Ilustrasi: Aisyah Azalya ( @syhzly )

Senja barangkali kata paling puitis yang pernah diciptakan. Kemilau emas, kemuraman, momen pelepas hari, atau kenangan yang menyertainya mampu menjadi sesuatu yang personal. Melahirkan keromantisan, entah tragedi atau komedi. Tidak mengherankan, begitu banyak karya seni yang terinspirasi dari senja. Mulai dari lagu, lukisan, foto, puisi, novel, hingga berbagai jenis tulisan lainnya. Senja pun mampu bermakna banyak hal. Dan yang paling umum bahwa senja adalah sesuatu yang mendekati akhir. Dari harapan, kesempatan, ataupun usia.

Pemaknaan sesuatu tentu saja dipengaruhi banyak hal. Lingkungan, momen, profesi, maupun kondisi psikologis sang pemberi makna (manusia). Termasuk, senja. Senja di tanggal satu ramadan, misalnya, akan berbeda dengan senja yang lainnya. Senja bagi seorang fotografer akan berbeda dengan nelayan, senja bagi seorang yang baru patah hati akan berbeda dengan yang jatuh cinta. Dan pemaknaan senja yang berbeda-beda inilah yang memberi keunikan tersendiri bagi pemberi makna yang hidup di sebuah kota. Termasuk, Manusia Makassar.

Senja yang hadir di Pantai Losari akan berbeda dengan senja yang hadir di Jalan Urip Sumoharjo. Jika di Losari, kita masih akan menemukan manusia-manusia yang menikmati senja dengan berfoto, maka di Jalan Urip Sumoharjo, Senja akan direspon berbeda. Manusia Makassar di jalan raya, adalah manusia yang memaknai senja dengan kendaraan bersusun-susun tak teratur, saling menyalakan klakson, saling menyalahkan posisi masing-masing. Terburu-buru ingin sampai ke tujuan, dihantui sebuah ketakutan bernama “terlambat” entah itu pulang ke rumah, menghadiri janji, atau mungkin masih ada pekerjaan lain. Dan satu ketakutan akan melahirkan ketakutan yang lain. Kemacetan yang diawali ketakutan akan menjadi ketakutan untuk tidak berada dalam kemacetan. Kita pun sering berangkat lebih awal untuk menghindari kondisi tersebut. Senja hadir sebagai sesuatu yang buruk, sesuatu yang dihindari.

***

Dalam konsep pemaknaan, terdapat sisi lain yang disebut Roland Barthes sebagai “mitos” atau makna yang terlanjur melekat. Senja pun demikian. Identik dengan fase menjelang “selamat tinggal”. Sesuatu yang disebut di awal tulisan ini sebagai “mendekati akhir”, dan mitos dari senja adalah usia renta. Di mana harapan dan kesempatan hampir berakhir. Kita pun akhirnya sering menemukan ungkapan “Usia senja” merujuk kepada usia yang hampir usai.

Lalu, bagaimana menjalani usia senja di Makassar? Saya teringat kalimat Seno Gumira Ajidarma, penulis senja terbaik di negeri ini :

“Alangkah mengerikannya menjadi tua dengan kenangan masa muda yang hanya berisi
kemacetan jalan, ketakutan datang terlambat ke kantor,
tugas-tugas rutin yang tidak menggugah semangat, dan
kehidupan seperti mesin, yang hanya akan berakhir dengan
pensiun tidak seberapa.”

Menjalani usia senja di Makassar mungkin masih jauh. Setidaknya bagi anak muda yang mendominasi pembaca Revius hari ini. Namun menyiapkan diri menghadapi usia senja dengan ketakutan, tentu saja bukan pilihan yang bijak. Sebab seringkali, ketakutan hanya melahirkan trauma.

***

Senja yang jauh adalah senja yang tanpa laut. Pemaknaan lain yang sering saya berikan kepada senja. Barangkali karena saya tumbuh besar di daerah pesisir. Melihat senja tanpa laut, seperti ada yang kurang. Seperti sayur tanpa nasi dan lauk. Seperti rindu tanpa pelukan.

Laut mungkin diciptakan sebagai keserasian bagi senja. Bukan hanya dalam wujud harfiah. Namun senja yang dimaknai apa saja, mungkin butuh laut sebagai pasangan. Menghadirkan laut dalam diri, akan mewujudkan senja yang indah. Dalam segala yang “mendekati akhir” (usia, harapan, atau pun kesempatan). Seperti fajar di ufuk timur yang ditemani gunung-gunung, menggambarkan harapan dan ketinggian. Maka laut bagi senja adalah kelapangan dan penerimaan.

Tapi jangan lupa, laut tak melulu adalah kepasrahan. laut juga mampu berontak dengan berombak, mampu memanjatkan titik-titik air yang kelak menjadi hujan dan mungkin menumbuhkan sesuatu yang lain di kemudian hari. Wassalam. []


Baca tulisan lainnya dari Arkil Akis

Selamat Menyenangkan Ibadah Ramadan!

Membaca Rumah Baca

Peringatan: Naik Gratis, Turun Bayar

Dari Jalan Layang, ke Puisi Dunia yang Lengang

Hukum Kekekalan Tawa dan Letusan Pistol Chekhov

Belajar Pacaran dari Noam Chomsky

Sekuntum “Memar” yang Selalu Mekar

Bonsai dan Penguasa yang Akrofobia