Ilustrasi: Herman Pawellangi ( @chimankorus )

Saat hidup bergerak dari deadline ke deadline dan memaksa untuk terburu-buru, saya akan mengingat dua nama: Sading dan seseorang yang akan Anda ketahui di bagian lain tulisan ini. Nama pertama, saya mengenalnya bertahun-tahun lalu. Tepatnya, saat duduk di bangku SMA. Dia seorang tukang becak.

Perkenalan saya dengannya dimulai di suatu pagi di hari Minggu. Sehabis lari pagi, saya akan singgah di sebuah kios dekat rumah. Di sana, Sading biasa duduk menunggu penumpang. Pagi itu, kami hampir bersamaan menjadi pelanggan pertama. Saya memesan air dingin dan sebatang rokok, dia mengambil kue lalu duduk membaca Koran.

“Terbalik ki!” Tegur penjaga kios.

“Ka gambarnya ji diliat-liat,” jawab Sading membela diri.

Jawaban yang kemudian disambut tawa oleh mereka berdua. Saya yang sedari tadi memperhatikan, ikut tertawa dengan canggung sebab tidak mengerti apa yang mereka tertawakan. Begitulah, kadang-kadang, tawa orang-orang sederhana mampu memaksamu untuk ikut tertawa. Dari momen tersebut, hari-hari kemudian mulai diisi dengan berbagi senyum ataupun rokok. Dan, jika dua orang laki-laki, mulai saling berbagi dua hal tersebut, percayalah mereka akan segera akrab.

Sading (saya tidak tahu penulisan tepatnya. Bisa saja Sadin, Zadin, atau Sadink) berasal dari keluarga Madura. Perawakan kecil, berambut panjang dengan bulu lebat di wajah dan lengan. Dari ciri tersebut, ia sering disapa dengan gondrong atau cambang. Ia menikah dengan perempuan berdarah Makassar, dan memilih bertanggung jawab terhadap keluarga sebagai tukang becak. Itulah sedikit latar belakangnya yang saya ketahui. Tapi bukan itu yang menjadikannya unik. Selain bahwa dia adalah “Tukang Becak Madura” satu-satunya yang saya kenal, dia juga berbeda mengenai jam kerja kebanyakan tukang becak di tempat itu.

Sading stamplas mulai pagi hari dan sesekali berkeliling mencari penumpang. Menjelang maghrib, dia akan kembali ke depan kios dan menjelma Sading yang berbeda. Melaksanakan quality time-nya sebagai makhluk sosial. Dia akan memarkir becaknya, duduk di depan kios, mengajak bermain Playstation atau domino. Jika ada calon penumpang yang berteriak, “becak!” karena melihat sebuah becak terparkir di pertigaan lorong, biasanya Sading akan berteriak balik, “Tidak adaki punyanya!”

Begitulah Sading melewati waktunya. Dia mampu membagi antara pekerjaan, pergaulan, dan keluarga. Bahkan, di hari Minggu, ia biasa mengambil libur dan memilih menemani anaknya bermain Playstation. Sading seolah sadar, hidupnya seperti kayuhan becak. Jika dipaksakan, dirinya dalam bahaya.

Hal lain yang membuat saya akrab dengan Sading adalah sepakbola. Dari hobi yang sama tersebut, saya akhirnya tahu tentang momen “membaca koran terbalik” di awal perkenalan kami. Sading ternyata buta huruf. Tapi, jika menyangkut sepakbola, dia mampu menyebut nama pemain dan klub dengan fasih. Dia bukan fans karbitan. Dari kefasihannya itu, saya teringat satu nama yang pernah dia juluki “I Lambasa’” (Si lambat). Salah satu pemain favorit saya.

***

Juan Roman Riquelme. Mantan pesepakbola yang lahir 24 Juni, tepat 38 tahun yang lalu di sudut kota Buenos Aires, Argentina. Dia pernah digadang-gadang sebagai penerus dewa sepakbola, Diego Armando Maradona. Mungkin karena itu pula dia mewarisi nomor punggung 10 di Boca Juniors dan Timnas Argentina. Meskipun kemudian dia bukan pemain yang memiliki gelar individu melimpah seperti Lionel Messi, pemain yang disebut titisan Maradona di Zaman ini.

Namanya melejit di tahun 1997. Piala Dunia junior di Malaysia menjadi panggung internasional pertamanya. Bersama rekan-rekannya seperti Aimar dan Cambiasso, dia membawa Argentina U-20 juara dunia. Generasi yang selanjutnya disebut generasi emas saat itu.

Di level klub, Riquelme bersinar di Boca Juniors lalu memulai perjalanannya di Eropa bersama Barcelona. Namun, di sanalah dia dipasung. Pola Louis Van Gaal (pelatih Barca saat itu) tak memberi tempat untuk Riquelme. Dalam waktu singkat, dia pun pindah ke Villareal. Di tempat tersebut, dia mulai menemukan kembali posisinya: bermain di belakang penyerang sebagai playmaker. Posisi yang memberinya keleluasaan untuk berlama-lama dengan bola. Pelatih Villareal saat itu, Manuel Pellegrini, sadar bahwa timnya harus menopang Riquelme. Bukan sebaliknya. Di situlah egois dan hebatnya pemain yang disebut wakil terakhir dari era sepakbola klasik tersebut. Ironisnya, ‘Pemain nomor 10’ itu besar di tengah era sepakbola modern yang memuja kecepatan bermain mulai dipuja.

Menjelaskan Riquelme, harus dengan nama tengahnya. Riquelme bukan pemain yang mengandalkan kecepatan ala Cristiano Ronaldo atau Messi atau hampir semua pemain yang Anda saksikan saat ini. Menikmati Riquelme seperti membaca sebuah roman. Roman klasik. Alurnya berkelok, bahasanya mendayu-dayu, namun di sanalah letak keindahannya. Saat bola di kakinya, Riquelme akan menggoceknya, berputar-putar, melewati beberapa pemain lalu memberi umpan atau menendang ke gawang. Aneh dan jeniusnya, bola yang diberikan atau ditendang di akhir aksi liuk-liuk tersebut akan terlihat berada di momen yang paling tepat, dan karena hal tersebut, semua terlihat dan terasa mengagumkan. Dari ciri tersebut pula, dia sering dijuluki sebagai The Lazy Magician.

“Jika kita harus berjalan dari A ke B, semua orang akan masuk ke jalan tol dan mencapai tujuan secepat mungkin. Semua orang, kecuali Riquelme. Ia akan memilih jalan yang berkelok-kelok di pegunungan yang menghabiskan waktu enam jam lamanya. Akan tetapi jalan itulah yang membuat mata kita melihat banyak pemandangan indah.”

Begitulah Jorge Valdano, salah satu legenda sepakbola Argentina mendeskripsikan Riquelme. Atau, jika sepakbola adalah Kota Makassar. Maka Riquelme adalah seseorang yang menuju Pasar Sentral sore-sore, naik pete-pete, dan memilih turun di perempatan Karebosi-Bawakaraeng. Lalu naik becak memutar ke Losari menyaksikan deretan gerobak pisang epe, melewati Benteng Rotterdam, Belok ke Ahmad Yani memandangi Societet de Harmonie dan berbelok menuju Sentral lewat Samping Karebosi.

Proses rumit itu bukan hanya lahir dari sebuah bakat pesepakbola, tapi juga pola pikir seorang manusia bahwa yang dia lakukan harus dilalui dengan kesenangan. Maka di usia 28 tahun, usia emas seorang pesepakbola, saat banyak klub Eropa mengincarnya, Riquelme memilih pulang kampung. Kembali ke Argentina memperkuat Boca Juniors. Tempat di mana dia bisa diterima sebagai pemain yang bersenang-senang dengan bola.

Seperti itulah Riquelme dikenang, maka ketika 26 Januari 2015, dia mengumumkan pengunduran dirinya, beragam komentar dan tulisan melepasnya dengan sentimentil. Sebab, seperti itulah seringkali, kisah sebuah roman diakhiri.

***

Setahun sebelum Riquelme pensiun, Sading datang kepada saya untuk meminjam sepeda motor. Dia ingin belajar mengendarainya. Setelah pintar, dia ingin membeli satu dan memodifikasinya menjadi bentor. Tahun tersebut memang waktu peralihan banyak tukang becak menjadi tukang bentor. Sekitar sebulan kemudian, dia sudah stamplas dengan kendaraan gabungan becak dan motor tersebut.

Sading bukan Riquelme, Sading bahkan membenci Riquelme. Ia pun menjulukinya dengan I lambasa’. Sading harus meninggalkan becak konvensional dan turut dengan kecepatan di lapangan menjemput penumpang, sedangkan Riquelme tidak. Tapi, keduanya sama dalam memperlakukan pekerjaan. Sading, setiap sore hingga malam hari, saat teman seprofesinya yang lain masih berlomba mendapat penumpang, dia memilih duduk di depan kios menghisap kretek dan meminum secangkir kopi. Mengajak bermain PS atau ikut bermain domino. Begitupun Riquelme, saat sistem sepakbola modern sedang memuja kecepatan, saat klub-klub Eropa perlahan menyingkirkan posisi playmaker klasik, dia tetap memilih berputar-putar, bermain dengan lambat, dan melakukan sepakbola dengan caranya.

Mereka mampu menolak. Mereka sadar akan satu hal, ada yang lebih besar dari sekadar pekerjaan.


Baca tulisan lainnya

Hantu dalam Kuasa

Telinga Sang Sastrawan Besar

Bergerak dalam “Nyanyi Sunyi Pram”

Mabuk ala Sjahrir

Belajar Hitungan ke-100 dari Seorang Nenek

Kaos Penyihir