingalloang yang diresmikan pada MIWF 2015, akan kembali berlabuh di MIWF 2016. Tak hanya itu, juga rekan-rekan dari Noken Pustaka dari Papua akan meramaikan MIWF tahun ini. Selain itu, akan hadir pula sejumlah buku akan diluncurkan di event ini.

MIWF akan menghadirkan para penulis dan pembicara penting untuk membagi pengalaman dan gagasan mereka dalam berbagai topik pilihan. Dua penulis pemenang kompetisi spoken-word Alia Gabres (Australia) dan Deborah Emmanuel (Singapura); Jurnalis kelahiran Prancis yang juga penulis dan aktivis komunitas seni yang tinggal di Yogyakarta, Elizabeth Inandiak; penulis Indonesia yang paling dibicarakan saat ini, Eka Kurniawan; penyair muda Jerman, Marius Hulpe; produser dan penulis skenario penting di Indonesia, Mira Lesmana; penulis karya best-seller Dewi ”Dee” Lestari, Ika Natassa dan Aditya Mulya; penyair Indonesia kesayangan, Joko Pinurbo; penulis skenario pemenang penghargaan bergengsi, Gina S. Noer; penulis dan fotografer perjalanan terkemuka Indonesia, Agustinus Wibowo; dan tentu saja penyair dan penulis dari kota Makassar, M Aan Mansyur dan Faisal Oddang.

M Aan Mansyur yang kembali berpartisipasi di MIWF 2016.

M Aan Mansyur yang kembali berpartisipasi di MIWF 2016.

Setiap tahun, MIWF selalu menghadirkan program-program spesial. Tahun ini, penyelenggara memperkenalkan konsep pop-up taman, sebuah proyek kolaborasi yang menawarkan tiga taman tematik yakni Taman Baca, Taman Rasa, dan Taman Cahaya. Di Taman Baca, kita bisa menikmati bacaan-bacaan dengan suasana piknik. Setiap sore di Taman Rasa, kita bisa menikmati racikan kopi dan teh ditemani puisi. Lalu Taman Cahaya akan menghadirkan kolaborasi koreografer Abdi Karya, musisi Juang Manyala, dan Dana Riza. Setiap malam mereka akan menghadirkan pertunjukan-pertunjukan tematik La Galigo The Beginning, Makassar Kisah Sebuah Kota, Reklamasi dan Senja yang Hilang, serta Refleksi Reformasi.

Ada program Big Ideas program yang didukung oleh Body Shop Indonesia, yang menghadirkan sembilan perempuan dari berbagai latar belakang. Mereka adalah perempuan yang telah mengambil langkah-langkah berani, bekerja bersama komunitas dengan ide-ide besar mereka. Ada Suciwati Munir yang membangun Museum HAM di Malang, ada Dinny Jusuf yang membawa tenun Toraja ke pentas-pentas internasional. Ada juga pendukung Al Gore dalam upaya penyadaran pembelaan lingkungan dan iklim, Suzy Hutomo turut terlibat di festival ini untuk membagi pengalamannya dalam menyebarkan dan menyuarakan gaya hidup ramah lingkungan. “MIWF adalah movement, ia tidak bicara hari ini, tapi bicara masa depan. Selain itu BACA! atau Membaca yang menjadi temanya tahun ini menjadi salah satu nilai yang juga dianut Body Shop selama ini”, ungkap Rika Anggraini, perwakilan Body Shop Indonesia.

Rika Anggraini, perwakilan Body Shop Indonesia (duduk di tengah) saat hadir di konferensi pers MIWF 2016.

Rika Anggraini, perwakilan Body Shop Indonesia (duduk di tengah) yang hadir di konferensi pers MIWF 2016.

Tahun ini, peserta MIWF juga akan mendapatkan pengalaman baru di Twitter Corner. Melalui microblogging platform kita bisa menikmati sastra dengan menjelajahi aplikasi Twitter, bergabung #puitwit dan #LiTweetrature. MIWF juga selalu menyiapkan ruang buat anak-anak, termasuk orang tua, guru dan pendidik, mereka akan turut belajar dan menikmati kekuatan mendongeng.

MIWF juga akan memperingati 10 tahun Pramoedya Ananta Toer dengan pentas Ontosoroh—dimotivasi oleh karakter Nyai Ontosoroh dalam Bumi Manusia–, kolaborasi Ade Suharto (penari/koreografer) dan Peni Candra Tini (vokalis/komposer). Setiap malam di MIWF akan menjadi sangat istimewa. Dua malam berturut-turut, Ari Reda akan hadir menyanyikan puisi, 5 lagu di 18 Mei dan 15 lagu di 19 Mei. Kemudian untuk pertama kalinya Silampukau tampil di Makassar dan akan mengisi panggung utama di Benteng Rotterdam pada 20 Mei. Di malam penutupan, kita bisa menikmati penampilan Theory of Discoustic, salah satu Band indie folk dari Makassar yang masuk dalam Editor’s Choice versi majalah Rolling Stone.

Di malam penutupan MIWF, kita juga bisa menjadi saksi penyerahan penghargaan World Reader’s Award—sebuah penghargaan penulisan di Hong Kong untuk novel Cantik Itu Luka—kepada Eka Kurniawan yang akan diserahkan langsung oleh Nury Vittachi, salah satu pembicara dan penulis yang juga ikut berbagi di MIWF tahun ini.

Dan yang tak kalah pentingnya, para penulis muda berbakat asal Indonesia Timur yang terpilih dalam program Emerging Writers akan menyajikan karya mereka di festival ini. Tahun ini, enam penulis yang terpilih adalah: Anta Kusuma (Cerpen) dari Banjarmasin, Cicilia Oday (Cerpen) Manado, Chalvin Jems Papilaya (Puisi) Ambon, Ibe S. Palogai (Puisi) Makassar, Irma Agryanti (Cerpen) Mataram, Wahid Affandi (Cerpen) dari Makassar. “Makassar identik dengan Narasi Tunggal, salah satu contohnya kebiasaan kita membicarakan suatu wilayah atau tempat, tanpa pernah tahu atau mendengarkan orang-orang dari wilayah/tempat tersebut menceritakannya sendiri. Keberadaan Emerging Writers ini adalah untuk mereduksi Narasi Tunggal ini, akhirnya para penulis ini hadir untuk membicarakan sendiri mengenai wilayah/tempat asal mereka, yang selama ini hanya ikut kita bicarakan,” ungkap Aan Mansyur yang juga menjadi salah satu kurator program Emerging Writers.

Terakhir, namun tak kalah penting, setiap tahun MIWF selalu memberi penghormatan untuk para pahlawan intelektual dan kebudayaan Sulawesi Selatan. Tahun ini, untuk pertama kalinya MIWF melakukan penghormatan untuk seorang perempuan yang begitu berjasa atas penemuan dan penerjemahannya terhadap maha-karya naskah I La Galigo, yang menjadi salah satu warisan budaya terbesar dari Makassar. Colli’ Pudjie, menjadi pahlawan yang akan dikenang kembali di MIWF tahun ini dan diupayakan agar terus dikenang. Film dokumenter pendek mengenai Colli’ Pudjie bisa disaksikan juga di malam pembukaan MIWF nanti, sebuah dokumenter berjudul Saviour of the World’s Memory: A Tribute to Colli’ Pudjie karya sutradara muda Makassar, Andi Burhamzah.

Seluruh program pada festival ini telah melalui proses kurasi dengan teliti oleh tim MIWF. Dalam enam tahun terakhir, festival ini berkembang sebagai festival yang melibatkan para penulis, pembaca, pembuat perubahan, orang-orang dengan ide yang luar biasa serta mereka yang berasal dari kehidupan sehari-hari. Ini adalah sebuah festival yang dipersiapkan untuk semua orang. Dimana semua program yang ada di dalamnya gratis. Info partisipan dan program selengkapnya bisa cek di makassarwriters.com.


Baca tulisan lainnya

Ibe S. Palogai: Tulis Mi Apa Maumu!

Yang Akan Kamu Temukan dan Semoga yang Kamu Cari di Makassar International Writers Festival 2016

MIWF is For Everyone!

MIWF 2015 Day 1: Tribute to Passion

MIWF 2015 Day 2: Knowledge for Your Imaginations

MIWF 2015 Day 3: Promoting Literature Around the World

MIWF 2015 Day 4: Knowledge & Universe