Saya adalah satu dari ratusan juta penggemar sepakbola di jagat raya. Seperti penggemar lainnya, saya mendukung dan mengikuti satu klub idola (saya sendiri memilih Liverpool Football Club). Saya mengikuti perkembangan klub hampir 8 jam dalam sehari secara akumulatif, tanpa diberi upah sepeser pun setiap akhir bulan (amazing, right?). Belasan bahkan puluhan artikel tentang pemegang 5 gelar liga Champion ini senantiasa menjadi menu bacaan sehari-hari, menyingkirkan buku-buku yang entah kapan disentuh lagi. Thisisanfield.com, Theanfieldwrap.com, dan Seeingredonline.com adalah favorit saya. Di daftar following di Twitter, lebih dari 100 merupakan penggemar klub yang sama. Ketika main futsal dengan anak dekat rumah pun saya selalu mengenakan  jersey merah-merah kebesaran untuk menunjukkan rasa bangga (meski cuma KW). Urusan main bola virtual di FIFA 15, Liverpool pun selalu menjadi tim yang saya mainkan.

Bila Liverpool sedang bertanding, jangan ajak saya ngobrol atau menghubungi nomor ponsel saya, bisa-bisa anda tersinggung karena merasa diabaikan. Bila pertandingan selesai dan Liverpool kalah, jangan ajak saya berkelahi karena pasti akan saya layani (fyi, saya pemegang sabuk orange Gojukai, jadi kemungkinan menang anda tidak besar, you’ve been warned). Beda halnya kalau menang, silakan tampar pipi kiri saya dan akan saya sodorkan pipi sebelah kanan.

Bisa dibilang, apa yang terjadi dengan klub kesayangan saya itu mempengaruhi mood saya selama berhari-hari (tergantung kapan pertandingan selanjutnya).

Menurut beberapa teman saya, kecintaan saya pada The Reds terlalu berlebihan. (Yeah, seolah-olah obsesi mereka pada batu bacan masih pada level normal). Menurut mereka, saya adalah penggemar yang terlalu fanatik, sebuah penilaian yang tidak saya bantah, tapi menjadi ironi yang menggelikan karena satu hal yang kadang membuat saya ilfil dengan sepakbola adalah para penggemar fanatiknya. Sumpah, saya benci penggemar sepakbola.

Lebih tepatnya, penggemar sepakbola yang saya temukan di Twitter.

+++

Schadenfreude secara sederhana adalah perasaan senang yang timbul ketika melihat kesusahan orang lain. Ya, ini adalah penyakit yang diidap oleh mereka yang “susah liat orang senang dan senang kalo liat orang susah”. Karena hidup saya kebanyakan diisi oleh sepakbola, jadi saya berani bilang kalau kebanyakan penggemar sepakbola mengidap penyakit ini. Ehem, termasuk saya juga.

Tahun lalu, ketika Emyu masih dimanajeri oleh David Moyes, para penggemar Liverpool tidak berhenti menertawai performa buruk rival abadinya itu. Tidak terhitung meme-meme bernada ejekan yang beredar di media sosial. Ini salah satunya.

Moyes

Schadenfreude? tentu saja.

Sebagai pendukung Liverpool yang selama bertahun-tahun sabar menerima ejekan para pendukung emyu yang jumawa (ketika masih jaya-jayanya), tentu saja saya menikmati meme-meme tersebut. Seringkali saya pun tergoda untuk ikut mengedarkannya, kadang saya bisa menahan godaan, kadang tidak. Hei, jangan tatap saya seperti itu, saya cuma manusia biasa yang punya naluri balas dendam bila memiliki kesempatan.

Tapi belakangan saya sadar, seburuk apapun performa klub lain tidak akan ada artinya kalau klub andalan saya tidak bisa meraih hasil bagus. Tidak ada tim yang bisa menang bila bergantung pada impotensi penyerang tim lawan dalam mencetak gol, tim anda sendiri harus bisa membobol gawang lawan. Ikut mengejek kemalangan Emyu di media sosial tidak secara otomatis membuat Liverpool menang, bukan? Sama halnya bila gebetan anda menolak laki-laki lain, tidak secara otomatis membuat anda jadi pacarnya, bukan? Jadi, untuk apa menertawakan pendukung emyu dan saingan anda tadi?

Tapi pengidap schadenfreude (kita sebut saja schadenfreudian) tidak melihatnya seperti ini. Meski timnya kalah, selama tim lain juga ikut kalah, dia akan bahagia, atau setidaknya sedikit terhibur. “Tidak apa kalah 1-2, asalkan tim punya kau digasak 0-3”. Sangat dewasa.

+++

Masih tentang kejadian di tahun lalu, tepatnya tanggal 27 april, babak pertama sudah memasuki masa injury time, Steven Gerrard mengalami momen terpeleset paling menyedihkan bagi para penggemar Liverpool. Demba Ba yang kegirangan mendapatkan bola secara “gratis”, lari secepat kilat ke arah gawang yang dijaga Simon Mignolet dan mencetak gol. Raut wajah penyesalan jelas terlihat di wajah Gerrard. Pada pertandingan yang susah saya lupakan tersebut, skor berakhir 0-2 untuk kemenangan Chelsea.

Terpelesetnya Gerrard di pertandingan itu disebut-sebut sebagai penentu gagalnya Liverpool mengakhiri puasa titel juara liga selama 24 tahun (Liverpool terakhir kali meraih titel juara liga Inggris pada tahun 1990).  Gelar ini juga satu-satunya gelar di level klub yang belum pernah Gerrard rasakan. Hari itu, Steven Gerrard, saya dan para pendukung Liverpool lainnya merasakan kegalauan yang mendalam. Bagi saya, hanya kegalauan karena diputuskan pacar secara sepihak yang bisa mengalahkan kepedihan waktu itu.

Di media sosial, terutama Twitter, momen “spesial” seperti ini tentu saja tidak akan dilewatkan oleh para schadenfreudian. Dimulai oleh para banter merchants seperti @footymeme atau @footyjokes yang hanya dalam hitungan detik, dengan skill Photoshop seadanya, membuat meme ejekan dengan menggunakan gambar Steven Gerrard yang terpeleset. Of course, ribuan twat me-retweet. Para schadenfreudian menari-nari di atas kegalauan kami.

Yeah, really funny.

Yeah, really funny.

+++

Pada akhirnya,  bagaimanapun cara anda menikmatinya, sepakbola hanyalah permainan memperebutkan kulit bundar oleh 22 lelaki atletis bercelana kolor di lapangan rumput yang rajin dipangkas. Siapapun yang mencetak gol lebih banyak hanyalah manusia biasa yang melakukan pekerjaannya dan menerima upah secara rutin. Kita para penggemar pun, hanyalah manusia biasa yang membutuhkan hiburan (termasuk batu bacan?) sebagai pelarian dari realita kehidupan yang tidak lepas dari seribu satu problema menyesak di dalam dada.

Bila tim kesayangan anda kalah, Sudahlah, tidak usah mengintip timeline Twitter. Tim atau pemain kesayangan anda akan menjadi bulan-bulanan para schadenfreudian. Memang, mereka tidak menghina anda secara langsung, tapi menghina tim kesayangan sama saja dengan menghina anda, bukan? Tidak usah malu mengakui bila anda jengkel dibuatnya. Saya sendiri tidak malu.

Di sisi lain, bila tim kesayangan anda menang, tidak usah banyak omong, tidak usah mengejek pendukung tim lain. Nikmati saja mood bagus anda dan traktirlah pasangan anda (atau sahabat anda, buat yang jomblo) terang bulan keju untuk merayakannya. Ini jauh lebih menyenangkan dan mengenyangkan ketimbang twitwar dengan pendukung tim lain yang mungkin adalah sahabat anda bila sedang tidak membicarakan sepakbola. Percayalah.

Cheers.