Novidia memilih guest writer favorit yang tulisan-tulisannya pernah dimuat sepanjang tahun 2015 ini, tentu saja dengan alasannya.

Di setiap rapat mingguan yang digelar rutin sebagai sebuah tanggung jawab, tim Redaksi Revius selalu berbagi ide tulisan dan bahkan menceritakan apa yang akan ditulis oleh masing-masing author. Jadi, setiap orang (yang hadir rapat, tentu saja) selalu tahu apa yang akan dituliskan oleh siapa minggu ini, sampai bagaimana ide, event, opini, esai itu akan dituliskan. Yang selalu menjadi kejutan bagi saya adalah tulisan-tulisan dari Guest Writer.

Nirwan, sebagai Managing Editor selalu mengabarkan kepada kami, tulisan apa yang masuk di email talktous@revi.us, dan menuliskan judul tulisan yang disetujui untuk di-post. Karena itulah, saya selalu penasaran apa isinya tulisan oleh para penulis tamu tersebut. Judul-judulnya terlalu manis untuk dilewatkan, atau terlalu mengambang untuk tidak di-kepo-i. Tulisan-tulisan ini biasa dibahas secara singkat di tengah rapat, tapi tidak diceritakan kembali dengan detail lengkap—tentu saja. Itulah sebabnya, mengapa saya hampir selalu tertarik membaca tulisan-tulisan dari mereka.

Memilih Guest Writer favorit tentu saja, adalah memilih tulisan mereka yang paling menarik. Karena saya tidak mengenali mereka selain melalui tulisan-tulisan yang saya baca. Inilah sembilan Guest Writer Favorit yang tulisannya tercatat di arsip postingan Revius di folder 2015 yang menjadi favorit saya, diurutkan berdasarkan abjad.

 

1. Afif Alhariri

akik

Selama 2015, Afif menulis sebanyak enam tulisan, tulisan keduanya tahun ini adalah Batu Akik dan Curhatan Anak Geologi. Tulisan ini diterima oleh Revius ditengah-tengah perayaan Batu Akik di Indonesia, yang pada saat itu saya hampir sekali yakin bahwa demam batu akik tidak akan pernah berakhir sampai kiamat tiba. Perkenalan ini kemudian membawa saya pada rasa prihatin lainnya yang dirasakan Bang Ucok ini. Mulai dari surat terbuka sarat sarkasme soal Gotham dengan rasa lokal, Tan Malaka sebagai Ayah para jomblo yang tidak mau melunakkan pendiriannya, Nuri vokalis band yang saya tahu lagunya tapi tidak saya kenali bandnya, hingga perjalanan jomblo Indonesia yang mencari sosok perempuan idaman.

Tulisan lainnya adalah soal tipe pembaca Revius dengan semena-mena menjadikan saya seorang alien yang ingin menguasai dunia, tapi saya ingin mengklarifikasi bahwa saya tidak mengakses Revius dari ruang bawah tanah, karena saya lupa mengabari pimpinan saya dari planet rahasia asal saya nun jauh di sana, bahwa warga Makassar tidak terbiasa membangun ruang bawah tanah.

Tulisan favorit saya tentu saja yang tentang Batu Akik ini.  Sebelum membaca tulisan ini, kepala saya hanya dipenuhi keheranan soal tren tersebut, dan tulisan Afif memberikan saya sebuah sudut pandang lain. Sebuah sudut pandang berbeda di tengah-tengah orang-orang yang kesal atau tergila-gila ingin mengoleksi Batu Akik.

Karena membuat saya mengalami peristiwa demam batu akik dengan sudut pandang baru: anak Geologi yang meneliti batu untuk kembali dibuang, bukan digosok jadi mata cincin, membuat tulisan ini menjadi tulisan favorit saya. Lucu!

 

2. Ahmad Aulia Rizaly

main photo_pasar dan kekacauan_revius

Satu-satunya tulisan Ahmad, Pasar dan Kekacauannya.

Dalam foto esainya ini, Ahmad menuliskan, Namun, dalam “kekacauan” itu, saya melihat suatu keindahan yang tidak biasa, yang membuat saya senantiasa merindukan suasana pasar. … Dinamika inilah yang saya “tangkap” dengan kamera saya dan kemudian menjadi suatu potret kehidupan yang sederhana”.

Salah satu genre foto kesukaan saya adalah Human Interest, dan enam dari foto yang diberikan Ahmad kepada Revius (harusnya lebih dari enam), semuanya mengenai genre itu. Dan penjelasan singkat Ahmad di akhir esai foto ini membuat saya teringat kepada fungsi menyenangkan dari sebuah foto– menjadikan fotografi adalah sesuatu yang lebih penting daripada sekedar sebuah media yang mengabadikan suatu peristiwa–Dan selalu, hal-hal yang dekat dengan kita bisa memberikan sensasi sense of belonging, karena suasana yang familiar.

Saya juga sedikit bersimpati dengan catatan kaki tulisan ini yang bernada curhat itu.

 

3. Al-Fian Dippahatang

Iceman

Ada 10 tulisan dari Al-Fian sejak Februari sampai September. Lima tulisan awalnya adalah puisi, dia seorang anak sastra. Dan salah satu tulisannya yang menjadi favorit saya adalah puisinya, Empat Hal yang Mesti Kita Tata Sebelum Dunia Meracuni Lebih Jauh. Sebuah puisi pendek.

Alasan saya sederhana: tulisan ini membuat pikiran saya berkeliaran pada banyak hal, sejauh yang mungkin dilakukannya dalam kepala saya. Banyak sekali perasaan, sensasi, dan pertanyaan yang bersahut-sahutan akibat puisi yang terbagi dalam empat bagian ini. Jangan minta saya menjelaskan lebih lanjut tentang itu, saya bisa menghabiskan satu minggu ke depan tidak keluar rumah untuk menuliskan banyak daftar yang tidak penting buat siapapun kecuali diri saya sendiri.

Entah kenapa, puisi selalu bisa menyentuh saya seperti itu.

 

4. Baso Muammar

fatpeople_Revius

Gemuk dan Daeng Sayur, Guest Writer favorit lainnya yang baru satu tulisannya—dan tentu saja saya harapkan untuk kembali mengetuk pintu akun email penerima tulisan Revius.

Di tulisan ini, Baso menceritakan soal berat badannya dan bagaimana orang-orang di sekitarnya selalu menaruh perhatian terhadap itu kepadanya. Tapi tentu saja bukan hanya itu yang dibahas, karena kalau hanya persoalan berat badannya yang naik 7 kg, maka tulisan Baso ini pasti akan masuk di daftar tulisan Absurd oleh Aswan, bukan di sini. Persoalan berat badan ini hanya pengantar yang digunakan Baso untuk membantu kita masuk ke tulisannya. Di akhir tulisan, Baso menjelaskan bagaimana dengan uang 12.000 rupiah dia bisa mendapatkan banyak sekali jenis sayur dan lauk semacam tahu dan tempe.

Tulisan ini saya sukai karena, lewat tulisan singkat ini saya mendapatkan sebuah kesadaran tentang nilai mata uang Rp. 12.000. Uang sebanyak itu memang tidak seberapa dibandingkan banyak hal yang harus dibeli di dunia ini, tapi Baso membuat saya menyadari bahwa memang benar, betapa murahnya untuk memiliki budaya hidup sehat di Indonesia.

Kita kadang butuh bantuan orang lain untuk menyadari hal semacam ini, karena uang 12.000 dan kebiasaan “tidak keberatan mengeluarkan uang dalam jumlah kecil” selalu bisa membuat kita tidak menyadari betapa besarnya nilai yang bisa kita dapatkan dari harga yang tidak besar.

 

5. Galeh Pramudianto

sosmed

Pertama-tama, saya ingin Galeh meneruskan niatnya untuk menjadi Holden Caulfield.

Kedua, kenapa saya menyukai esai berjudul Kekinian dan Enigma yang Berkelindan? Sesederhana, ini adalah jenis tulisan yang saya suka dan saya suka tema yang diangkat Galeh, terlebih lagi bagaimana cara dia menuliskannya. “Setelah yang berbau rumor itu diketahui, langsunglah ia menjadi tumor karena belakangan diketahui hoax atau palsu, yang menjadikan dirinya humor belaka”, saya suka sekali bagian ini.

Saya suka bagaimana begitu banyak hal, diikat oleh satu benang merah yang didukung dengan banyak pemikiran beragam para ahli. Saya membayangkan betapa hal kecil-kecil ini, dan jika dilihat sekilas tidak tampak hubungannya, bisa dilihat sebagai sebuah fenomena besar yang terus-menerus mengaitkan diri pada banyak hal—dan tentu saja, tetap masuk akal. Hal lain yang saya suka adalah, tulisan semacam ini ketika dibaca selalu bisa memunculkan berbagai pemikiran dan pemahaman baru, sebanyak apapun—dan memang harus dibaca berkali-kali demi menghindari kesotta’an dini.

Maka, Galeh, kamu boleh menjadi Holden, bercelotehlah “sepolos” yang kamu suka, saya menunggu.

 

6. Gabriella Dwiputri

hand copy

Ini adalah salah satu nama Guest Writer yang paling akrab di telinga saya. Sejak awal, Joem (Web Designer Revius) mengabarkan bahwa ada temannya yang ingin menulis untuk Revius. Gabriella mulai menulis sejak akhir 2014, dan selama 2015, dia menulis 5 tulisan untuk dua rubrik, Movie Review dan Opinion.

Dari semua tulisan Gabriella selama 2015 ini, saya paling menyukai opininya yang berjudul, Pengakuan Seorang Pembohong. Salah satu alasan menyukai tulisan adalah, ketika apa yang dibaca mampu menjelaskan segala apa yang kita rasakan dan pikirkan terhadap sesuatu. Cara pandang Gabriella yang menyambungkan bagaimana kebohongan-kebohongan kecil yang kita lakukan hanya karena masalah sepele, yaitu malas. Malas untuk menjelaskan kepada krisis kepercayaan terhadap orang lain. Juga bagaimana kebohongan yang adalah hal negatif digunakan untuk menjaga hubungan dengan orang lain.

Betapa tulisan ini menyadarkan bahwa hal sekecil “malas menjelaskan”, bisa menjadi begitu kompleks dalam kehidupan sosial berteman (Bukan bermasyarakat. Karena masyarakat terlalu luas dan kita tidak kenal semua orang).

 

7. Iqbal Tawakkal

peduli indonesia

Sama seperti Ahmad dan Baso, Iqbal hanya punya satu tulisan di Revius tahun ini. Maka, otomatislah, jawaban untuk mana tulisan favorit saya dari Iqbal terjawab dengan mulus: Rakyat Biasa pun Peduli dengan Negara. Tulisan yang lahir dari penyimakan Iqbal pada sebuah percakapan soal Negara yang dialami oleh orang-orang yang dia temui di Pasar Terong.

Tulisan ini, membuat saya tersentuh atas tindakan Iqbal menghabiskan waktunya untuk mengamati hal di sekitarnya, untuk kemudian membuatnya menyadari hal yang lebih besar daripada sebuah percakapan dua orang yang bukan siapa-siapa, bukan ahli dalam politik, yang tentu saja hanya mampu mengutarakan pendapat mereka dengan latar belakang pengetahuan mereka masing-masing. Dan pada saat itu, mereka hanya punya Iqbal yang mendengarkan. Atau, beruntung mereka punya Iqbal saat itu untuk mendengarkan.

Hal yang dilakukan Iqbal dan hal-hal serupa selalu membuat saya kagum akan kepekaan semacam ini. Ditambah lagi Iqbal mampu membuka dirinya untuk megembangkan penyimakan ini ke ruang dan isu yang lebih luas. Dia tidak berhenti di situ. Dia menuliskannya, dan itu adalah sebuah eksekusi terbaik.

Hal-hal kecil, tidak selalu harus menjadi kecil dan sepele. Mereka hanya perlu menemukan seseorang yang tepat untuk membuat mereka bernilai jauh lebih besar dan menjadi penting.

8. Kemal Putra

collage character film2

Seringnya mengirim tulisan ke Revius, membuat saya hafal bahwa Kemal berarti Review Film. Alasan saya membaca tulisan Kemal (dan saya rasa alasan sebagian besar orang yang membaca tulisannya), adalah untuk mencari rekomendasi film dan memastikan samakah kesan yang saya dapatkan pada satu film yang sudah saya nonton dan telah dituliskan Review-nya oleh Kemal. Karena seringnya, saya sempat curiga bahwa dia hanya melakukan tiga hal dalam hidupnya: makan, menonton film, dan menulis review-nya.

Tulisan yang paling saya suka dari Kemal sebenarnya tidak ada, karena sebenarnya saya memilih Kemal untuk diabadikan di list ini karena konsistensinya yang berkembang dalam batasan Movie Review. Dan jujur, semua film yang dia review belum pernah saya tonton dan itu membuat saya bertanya-tanya, “apakah kami hidup di dua dunia berbeda sehingga saya tidak pernah tahu judul-judul film itu?”. Dan pertanyaan ini memberi jawaban yang pahit bahwa dalam dunia perfilman, saya adalah manusia gua yang kekurangan cahaya matahari.

Sekarang, Kemal sudah memiliki akun sendiri di kolom Author Revius. Selamat bergabung, Kemal! Mohon kerja sama dan ajakan nonton barengnya!

 

9. Wahyudin Opu

Humor yang Tidak Lucu di Kampus Merah-Revius

Humor yang Tidak Lucu di Kampus Merah, seketika menarik perhatian saya. Sebagai seseorang yang namanya berada di daftar Alumni kampus yang (menurut marsnya) gelora pantai dan lembah gunung Indonesia dijadikan tempat mengabdi ini, “Kampus Merah” dalam sebuah judul tulisan sering sekali menjadi pemicu saya membaca sebuah tulisan. Wahyudin punya dua tulisan. Satu tulisannya berkolaborasi dengan fotografer Revius, Ifan, di esai foto berjudul Memahami untuk Membasmi mengenai Festival Anti Korupsi.

Saya suka tulisan ini, karena sederhana: saya sepakat dengan opini yang diutarakan dia soal rambut gondrong memang tidak seharusnya menjadi masalah besar di kampus. Kalau kebetulan mereka gondrong dan rambutnya berkutu, biarkanlah temannya sendiri yang memperingatkan mereka untuk membersihkan kutu tersebut. Di bagian ospek, saya rasa ospek yang menggunakan kekerasan fisik atau memaksa mahasiswa baru berpenampilan konyol, rasanya memang pantas untuk ditinggalkan. Saya suka, karena dia mengungkapkan opininya dengan gamblang, tidak ada ruang basa-basi.

Dan lewat cara itu, menyediakan banyak ruang untuk diskusi dengan teman di kanan dan kiri.

***

Jadi itulah sembilan nama dan tulisan favorit saya dari masing-masing tamu yang bertandang ke Revius melalui tulisan mereka.

Nama-nama di kolom Guest Writer memang lebih dari sembilan orang ini. Saya sebenarnya bisa saja menyukai semuanya, karena saya bisa menyukai banyak hal secara bersamaan. Hati saya ini sangat luas kelewatan dan semua hal baik di dunia ini akan muat untuk saya sukai di dalamnya. Tapi, begitulah, kita harus hidup dengan ketentuan-ketentuan selera dalam diri dan permintaan Editor in Chief Webzine tempat kita bekerja.

Padahal, kadang saya sendiri pun tidak mengerti bagaimana selera saya bekerja, apalagi untuk mengerti keinginan Editor in Chief yang entah seluas apa hatinya.


Baca Revius Review 2015 lainnya

Kamu dan Cerita yang Seharusnya Dibaca di 2015

5 Prose Favorit 2015

Tulisan-tulisan Absurd 2015

5 Film Terbaik 2015 yang Gagal Kamu Saksikan di Bioskop

The Awesomest Awesomer