Foto: Brandon Hilton (@brandon_cadaver)

Event musik di Makassar lebih ramai di pinggir kota. Bukan jumlah penonton, tapi intensitas dan kualitas event tersebut. Setelah beberapa waktu lalu menginisiasi Geliat Panggung Musik Rock di Kota Makassar Dari Masa Ke Masa, Musicalab Studio mengadakan Studio Gig tanggal 14 Oktober 2016. Saya tertarik untuk ikut mengambil bagian jadi penampil di event tersebut. Selain tertarik menjadi penampil, saya juga tertarik tentang antusias penikmat musik menghadiri event kecil ini.

Line-up diisi oleh Chicken Fighter, Minor Bebas, Sua, dan Sorrow In The Darkness. Ketika saya memasuki gapura Bumi Tamalanrea Permai, tampak remaja-remaja dengan penampilan a la punk berjalan kaki. Terlintas dalam pikiran saya, tidak lain dan tidak bukan mereka akan menghadiri studio gig ini. Tak jauh dari gerombolan pertama yang saya lewati tadi, ternyata masih ada lagi yang berjalan kaki untuk menghadiri event ini. Padahal jarak yang harus mereka tempuh tergolong masih sangat jauh. Saya sempat terkejut dengan banyaknya orang yang didominasi oleh remaja-remaja tanggung dengan penampilan rambut mohawk dan mencorat-coret muka. Berhubung sebagai penampil pertama, saya langsung naik ke studio yang terletak di lantai dua Paola Koffie untuk mengatur semua peralatan. Tak lama kemudian, Wira, personel Theogony yang membantu saya untuk tampil di Sorrow In The Darkness, menyusul datang setelahnya.

Suasana di Paola Koffie sebelum Studio Gigs berlangsung.

Suasana di Paola Koffie sebelum Studio Gig berlangsung.

Ini adalah penampilan pertama Sorrow In The Darkness dengan formasi yang baru. Setelah set-up peralatan, kami melakukan sound check. Tak membutuhkan waktu yang lama untuk membuat semua mereka seperti cacing kepanasan, berteriak diiringi raungan distorsi dan gemuruh blast beat, penonton langsung membuat studio padat sesak. Kami sudah mematangkan dua lagu untuk ditampilkan. Namun, melihat antusias remaja-remaja ini yang begitu besar, kami tambah sembilan lagu tanpa perlu latihan sebelumnya. Sampai akhir penampilan kami, remaja-remaja ini benar-benar liar dan seketika studio musik merangkap ruang sauna dengan raungan distorsi.

Selepas orkes liar Sorrow In The Darkness tampil, SUA langsung naik dan memasang peralatan mereka. SUA dengan musik math rock-nya bisa sedikit menurunkan tensi di dalam studio. Tampak beberapa penonton duduk-duduk menikmati math rock a la Sua dengan serius. Saya senang ada remaja tanggung yang bisa menerima lalu mendengarkan musik yang tidak melulu liar. Selepas SUA yang berhasil menurunkan tensi, Minor Bebas siap kembali memanaskan suasana studio yang sebelumnya memang sudah panas. Alhasil, penonton berlarian dari luar masuk dan memadati studio. Baru lagu pertama dibawakan, mereka sudah menggila. Saya tidak ingat lagi berapa lagu yang mereka bawakan. Hal yang saya ingat dari penampilan Minor Bebas di studio gig kali ini hanya suasana yang padat, liar, panas, namun tetap bisa menikmati musik grunge / alternative a la Minor Bebas. Tiba di penghujung pesta ada Chicken Fighter. Dengan tampilnya unit hardcore berbahaya asal Makassar ini, crowd sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda kelelahan. Saya menyerah dan memutuskan untuk keluar dari studio di tengah liarnya penampilan Chicken Fighter.

studio-gig_musicalab-studio_minorbebas_revius2

Minor Bebas semakin memanaskan studio Musicalab dengan distorsi musik grungenya. (Sumber Foto: Minor Bebas)

Saya kemudian dikejutkan dengan adanya seorang polisi yang sudah dikerumuni oleh pengunjung. Kehadiran bapak Polisi yang sedikit geram tersebut dipicu oleh laporan warga yang mengadu telah terjadi perkelahian antar pengunjung di sekitar event. Fadly selaku pelaksana, menjamin kepada bapak polisi tersebut bahwa pihaknya bisa memastikan tidak terjadi hal serupa. Sangat disayangkan, event ini diwarnai dengan perkelahian yang tak memperebutkan dan menghasilkan apa-apa. Saya lalu bertanya kepada salah satu remaja tanggung yang mau dipanggil Anto Punx, dari mana ia mengetahui adanya event ini. “Anu kak, dari Facebook ji saya tau. Ada na posting temanku baru baku ajak-ajak ka’ sama teman-temanku ke sini.” Melihat tingginya solidaritas mereka yang hadir di event ini membuat saya salut. Namun, mereka harus lebih banyak belajar lagi menghargai event yang diadakan dengan membeli tiket dan tidak membuat onar.

Bapak polisi yang sempat hadir untuk menanyakan persoalan keributan yang terjadi di venue.

Bapak polisi yang sempat hadir untuk menanyakan persoalan keributan yang terjadi di venue.

Setelah ditutupnya pesta kecil-kecilan ini oleh Chicken Fighter, saya menjumpai Fadly selaku penyelenggara dari studio gig ini mengobrol seputar event yang baru saja digelar dan terbilang sukses. Ia yang tinggal di BTP di mana tempat ini “lumayan jauh” dari pusat kota, ingin memajukan skena musik. Khususnya, musik keras di daerah tempat ia tinggal. Dengan langkah awal yaitu membuat event ini. Tidak melulu menjadikan pusat kota sebagai “role model” dari segala sesuatu, termasuk musik. Menurut pengakuan Fadly, “kita rencananya mau buat studio gig sebanyak tiga minggu sekali. Bukan hanya studio musik Musicalab, tapi seluruh studio musik di daerah Tamalanrea.” Fadly juga mengaku kaget dengan pengunjung yang datang ternyata melebihi ekspektasinya. Selaku penyelenggara studio gig ini, ia senang melihat antusiasme orang-orang yang datang. Menurut pengakuannya, “ Ini event sengaja tidak dipublikasikan sebanyak mungkin karena untuk menghindari banyak pengunjung yang datang. Tiket juga dibuat terbatas karena ruang studio yang juga terbatas menampung orang di dalam. Dari jam 4 sore saya lihat ada belasan anak Punk yang datang, padahal acara mulai nanti jam 7. Makin kagetnya lagi, dari belasan orang yang saya lihat pertama, makin lama makin banyak yang datang.” Ia juga tidak memungkiri adanya kekurangan yang terjadi selama event ini berlangsung, salah satu contohnya tadi ada perkelahian. Ia menitip pesan kepada semua baik itu komunitas atau perkumpulan atau apapun namanya bahwa hargai event yang diselenggarakan, salah satunya dengan tidak membuat onar.

Berbicara soal musik, musik itu luas dan saya rasa masing-masing punya pendapatnya sendiri, termasuk yang hadir di Studio Gigs. Banyak hal yang bisa dilakukan dengan musik. Mulai dari menjadi pemantik semangat untuk menggulingkan tahta tirani, menjadi media untuk mencari jati diri, mempererat persahabatan, hingga menjadi media untuk melupakan mantan. Persetan dengan kelas sosial, suku, agama, terlebih pada orientasi seksual, musik adalah bahasa pemersatu. Seorang nihilis seperti Nietzche saja berkata, without music, life is a mistake.