Oleh: Harnita Rahman (@comradenhytha)| Foto: Muh. Ifan Adhitya (@ifandfun)

Seperti banyak akhir pekan yang kami nanti, akhir pekan lalu telah dinantikan dan teragendakan rapi di benakku.  Setelah hampir sepekan lalu kota ini diserbu hujatan karena kabar buruk kenaikan BBM, hingga suasana yang mencekam di sela harapan banyak orang akan hujan, tentunya agenda malam (23/11) itu bisa menjadi sajian hangat yang akan kau dapatkan dengan gratis pula.

Kami sekeluarga seperti biasa bersama dua orang Teman Pencerita Kedai Buku Jenny berkejaran dengan gumpalan awan hitam yang  kami tembus dengan berlari kecil menuju tempat acara di Benteng Rotterdam. Kami tiba di tempat acara saat Adzan Magrib menggema. Rinai hujan tidak membuat kami kewalahan menemukan tempat gelaran yang mengambil sedikit area sebelah kanan halaman Benteng Rotterdam.

Gelaran tersebut adalah Sepiring Culinary Festival, yang merupakan salah satu festival kuliner yang memanjakan kami bersama musik-musik merenyahkan telinga malam itu. Menghadirkan Pandai Besi dan deretan band-band kebanggaan kota ini, antara lain Kicking Monday, Delight Monday, Tabasco, FirstMoon, Melismatis, dan Theory of Discoustic.

Sekeliling area telah dipagari rentetan penjaja makanan, termasuk stand Makassar Berkebun, Tanah Indie dan katakerja, menjadi semakin berwarna diantara makanan dan minuman petang yang gerimis itu. Saat baru tiba, saya dan anak sulungku, Maha, lansung menyusuri stand penjaja makanan di sebelah kiri untuk mencari makanan karena sudah lapar sekali. Karena sepanjang pengetahuanku, urusan perut mesti diutamakan saat lapar.  Apesnya, lapar pun datang saat aku menyerah pada Maha yang minta sepotong es krim potong. Saya lalu mengganjal perut dengan satu buah kue pie buatan komunitas mememasak yang namanya samar-samar saya ingat, Cacaba kalo tidak salah.

Berurusan dengan makanan, aku bukanlah tipe penikmat makanan “judge-by-its-cover“. Makanan adalah soal menikmati rasa yang tidak ingin kusesali apalagi di saat lapar. Dan sungguh disayangkan, penjaja makanan di sana tak satu pun menyediakan makanan yang familiar untukku. Dan menurutku sayang juga karena tidak menemukan satu pun penjaja jajanan tradisional. Menurutku penting menghadirkan beberapa makanan yang bisa ditemukan di pinggir jalan, toh itu tidak akan mengurangi eksklusifitas gelaran ini.

Buktinya, beberapa kawan kami masih saja mencari makanan di luar. Ha ha ha. Beberapa jenis makanan berat yang disediakan sangat tidak akrab di lidahku, walau tampilannya menggugah selera.  Padahal, ini kesempatan untuk mengakrabkan lidahku, pasalnya juga harga yang mereka tawarkan tidak terlalu mahal. Tapi kembali lagi, ini soal selera. Dan aku selalu takut mencoba hal baru untuk lidah dan perutku, karena bisa saja hasilnya fatal. Bolak balik ke WC nantinya.

Helatan yang digelar di luar ruangan yang dikelilingi tenda putih dan tidak terlalu besar menurutku sangat tepat, bukan hanya aroma makanan yang tercium, tapi aroma kehangatan pengunjung juga langsung tercium. Gelaran ini tampaknya tidak terkhusus hanya untuk anak muda, bahkan saya masih melihat beberapa keluarga membawa anak-anaknya yang saat itu sudah akan beranjak.

Pada suguhan musik yang ingin disimak, kabar buruk yang harus diterima adalah melewatkan penampilan Delight Monday dan Kicking Monday yang telah tampil sore itu. Terutama untuk Kicking Monday, saya rugi tidak melihat kolaborasi mereka dengan salah seorang teman kami yang juga drummer handal kota ini. Selain itu, beberapa suguhan acara lain yang ternyata sudah dimulai sejak siang tadi seperti diskusi kota, dan beberapa kompetisi masak yang pastinya seru.

Malam mulai merangkak pelan bersama hujan yang mulai mengucapkan selamat tinggal, menurutku hujan belum betah berlama-lama, mungkin kemarau terlalu mendominasi musim sepanjang tahun. Penampilan band yang pertama saya simak yaitu Tabasco ditemani segelas jus jeruk asli nan segar mengalihkan laparku. Lalu First Moon yang terakhir saya lihat tampil di KBJamming Volume 1, hampir dua tahun lalu. Musiknya masih sama kerennya, apalagi ada pemain keyboard yang menambah ciamik penampilan mereka.

sepiring1

Firstmoon tampil keren layaknya seperti kemarin di KBJamming Vol. 1

Massa mencair lagi melipir ke beberapa penjaja makanan saat pemutaran 3 film pendek produksi sineas-sineas Makassar yang semuanya keren-keren. Sepatu Baru, Adoption dan Cita. Setelah pemutaran ketiga film tersebut, Melismatis seolah-olah mulai memanggil penonton merapat di barisan depan pada penampil berikutnya. Tak peduli, tanah berumput yang basah pun  menjadi alas duduk yang nyaman. Melismatis memukau seperti biasanya dengan membawakan tiga nomor jagoannya.

Melismatis membawakan lagu-lagu baru yang bakal ada di album ke-dua mereka nantinya.

Theory of Discoustic pun tidak kalah hebatnya membawa 4 nomor dari album baru mereka Alkisah yang semakin menegaskan ciri bermusik mereka. Inilah suguhan musik yang saya tunggu-tunggu dari mereka selama ini. Massa mulai memadat, dan aku memilih menggunakan bangku di deretan paling depan setelah mereka yang lesehan.

sepiring9

Theory of Discoustic tampil memukau dengan empat lagu dari EP terbaru mereka, Alkisah.

Penampilan selanjutnya sudah pasti ditutup oleh  Pandai Besi.  Pengetahuanku yang minim tentang mereka karena hanya berkisar bahwa band ini adalah projekan baru Cholil dan Akbar Efek Rumah Kaca yang menggabungkan teman-temannya di dunia musik lalu menggubah lagu-lagu Efek Rumah Kaca menjadi baru.

Pandai Besi dan Efek Rumah Kaca memang tidaklah sama, tapi tetap saja muncul alasanku untuk enggan mendengar serius album Daur Baur-nya yang nongkrong lama di Kedai Buku Jenny, walau menjadi salah satu penjualan terbaik sejauh ini di kedai buku kami.  Saya tidak ingin mengganggu kesempurnaan lirik dan lagu yang dibawakan sempurna pula oleh Efek Rumah Kaca.

Ketika tembang Melankolia membuka penampilan mereka, saya seperti dihentakkan jatuh dari langit ke-tujuh. Dikepung penyesalan dan ketakutan berlebihanku dahulu untuk mendengarkan Pandai Besi, aku seperti ingin pulang dan bersembunyi dalam sunyi sambil memutar Daur Baur, menyelami nada-nada baru yang sama sekali tidak kutemukan Efek Rumah Kaca di dalamnya.

sepiring7

Saat lagu Melankolia dihentakkan Pandai Besi, saya seperti dipaksa turun dari langit ke tujuh.

Saya menyesali rasa nyinyirku setiap membaca ulasan band ini yang selalu bilang “ini bukan Efek Rumah Kaca”, menyesali picikku yang selalu meragukan akan ada komposisi yang bisa melebihi Efek Rumah Kaca. Dan aku mengutuk semua hal itu semalam. Saya pun benci untuk mengatakan, “Ya, aku  hanya mendengarkan Efek Rumah Kaca saja”.

Hujan Jangan Marah, Debu-Debu Beterbangan, Jalang, Laki-laki Pemalu, Desember, tiba-tiba sangat asing di telingaku. Berkali-kali aku mencoba menemukan nada Efek Rumah Kaca di di dalam mereka, tapi gagal total. Seperti halnya mendapati kawan akrabmu yang lama tak kau temui, lalu muncul di hadapanmu dengan semua perubahan yang sama sekali bukan dirinya dulu, tapi kau tetap senang denganya. Ya, tepatnya begitu.

Sepanjang penampilan Pandai Besi, Monica dan Nastasha mendominasi perhatianku. Selain kekuatan vokal mereka, Nastasha khususnya punya olah tubuh, mimik dan ekspresi  yang berpadu menciptakan nuansa magis. Sebagai pencinta musik, menurutku Pandai Besi menjadikan repetisi lirik menjadi kekuatan mereka. Sama sekali tidak membosankan, karena olahan yang sampai di telinga seperti hal yang dinantikan. ‘Menjadi Indonesia’ menutup malam kami semua. Dan saya  tak henti berdecak kagum, atas delapan lagu yang menghipnotisku.

sepiring5

Pandai Besi dengan kekuatan vokal Monica Hapsari dan Nastasha Abigail yang berhasil menghipnotisku.

Lagu-lagu Pandai Besi menurutku seperti punya kekuatan sendiri dalam aransemennya, dan yang buatku jatuh cinta adalah saksofonnya. Semuanya bercerita secara mendalam, seperti berbisik dengan lembut dan bercerita padamu. Kau tidak akan menyangkalnya, apalagi saat matamu melihat mereka, masing-masing punya jiwa dalam peran mereka saat membawakan lagu.

Walau nama Pandai Besi diambil tanpa alasan yang prinsipil, tapi malam ini mereka bekerja selayaknya pandai besi, yang menempa besi menjadi pedang ditengah panasnya api dan dengan kekuatan yang besar. Ya, mereka tampil memukau walau tanpa Cholil dan Irma. Mereka berjanji tidak akan berhenti berkarya. Dan aku pun berjanji, saya akan kembali menyelami musik mereka dengan serius setelah malam itu.

Terimakasih untuk Sepiring Culinary Festival. Suasana yang disusun sedemikian rupa oleh kalian menjadi alternatif  paling baik yang semakin banyak diminati orang.Karena semakin lama terasa kalau jalan-jalan ke mall adalah pilihan menghabiskan akhir pekan paling payah menurutku.

17785

Menyempatkan berpose dengan Monica Hapsari dan Nastasha Abigail dari Pandai Besi bersama keluarga. (Foto: Istimewa)

Sampai tulisan ini selesai, saya berusaha membuka info tentang Sepiring tapi laman website-nya ternyata belum diisi info apapun. Sekali lagi terima kasih, saya dan semua orang yang menikmati malam itu benar-benar dalam“sepiring” dalam artian sebenarnya ”satu piring”. Terimakasih untuk akhir pekan keren ini yang patut diulang kelak. []