Oleh: Abdullah Fikri Ashri (@abdullah_fikri) | Ilustrasi: Aisyah Azalya (@syhzly)

 

Persis di lantai 5, Fajri menatap gedung-gedung yang menjulang tinggi. Ia duduk menyandar pada kursi berhadap jendela yang sengaja dibuka. Gedung tempatnya bekerja bukanlah sebuah menara. Jika masuk ke dalam lift, angka tertinggi adalah angka 6. Kantornya berada di tengah kota, di antara gedung-gedung yang  lantainya bisa menyentuh angka puluhan. Saat itu, waktu yang sangat dinantikan oleh hampir semua pekerja, pulang kerja. Teman-teman seruangan sedang bersiap. Sebagian bercengkrama satu sama lain, sebagian lainnya masih meregangkan tubuh yang tampak mematung karena duduk berjam-jam.

“Vina Fajriani, pulang!” teriak Tina, sahabat Fajri. Tina terpaksa memanggil nama lengkap Fajri, meski ia tahu betul, Fajri tak begitu senang dengan nama panjangnya. Bukan karena jelek namanya. Baginya, sapaan  ‘Fajri’ saja sudah lebih dari cukup. Panggilan nama lengkap menurutnya, bukti kekakuan dan tidak cairnya hubungan.

Selain itu, nama Fajri mengingatkannya akan fajar, waktu subuh ketika dilahirkan, yang begitu sempit sehingga ia lebih mencintai waktu yang tidak lapang. Tapi, kali ini Tina hanya ingin menarik perhatian Fajri yang masih terdiam menatap ke luar jendela. Wanita 22 tahun itu tetap tak acuh pada bunyi apapun. Tina pun tak memanggil untuk kedua kali. Ia lalu bercengkrama dengan yang lain sembari menunggu.

***

Memilih tinggal lebih lama di kantor sama saja mengurangi waktu bersenang-senang. Lagipula, menatap gedung-gedung di ujung sore, tak ada nikmatnya. Kesemua inilah yang dipikirkan Senja, teman seruangan Fajri. Jangankan menatap ke luar gedung, bagi Senja, menatap seisi ruangan kerjanya pun ia enggan. Kecuali satu, jam dinding. Ia kerap memandang jam dinding bulat putih tersebut sembari berceloteh dalam hati “Semoga cepat pukul 17.30, jam pulang kerja.”

Tidak hanya kantornya, ia juga begitu membenci gedung-gedung tinggi. Sama sekali tak suka. Dulunya, ia pikir kantor yang berlantai-lantai itu keren dan menyenangkan. Setelah sebulan berkantor, anggapan itu redup. Gedung tinggi telah membuat orang-orang saling menikam di balik senyuman, terpasung ruwetnya administrasi, mengejar target, menyombongkan diri, dan menghabiskan waktu duduk nyaris setengah hari. Membosankan.

Gedung-gedung tinggi di Ibu Kota ini, secara langsung meninggikan diri orang di dalamnya sekaligus merendahkan orang yang terbawah,” kata Senja suatu hari. Ia menganggap, orang-orang di Ibu Kota tak bahagia. Setelah enam bulan kerja, ia akan meminta dipindahkan ke daerah. Tak ada gedung tinggi.

Saat kecil, Senja begitu antusias dengan Ibu Kota negaranya. Pikirnya, orang-orang berbondong-bondong datang ke Ibu Kota karena di sana memang lebih bahagia. Orang-orang itu dia umpamakan sebagai anak-anak yang butuh kasih sayang, dan Ibu Kota adalah ibu yang akan menjawab kebutuhan itu.

Namun, anggapan itu kini hanyalah ilusi belaka bagi Senja. Di Ibu Kota, tak ada rasa sayang. Jika terjatuh atau kecelakaan. Jangan harap orang di sekitar segera bertindak menolong. Apalagi pagi hari, waktu dimana orang-orang berlomba saling memburu. Menolong orang yang terjatuh atau kecelekaan hanya menghambat pemburuan pagi itu.

Sore pun sama. Setiap orang bergegas pulang ke rumah. Berkendara roda dua atau empat tak peduli orang-orang yang berjalan dengan dua kaki. Tiap pengendara seakan berkata “saya harus pulang cepat, saya sudah terlambat.”

***

Rasa penasaran Senja pada tatapan Fajri ke luar jendela semakin membuncah. “Apa indahnya menatap gedung-gedung tinggi di waktu senja?” tanya Senja ke Fajri. Tak sedikitpun Fajri menggoyangkan bola matanya. Ia masih bisu. Senja mencoba melayangkan pandangannya ke berbagai sudut, mencari apa yang membuat Fajri tak terganggu olehnya.

Mata Senja hanya menangkap ada beberapa gedung menjulang tinggi, langit sore memudar, kendaraan padat merayap, serta lampu-lampu gedung dan jalan mulai menyala.

“Indah ya.” kata Fajri sembari tersenyum menatap Senja. Senyum Fajri menyejukkan. Tulus. Tidak seperti senyum palsu seorang karyawan yang bertemu Bos menyebalkan. Senja merasa tenang, menanti kalimat berikut dari Fajri. “Coba deh kamu lihat itu (menunjuk apa yang ada di luar jendela),” pinta Fajri. “Tapi, jangan hanya melihat, kamu juga harus merasakan,” Fajri melanjutkan.

Lampu-lampu  berbagai gedung dan jalanan itu bak kunang-kunang yang menghiasi malam. Gedung-gedung tinggi itu seperti menara istana yang melindungi rakyatnya dari perang. Dan, kendaraan yang sedang macet itu layaknya jejeran semut, besar dan kecil, mengantri,” ujar Fajri tersenyum. “Keindahan seperti ini tak ada di kampung kita, Senja,” ucap Fajri.

Senja pun merasa, gedung-gedung tinggi tersebut sebagai tempat orang-orang berlindung dari kemalasan dan kemiskinan. Lampu-lampu gedung dan jalanan, bila tak ada, akan menggelapkan Ibu Kota.

Soal kemacetan, tak soal kendaraan berapa ratus juta bahkan milyar, jika macet tetap saja terjebak melambat bersama kendaraan yang harganya cuma jutaan. Setidaknya, kesetaraan masih ada, bahkan di jalanan yang katanya hukum rimba.

“Oh ya, pemandangannya indah karena sekarang sedang senja. Persis seperti namamu, Senja. Sebuah keindahan yang tak berlangsung lama. Namaku juga begitu, Fajri, dari kata fajar.” []