Beberapa bulan terakhir ini terjadi sesuatu yang luar biasa, ada sebuah kampanye ambisius dari sebuah kota yang katanya sedang menuju “kota dunia”. Banyak poster, mural, spanduk, dan lain-lain yang bertebaran di kota Makassar dengan gerakan Makassar Ta’ Tidak Rantasa’.

Muncul pula slogan LISA, akronim dari “LIhat Sampah Ambil” yang menginginkan agar masyarakat kota Makassar memiliki inisiatif untuk tidak membuang sampah sembarangan dan memungut sampah yang mereka temui di jalanan dan membuangnya di tempat yang telah ditujukan.

Tujuan mulia ini patut dipuji, karena sang walikota terpilih memiliki inisiatif untuk menangani masalah persampahan. Mural yang bergambar anak kecil yang mungkin bernama LISA mulai terpampang di tembok-tembok sekolah-sekolah yang merupakan target utama dari kampanye ini, mengajak anak-anak yang masih berada di tingkat dasar ini akan pentingnya kebersihan.

Sampah adalah masalah yang selalu ada di setiap kota besar, bahkan untuk ukuran kota megapolitan seperti New York, sampah adalah sesuatu yang merepotkan. Bayangkan saja kota ini membutuhkan sekitar 2,3 milyar Dollar U$ untuk mengumpulkan dan mengolah sampah mereka, dan itu saja beberapa sudut di kota New York masih banyak sampah yang luput dari dinas kebersihan mereka.

Penduduk New York mampu menjaga ruang terbuka mereka terbebas dari penumpukan sampah tanpa harus ada spanduk untuk mengingatkannya untuk itu. Yang menjadi perbedaan mencolok yaitu penduduk New York yang telah memahami cara pengolahan sampah dan pemisahan sampah organik dan non-organik serta pemahaman dasar terhadap membuang sampah sembarangan itu adalah pelanggaran hukum di masyarakat.

Bagaimana dengan LISA? Apakah LISA mampu mengubah pola pikir masyarakat kota Makassar tentang membuang sampah dengan umurnya yang baru seumur jagung?

Beberapa minggu kemarin pada hari Minggu, saya sempat melihat banyak instansi serta perusahaan yang berbasis di kota Makassar mengumpulkan sampah yang ada di sepanjang jalan utama di kota ini.  Program pemerintah kota Makassar dengan si LISA ini adalah untuk mengedukasi masyarakat secara menyeluruh terhadap pentingnya kebersihan dan pentingnya menjaga kebersihan sekitar. Tetapi, spanduk dan baliho LISA kebanyakan hanya ditemui di sekolah-sekolah dan kantor instansi pemerintahan.

Entah kapan kampanye ini bermula, saya tiba-tiba saja menemukan spanduk-spanduk itu di beberapa instansi pemerintah kota ini saat berkeliling-keliling. Saya tidak pernah melihat langsung deklarasi dan pernyataan awal dari kampanye ini.

Kampanye ini juga membutuhkan wajah sebuah tokoh masyarakat atau pejabat setempat  untuk dipasangkan di baliho atau spanduk, dengan hasutan-hasutan yang diharapkan dapat mengubah pemikiran warga sekitar. Spanduk dan baliho tampaknya menjadi sebuah media yang efektif untuk mengingatkan masyarakat tentang kampanye ini.

Untuk sebuah kampanye seambisius itu, saya melihat LISA kurang cantik. Karena kurangnya kemampuan ‘bermain cantik’ itu, masih sedikit masyarakat yang mengenal “gadis” yang harusnya populer ini. Bisa jadi karena dia kurang eksis, masih butuh banyak selfie yang harus tersebar di semua media agar LISA makin dikenal secara luas.

Karena dengan penempatan yang kurang strategis itu, sepertinya LISA kurang mendapatkan perhatian selayaknya Putri Indonesia. Muncul kecenderungan kalau kampanye tersebut dibuat seadanya, terburu-buru dan tidak tepat alias LIncah SAlah.

lomba pemerintah

Salah satu kampanye Makassar Ta’ Tidak Rantasa’. Silahkan temukan sendiri keganjilannya.

Para tokoh masyarakat atau pejabat setempat yang muncul di baliho itu pun harus bertanggung jawab atas kampanye itu dengan selalu kembali muncul di publik menyatakan maksud dan tujuan kampanye. Proses repetitif ini mungkin akan menghabiskan banyak waktu, namun hasilnya akan lebih baik dari spanduk-spanduk itu.

Menyewa beberapa papan iklan  besar di kota ini bisa juga dipertimbangkan, dibanding hanya menaruhnya di tempat-tempat yang tidak umum dan jarang mendapatkan perhatian para penikmat jalanan. Jangan lupakan juga mengucurkan dana milyaran rupiah untuk penggantian armada truk sampah yang sudah karatan dan kurang perawatan.

Selain itu, ada satu hal penting yang dianggap sepele oleh pencetus kampanye LISA ini untuk masyarakat Makassar yang notabene bukan hanya warga-warga yang berdomisili di kota ini, melainkan ada juga kaum-kaum urban workers yang tiap hari menempuh perjalanan lintas kabupaten untuk bekerja. Bagaimana caranya mereka bisa mengetahui dengan jelas tentang program LISA, sedangkan mereka sibuk mencari nafkah?

Menempelkan slogan-slogan kampanye LISA di BRT atau pete-pete sepertinya lebih efektif untuk diketahui kaum urban workers, karena kemampuannya berputar-putar dalam kota maupun lintas kabupaten, karena lebih berguna dibandingkan menyebar baliho atau spanduk tentang LISA di kantor kecamatan atau kantor dinas kota Makassar.

Untuk mencapai tingkat yang sama dengan New York memang masih jauh, tapi setidaknya kota ini bisa melihat ke selatan sedikit, dan menengok Surabaya, yang bandaranya masih sederhana tapi  kotanya bersih dan kanal-kanalnya yang bebas sampah.

Entah mengapa program LISA tiba-tiba mengingatkan saya tentang Hitler. Seandainya Hitler hanya menggunakan spanduk, dan mural saja, saya yakin perang dunia ke-2 itu adalah sebuah mitos dan hanya mimpi buruk yang tidak pernah terjadi.[]